Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
33



Di kediaman Ratu Xiu ....


Semua selir, putri, dan pangeran, berkumpul di dalam kediaman sang Ratu. Mereka semua tampak terlihat terkejut, saat tabib kepercayaan Ratu, mengabarkan. Jika, Ratu tewas keracunan, medengar kabar itu, selir Yuyan sangat senang, akhirnya ia bisa menggantikan posisi Permaisuri Xiu.


"Siapa yang meracuni Permaisuri!" murka Kaisar.


Permaisuri Xiu adalah wanita yang sangat dicintai oleh Kaisar, permaisuri Xiu juga adalah cinta pertamanya, jadi untuk menyingkirkan posisi permaisuri Xiu, sangatlah sulit.


"Saya rasa, wanita yang bernama Siena, yang telah meracuni permaisuri Xiu, Yang Mulia," ucap selir Yuyan.


"Bagaimana kau bisa tahu."


"Saya melihatnya, masuk ke dalam kediaman Permaisuri."


Kaisar terlihat geram, mendengar ucapan yang keluar dari selir Yuyan, wanita yang akan menjadi selir Kerajaan, justru meracuni permaisuri.


"Bawa kemari wanita itu!" perintah Kaisar.


"Tidak," ucap seseorang, secara tiba-tiba. Membuat seisi kediaman menjadi ketakutan, saat melihat permaisuri Xiu, bangkit dari kematiannya.


Bagaimana bisa? Batin selir Yuyan.


Melihat sang istri bangun dari kematiannya, Kaisar dengan cepat menghampiri istrinya, dan memeluknya dengan sangat erat.


"Istriku, apa kau berpura-pura tewas, apa tujuanmu melakukan ini?" tanya Kaisar dengan lembut. Sementara permaisuri, tampak terlihat sedang tersentum licik ke arah selir Yuyan.


Permaisuri Xiu menjelaskan kepada Kaisar, dan dirinya menceritakan semua kebusukan yang selir Yuyan lakukan kepadanya, dan juga kepada selir Qiufeng--ibu Pangeran Xanras.


Selir Yuyan, menyingkirkan selir Qiufeng, lantaran selir Qiufeng selalu mendapatkan kasih sayang dari Kaisar, sama seperti permaisuri Xiu. Maka dari itu, ia mencoba menyingkirkan selir Qiufeng, dan rencananya berhasil. Namun, untuk kali ini ia gagal menyingkirkan permaisuri Xiu, dan berujung mendapatkan hukuman dari Kaisar, akibat dari perbuatannya.


"Keterlaluan! Kurung Pangeran Jung, dan Ibunya di penjara bawah tanah!" mereka berdua terkejut, dan langsung meminta ampun kepada Kaisar.


"Ampun Yang Mulia," ucap selir Yuyan.


"Ayahanda, maafkan aku."


"Aku akan menghukum kalian, setelah menyerang Kerajaan Harumsy, dan kau! Pangeran Jung, kau akan menjadi jenderal, dan turun dalam penyerangan. Sementara selir Yuyan, akan dikurung di Istana dingin," jelas Kaisar, membuat selir Yuyan, tidak terima, jika anaknya harus ikuta dalam penyerangan.


"Yang Mulia, hukum saja aku, jangan putraku."


"Keputusanku sudah bulat," tegas sang Kaisar.


Kenapa bisa jadi seperti ini, wanita itu sudah menipuku, batin selir Yuyan geram.


"Yang Mulia Kaisar!" panggil seorang prajurit.


"Ada apa."


"Nona Siena, dan Pangeran Jianying, mereka berdua kabur dari Istana."


"Kita harus mempercepat penyerangan."


...***...


Di dalam gua, mereka berempat tengah menghangatkan tubuh mereka, sesekali Siena memandang Pangeran Xanras, yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Pangeran Xanras, apa kamu tidak takut mendapatkan masalah, karna telah mengkhianati Kerajaan Huarong?" tanya Siena kepada Pangeran tersebut.


"Jangan pikirkan masalahku, lebih baik pikirkan rencana kalian," jawabnya. "Aku akan membantu kalian, dengan membawa prajurit bayangan milikku."


"Prajurit bayangan?" ucap mereka berdua bingung, Max, dan Siena.


Jadi di dalam gua, mereka berempat menyusun sebuah rencana, untuk membantu Kerajaan Harumsy melawan Kerajaan Huarong, mereka berempat tampak sangat serius dalam menyusun rencana itu.


"Kak, biarkan aku dan Pangeran Xanras, yang turun membantu Kerajaan Harumsy," ucap Max.


"Tidak Max, aku akan ikut turun juga," ucap Siena, tidak menyetujui ucapan Max.


"Tapi Kak--"


Dan akhirnya, Max menyerah juga, sementara Pangeran Xanras hanya menatap Siena dengan tatapan dingin. Ia pun bangkit dari duduknya, dan pergi menyusuri gua, yang ia anggap agak sedikit berbeda, dari gue lainnya.


"Mau ke mana dia?" gumam Siena, sembari menatap kepergian Pangeran Xanras.


Tubuh yang kesepian, batin Siena, yang masih menatap kepergian Pangeran Xanras.


"Kak," panggil Max, membuat Siena tersadar dari lamunanya.


"Apa?"


"Aku bisa membaca pikiranmu," ucap Max, membuat Siena tidak percaya dengan ucapan adiknya itu. "Tapi anehnya aku tidak bisa membaca pikiran Jia Li, dan Pangeran Xanras." mendengar namanya disebut, Jia Li hanya diam dan menunduk malu.


"Coba baca pikiranku, Max."


"Oke."


Max jelek, Max bau, Jia Li tidak mungkin suka padamu yang jelek itu ..., pikir Siena.


"Berhenti mengejekku, Kak."


Siena tidak menyangka adiknya ternyata bisa membaca pikiran orang lain, Siena pun meminta adiknya menjelaskan kepadanya, sejak kapan ia memiliki kemampuan membaca pikiran, dan Max menjelaskan, jika saar itu kepalanya terbentur oleh dinding, 6 hari yang lalu. Bagi Siena, itu adalah hal yang sangat konyol. Tapi ia juga mendapatkan kemampuan telekinesis, juga akibat dirinya tercebur ke dalam sebuah kolam di Istana.


"Max, aku juga mempunyai kemampuan telekinesis."


Max sempat tidak percaya dengan kakaknya itu. Namun, saat Siena menggerakkan tanganya ke arah batu kecil, dan membuat batu tersebut terbang mengelilingi api, yang tengah menghangatkan mereka.


Melihat kemampuan Siena. Max, dan Jia Li terkejut. "Nona ... apa itu sihir?" tanya Jia Li penasaran.


"Eumm, seperti sihir. Namun, bukan sihir, coba kamu lihat ini Jia Li."


Tangan Siena mengarah ke arah pohon sakura, yang sedang berbunga lebat. Perlahan ... bunga-bunga itu tercabut dari rantingnya, dan berterbangan ke arah Jia Li, melihat kemampuan Siena yang luar biasa, membuat mereka semakin takjub.


"Kak Siena ini luar biasa," puji Max.


"Aku bukan Siena, tapi Scarlet Witch," ucap Siena dengan nada sombong.


Max, yang mendengar ucapannya dengan nada sombong, hanya bisa memasang wajah datarnya.


"Ada apa dengan wajahmu Max," tanya Siena.


"Tidak apa-apa, aku sedang melihat orang sombong saja ...."


"Hehehe."


Melihat tingkah laku kakak-beradik ini, membuat Jia Li ikut senang melihat keduanya sangat akrab.


...***...


Semakin dalam Pangeran tersebut menyusuri gua, dirinya melihat ada setitik cahaya berwarna biru, tepat di depan sana. Ia pun berjalan dengan langkah sedikit lebar, dan akhirnya ia menemukan sebuah cahaya berebentuk bulat, berukuran sebesar tubuh manusia.


Apa ini adalah portal yang dimasuki oleh Siena, saat dirinya masuk ke masa ini, pikir Pangeran Xanras.


Ia pun mencoba untuk menyetuh portal tersebut. Namun, sayangnya ... ia justru terpental, tidak jauh dari portal tersebut.


"Sepertinya ... hanya Max, dan Siena. Yang bisa masuk ke dalam portal, sementara orang dari masa ini ... tidak bisa memasukinya," gumamnya.


Sebenarnya, Pangeran Xanras sangat berat melepaskan kepergian Siena, ia bisa saja menahan, atau tidak memberitahukan portal ini kepadanya. Karna ia sendiri melihat Siena sangat merindukan orang terdekatnya di masa depan, membuat Pangeran Xanras tidak bisa menahannya, atau bahkan melarangnya untuk kembali ke masa depan. Namun, untuk saat ini, dirinya belum siap memberitahukan kepada Siena.


Kemudian Pangeran Xanras memilih untuk kembali bersama Siena, dan lainnya. Sesampainya di sana, ia melihat mereka bertiga sudah tertidur pulas. Kemudian, pandangannya beralih menatap Siena yang sudah tertidur, dalam keadaan duduk. Pangeran Xanras, melepaskan mantel hangatnya, dan menyelimuti Siena, agar tidak kedinginan, akibat angin malam.


"Jika waktunya sudah tiba, aku akan membawamu kembali ke masa depan," gumamnya, sembari mengelus kepala Siena.


Setelah itu Pangeran Xanras pun pergi, meninggalkan mereka bertiga di dalam gua. Lantaran, ada sesuatu yang harus ia urus, dan ia tidak ingin melibatkan tiga orang itu.


Tbc