Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
37



Siena kembali ke Istana dengan membawa Kaili, di sana terlihat Max dan Fengfeng Yin yang sedang menunggu Kaisar Xin, di halaman belakang kediaman Kaisar.


Mereka berempat pun menunggu Kaisar Xin, tidak lama dari kedatangan mereka, Kaisar Xin keluar dari ruangannya–– membawa sebuah surat, dan giok.


"Kirim surat, dan giok ini kepada Kaisar Tao," perintah Kaisar Xin kepada Kaili dan Fengfeng Yin.


"Berhati-hatilah, di perbatasan mereka sudah membangun perkemahan militer," ucap Siena, memberitahukan kepada keduannya.


"Baiklah Yang Mulia, kami berdua akan segera mengirimkan surat ini kepada Kaisar Tao, hari ini juga," ucap Fengfeng Yin, kemudian mereka berdua pergi ke Kerajaan Huarong.


Semoga Kaisar Tao, membatalkan penyerangan ini, batin Siena.


Di sana Kaisar Xin mengajak mereka berdua kembali ke aula, untuk menyusun sebuah rencana. Sesampainya di aula, Siena melihat banyak orang yang terlihat sangat serius dalam menyusun rencana ini, ia pun mendekati mereka, dan ikut dalam penyusunan rencana tersebut.


Dalam rencana tersebut, pasukan Kerajaan Harumsy, berada di barisan paling depan. Sementara itu, pasukan bayangan sendiri, bersembunyi di tempat yang tidak akan diketahui, oleh pasukan dari Kerajaan Huarong. Dengan begitu, pasukan dari Kerajaan Huarong mengira. Jika, pasukan dari Kerajaan Harumsy hanya sedikit, padahal Kaisar Xin, memerintahkan kepada Jenderal Long Wu, untuk menurunkan 3.000 pasukan. Itu pun, dari pasukan Istana sendiri, belum dari pasukan bayangan yang berjumlah 500 pasukan.


Di dalam pikiran Siena, dirinya tidak bisa membayangkan, bagaimana jika benar-benar terjadi peperangan diantara kedua Kerajaan itu. Pasti akan tejadi pertumpahan darah, dan banyak pasukan yang tewas dalam peperangan tersebut.


"Siena, lebih baik kamu menunggu di Istana, aku tidak ingin melihatmu ikut dalam peperangan ini," larang Pangeran Fengying, ia tidak ingin melibatkan Siena, jika peperangan ini benar-benar terjadi.


"Tidak, aku akan ikut kalian berperang, aku akan berusaha membantu kalian semampuku," tolaknya.


"Dengar Siena, kami tidak ingin melihatmu terluka," ucap Pangeran Yu Ting.


Pangeran Xanras hanya bisa diam, dan memasang tatapan dinginnya, setelah mereka kembali dari Istana, ia akan membujuk Siena, agar tidak ikut dalam peperangan ini.


"Kak, kami menyayangimu, aku juga tidak ingin melihatmu terluka," ucap Max.


"...." Namun Siena hanya diam, dan berlari keluar dari aula.


Melihat kepergian Siena, Pangeran Xanras pun mengikuti ke mana Siena pergi. Dan terlihat, Siena sedang berjalan keluar dari Istana, dirinya kemudian menyusul Siena.


"Ikut aku," ucap Pangeran Xanras, sembari menarik tangan Siena.


Sementara itu, Siena tampak terlihat bingung, ke mana Pangeran Xanras akan membawanya, ia pun mengikuti Pangeran tersebut, dan ternyata Pangeran Xantas membawanya ke sebuah taman bunga, yang berada tak jauh dari Istana. Mereka berdua pun duduk di taman tersebut, sembari menikmati keindahan dari bunga tersebut.


"Banyak orang yang menyayangimu Siena, mereka tidak ingin melihatmu terluka, begitu juga denganku. Aku harap, kamu mengubah keputusanmu," ucap Pangeran Xanras.


Mendengar ucapan dari Pangeran tersebut, Siena hanya bisa menggenggam erat celananya, di sana ia berusaha untuk menahan air matanya. Ntah, kenapa semenjak dirinya bertemu dengan Pangeran Xanras, membuatnya tidak seperti biasanya, yang selalu bersikap tenang dan tegas.


"Ak-aku ... aku juga tidak ingin melihat kalian terluka, lebih baik aku yang terluka, kalian jangan ...," lirih Siena, air matanya pun akhirnya terjatuh.


Pangeran Xanras, yang menyadari air mata Siena yang jatuh, ia memegang dagu Siena, dan mengarahkan wajah wanita tersebut, untuk menatapnya. Kemudian, Pangeran Xanras mengusap air mata Siena, dengan ibu jarinya.


"Kami pasti akan baik-baik saja, jangan khawatirkan kami, Siena."


"Tidak, aku akan tetap ikut dalam peperangan itu, Pangeran Xanras ... izinkan aku ikut berperang bersamamu," kekeh Siena, Pangeran Xanras terlihat sedang menimbang hal tersebut.


"Baiklah aku izinkan. Tapi, kamu harus tetap bersamaku, jangan coba-coba untuk berpisah dariku."


Wajah inilah, yang akan Pangeran Xanras rindukan. Jika saatnya wanita yang ada di hadapannya itu, kembali ke masa depan.


...***...


Di Kerajaan Huarong ....


Kaisar Tao memerintahkan kepada Pangeran Jung, dan panglima Gao, untuk melakukan penyerangan saat menjelang petang nanti.


Aku akan segera membalaskan dendamku, dan ibuku, batin Pangeran Jung, yang saat ini menjadi seorang Jenderal.


Selesai berdiskusi dengan Kaisar Tao, Pangeran Jung berjalan menuju kediamannya, ia tamapk terlihat sedang menunggu seseorang. Setelah lama menunggu, seseorang yang ia tunggu pun datang menemuinya.


"Kenapa kau lama sekali," geram Pangeran Jung, kepada orang misterius yang menggunakan pakaian yang begitu tertutup.


"Maafkan saya, Yang Mulia," ucap orang tersebut, sembari berlutut di depan Pangeran Jung.


"To Mu, aku ingin kau bersembunyi saat pasukan Istana, siap menyerang Kerajaan Harumsy. Dan aku ingin, kamu lebih dulu yang menyerang mereka, sebelum pasukanku menyerang," jelas Pangeran Jung kepada seorang pria yang bernama To Mu.


"Baik Yang Mulia."


"Silakan jalani perintahku." To Mu pun pergi, untuk menjalankan perintahnya itu.


Pangeran Jung sangat yakin, jika wanita itu pasti akan ikut dalam pertempuran, sehingga ini juga menjadi kesempatannya untuk membalaskan dendam, kepada Pangeran Fengying, dan juga Siena.


Jika dendamnya sudah tercapai, Pangeran Jung berniag melarika diri bersam dengan ibunya, dan akan kembali ke Istana untuk merebut tahta, dari Pangeran Mahkota––sekarang ini.


"Wah-wah, sepertinya ... ada yang ingin membalaskan dendam," ucap seorang wanita, yang menguping pembicaraannya dengan To Mu.


"Kau! Apa maumu, Yingtai Mui."


"Aku akan membantumu, jika kau mau bekerja sama denganku."


"Bekerjasama? Apa yang kau inginkan."


"Setelah peperangan ini berakhir, aku ingin kau membantuku membalaskan dendam kepada Pangeran Xanras."


Pangeran Jung menyeringai, saat mendengar nama tersebut, wanita ini ternyata bisa diandalkan, dan sejalan dengannya.


"Itu sangatlah mudah," ucap Pangeran Jung.


Dendam yang mereka miliki terlihat sangat mendalam, sama seperti selir Yuyan. Tidak tahu kenapa, Yungtai Mui ingin sekali membalaskan dendam, kepada Pangeran Xanras. Dari sorot matanya saja bisa dilihat, jika Yungtai Mui sangat membenci Pangeran tersebut.


Aku akan membuatmu menyusul Ibumu, Pangeran Xanras, batin Yungtai Mui.


Kita lihat saja, apakah rencana mereka berhasil, atau justru mereka yang gagal. Semua itu masih menjadi rahasia, dan kita hanya bisa menunggu menjelang petang nanti, saat semua pasukan sudah siap untuk berperang.


Tbc