Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
29



Keesokan harinya ....


Jia Li memberitahukan kepada Siena. Jika, Kaisar akan mengadakan perburuan di hutan Yong Yu, ini kesempatannya untuk kabur dan memberitahu kepada Pangeran Fengying––Kerajaan Harumsy akan mendapatkan penyerangan secara diam-diam, dari Kerajaan Huarong.


"Jia Li, apa semua orang sudah pergi ke lapangan?" tanyanya.


"Sudah Nona, mereka semua sudah berkumpul di sana."


Tapi di sana Siena benar-benar lupa, jika dirinya tidak tahu arah menuju Kerajaan Harumsy, dan jalan satu-satunya adalah ... ia harus mengajak Max untuk ikut bersamanya.


"Kau harus ikut berburu," ucap seseorang, yang tiba-tiba masuk ke ruangan Siena.


"Salam Yang Mulia."


Hanya satu orang inilah yang menjadi penghalangnya untuk kabur dari Istana, dan itu adalah Pangeran Mahkota. Siena tiba-tiba ingat, dengan sesuatu yang hendak ia tanyakan kepada Pangeran Mahkota.


"Apa lagi maumu? Ah iya, boleh aku bertanya beberapa hal padamu Yang Mulia?" tanya Siena.


"Tanyakanlah."


"Saya permisi Yang Mulia, Nona Siena," pamit Jia Li, meninggalkan mereka berdua di ruangan.


"Kenapa kamu ingin mengambil, apa yang dimiliki oleh Pangeran Xanras." yang ditanya justru memasang seringaian.


Iblis tetap saja iblis, batin Siena.


"Karna ... aku tidak ingin melihat Adik ketiga bahagia, dan akulah yang membuat semua orang dalam Istana ini membencinya, tapi ... Kakak pertama justru membela Adik ketiga, dan bodohnya, dia malah dikurung di dalam Istana dingin."


Bahkan di sana Pangeran tersebut dengan bangganya menjelaskan semuanya kepada Siena, jika selama ini dialah yang membunuh anak dari selir resmi Kaisar–– demi membuat Kaisar tersebut membenci ibu dan Pangeran Xanras. Bukan hanya itu saja, saat Pangeran pertama dikurung di Istana dingin. Membuat Pangeran Jung, dengan mudahnya mengambil gelar Pangeran Mahkota, berkat bantuan dari ibunya.


"Sungguh tidak masuk akal, apa salah mereka bertiga."


Pangeran Jung lagi-lagi menjelaskan kepadanya. Jika, ibu dan Pangeran Xanras, telah mengambil kebahagiaannya dan juga ibunya. Sementara Pangeran pertama, tidak memiliki kesalahan apa-apa, Pangeran Jung menjebak Pangeran pertama, lantaran ingin mengambil alih kedudukan kakak pertamanya itu.


"Kamu bukan manusia, dan kenapa kamu ingin merebut Kerajaan Harumsy." lagi-lagi Siena bertanya.


Pangeran tersebut dengan tidak masuk akalnya berkata, "karna aku ingin membalaskan dendam, akibat kekalahan saat perlombaan memanah di Fingli. Dan Pangeran Fengying, sudah membuatku dipermalukan di sana. Kaisar juga memiliki dendam, dengan Kaisar dari Kerajaan Harumsy."


"Pecundang, sama seperti plankton."


Sebenarnya tidak ada hubungannya sih, sama plankton hihi, pikir Siena, sembari terkekeh geli di sana.


"Yang Mulia, perburuan akan segera dimulai," ucap Jia Li, muncul secara tiba-tiba.


"Cepat bersiap-siaplah, aku akan menunggumu di sana." Pangeran Jung pun pergi meninggalkan Siena.


Jia Li memberitahukan kepada Siena, jika perburuan ini dilakukan oleh semua putri di dalam Istana.


Aku akan mencoba rencana B, pikir Siena.


Siena yang sudah mengganti pakaiannya, langsung pergi untuk ikut berburu bersama dengan Putri Kerajaan. Tapi, sebelum itu, Siena sempat menemui Max, dirinya meminta kepada adiknya untuk menemuinya nanti malam, dan untungnya Max mengerti maksud dari kakaknya itu.


"Kau sudah menyuruh seseorang untuk membunuhnya," ucap putri dari perdana menteri Zhu, sembari melirik ke arah Siena.


"Sudah, Nona Tianlan Ru."


"Bagus."


Semua sudah berkumpul di sana, termasuk Siena. Mereka juga sudah menunggangi kuda masing-masing, Kaisar juga mengumumkan. Jika, perburuan ini akan dilaksanakan hingga mereka berhasil mendapatkan buruan. Setelah itu, mereka semua dipersilakan untuk pergi ke hutan Yong Yu.


Mereka, para putri dan selir. Berpencar, dan mencari perburuan mereka masing-masing.


KRESEK! KRESEK!


Tiba-tiba Siena mendengar sesuatu dibalik semak-semak tersebut, dirinya pun turun dari kuda, dan berjalan perlahan mendekati semak-semak itu. Siena juga sudah bersiap dengan panah––yang siap membunuh, jika tiba-tiba ada makhluk buas di hadapannya.


Saat Siena sudah berada tepat di dekat semak-semak tersebut, dirinya coba untuk memberanikan diri untuk melihat di balik semak-semak itu.


"Tidak ada apa-apa," gumamnya.


Ia pun melanjutkan perburuannya, sembari mengajak kuda yang ia tarik, saat Siena sedang mengamati sekelilingnya. Tiba-tiba ia melihat seekor burung yang berada di atas pohon––tak jauh dari tempatnya berdiri. Dan tepat di hadapannya adalah ... sebuah jurang yang cukup curam.


KRAK!


Siena yang sedang fokus mengatur panahnya, agar tepat sasaran. Tanpa ia sadari ... seseorang mengendap-endap dari arah belakangnya.


Aku merasa ada seseorang yang ingin mencelakaiku, batin Siena.


"Apa aku akan berakhir di sini ...," lirihnya.


Seseorang datang secara tiba-tiba untuk menolong Siena, seseorang itu langsung merengkuh tubuh Siena, seakan dirinya tidak ingin kehilangan wanita itu.


"Aku akan melindungimu."


"Siapa?" gumam Siena, dirinya menyadari ada seseorang yang ikut terjun ke jurang bersama dirinya. "Ta-tabib ... Liu ...," lirihnya.


BRUK!


Siena jatuh tepat di atas tubuh tabib Liu, sementara tabib tersebut, jatuh tepat di atas tumpukan daun yang kering. Sehingga, mereka berdua baik-baik saja, tanpa luka sedikitpun. Siena yang menyadari dirinya berada di atas tubuh tabib tersebut, langsung bangkit dan duduk di atas tumpukan daun. Tabib Liu pun duduk, berhadapan dengan Siena.


"Maafkan aku tabib Liu, apa anda baik-baik sa––" Siena tidak melanjutkan ucapannya, lantaran melihat luka yang ada di tubuh tabib tersebut.


Melihat luka itu, Siena langsung mendekati tabib Liu, dan hendak menyetuh luka tersebut. Namun, dengan cepat tabib tersebut menghindar, Siena semakin curiga dengan luka yang sama persis, seperti luka yang dimiliki oleh Pangeran Xanras.


"Aku baik-baik saja."


"Terimakasih sudah menyelamatkan aku, tabib Liu ... bolehkah anda melepaskan topeng, yang anda pakai?"


"...."


Diam, tidak ada jawaban dari tabib tersebut. "Kamu adalah Pangeran Xanras, jangan coba-coba untuk membohongiku," ucap Siena.


Tabib Liu melepaskan topengnya, dan benar saja. Tabib tersebut adalah Pangeran Xanras, hanya saja ... rambutnya berwarna putih.


"Kenapa kamu menyelamatkan aku? Sedangkan kamu sendiri sedang terluka––" ucap Siena, dengan nada yang sedikit khawatir. "Dan kenapa kamu berbohong kepadaku?" lanjutnya.


"Aku tidak apa-apa, nyawamu lebih penting dari nyawaku," ucap Pangeran Xanras, sembari mengelus rambut Siena.


"Kenapa kamu berbohong," tegas Siena.


"...."


Di sana Siena meminta kepada Pangeran Xanras, untuk menjelaskan semuanya kepadanya. Dan penjelasan Pangeran Xanras, berhasil membuat Siena menghela nafasnya. Bagaimana tidak, Pangeran tersebut menyamar demi mengawasi dirinya, dan juga untuk mencari cara membebaskan Pangeran pertama dari Istana dingin.


"Aku akan membantumu," ucap Siena.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Mari kita keluar dari tempat ini." Siena hanya bisa memasang tatapan datarnya, pria yang berada di sampingnya ini, benar-benar sangat keras kepala.


Akhirnya, mereka berdua berjalan untuk mencari jalan keluar, di sana juga ... Siena ingin memberitahukan kepada Pangeran Xanras, tetang asal usulnya yang sebenarnya. Belum sempat Siena memberitahukan kepada Pangeran tersebut, tubuh Siena tiba-tiba dipeluk, dan dibawa terbang oleh Pangeran Xanras.


Siena tidak percaya, jika orang jaman dulu bisa terbang. "Ta-tadi ... kita terbang?" ucap Siena tidak percaya.


Sementara Pangeran Xanras hanya tersenyum simpul, dan menarik tangan Siena untuk ikut bersamanya. Saat mereka berhenti tepat di ujung bukit, mata Siena langsung berbinar melihat indahnya matahari tenggelam.


"Aku menyukai senja," ucap pria tersebut sembari menatap Siena.


"Oh, nikmatilah." Siena pun hendak melangkah pergi meninggalkan pria tersebut, namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang.


"Jangan pergi, tetaplah bersamaku." Siena hanya diam, dan tertunduk lemas.


Kenapa aku menjadi seperti ini, saat berada didekatnya, batin Siena.


"Pangeran Xanras ... ada satu hal yang harus kamu tahu," ucap Siena.


"...."


"Aku berasal dari masa depan ...."


Siena menjelaskan semuanya kepada Pangeran Xanras, dari dirinya bisa masuk ke masa lampau. Hingga ia bercerita, jika dirinya sangat merindukan nenek, paman, dan saudaranya di masa depan.


Mendengar penjelasan dari Siena, membuat Pangeran Xanras menatapnya dengan tatapan teduh, ia tidak bisa membiarkan wanita yang ada di hadapannya itu sedih. Dan dirinya, mau tidak mau harus melepaskan kepergian Siena, jika tiba waktunya wanita itu harus kembali ke masa depan.


"Aku tidak akan melupakanmu," ucap Pangeran Xanras, sembari memeluk Siena secara tiba-tiba, dengan sangat erat. Seakan dirinya, belum siap menerima kenyataan.


Air mata Siena mendadak mengalir dari pelupuk matanya, dirinya tidak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


Kebahagiaanmu lebih utama, batin Pangeran Xanras.


Tbc