Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
41



Siena yang selesai menjelaskan kepada mereka, kini kembali ke kamarnya, dan ia melihat pengawal Pangeran Xanras, sedang menjaga Pangeran tersebut.


"Yuwen, istirahatlah di kamar Max, biarkan aku yang menjaganya," ucap Siena.


"Terimakasih, Nona." Ia pun keluar dari kamar Siena.


Melihat keadaan Pangeran Xanras, membuat dirinya ingin sekali menangis. Tapi, tidak bisa, Siena kemudian berjalan mendekati ranjang tersebut, dan duduk di sisi ranjang. Sambil sesekali, memandang raut wajah Pangeran Xanras yang sedikit pucat, ia pun menyetuhkan punggung tangannya di atas kening Pangeran Xanras.


"Suhu badannya normal, kenapa dia belum sadar juga ...," lirih Siena. "Sadarlah Pangeran Xanras, jangan tinggalkan aku, cukup Ayah dan Ibuku, yang meninggalkanku ...."


Max yang mengintip di balik pintu kamar Siena, menatap sedih pada kakaknya itu. Ia menyadari jika kakaknya masih belum bisa melupakan kedua orangtuanya, walau kedua orangtua mereka berpisah. Ia juga tidak menyangka, jika kedua orangtua mereka bisa sehancur itu.


Kak, ke mana pun Kakak pergi, aku akan selalu bersamamu, batin Max.


Kini hanya dirinya lah, yang dimiliki oleh Siena, jika suatu saat nanti mereka kembali ke masa depan, Max berjanji akan menjaga kakaknya itu. Max kemudian pergi dari sana, ia berjalan untuk menemui Jia Li.


Saat Max hendak melangkahkan kakinya, untuk menemui Jia Li, dirinya tiba-tiba dipanggil oleh Yuwen dari belakang.


"Ada apa?" tanya Max.


"Saya khawatir dengan keadaan Yang Mulia, sampai saat ini dia belum sadar juga, saya juga sedih. Saat melihat Nona Siena, yang terus menunggu Yang Mulia sadar."


"Iya, aku pun begitu Yuwen," ucap Max, sembari menepuk pundak Yuwen.


"Yuwen ...," panggil Siena, membuat keduanya melihat ke arah Siena. "Ada Max juga, ternyata."


"Ada Apa, Nona?" tanya Yuwen.


"Bisa panggilkan tabib kemari, tabib terbaik di sini," pintanya kepada Yuwen.


"Baik Nona, saya akan memanggil tabib kemari."


"Max, temani Yuwen pergi," perintah Siena.


Max di sana langsung memberi hormat kepada Siena, seakan dirinya mengikuti instruksi dari kakaknya itu.


"Siap komandan! Laksanakan! Ayo Yuwen," ajak Max.


"Baik Tuan."


"Panggil saja aku, Max. Tidak perlu, menggunakan embel-embel Tuan."


Mereka berdua pun, akhirnya pergi mencari tabib, untuk memeriksa keadaan Pangeran Xanras. Sementara Siena sendiri, kembali ke kamarnya, diikuti Falresia yang berada di belakangnya itu.


"Adik Siena, kamu belum makan seharian, aku membawakanmu sup, dan daging ayam," ucap Falresia, yang khawatir melihat Siena––belum memakan apapun seharian, sembari menyodorkan nampan kepadanya.


"Terimakasih Kak, maaf merepotkanmu." Siena mengambil nampan tersebut dari tangan Falresia, dan meletakkannya di atas nakas, dekat ranjang tersebut.


"Tidak, kamu sama sekali tidak merepotkanku."


Siena tersenyum lebar, dan sesekali memandang Pangeran Xanras. "Bagaimana keadaannya?" tanya Falresia, yang ikut memandang Pangeran Xanras.


"Tetap sama, tidak ada tanda-tanda pergerakan darinya."


Raut wajah Falresia tiba-tiba berubah menjadi sendu, saat dirinya melihat Siena yang sedih itu.


"Aku yakin, dia akan segera sadar ..."


"Aku juga berharap begitu."


Tak lama, Falresia pun keluar dari kamar Siena, dan tinggalah Siena dengan Pangeran Xanras di sana. Sembari menunggu tabib datang, Siena mengambil semangkuk nasi di atas nakas, dan memakannya.


Setelah selesai makan, Siena lagi-lagi memandang Pangeran Xanras. Ia merasa seperti sedang menunggu ibunya saat sakit dulu, hanya dirinya lah yang selalu menunggu ibunya sadar. Namun, nyatanya ... itu hanyalah sebuah impian yang sia-sia saja.


"Nona Siena ...." Merasa dirinya dipanggil, Siena pun menoleh ke arah sumber suara.


"Jia Li ... ada apa?"


Siena tersenyum, dan mengajak Jia Li ke taman belakang rumah. Mereka berdua duduk bersebelahan, suasana tampak terlihat sangat tenang, dan menyejukkan. Dan di sanalah, Siena penasaran apa yang ingin disampaikan Jia Li kepadanya.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Siena, dengan tatapannya yang tertuju pada Jia Li.


Haruskah aku menyampaikannya? Jika tidak, aku merasa kasihan melihat Pangeran Xanras, batin Jia Li.


Tatapan Siena kini beralih ke arah tangan Jia Li, yang sedang meremas bajunya itu, Siena merasa ... ada hal yang sangat penting yang ingin disampaikan kepadanya. Tapi, Jia Li terlihat ragu untuk mengungkapkan kepadanya.


"Jika kamu belum siap memberitahukan kepadaku, tidak apa-apa Jia Li," ucap Siena, sembari menyetuh tangan Jia Li


"Nona ... apa anda tahu? Apa yang disukai oleh Pangeran Xanras ...?" tanyanya, Siena tampak sedang berpikir.


"Eumm ... setahuku dia pernah berkata, jika dirinya menyukai senja." Jia Li tersenyum mendengar hal itu, berbeda dengan Siena yang terlihat bingung dengan senyuman Jia Li.


"Nona, Yang Mulia menyukai anda ... Pangeran Xanras mengibaratkan anda seperti senja yang sangat indah. Saya pernah diberitahukan oleh Yang Mulia, jika Nona Siena adalah wanita yang tegar, dan itulah yang membuat Yang Mulia menyukai anda."


Mendengar ucapan Jia Li, Siena hanya bisa bergeming, dan mentap kosong ke arah kolam tersebut. Dirinya tidak percaya dengan ucapan, yang baru saja disampaikan oleh Jia Li.


Aku tidak tahu ... aku bingung, dan semua perasaan ini terkumpul menjadi satu, batin Siena. Dirinya kemudian menunduk, dan berusaha untuk menahan tangisnya.


"Jia Li ... mungkin kamu lelah, beristirahatlah," ucapnya, kemudian menatap Jia Li dengan diikuti oleh senyumannya itu.


"No-Nona ... hngh ..! Baiklah."


Tak lama Jia Li pergi, dirinya kembali memanggil Siena, "Nona, tabib sudah datang kemari," ucapnya, memberitahukan kepada Siena.


"Syukurlah, ayo Jia Li." Siena bangkit dari duduknya, dan pergi menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Siena melihat Yuwen, Max, dan seorang tabib yang sedang memeriksa keadaan Pangeran Xanras. Siena berjalan mendekati mereka, diikuti Jia Li yang berada di belakangnya. Siena sangat berharap, keadaan Pangeran Xanras segera membaik, dan dirinya bisa kembali ke masa depan.


Setelah tabib tersebut selesai memeriksa keadaan Pangeran Xanras, Siena langsung bertanya mengenai kondisi Pangeran tersebut, "bagaimana keadaannya ...?" tanya Siena penuh harapan.


"Racun akibat tusukan itu ... sudah hilang, sementara lukanya sendiri, perlahan-lahan akan segera tertutup. Tenang saja Nona, dia akan sadar secepatnya, oleskan obat ini di lukanya," jelas tabib itu, sembari memberikan sebotol obat kepada Siena.


"Terimakasih banyak."


"Sudah kewajiban saya untuk menolong seseorang, Nona."


Sebelum tabib tersebut pergi, Siena sempat memberikan 50 keping emas, kepada tabib itu.


"Sekarang kita tinggal menunggu Yang Mulia sadar," ucap Yuwen.


"Aku akan pergi sebentar, tolong jaga Yang Mulia," ucap Siena, yang hendak keluar kamar.


"Kak ...," panggil Max.


"Aku ingin menyendiri, Max," ucap Siena, sama sekali tidak menoleh ke belakang.


Akhirnya Max mengalah, dan membiarkan kakaknya untuk menyendiri. Sebenarnya Max tahu, jika Siena sedang dilanda kebingungan, dan perasaan yang menjadi satu. Namun, Max sendiri tidak ingin menganggu kakaknya itu, dirinya ingin melihat Siena menenangkan diri.


Siena yang berjalan menuju tempat yang sunyi, agar dirinya bisa menenangkan diri, sekaligus ingin meluapkan semua emosi yang ia pendam. Siena duduk di tepi sungai, dengan suara kicauan burung yang ada di sekitarnya, dan juga suara air yang mengalir.


"Paman, Bibi. Aku sangat merindukan kalian, tapi aku belum siap meninggalkan tempat ini, aku bingung harus bagaimana ...," gumam Siena, dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Kedua tangan Siena, ia arahkan ke arah air sungai itu, dan air tersebut melayang di udara, akibat telekinesis yang Siena gunakan.


"Aku rasa ... tujuanku datang ke masa ini, hanya untuk mendamaikan kedua Kerajaan itu, dan itu berarti tugasku telah selesai. Pangeran Xanras, cepatlah sadar ... agar aku bisa kembali ke masa depan dengan tenang. Tapi, di mana portal menuju ke masa depan, aku sama sekali tidak melihatnya, atau aku dan Max terjebak di masa lampau ini ...."


Dengan suasana yang sunyi, Siena bisa memikirkan dirinya dan Max, yang saat ini sedang memikirkan portal menuju masa depan. Anehnya, Siena merasa sedih jika portal itu benar-benar ada, dan dirinya harus kembali ke masa depan.


"Apa benar ... Pangeran Xanras menyukaiku ...," gumam Siena.


Tbc