Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
31



Keesokan harinya ....


Di Kerajaan Huarong, Siena sudah menyiapkan semua kebutuhannya untuk melarikan diri, dari pakaian prajurit, hingga semua bahan penyamaran, sudah ia siapkan. Tinggal melaksanakan rencana yang sudah ia susun, Siena sangat berharap tidak ada orang yang menghalangi dirinya lagi.


"Nona Siena, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Jia Li, membuat Siena mengangguk. "Kenapa anda selalu membawa alat musik itu?"


"Jia Li, alat musik itu sangat berharga sekali bagiku, Ibuku yang memberikannya kepadaku," jelas Siena.


Tanpa mereka berdua sadari, selir Yuyan tengah menguping pembicaraan mereka, diikuti dengan seringaiannya, saat mengetahui hal yang sangat berharga bagi Siena.


"Kita lihat, kau akan memohon kepadaku," gumam selir Yuyan, ia pun pergi meninggalkan kediaman Siena.


Saat Siena dan Jia Li, sedang bersenda gurau, tiba-tiba seorang pelayan datang kepada mereka, dan meminta Siena untuk menemui selir Yuyang di kediamannya. Tapi, di sana Siena merasa ada sesuatu yang tidak beres dadi selir tersebut, walaupun ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Siena tetap menemui selir tersebut.


"Jia Li, pergilah ke kediaman Max, ada sesuatu yang harus kamu tahu dari dia," perintah Siena kepada Jia Li.


Jia Li tampak terlihat malu, dan ragu pergi ke sama. Siena meyakinkan kepada Jia Li, untuk bersikap biasa saja di dekat Max, dan sontak membuat wajah Jia Li berwarna merah, akibat ucapan dari yang keluar dari mulut Siena.


"Baik Nona."


Melihat Jia Li sudah pergi, kini gilirannya untuk pergi ke kediaman selir Yuyan bersama dengan pelayannya. Sesampainya di sana, Siena menatap datar ke arah selir tersebut, ia bisa menebak. Jika, selir Yuyan adalah ibu dari Pangeran Jung, dari wajah dan matanya hampir mirip dengan Pangeran Jung.


"Ada apa selir Yuyan, memanggil saya kemari?" tanya Siena.


"Mari bicara di dalam." selir tersebut mengajak Siena untuk masuk ke dalam ruangannya.


Selir Yuyan mempersilakan Siena untuk duduk di hadapannya, ia pun duduk, dan siap untuk mendengarkan selir tersebut menjawab pertanyaannya.


"Silakan dinikmati makanannya."


Makanan yang berada tepat di depan Siena, memang terlihat sangat enak. Tapi, rasa was-was yang dimiliknya sangatlah besar, sehingga tidak mudah begitu saja, ia makan di dalam Istana, sebelum dirinya memeriksa makanan tersebut, aman untuk dikonsumsi.


"Tidak, terimakasih ... saya baru saja selesai makan. Langsung ke inti saja, apa tujuan anda memanggil saya kemari?" tanya Siena, ia tidak suka membuang waktunya hanya untuk orang yang memiliki niat jahat.


"Wah, ternyata kau orangnya tidak suka basa-basi, ya?"


Iyain aja, biar dia bahagia, batin Siena.


"Langsung saja," desak Siena.


"Baiklah, aku mengundangmu kemari karna ... untuk mengajakmu bekerjasama."


"Bekerjasama apa?"


Selir Yuyan meminta Siena, untuk membantunya memberikan racun di dalam makanan dan minuman Ratu Xiu, dan benar saja, ucapan selir Yuyan, membuat Siena tidak percaya. Bukan hanya itu saja, selir Yuyan menawarkan Siena dengan 1 peti emas, dan sebuah giok yang langka. Baginya, selir Yuyan adalah wanita yang buta akan kekuasaan, demi menyingkirkan ibu dari Pangeran pertama, ia rela melakukan hal kotor, untuk membunuh sang Ratu.


"Tidak, tanganku terlalu bersih untuk meracuni seseorang," tolak Siena dengan tegas.


"Jika kau menolak, maka benda yang sangat berharga bagimu, akan hancur tepat di hadapanmu."


Benda yang dimaksud selir Yuyan, adalah biola miliknya, Siena tidak percaya. Bagaimana selir tersebut tahu, jika ia memiliki benda yang sangat berharga baginya.


"Mei Lian, bawa kemari benda itu," perintah selir Yuyan, ia pun bangkit dari duduknya, dan berjalan menjauhi Siena.


"Ini selir Yu." pelayan tersebut memberikan benda itu kepada selir tersebut, sementara Siena tampak terlihat terkejut, sekaligus berusaha menahan emosinya.


"Bagaimana? Apa masih mau bekerjasama?" tawar selir Yuyan kepadanya.


Siena hanya bisa menghela nafas kasar, lagi-lagi ia harus memikirkan rencana untuk tidak meracuni sang Ratu. "Baiklah, aku akan menaruh racun itu di makanan Yang Mulia Ratu, saat sore hari, bagaimana?"


Selir Yuyan sedang mempertimbangkan, ucapan Siena. Dan kemudian, selir tersebut menyetujuinya.


"Ini adalah racun, cukup teteskan saja di atas makanan atau minumannya." selir Yuyan memberikan botol berukuran kecil yang berisi racun, kepada Siena.


"Baik, akan aku lakukan, tapi sebelum itu, aku akan menyusun rencana terlebih dahulu."


Wanita ini cukup pintar juga, beruntung dia mau bekerjasama denganku, pikir selir Yuyan.


...***...


Siena membisikan kepada Jia Li, ia meminta kepadanya untuk mengambil obat tidur, setelah itu Siena juga menyuruh Jia Li, untuk mengambil botol baru yang sama persis, dengan botol yang ia bawa. Sementara Siena sendiri, akan menghancurkan botol tersebut, dan menguburnya di halaman belakang kediamannya.


Setelah mengubur pecahan botol itu, Siena kembali masuk ke dalam kamar.


"Nona, ini obat tidurnya," ucap Jia Li, sembari memberikan botol yang sama persis, dengan botol tadi. Namun, isinya adalah obat tidur.


Siena mengambil botol tersebut dari tangan Jia Li, rencananya kali ini luar biasa licik, itupun demi kebaikan orang lain.


"Sebentar lagi menjelang sore, kamu sudah tahu, 'kan? Apa rencananya?" tanya Siena kepada Jia Li.


"Saya sudah tahu Nona, dan ... saya tidak yakin, bisa melakukannya."


"Kamu pasti bisa."


Sembari menunggu sore, Siena memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya, agar ia bisa mengumpulkan tenaganya untuk kabur dari Kerajaan Huarong. Baru saja ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba Max datang menemuinya.


"Ada apa, Max," tanya Siena kesal.


Dan di sanalah Siena tidak bisa beristirahat, hingga menjelang sore. Lantaran Max menjelaskan kepadanya, masalah tanda yang akan dipasang Max, agar kakaknya dapat dengan mudah mengetahuinya.


"Hanya ini yang ingin kamu sampaikan?"


"Hehehe, iya Kak."


"Ck, kamu menghabiskan waktu 3 jam, hanya untuk membahas itu." melihat hari sudah sore, Siena meminta Max, dan Jia Li untuk segera bersiap Pergi.


Sementara Siena sendiri, akan menjalankan misi yang lain. Saat dirinya keluar dari tempat kediamannya, seorang pelayan––suruhan dari selir Yuyan, tengah memperthatikan Siena, yang hendak pergi ke kediaman sang Ratu. Setelah itu, pelayan tersebut kembali dan memberitahukan kepada selir Yuyan, jika wanita itu, benar-benar melakukan tugasnya.


"Bagus, racun itu perlahan-lahan akan membunuhnya," ucap selir Yuyan, dengan seringaiannya.


...***...


Sesampainya di kediaman sang Ratu, Siena melihat ada dua penjaga, yang menjaga halaman kediaman sang Ratu. Penjaga itu sempat menghadangnya, namun bukan Siena namanya jika menyerah begitu saja.


"Jika kalian masih melarangku untuk masuk, maka bersiaplah untuk kehilangan kepala kalian." ucapan Siena berhasil membuat penjaga tersebut, memperbolehkannya untuk masuk.


Kebetulan sang Ratu sedang duduk di halamannya, di sana dirinya mendapatkan tatapan yang bisa dibilanh tidak akrab.


"Salam Yang Mulia Ratu," salam Siena.


"Ada perlu apa kemari." begitulah respon dari sang Ratu.


Siena meminta kepada Ratu tersebut untuk berbincang di dalam, ini termasuk rencananya juga. Untungnya Ratu itu setuju kepadanya, akhirnya mereka bertiga––pelayan, Ratu, dan Siena. Masuk ke dalam ruangan, hanya mereka bertiga yang berada di dalam sana.


"Katakan ...."


"Selir Yuyan berusaha untuk meracunimu," ucap Siena berterus terang.


"Bagaimana kau bisa tahu."


"Karna saya yang disuruh olehnya, dan Yang Mulia harus melihat ini." Siena menunjukkan layar handphonenya––menunjukkan sebuah video, saat dirinya sempat merekam pembicaraanya dengan Pangeran Mahkota kemarin.


Wanita ini ..., batin sang Ratu.


"Jadi, apa rencanamu Nona Siena ...."


Akhirnya sang Ratu bertanya soal rencana kepadanya, jelas saja ia sudah menyusunnya dengan sangat matang. Siena pun membisikkan di telinga Ratu tersebut, mengenai rencana yang sudah ia susun.


Setelah selesai, sang Ratu tampak terlihat takjub dengan rencana Siena.


"Ternyata kau, wanita yang sangat cerdas."


"Terimakasih Yang Mulia, saya adalah cucu dari Albert Einstain."


Khayalanku terlalu tinggi, untuk menjadi cucunya hihi, batin Siena, sembari terkekeh geli.


Tbc