Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
21



Di sana Pangeran Fengying tidak menyangka. Jika, pelaku dari pembunuhan ini adalah perbuatan Wenying, dan selir Ling Ling, gundik Pangeran kedua.


"Yang Mulia, Adik Siena memberikan saya pesan untuk disampaikan kepada anda, Adik Siena meminta maaf kepada Yang Mulia, dirinya merasa bersalah, lantaran telah membawa masalah di dalam Istana," ucap Falresia, menyampaikan pesan Siena kepada Pangeran Fengying


"Tidak apa, ini bukan salahnya."


"Terimakasih Yang Mulia."


Mereka berdua pun kembali menatap layar laptop, saat mereka berdua melihat Siena yang keluar dari persembuyian, mereka terkejut, lantaran sikap Siena yang begitu santai, dengan beberapa kalimat yang tidak mereka berdua mengerti.


...***...


"Siapa kau! Berani-beraninya menguping pembicaraan kami," geram Wenying, Siena hanya tersenyum di balik maskernya.


"Aku? Aku adalah orang yang memberikanmu hati, sementara kamu ... kamu malah meminta jantung," sindir Siena, membuat Wenying terkejut mendengar perkataan itu.


Siena mendekati mereka bertiga, dan perlahan membuka masker yang ia kenakan itu. Tak lama, Wenying terkejut melihat seseorang yang telah menikahkannya dengan Pangeran Fengying. Dirinya tidak ingin rencana–Nya gagal, ia harus menyingkirkan Siena secara langsung.


Wenying pun memberi aba-aba kepada selir Ling Ling dan pelayannya, untuk menyerang Siena. Namun, dengan cepat! Siena berhasil menghindar dari serangan mereka berdua.


Satu lawan tiga, baiklah ... tidak buruk, pikir Siena.


Kemudian Siena melawan selir Ling Ling dengan melintirkan sebelah tangannya, hingga suara tulangnya terdengar.


"Akh!" ringis selir Ling Ling.


"Berhentilah melakukan perbuatan menjijikan ini," ucap Siena dengan nada dingin, membuat Wenying dan selir Ling Ling geram padanya.


Saat Siena tengah melintirkan tangan selir Ling Ling ke belakang, pelayan tersebut berjalan perlahan medekati Siena dari belakang, ia hendak memukul Siena dengan menggunakan guci yang berukuran sedang padanya. Untung saja Siena menyadari kehadiran pelayan itu, dan dirinya langsung menghindar. Kini guci itu, justru mengenai selir Ling Ling––kepalanya berlumuran darah, hingga jatuh pingsan.


"Nyonya, maafkan aku ... aku tidak sengaja," mohonnya, tapi percuma saja, selir Ling Ling sudah tidak sadarkan diri.


Pelayan tersebut malah, menyerang Siena hingga membabi buta, dan itu membuat Siena menggelengkan kepalanya. Pelayan Wenying benar-benar bodoh, dengan menyerangnya membabi buta, justru akan menimbulkan keributan di dalam Istana.


"Berhenti! Tongtong Li," hentinya kepada pelayan itu.


"Apa maumu! Siena," tanya Wenying, membuat Siena mengerutkan keningnya.


"Justru aku yang harusnya bertanya padamu, apa maumu, kenapa kamu ingin membunuhku," kini Siena lah, yang bertanya kepadanya.


"Bukannya ... kau sudah mendengarnya sendiri. Jika, aku ingin membunuhmu dan selir Luili."


"Humph! Aku tanya, alasan kenapa kamu melakukan semua ini, apa mungkin kamu melakukan ini, karna kamu dendam dengan nasibmu dulu yang selalu direndahkan. Atau ... karna dulu kamu tidak memiliki apa-apa, atau kamu kurang mendapat perhatian dari seseorang, percayalah Wenying ... jika kamu melakukan semua ini hanya demi itu. Caramu lah yang salah, kamu tidak seharusnya membunuh seseorang," sergahnya kepada Wenying.


Sementara Wenying, mengepalkan kedua tangannya, ia berusaha menahan amarahnya. Apa yang diucapkan oleh Siena, semuanya benar, direndahkan, tidak memiliki apa-apa, bahkan perhatian. Semuanya tidak pernah ia dapatkan, dirinya merasa. Jika, nasibnya sangatlah buruk. Tapi, tetap saja ia tidak akan mendengarkan ucapan Siena. Dirinya sudah cukup menderita, ia tidak mau bernasib buruk lagi.


"Iya, kau benar ...." lirihnya.


"Ka––" ucapan Siena terpotong, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. "Uhuk! Uhuk!" saat dirinya menutupi batuknya, menggunakan telapak tangan, Siena melihat ada segar keluar dari mulutnya.


"Wenying ...," lirih Siena.


Tiba-tiba Siena jatuh, tidak sadarkan diri. Tubuh Siena diseret oleh pelayan dan Wenying ke dalam kolam––di mana waktu itu dirinya mendorong Siena ke dalam kolam tersebut. Untungnya, suasana di luar sangat sepi, semua orang berkumpul di aula. Sementara itu, tubuh selir Ling Ling masih tergeletak di kamar Wenying. Karna tidak ingin mendapatkan kecurigaan, dirinya dan juga pelayannya itu, menyeret tubuh selir Ling Ling di kediamannya.


Setelah itu, Wenying meminta pelayannya untuk membersihkan bercakan arah dan pecahan guci, sementara dirinya akan meminta tolong, kepada Kaisar. Jika, di dalam Istana ada pembunuhan, dengan begitu dirinya tidak akan dicurigai.


...***...


Sementara Kaili dan pengawal Pangeran Fengying, sejak tadi memperhatikan perbuatan Wenying, dari awal hingga saat selir Ling Ling diseret di kediamannya.


"Kaili, kembalilah ke rumah, aku akan menyelamatkan Nona Siena." Kaili mengangguk mendengar perintah pengawal tersebut.


Kaili pun kembali ke rumah, sementara pengawal Pangeran Fengying menyeburkan dirinya ke dalam kolam tersebut, untuk menyelamatkan Siena.


Setelah menyelamatkan Siena, pengawal itu pun membawanya kembali ke rumah. Keadaan Siena saat ini sangat mengkhawatirkan, tubuhnya sangat dingin, wajahnya pucat, dan detak jantungnya lemah. Dirinya harus segera sampai di rumah, sebelum terjadi sesuatu kepada wanita itu.


Sesampainya di rumah, semua yang berada di dalam rumah tersebut dibuat panik, saat melihat keadaan Siena yang begitu mengenaskan.


"Fengfeng, cepat carikan tabib," perintah Pangeran Fengying, raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran terhadal Siena.


"Baik Yang Mulia." pengawal tersebut pun pergi untuk mencari tabib.


Fengfeng, pengawal Pangeran Fengying, bertemu dengan tabib muda, yang memiliki rambut berwarna putih panjang, dengan topeng yang menutupi sekitaran matanya. Ia pun segera mengajak tabib tersebut, untuk menyembuhkan racun yang ada di tubuh Siena.


Saat dirinya dan tabib tersebut sampai di rumah, tubuh Siena semakin memucat. Di sana tabib tersebut meminta kepada mereka untuk mencari 3 bunga mawar hitam, 1 bunga lotus, dan juga sedikir air dari sungai Meinu.


Mawar hitam sangat sulit di dapatkan, pikir Pangeran Fengying, Kaili, Falresia, dan Fengfeng.


"Mawar hitam berada di dalam hutan Shianli," ucap tabib tersebut, memberitahukan kepada mereka berempat.


"Hutan Shianli? Hutan itu dihuni banyak hewan berbahaya," gumam Fengfeng.


Di sana Pangeran Fengying memerintahkan Fengfeng untuk mencari bunga lotus, dan Kaili diperintahkan untuk mengambil air dari sungai Meinu, sementara dirinya akan mencari bunga mawar hitam itu. Namun, saat dirinya hendak pergi, tiba-tiba Max, dan Pangeran Yu Ting datang, memberikan kabar kepada Pangeran Fengying, jika Kaisar mencari dirinya, dan Istana sedang dilanda kekacauan.


"Kak! Kak Siena kenapa?!" Max terkejut melihat keadaan kakaknya itu.


"Nona Siena terkena racun," ucap Kaili.


"Kita tidak memiliki banyak waktu," ucap tabib tersebut.


Akhirnya, Pangeran Fengying kembali ke Istana bersama dengan Pangeran Yu Ting. Sementara tabib tersebut mencari mawar hitam, Kaili mencari air dari sungai Meinu, dan Fengfeng mencari bunga lotus.


Sebelum pergi, tabib tersebut memberikan obat penawar kepada Siena, agar racun yang ada ditubuhnya tidak menyebar dengan cepat.


Sejujurnya, Pangeran Fengying sangat mengkhawatirkan Siena, ia pun tidak akan segan-segan mengeksekusi, selir Ling Ling,  Wenying, dan pelayannya itu, saat ini juga. Di hadapan semua orang, bahkan pelayan yang sudah memberikan racun kepada selir Juan dan Selir Chunhua, akan dieksekusi juga bersama dengan keduanya.


Tbc