Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
26



Siena duduk di bawah pohon, tempat kediamannya. Dirinya baru saja menemui Max, ia ingin memastikan keadaan adiknya itu, Siena sangat lega saat melihat adiknya baik-baik saja. Ia juga sempat berbincang sebentar dengan Max, sebelum adiknya itu dipanggil oleh Kaisar.


Saat Siena tengah menikmati teduhnya duduk di bawah pohon, dirinya tiba-tiba didekati oleh seorang wanita cantik––Siena tidak percaya apa yang ia lihat, wanita itu adalah Jia Li. Wanita yang pernah menjadi pelayannya, saat dirinya tinggal di kediaman Pangeran Xanras.


"Jia Li? Ini benar kamu?" tanya Siena tidak percaya.


"Iya, Nona. Ini saya ... Jia Li."


Siena sangat senang bertemu dengan Jia Li. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Siena.


Jia Li mendekati Siena, dan duduk tepat disampingnya. "Yang Mulia Pangeran Xanras memerintahkan saya, untuk menjadi pelayan anda, Nona."


"Kenapa? Dia melakukan ini?" tanyanya lagi.


"Saya tidak tahu Nona." mendengar jawaban dari Jia Li, Siena hanya tersenyum dan mengangguk.


Saat sedang menikmati obrolan mereka, tiba-tiba seorang kasim mendekati mereka berdua.


"Kau! Seorang pelayan, berani-beraninya duduk disamping Nona Siena," ucap kasim tersebut.


Jia Li pun langsung meminta maaf kepada kasim tersebut, dan tak lama kasim tersebut menemui Siena. Pangeran Mahkota datang dengan tatapan yang mematikan, inilah yang membuat Siena membenci makhluk yang ada di hadapannya itu––Pangeran yang bersikap semaunya sendiri, dan serakah.


"Bawa pelayan itu ke tempat penghukuman, pukul dia 50 kali," perintah Pangeran tersebut.


"Baik Yang Mulia." saat kasim tersebut hendak mendekati Jia Li, Siena dengan cepat bangkit dari duduknya dan menghadang kasim tersebut.


"Lewati mayatku dulu, baru kamu bisa menghukumnya," ucap Siena dengan dingin.


Kasim tersebut berhenti, dan menoleh ke arah Pangeran Mahkota. Sementara, Pangeran tersebut hanya diam, dan menatap Siena dengan tatapan menantang, begitu juga dengan Siena.


"Baiklah, kasim Jun. Silakan kembali," perintah Pangeran tersebut.


"Baik Yang Mulia."


Jia Li sangat senang melayani Siena, lantaran wanita itu selalu bersikap baik kepadanya, walau dirinya hanya sekedar seorang pelayan. Tapi, perlakuan Siena terhadapnya begitu sangat berbeda, dan di sana dirinya kembali mengingat kebaikan ibu Pangeran Xanras, yang juga selalu bersikap baik padanya.


"Kau, ikut aku," ucap Pangeran Mahkota, sembari menarik tangan Siena dengan kasar.


"Jia Li, aku titip biolaku kepadamu." Jia Li mengangguk, mendengar pesan dari Nona-Nya itu.


"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Siena.


"Kau akan tahu sendiri."


Pangeran tersebut membawanya ke ruang bawah tanah, Siena rasa itu adalah sebuah penjara, atau sebuah tempat penyiksaan. Tapi, kenapa dirinya dibawa ke tempat seperti ini.


Dirinya pun berhenti tepat di depan sel penjara––bukan, tempat itu bukanlah sebuah penjara, melainkan tempat penyiksaan.


"Adik ketiga, coba lihat siapa yang berada di sini." pria itu pun mendongak, dan


Siena tak percaya melihat keadaan Pangeran Xanras seperti ini.


Pangeran sialan, teganya menyiksa Adiknya sendiri, batin Siena geram.


"Kamu bukan manusia, tapi seorang iblis!" geram Siena, dirinya berusaha untuk tidak meluapkan emosinya.


"Iya, aku adalah iblis," ucap Pangeran tersebut, sembari mendekatkan wajahnya di depan wajah Siena.


Pangeran itu hendak mencium Siena, tepat di hadapan Pangeran Xanras. Tapi, dengan cepat Siena menampar Pangeran tersebut, dirinya tidak sudi dicium oleh seorang iblis yang tidak memiliki hati.


"Berani sekali kau menamparku."


"Jangan pernah menyentuhku sedikitpun!"


"Bebaskan dia."


"Bebaskan sendiri, jika kau bisa maka aku tidak akan menyiksanya lagi. Aku akan pergi, jika kau bisa membebaskannya, panggil aku." Pangeran Mahkota pun pergi meninggalkan Siena yang tengah berdiri, dan memandang Pangeran Xanras, yang terlihat sangat mengenaskan itu.


"Keluarlah, kamu tidak pantas berada di sini," ucap Pangeran Xanras, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Siena.


Siena mencoba menggunakan telekinesisnya, ia berharap bisa membebaskan Pangeran tersebut, dari tempat mengerikan itu. Perlahan-lahan jeruji besi itu terbuka lebar, dan Siena bisa masuk ke dalamnya, untuk melepaskan kedua besi yang mengikat kedua tangan Pangeran tersebut.


"Apa yang baru saja kamu lakukan," ucap Pangeran Xanras, dirinya baru pertama kali bisa melihat kemampuan yang dimiliki oleh Siena.


"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya ingin dirimu bebas dari tempat mengerikan ini, aku akan membantumu keluar dari, semua penderitaanmu Pangeran Xanras," ucap Siena, sembari melepaskan kedua besi itu.


Klang!


Akhirnya, besi yang melingkar di pergelangan tangan Pangeran Xanras, terbuka juga. Siena tidak menyangka bisa mengendalikan telekinesisnya, padahal ini baru pertama kalinya.


"Apa kamu selalu diperlakukan seperti ini, kenapa kamu tidak memberontak?" tanya Siena kesal.


"Kamu mengkhawatirkan aku?"


"Tidak! Lupakan saja, kita harus segera keluar dari sini."


Aku sengaja untuk mengalah, ini belum saatnya untuk memberontak Siena, batin Pangeran Xanras.


Siena membantu Pangeran Xanras untuk berdiri, mereka berdua pun berjalan keluar dari tempat mengerikan itu. Siena membawa Pangeran Xanras di kediamannya, dirinya ingin mengobati luka Pangeran tersebut.


"Yang Mulia! Apa yang terjadi," ucap Jia Li panik, melihat keadaan Pangeran Xanras.


"Jia Li, tolong ambilkan air hangat," perintah Siena, Jia Li mengangguk dan pergi untuk mengambil air hangat.


Kepalaku kenapa tiba-tiba pusing, apa ini karna terlalu banyak menggunakan tenaga dalam, batin Siena, sembari memegang kepalanya yang sakit.


Siena berusaha untuk menahan sakit di kepalanya, dan di sana ia menyuruh Pangeran Xanras untuk naik di atas ranjang––agar dirinya bisa mengobati luka Pangeran tersebut.


"Ini Nona, airnya." Jia Li memberikan air tersebut kepada Siena, saat Siena hendak mengobati luka Pangeran Xanras, dirinya dikejutkan dengan Pangeran tersebut, lantaran sudah lebih dulu melepaskan pakaiannya.


"Ternyata kamu tidak sabaran ya?" ucap Siena, dirinya pun mulai mengobati luka Pangeran Xanras.


Siena tidak percaya, saat melihat luka yang begitu parah di tubuh Pangeran itu. Orang-orang yang ada di Istana ini, sangatlah kejam, bahkan terhadap saudaranya sendiri, mereka tega menyiksanya.


Kenapa jantungku berdegup lebih cepat, batin Siena.


Dirinya merasa ada sesuatu yang ada di dalam dirinya, saat berhadapan dengan Pangeran Xanras. Tiba-tiba di sana, pergelangan tangan Siena yang tengah mengobati lukanya, dipegang oleh Pangeran Xanras.


"Wajahmu pucat," ucapnya khawatir kepada Siena.


"Tidak, bisa lepaskan tanganmu, aku ingin mengobati lukamu." Pangeran Xanras pun melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Siena.


Aku harus bisa menahannya, pikir Siena, berusaha untuk menahan rasa sakit di kepalanya.


Setelah mengobati luka Pangeran Xanras, kini Siena membalut luka tersebut. Namun, tiba-tiba tubuh Siena terhuyung ke samping, untungnya Pangeran Xanras dengan cepat menahan tubuh Siena.


"Nona!" panik Jia Li.


"Jia Li, segera panggilkan tabib kemari." Jia Li pergi mengikuti perintah dari Pangeran Xanras.


Pangeran Xanras kemudia membaringkan tubuh Siena di sampingnya, ia terus memandang Siena, dengan raut wajah khawatir.


"Siapa kamu sebenarnya, Siena ...."


Tbc