
Di perbatasan, semua pasukan Kerajaan Huarong telah berbaris rapi, begitu juga dengan pasukan Kerajaan Harumsy. Masing-masing pasukan telah berbaris, dan bersiap untuk melakukan pernyerangan.
Sementara Pangeran Xanras yang diberi kepercayaan oleh Kaisar Xin, untuk memimpin pasukan, sedang menunggu sesuatu.
Tiba-tiba datang seekor burung merpati terbang ke arah Pangeran Xanras, terlihat ada sepucuk kertas yang ada di kaki burung tersebut, burung itupun mendarat di tangan kanan Pangeran Xanras. Kemudian Pangeran tersebut, mengambil kertas yang ada di kaki burung itu.
Kaisar Tao membatalkan penyerangan.
Itulah pesan yang ada di dalam kerta tersebut, Siena yang berada di belakang Pangeran Xanras, tampak terlihat penasaran apa yang ada di tangannya itu.
"Apa itu Pangeran Xanras," tanya Siena, sembari mengintip dibalik tubuh tersebut.
"Kaisar Tao membatalkan penyerangan."
Siena sangat senang mendengar kabar tersebut. Namun, Siena merasakan ada sesuatu yang tidak beres, dan ia tidak tahu apa itu.
"AKH!" tiba-tiba sebuah panah menancap di dada Pangeran Yu Ting, dengan sigap Siena turun dari atas kuda.
"Siena, tetap bersamaku!" pekik Pangeran Xanras, yang terus memperhatikan Siena.
Namun Siena tidak menghiraukan ucapan Pangeran Xanras, dirinya khawatir dengan keadaan Pangeran Yu Ting, yang saat ini sedang terluka. Di sana, tubuh Pangeran Yu Ting hendak terjatuh dari atas kuda, untungnya dengan cepat Siena menolongnya.
"Pangeran Yu Ting bertahanlah," ucap Siena, sembari menahan luka tersebut.
"Kamu peduli kepadaku, Siena ... aku ingin kamu menjadi istriku, aku berjanji akan selalu ada untukmu."
"Jangan memikirkan hal itu, pikirkan lukamu ini."
Tak lama, dua prajurit datang untuk menyelamatkan Pangeran Yu Ting, dan Pangeran tersebut dibawa pergi oleh kedua prajurit itu, untuk diobati lukanya.
"SERANG ...!" dari sebrang sana terdengar seseorang memerintahkan pasukan, untuk menyerang.
"Siena," Panggil Pangeran Xanras, Siena pun kembali menunggangi kuda bersama Pangeran tersebut
"Ini saatnya Pangeran Xanras," ucap Siena.
"SERANG ...!" kini giliran Pangeran Xanras yang memerintahkan kepada pasukannya.
Dari sorot mata Pangeran Xanras, terlihat sebuah amarah yang begitu besar, walaupun dengan tatapan wajah yang begitu dingin.
Dan terjadilah peperangan diantara kedua Kerajaan itu.
Hari semakin gelap. Namun, sinar bulan menyinari medan perang.
ZRAK!
SYUT!
siena yang membawa pedang, berhasil melumpuhkan lawannya, begitu juga dengan Pangeran Xanras. Mereka berdua terus melawan musuh merek, dengan mengayunkan sebuah pedang, setiap panah yang mengarah kepada mereka, dan berhasil ditangkis.
ZRAK!
WUSSSH!
Pangeran Fengying juga ikut dalam peperangan ini, ia terlihat begitu bersemangat saat mengalahkan pasukan tersebut.
Di sanalah pertumpahan darah mulai terjadi, setiap detiknya, banyak luka yang berada di tubuh mereka. Keringat berjatuhan, suara nafas yang terengah-engah, bahkan bisa terdengar. Inilah arti, susahnya mendapatkan sebuah kedamaian dan ketenangan dalam hidup, angin yang seharusnya menyejukan, kini berubah menjadi kepedihan.
SLASHHH!
ZRAKK!
WUSHH!
"Tetap fokus! Pada lawan, jangan sampai lengah!" pekik Siena, untuk mengingatkan kepada para prajuritnya. "Max! Fokus!"
Tiba-tiba, kuda yang mereka berdua tunggangi, mendadak mengamuk, dan hilang kendali, membuat Siena terjatuh dari atas kuda tersebut.
BRUK!
"Ukh!"
"SIENA!" Pangeran Xanras, langsung turun dari kuda itu, dan segera mendekati Siena.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku."
Siena bangkit dari duduknya, dan kembali menyerang bersama dengan Pangeran Xanras. Terlihat jelas, di sana Siena memainkan pedangnya, dengan sangat lincah. Satu persatu lawan, berhasil ia jatuhkan.
Tanpa disadari oleh Siena, diam-diam musuh hendak menusuknya dari belakang. Namun, segera di tangkis oleh Pangeran Xanras.
"Ternyata seru juga ya? Berperang," ucap Siena, dengan nada yang bersemangat, sekaligus senang.
ZRAKK!
TING!
SWISSHH!
Seseorang yang menjadi suruhan Pangeran Jung, melepaskan panah ke arah Siena. Dan untungnya, panah tersebut nyaris mengenai Siena.
Seseorang mengincarku, batin Siena, kemudian mencari arah datangnya panah tersebut.
Orang yang berniat membunuhnya, kini berada tepat di hadapannya, dengan busur yang berada di tangan. Ternyata, sosok yang berniat membunuhnya, adalah seorang wanita. Tapi, ia sama sekali tidak mengenal wanita itu, bahkan dirinya tidak pernah melihatnya.
Yingtai Mui, apa yang dia lakukan di medan perang, batin Pangeran Xanras, saat dirinya melihat Siena yang berjalan mendekati seorang wanita.
Pangeran Xanras kemudian mendekati Siena. Namun sayangnya, dirinya dihadang oleh seorang pria yang mengarahkan pedanya, ke arah leher Pangeran Xanras.
"Kau lawan aku," ucap Tao Mu, akhirnya Pangeran Xanras pun melawan Tao Mu.
Sementara Siena, beradu pedang dengan wanita yang tidak ia kenal. "Siapa kamu?" tanya Siena kepada wanita itu.
"Aku adalah orang yang ditolak cintanya oleh Pangeran Xanras, dan dia justru memilihmu."
"Aku ingin membalas dendam, membunuhmu, dan membunuhnya."
"Aku tidak habis pikir dengan wanita sepertimu, yang berpikiran sempit, lantaran cintanya ditolak oleh satu orang pria."
"Kau! Jangan ikut campur masalahku! Rasakan ini." Siena dengan cepat menghindar, dari serangan wanita asing itu. "Sialan ...," umpatnya, yang lagi-lagi menyerang Siena.
TING!
ZRAKK!
Max yang melihat kakaknya sedang dalam bahaya, segera berlari mendekati wanita yang sedang bertarung dengan kakaknya itu, dan tanpa babibu lagi. Max, langsung menusuk wanita tersebut dari arah belakang, dengan pedangnya, dan disaat itu juga, tubuh wanita itu tumbang di depan Siena.
"Terimakasih Max," ucap Siena. "Max, bantu prajurit yang membutuhkanmu, jangan khawatirkan aku, aku bisa menangani mereka," suruhnya, Max pun mengangguk dan pergi meninggalkan Siena.
Setelah berhasil membunuh pria yang menghadangnya, melihat wanita yang tadi menyerang Siena, telah tewas. Kini arah pandang Pangeran Xanras tertuju kepada Pangeran Jung, yang hendak mendekati Pangeran Fengying, ia pun segera berlari dan melawan Pangeran Jung.
"Wah-wah, ternyata ada seorang pengkhianat, walaupun warna tambutmu berbeda, tapi aku masih mengenal wajahmu," ejek Pangeran Jung, yang sedang bertarung Pangeran Xanras.
"...." Pangeran Xanras tidak menghiraukan ucapan Pangeran Jung.
Pasukan bayangan yang bersembunyi, langsung menembakkan panah ke arah lawan, tidak sedikit yang terkena, masih ada sekitar 2.000 pasukan musuh di sana, karna Kerjaan Huarong menurunkan 3.000 pasukan.
Pangeran Jung, yang melihat Siena tidak jauh darinya––langsung menarik wanita itu, dan menodongkan pedang ke arah leher Siena.
"Lepaskan dia," perintah Pangeran Xanras, dengan raut wajah yang dingin.
"Baiklah, aku akan membunuhnya, setelah aku berhasil membunuhmu," ucap Pangeran Jung, sembari menggoreskan pedangnya di lengan Siena.
"Akh!" rintih Siena, melihat Siena terluka, membuat Pangeran Xanras geram dengan Pangeran Jung.
Tanpa basa–basi lagi, Pangeran Xanras langsung menyerang Pangeran Jung, dengan penuh amarahnya.
Siena yang lengannya terluka akibat pedang Pangeran Jung, ia tetap bertarung, dan berusaha melupakan rasa sakit yang ada di lengannya.
Perlahan-lahan banyak musuh yang mendekati Siena, dan itu membuat Pangeran Xanras, tidak fokus bertarung dengan Pangeran Jung. Dan akhirnya, Pangeran Xanras memilih untuk melindungi Siena, ia kemudian membunuh semua lawan yang mendekati wanita yang ia cinta itu.
"Ini kesempatanku, untuk membunuhnya," gumam Pangeran Jung, dengan seringaiannya.
Siena yang sedang bertarung dengan musuh, menoleh ke belakang dan mendapati Pangeran Xanras, yang telah tertusuk pedang dari belakang.
"Pa-Pangeran Xanras ...," lirihnya, kemudian ia segera menghabisi musuh yang ada di hadapannya, dan kemudian berlari mendekati Pangeran Xanras.
"Aku tidak apa-apa, uhuk!" ucap Pangeran Xanras, diikuti darah yang keluar dari mulutnya.
Saat itu juga Pangeran Xanras jatuh dipelukan Siena. "Pangeran Xanras, bertahanlah kumohon," ucap Siena.
Kemudian Siena membaringkan tubuh Pangeran tersebut, dan meletakkan kepala Pangeran Xanras di atas pahanya.
"Hahaha tak lama lagi, dia akan tewas, sekarang giliran kau! Wanita sialan!"
Pangeran Jung pun mengarahkan pedangnya, ke arah Siena. Namun, Siena langsung menatapnya dengan tatapan tajam, hingga membuat pedang yang ada di tangan Pangeran tersebut, tidak bisa dikendalikan.
"Ke-kenapa pedangku tidak bisa digerakkan," ucapnya panik. "Prajurit, habisi wanita itu!" perintahnya.
Siena meletakkan kepala Pangeran Xanras di atas tanah, dirinya kemudian bangkit berdiri, mendekati Pangeran Jung, dan masih menatap tajam ke arah Pangeran tersebut. Tak lama, 20 prajurit datang mengepungnya.
Melihat dirinya yang sudah terkepung, kedua tangan Siena bergerak, dan mengarahkan ke arah pedang mereka. Sehingga membuat pedang tersebut tidak bisa digerakkan oleh mereka, setelah itu Siena lagi-lagi menggerakan tangannya, dan membuat pedang mereka lepas dari genggaman, kemudian pedang itu mengarah ke arah mereka. Dan dalam sekejap, 20 prajurit itu tewas seketika.
Sementara itu, pedang milik Pangeran Jung, masih ditahan oleh Siena, hanya dengan melalui tatapannya.
"Apa, pedangnya melayang," ucap mereka yang menyaksikan pedang tersebut.
Pedang tersebut, kemudian mengarah ke arah Pangeran Jung. Siena di sana, tidak langsung membunuh Pangeran itu, ia justru ingin menyiksanya.
"Rasakan ini, akibat menyiksa saudaramu sendiri," ucap Siena geram, dengan sorot mata yang tajam.
"Akh!"
"Rasakan ini, karna sudah mengambil kebahagiaan milik orang lain." pedang itu menyayat lengan, dan tubuh Pangeran Jung.
"Akh! Hentikan!"
"Tidak ak––"
"Kak! Hentikan! Sadarlah Kak!" pekik Max, dan berhasil membuat amarah Siena terkendali.
Dengan kesadaran Siena, membuat pedang tersebut terjatuh, tepat di depan Pangeran Jung. Sementara itu, kepala Siena mendadak terasa sakit, ia pun terduduk di atas tanah, sembari memegang kepalanya.
Pangeran Jung, yang melihat keadaan Siena, mengambil pedang yang ada di hadapannya, dan langsung mengarahkannya ke arah Siena. Namun, justru dirinya yang terkena pedang berukuran sedang, milik Siena.
Sebelah tangan Siena masih mengarah pedang miliknya, yang tertancap tepat di jantung Pangeran Jung. Seketika itu, Pangeran Jung tewas ditempat.
"Hah ... hah ... hah ...." nafas Siena terengah-engah, akibat kelelahan, sekaligus menahan sakit di kepalanya.
Di sana terdengar suara terompet, pertanda seorang Kaisar memasuki medan perang. Semua orang berhenti bertarung, dan menoleh ke arah Kaisar Tao.
"Hentikan peperangan ini! Aku sudah mengirim pesan kepada kalian, untuk tidak menyerang Kerajaan Harumsy! Semuanya mundur!" perintah Kaisar Tao.
Akhirnya, semua pasukan Kerajaan Huarong mundur, Siena merasa sangat lega. Kemudian ia ingat dengan Pangeran Xanras, Siena pun berlari ke tempat Pangeran Xanras, yang sedang terluka itu. Namun, di sana ia tidak menemukan pria tersebut.
"Di mana dia?" gumam Siena, yang berusaha menahan tangisnya.
"Kak! Syukurlah, Kakak baik-baik saja," ucap Max, sembari memeluk Siena dengan sangat erat.
"Di mana Pangeran Xanras, Max!"
"Tenang Kak, Pangeran Xanras dibawa prajurit ke tenda kesehatan."
Semoga dia baik-baik saja, batin Siena, yang merasa gelisah itu.
Tbc