
Setelah Siena berlatih dengan selir Luili, dirinya kembali ke kediamannya. Sudah 4 hari ia tinggal di Istana, dirinya sangat merindukan Falresia, Chio, dan ibunya Kaili.
"Siena ...." terdengar suara anak kecil yang memanggil namanya, Siena pun menoleh ke sumber suara. Dirinya melihat seorang anak laki-laki yang pernah menolongnya dulu, Siena mendekati anak laki-laki tersebut.
"Linxia, apa kabar?" tanya Siena kepada Linxia.
"Aku baik. Siena, mau 'kah! Kamu menemaniku melukis?" tanyanya dan diangguki oleh Siena.
Akhirnya mereka berdua duduk di sebuah taman, di depan aula Kerajaan.
Tanpa disadari, sang Pangeran Mahkota tengah memperhatikan mereka berdua. Tapi, saat Pangeran Fengying sedang asik memperhatikan Siena dan Linxia, tiba-tiba seorang kasim Wang datang menemuinya. Jika Pangeran dari Kerajaan Zhufen, datang untuk menemui Pangeran Fengying.
"Siena, lihat ini." Linxia menunjukan lukisannya kepada Siena, Siena terkejut melihat indahnya lukisan yang dibuat oleh anak berumur 8 tahun.
"Wow, lukisanmu sungguh sangat indah sekali, Linxia," ucap Siena memuji lukisan Linxia. Sementara, Linxia sendiri hanya tersenyum senang mendengar pujian dari Siena.
Saat Siena sedang menemani Linxia, tanpa sengaja dirinya melihat seorang laki-laki yang sangat ia kenal masuk ke dalam Istana. Ia pun meminta Linxia, untuk menunggunya di taman.
Siena mengikuti orang yang tidak asing baginya, seseorang itu masuk ke dalam aula. Saat itu juga Siena mengendap di balik pintu aula, berharap dirinya bisa melihat laki-laki tersebut.
"Hormat Yang Mulia Pangeran Mahkota," ucap laki-laki tersebut, yang diikuti oleh seseorang di belakangnya.
"Ada keperluan apa Pangeran Jianying datang kemari," tanya Pangeran Fengying. "Kudengar kau adalah anak angkat dari Permaisuri Xiurong Yan," lanjutnya.
Anak angkat? Aku baru dengar, seorang Permaisuri mengangkat anak, batin Siena, yang terus memperhatikan pembicaraan mereka.
"Benar Yang Mulia, saya adalah anak angkat dari Permaisuri Xiurong Yan, dan kedatangan saya kemari adalah ... Kerajaan kami ingin mengadakan kerja sama dalam masalah perkebunan," jelas Pangeran Jianying.
Sebenarnya, Pangeran Fengying sudah tahu. Jika, Siena mendengar pembicaraannya dengan Pangeran Jianying. Ia sengaja membiarkan Siena memperhatikannya, dirinya yakin! Pasti ada sesuatu yang membuat Siena mengintip pembicaraannya tersebut.
"Ada perlu apa Siena ...," ucap Pangeran Fengying secara tiba-tiba.
Sementara Pangeran Jianying juga ikut melihat siapa yang diucap Pangeran Fengying tersebut, dan di sanalah Siena dan Pangeran Jianying dibuat terkejut. Siena yang melihat laki-laki itu meneteskan air matanya—seseorang yang selama ini ia cari, akhirnya berada tepat di hadapannya.
"Max ...," gumam Siena, mendekati Pangeran tersebut.
Kenapa dirinya bisa mengenal Pangeran Jianying, bahkan ini baru pertama kalinya Pangeran tersebut datang ke Kerajaan Harumsy, batin Pangeran Fengying.
"Kak Siena ...," gumam Pangeran Jianying, dirinya terpaku melihat seseorang yang selama ini sangat ia rindukan.
Tanpa menunggu lama, Siena langsung berlari dan memeluk Pangeran Jianying dengan sangat erat, dan itu membuat semua orang yang berada dalam aula, terkejut melihat Siena yang berpelukan langsung dengan Pangeran, dari Kerajaan Zhufen.
"Akhirnya aku menemukanmu, Max! Aku sangat merindukanmu," ucap Siena melepas rindu kepada adiknya itu.
"Aku juga sangat merindukanmu, Kak! Sungguh aku sangat merindukanmu." mereka saling berpelukan, dan itu membuat Pangeran Fengying kesal, lantaran dirinya seakan tidak dipedulikan oleh Siena.
"Ehem!" dehem Pangeran Fengying, membuat mereka berdua melepaskan pelukan. "Kenapa kalian bisa saling mengenal," tanya Pangeran Fengying, kepada keduanya.
"Kami adalah Kakak–Adik, sudah 2 tahun kami tidak bertemu," ucap Pangeran Jianying, dirinya sengaja tidak menjelaskan. Alasan tidak bertemu dengan Siena selama 2 tahun.
Sementara itu, Siena hanya diam dan terus menatap adiknya itu. Siena tidak menyangka, jika dirinya bisa bertemu dengan adiknya di sini. Tapi, dibalik itu semua, Siena bingung ... bagaimana dirinya harus menjelaskan. Jika, ibunya sudah tiada semenjak hilangnya adiknya itu.
...***...
Di kediaman Selir Luili ....
Seorang pelayan sedang menyisir rambut selir Luili. Sementara itu, selir Luili sendiri ... tidak percaya apa yang sedang ia alami tadi dengan ibu Suri. Setelah lama dirinya dibenci oleh ibu Suri, pada akhirnya ia bisa mendapatkan kasih sayang dari ibu Suri sendiri.
Bagi selir Luili, itu adalah sebuah keajaiban. Ibu Suri memiliki watak yang keras kepala. Namun, kali ini ibu Suri diluluhkan oleh seorang wanita yang belum lama tinggal di dalam Istana.
"Nyonya, wanita yang bernama Siena, ternyata memiliki hati yang baik," ucap pelayan tersebut yang diangguki oleh selir Luili.
"Kamu benar, wanita itu memiliki hati yang sangat baik."
Selir Luili tidak tahu harus bagaimana untuk berterimakasih kepada Siena, wanita itu selalu membuat kejutan di dalam Istana ini, bahkan saat dirinya tersandung batu dan terjatuh. Siena dengan sigap langsung menolongnya, sementara selir lainnya hanya mentertawakannya.
"Nyonya, bagaimana hubungan anda dengan Ibu Suri," tanya pelayan tersebut, membuat selir Luili tersenyum.
"Baik," jawab selir Luili.
"Bagaimana bisa?" tanya pelayan tersebut tidak percaya.
"Berkat wanita itu ...."
"Bagaimana bisa? Wanita itu, memiliki sesuatu yang luar biasa," ucapnya diangguki oleh selir Luili.
Bagi selir Luili, Istana adalah penjara baginya. Banyak sekali selir yang membenci dirinya, lantaran selir Luili sering sekali didatangi oleh Pangeran Mahkota.
"Selir Luili ...," panggil seseorang.
"Salam Yang Mulia, apa yang membawamu kemari?" tanya selir Luili kepada Pangeran Fengying.
"Aku hanya ingin melihat keadaan istriku, apa itu tidak boleh?" tanyanya, sementara selir Luili hanya menundukkan kepalanya.
"Saya baik-baik saja Yang Mulia, bagaimana keadaan Yang Mulia dengan selir Wenying?"
"Baik," jawabnya.
Di sana Pangeran duduk di sisi ranjang, sembaru menatap istrinya yang cantik itu. Selir Luili adalah teman masa kecilnya dulu, dirinya dan selir Luili sudah lama dijodohkan, hanya selir Luili lah yang berbeda dengan selir lainnya. Karena selir Luili memiliki sifat yang tegar, sabar, dan rendah hati. Itulah alasan, kenapa Pangeran Fengying menikahinya.
"Yang Mulia ... apa anda menyukai Siena?" tanya selir Luili secara tiba-tiba, di sana Pangeran Fengying hanya terdiam. "Jika Yang Mulia menyukainya, aku tidak masalah. Dia adalah wanita yang sangat baik," lanjutnya.
"Terimakasih, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." Pangeran Fengying pun memeluk selir Luili dengan sangat erat.
Pelukan yang selir Luili rasakan adalah pelukan di mana saat dirinya kesepian, Pangeran Fengying lah, yang selalu ada untuknya. Tapi, kini dirinya tidak lagi merasa kesepian berkat Siena, ibu Suri selalu datang menemuinya.
Ini demi kebaikanmu Yang Mulia, batin selir Luili.
Tbc