
Malamnya ....
Akhirnya setelah menempuh perjalanan jauh, mereka berempat, sampai juga di Kerajaan Harumsy. Tetapi, mereka sempat dihalangi oleh 5 perampok, yang menghalangi jalan mereka.
"Serahkan barang-barang berharga kalian," suruh perampok tersebut.
Pangeran Xanras yang melihat perampok tersebut, hanya bisa memasang tatapan dinginnya. Sementara Siena sendiri, ingin segera menghajar perampok yang sudah membuat dirinya geram. Saat Siena berniat untuk turun dari atas kudanya, tiba-tiba Pangeran Xanras dengan cepat menahan pinggang Siena, dari depan.
Dan Max, dengan Jia Li sendiri––mereka juga masih duduk dengan tenang di atas kuda, mereka berempat hanya sedang menunggu waktu yang tepat, untuk melawan 5 perampok itu.
"Jangan turun," perintah Pangeran Xanras, kepada Siena dengan nada dingin.
"Cepat! Berikan! Atau kalian, akan merasakan akibatnya," ancam perampok yang berada di depan Siena.
Saat perampok tersebut, menodongkan pedang panjang ke arah mereka, tiba-tiba sebuah anak panah datang, dan mengenai salah satu perampok yang berada di samping kuda Pangeran Xanras. Para perampok, sekaligus mereka berempat, langsung mencari sosok orang yang telah memanah perampok tersebut.
"Junqing Luwon ...," gumam Siena, saat melihat seseorang yang berdiri di atas genting, dengan membawa sebuah panah.
Bagi Siena, ini adalah kesempatannya untuk menyerang para perampok itu, ia pun langsung melepas pelukan Pangeran Xanras, dari pingganya, dan langsung menghajar perampok yang ada di dekatnya, begitu juga dengan Pangeran Xanras, dan Max.
Mereka bertiga pun bertarung, sementara Junqing Luwon, membawa Jia Li untuk menghindari mereka, yang sedang bertarung itu.
Siena yang kurang fokus dalam menyerang, tidak menyadari jika ada perampok yang hendak membunuhnya dari belakang.
"Akh!" Untungnya, Pangeran Xanras dengan cepat langsung menusuk perampok tersebut, yang hendak membunuh Siena.
"Terimakasih," ucap Siena kepada Pangeran Xanras.
Kini Siena dan Max bertarung bersama, melawan 2 perampok yang ada di hadapan mereka, melihat posisi Max dan Siena yang saling membelakangi, membuat mereka berdua memiliki sebuah ide.
"Rasakan ini ...," ucap perampok yang ada di hadapan Siena, begitu juga di hadapan Max.
Kedua perampok itu berlari mendekati mereka berdua, melihat itu. Max, dan Siena, dengan santainya langsung menghindar, dan terjadilah tabrakan diantara kedua perampok tersebut.
"Kerja bagus Max," ucap Siena.
"Sama-sama, Kak." mereka berdua tos tinju––sebagai tanda kemenangan mereka.
Semua perampok, berhasil mereka bertiga kalahkan. 7 prajurit Istana, yang mendengar kegaduhan itu, segera mendekati sumber kegaduhan tersebut.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya salah satu prajurit Istana.
"Mereka adalah para perampok, yang hendak mengambil barang milik kami," jawab Max.
Akhirnya, kelima perampok itu dibawa ke Istana, ole para prajurit tersebut.
"Jia Li di mana?" tanya Max khawatir.
"Aku rasa ... Junqing membawa Jia Li, ke rumah. Tenanglah, dia pasti baik-baik saja," ucap Siena, sembari menepuk pundak Max. "Ayo kita segera ke Istana," lanjutnya.
"Tidak, kita harus istirahat," ucap Pangeran Xanras.
"Tapi ... kita harus segera memberitahukan kepada Kaisar," ucap Siena, ia tidak ingin membuang-buang waktu.
"Apa yang Pangeran Xanras ucapkan itu benar, Kak. Kita harus kembali ke rumah, untuk istirahat," timpal Max.
Mau tidak mau, akhirnya Siena dan lainnya kembali ke rumahnya, untuk beristirahat di sana. Dan besoknya, mereka akan pergi ke Istana untuk membicarakan penyerangan ini, kepada Yang Mulia Kaisar.
Sesampainya di rumah, Siena mendapatkan pelukan secara mendadak dari ketiga Adik angkatnya itu, Siena terharu, sekaligus senang.
Begitu juga dengan Kaili dan Falresia, mereka berdua sangat senang, akhirnya doa mereka dikabulkan, Siena kembali ke rumah tepat di malam hari, dan itu membuat ibu Rong Li sangat bahagia, melihat kepulangan Siena.
"Lebih baik kita masuk," ajak Falresia.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah, dan disaat itu juga, Max melihat Jia Li sedang duduk, sembari menatap dirinya yang masuk ke dalam rumah.
"Anda, bukannya tabib Liu, ya?" tanya Kaili, Pangeran Xanras hanya mengangguk. "Bagaimana bisa, bersama dengan Nona Siena?"
Di sana Siena meminta penjelasan kepada Junqing. "Aku tadi hendak memanah seekor burung elang, tanpa sengaja aku melihat Kakak kembali, dan dikepung oleh para perampok itu. Jadi, aku memilih untuk membantu Kakak Siena," jelas Junqing.
Siena hanya manggut-manggut, saat medengar penjelasan dari adik angkatnya itu. Ia juga bangga dengan Junqing Luwon, yang memiliki kemampuan memanah, dan sekaligus keberanian.
"Kakakmu pasti bangga padamu, terimakasih Junqing," ucap Siena.
Aku juga bangga, memiliki Kakak angkat sepertimu, batin Junqing Luwon, sembari mengukir senyumannya.
Setelah itu, mereka semua beristirahat di kamar masing-masing, kecuali Pangeran Xanras. Ia memilih untuk tidur di kursi, daripada di kamar.
...***...
Siena masib belum bisa tidur, dirinya merasa gelisah, akibat belum memberitahukan kepada Kaisar Xin mengenai penyerangan ini. Ia pun memastika semua orang yang ada di dalam rumah, semuanya sudah tertidur pulas, setelah memastikan semuanya aman. Siena berjalan mengendap-endap, agar dirinya tidak ketahuan. Namun, ada suara yang menbuatnya berhenti.
"Mau ke mana? Pergi malam-malam seorang diri," tanya Pangeran Xanras dengan dingin.
Kenapa dia tidur di sini, dan bodohnya aku, tidak menyadari dirinya, batin Siena kesal.
Pangeran Xanras berjalan mendekati Siena, ia menatap Siena dengan tatapan curiga. "Istirahatlah," ucapnya kepada Siena.
Sementara Siena sendiri hanya bisa menghembuskan nafasnya. "Huft! Aku tidak bisa tidur, aku merasa gelisah."
Mendengar ucapan Siena, Pangeran tersebut mengerti, dan ia mengajak Siena untuk ikut bersamanya, Siena pun mengikuti ajakan Pangeran Xanras.
Mereka berdua berada di luar rumah, di sana Pangeran Xanras tiba-tiba memeluk pinggang Siena, dari samping, dan membawanya terbang ke atas genteng rumah.
Kenapa perasaan ini muncul lagi ..., batin Siena.
"Pangeran Xanras, bisa lepaskan tanganmu dari pinggangku," ucap Siena, Pangeran Xanras kemudian melepaskan pelukannya, dan duduk di atas genteng.
"Duduklah di sampingku." Siena pun duduk tepat di samping Pangeran Xanras. "Aku tahu kamu sedang memikirkan penyerangan itu. Tapi tidak, dengan pergi ke Istana secara diam-diam sendirian," ucap Pangeran Xanras.
Ucapan Pangeran Xanras membuat Siena, menundukan kepalanya dalam-dalam, ia merasa jika dirinya egois dalam mengambil sebuah keputusan.
"Maafkan aku ...," lirihnya.
"Tidurlah, besok kita akan pergi ke Istana."
"Aku masih ingin menikmati langit malam," ucapnya, yang masih menikmati hamparan langit yang dipenuhi oleh bintang. "Pangeran Xanras, boleh aku bertanya padamu?" tanyanya, sembari menoleh ke arah Pangeran Xanras.
"Katakan."
"Apa kamu tidak ingin menjadi seorang Kaisar?" Pangeran Xanras hanya tersenyum, dan memandang wajah Siena.
"Menjadi seorang Kaisar tidaklah mudah, apalagi ... dia harus menikah dengan banyak wanita yang tidak dia cinta. Sementara aku hanya ingin mencintai satu orang wanita, dan hanya wanita itu yang aku cinta, hingga ajal menjemputku."
Siena tersenyum, hatinya merasa terenyuh, saat mendengar jawaban dari Pangeran Xanras. Tapi, tidak tahu kenapa, di dada terasa sakit, jika ia tidak ingin berpisah dengan pria di sampingnya itu. Trauma yang Siena alami, perlahan-lahan menghilang, dirinya merasa sangat nyaman berada di dekat Pangeran tersebut.
Apa aku mencintainya ..., pikir Siena, kemudian segera ia hilangkan pikiran itu jauh-jauh.
"Wanita itu sangat beruntung, bisa merasakan cinta yang kamu berikan kepadanya," ucap Siena, dengan senyumannya yang tulus.
"...."
Tidak ada tanggapan dari Pangeran Xanras. Namun, Pangeran tersebut tersenyum simpul kepada Siena––yang sedang memandangi langit malam.
Udara malam hari membuat wanita yang di sampingnya, terlihat sangat menikmati angin tersebut, hingga membuat Siena terlena dan tertidur––kepalanya terjatuh tepat di bahu Pangeran Xanras, sementara Pangeran tersebut hanya tersenyum. Saat melihat wanita yang di sampingnya, tertidur pulas.
"Wanita itu adalah kamu Siena ... andai kamu bisa bersamaku selamanya."
Pangeran Xanras kemudian mengangkat tubuh Siena, untuk dibawa masuk ke kamarnya.
Tbc