Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
42



Malamnya ....


Junqing Luwon pergi untuk menemui Siena, di sana dirinya melihat Siena sedang duduk menjaga Pangeran Xanras, ia pun berjalan mendekati Kakak angkatnya itu.


"Kak ...," panggilnya, membuat Siena menoleh ke sumber suara.


"Iya, ada apa Junqing?" tanya Siena, yang tampak terlihat bingung, saat melihat raut wajah Junqing yang terlihat sendu.


Belum juga dijawab pertanyaan Siena, Junqing Luwon justru tiba-tiba memeluk Siena dengan sangat erat, Siena yang terkejut itu hanya bisa tersenyum, dan memandangi anak laki-laki itu.


"Jangan pergi Kak, tinggal lah di sini bersama kami ...," pinta Junqing Luwon, membuat Siena terkejut, dan berusaha untuk menahan air matanya.


"Aku tidak bisa janji Junqing, jika suatu hari nanti aku pergi ... jangan beritahu kepada siapapun oke? Cukup kamu saja, aku tidak ingin mereka mengetahui jika aku akan pergi. Kaili ... jadilah anak yang baik, dan bantu Kaili mengurus toko." Junqing pun melepaskan pelukannya, dan menatap Siena dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh air mata.


"Tidak! Kakak tidak boleh pergi," ucap Junqing Luwon dengan nada tinggi, anak itupun pergi meninggalkan kamar Siena.


"Maafkan aku ...," gumam Siena.


Mendengar ucapan Siena, membuat Junqing Luwon terus berlari meninggalkan rumah, dirinya tidak ingin kehilangan seorang kakak lagi. Baginya, Siena adalah sosok kakak yang sangat baik kepadanya, dan membuat dirinya tidak ingin melihat kepergian Siena.


Aku tidak ingin Kakak Siena kembali ke masa depan, batin Junqing Luwon, air matanya terus mengaliri pipinya.


Dirinya yang terus berlari kini berhenti di tepi sungai––tempat Siena menyendiri tadi, di sana Junqing Luwon melempar batu ke sungai tersebut, dirinya tidak tahu harus berbuat apa, agar Siena tetap bersamanya. Tapi, di sisi lain ... Junqing Luwon merasa kasihan, saat melihat kakak angkatnya itu merindukan paman, dan bibinya di sana.


Saat Siena keluar dari rumah, Junqing Luwon mengikutinya dari belakang, dan ia pikir kakak angkatnya itu sedang ada masalah––benar saja, justru masalah itu membuatnya tidak bisa tenang.


"Aku tidak ingin kehilangannya, dia sudah banyak membantuku, dan Adikku ...," lirihnya.


Sementara Siena sendiri tampak terlihat bingung, dan tatapan yang kosong membuatnya tidak sadar. Jika tangan Pangeran Xanras melakukan pergerakan, perlahan kedua mata Pangeran tersebut terbuka, dan sosok pertama yang ia lihat adalah Siena, wanita yang ia cinta. Namun, wanita yang ada di sampingnya itu terlihat sedang termenung, dan menteskan air mata.


"Siena ...," panggil Pangeran Xanras, dengan suara serak khas bangun tidur.


Mendengar namanya dipanggil, membuat Siena kembali tersadar, dan mencari sumber suara yang memanggilnya tadi. Ternyata, yang memanggilnya adalah Pangeran Xanras, dirinya sangat senang sekali melihat pria yang ada di depannya kembali sadar. Tanpa Siena sadari, dirinya lansung memeluk Pangeran tersebut dengan sangat erat.


"Syukurlah, kamu sudah sadar ...," lirih Siena.


Pangeran Xanras hanya bisa tersenyum bisa mendengar suara Siena. "Siena ... aku sangat merindukanmu," gumam Pangeran Xanras, membuat Siena melepaskan pelukannya, dan menatap Pangeran tersebut.


"Apa ada yang sakit?" tanya Siena, mengalihkan pembicaraan.


"Tidak ada, kenapa kamu menangis?" tanya Pangeran Xanras, dengan nada cemas.


"Aku tidak menangis," elaknya.


Siena pun mengambil cangkir yang ada di atas nakas, dan membantu Pangeran Xanras untuk menyenderkan tubuhnya.


"Minumlah," suruh Siena, sembari meminumkan air tersebut ke dalam mulut Pangeran tersebut. "Sekarang makan, agar cepat sembuh." kini Siena menyuapi Pangeran Xanras, dan Pangeran tersebut hanya patuh mengikuti perintah Siena.


Selesai menyuapi Pangeran Xanras, Siena hendak pergi memberitahukan kepada yang lain, kalau Pangeran Xanras sudah sadar. Namun, tangannya justru dicekal oleh Pangeran tersebut, Siena yang melihat tangannya dicekal, kembali menatap pria itu.


"Mau ke mana?" tanyanya kepada Siena.


"Aku mau memberitahukan kepada yang lain, kalau kamu sudah sadar."


"Biarkan mereka istirahat, tetaplah di sini bersamaku."


"Ah iya, obatmu belum diminum," ucap Siena, ia pun mengambil obat tersebut, dan memberikannya kepada Pangeran Xanras.


"Aku akan pergi membasuh wajah," ucap Pangeran Xanras yang hendak bangkit dari duduknya. Namun, Siena menahan Pangeran tersebut, untuk tidak beranjak dari kasur.


"Jangan paksakan dirimu Pangeran Xanras, kamu baru saja sadar, biarkan aku yang mengambil air untukmu."


Siena pergi mengambil air untuk membasuh wajah Pangeran Xanras, saat melihat kepergian Siena, tatapan Pangeran Xanras berubah menjadi tatapan yang teduh. Hatinya terasa sakit, jika wanita yang ia sayangi tidak lama lagi akan kembali ke masa depan.


Tak lama, Siena pun kembali dengan membawa sebaskom air, dan kain kecil untuk mengelap wajah Pangeran tersebut.


"Siena ... jika suatu hari nanti kamu kembali ke masa depan, apa kamu akan melupakanku?" tanya Pangeran Xanras, membuat Siena tersentak, sembari menundukkan kepalanya.


"Tentu saja aku tidak akan melupakanmu, dan lainnya," jawab Siena, kemudian memadang wajah Pangeran Xanras dengan senyumannya.


Kenapa hatiku terasa berat jika harus meninggalkan mereka, batin Siena.


Melihat hari sudah larut malam, Pangeran Xanras menyuruh Siena untuk istirahat, sementara ia akan menjaga wanita tersebut. Namun, Siena menolak untuk istirahat, dan menyuruh Pangeran Xanras untuk tetap tidak beranjak dari kasur.


"Pangeran Xanras, apa setelah ini kamu akan kembali ke Kerajaan Huarong?" tanyanya.


"Tentu saja Siena."


"Eumm ... kira-kira bagaimana nasib selir Yuyan, ya?"


"Aku rasa, kepalanya sudah dipenggal oleh Yang Mulia."


Mendengar jawaban Pangeran Xanras membuat Siena mengangguk, dan bergidik ngeri, saat membayangkan kepala selir Yuyan dipenggal.


"Terus? Kepala selir Yuyan akan diapakan, dimasukan ke dalam museum atau ... dijadikan pajangan di dalam Istana, agar seseorang tidak berani berbuat jahat," tanya Siena polos, membuat Pangeran Xanras tertawa.


Dia ... dia tertawa ..., batin Siena senang.


"Tidak Siena, kepalanya dan tubuhnya akan dikubur secara bersamaan."


"Ooo begitu ...."


Hening sejenak ....


"Siena ...," panggil Pangeran Xanras.


"Iya."


"Apa kamu mau menikah dengan Pangeran Yu Ting?" Siena hanya diam, dan mengalihkan pandangannya dari Pangeran Xanras.


Dirinya sempat ingat saat Pangeran Yu Ting meminta kepadanya untuk menjadi istrinya, pada saat di tenda kesehatan. Siena merasa iba ketika melihat raut wajah Pangeran Yu Ting, namun di sisi lain ... hatinya menganggap Pangeran Yu Ting hanya sebatas sahabat dekat saja, begitu juga dengan Pangeran Fengying.


"Tentu saja tidak! Lagipula, aku akan kembali ke masa depan, tidak mungkin aku menikah dengannya," tegas Siena, namun air matanya tiba-tiba keluar dari pelupuk matanya.


Pangeran Xanras yang melihat hal tersebut, segera menarik tangan Siena, dan merengkuh tubuh wanita itu dengan sangat erat. Siena yang terkejut akan perlakuan Pangeran Xanras, membuat tangisnya pecah, dirinya tidak tahu kenapa air matanya selalu saja keluar, saat mengingat ia akan kembali ke masa depan.


"Maafkan aku Siena ...," gumam Pangeran Xanras di telinganya.


Tbc