
Malamnya ....
Siena dengan berat hati harus ikut dalam pemilihan selir tersebut, dirinya merasa. Jika, para Putri dan selir yang berada di sini, seakan meremehkannya. Padahal ia sama sekali, tidak mengerti apa maksud dari tatapan mereka itu.
Lebih baik aku isolasi diri, daripada harus bergabung dengan mereka, pikir Siena.
"Jia Li, apa aku harus mengenakan hanfu?" tanya Siena, dirinya benar-benar tidak nyaman dengan pakaian tersebut.
"Iya Nona, anda harus memakainya. Karna pemilihan selir ini, adalah acara resmi."
Siena hanya bisa menghela nafasnya, dirinya mau tidak mau, harus memakai hanfu.
"Rambutku biarkan saja terurai, jangan dihias," ucap Siena.
"Baik Nona."
Setelah selesai, Siena pun pergi ke aula Hexu bersama dengan Jia Li. Dirinya juga tak lupa membawa sebuah jarum, untuk memastikan makanan disajikan tidak memilki racun. Sementara Max, ia juga ikut menghadiri dalam pemilihan selir itu, Max juga membawa gitarnya, yang ia letakkan di belakang aula.
Mereka berdua, Siena dan Jia Li pun memasuki aula, terlihat jelas ... di dalam aula sudah banyak tamu yang hadir, dan di sana semua mata tertuju kepadanya. Siena menganggap tatapan itu sebagai penggemarnya, dirinya tidak ingin mengambil pusing dengan tatapan itu. Tapi, di sana Siena sama sekali tidak melihat kedatangan Pangeran Xanras.
Benar-benar keluarga Kerajaan yang tidak memiliki hati, batin Siena.
Siena pun duduk di tempat yang sudah disediakan, di sana ia hanya bisa diam, dan mengamati sekelilingnya. Siena melihat, ada banyak sekali wanita yang cantik, bahkan wanita yang saat itu tidur seranjang dengan Pangeran Mahkota, bisa dibilang terlalu berpenampilan berlebihan.
"Mari kita sambut tarian dari putri Chuming," ucap kasim tersebut.
Tak lama, muncullah seorang wanita dengan pakaian sexy-Nya. Siena yang melihat cara berpakaian wanita itu, merasa geli. Bagaimana tidak, pakaian itu bisa dibilang terlalu terbuka.
Setelah penampilan dari putri Chuming, kini giliran wanita yang duduk tepat di sampingnya, yaitu selir Xia'er. Penampilan kali ini adala seni bela diri, semua terkagum melihat penampilannya.
Sekarang giliranmu Siena, aku ingin lihat, penampilan apa yang akan kau mainkan, pikir Pangeran Mahkota dengan seringaiannya.
"Nona Siena, sekarang giliran anda," ucap Pangeran Mahkota, dan itu membuat Siena terkejut.
Ah! Dia ingin bermain-main denganku, pikir Siena.
"Maaf Yang Mulia, saya tidak memiliki bakat, lagi pula ... saya di sini tidak berniat menjadi seorang selir," jelas Siena.
"Berani sekali kau! Menolak perintahku! Yang Mulia kaisar, saya merasa terhina," adu Pangeran tersebut, membuat Siena hanya bisa geleng-geleng kepala.
Oh! Jurus aduan, pikir Siena.
Habislah Nonaku, aku harap anda baik-baik saja Nona Siena, batin Jia Li, dirinya was-was lantaran Nonanya sudah membuat Pangeran Mahkota marah.
"Nona Siena, semua wanita yang hadir di sini, wajib menampilkan bakat mereka," ucap Kaisar.
"Baiklah, jika anda memaksa." Siena menatap Max, begitu juga dengan Max. "Saya butuh 2 kursi." seorang pelayan pun mengambil 2 kursi untuk Siena.
Dan di sana Siena, meminta Max untuk mengambil gitarnya dan duduk bersamanya. Semua orang yang ada di sana dibuat penasaran, dengan apa yang akan dilakukan oleh Siena dan juga Max.
Jreng ....
Max mulai memainkan gitarnya, dan Siena juga mulai menyanyikan lagu milik Taylor Swift–Everything Has Canged feat Ed Sheeran. Lagu ini adalah lagu favorit mereka berdua, Siena dan Max selalu menyanyikan lagu ini, disaat mereka tengah menghabiskan waktu berdua.
Saat Siena menyanyikan lagu tersebut, semuanya tampak terlihat bingung, sekaligus takjub dengan suara yang dimilikinya, begitu juga dengan alat musik yang dimainkan oleh Max.
"All I know is pouring rain
And everything has changed
All I know is a new found grace
All my days, I'll know your face
All I know sinec yesterday, yeah
Is everything has changed ...." Siena dan Max pun mengakhiri lagu tersebut.
Semua orang bertepuk tangan, walaupun mereka tidak mengerti arti dari lagu tersebut, dan besorak senang kepada mereka berdua, kecuali ... Pangeran Mahkota, ia sama sekali belum puas dengan apa yang ditampilkan oleh Siena, dirinya ingin melihat kemampuan yang dimiliki oleh Siena, Pangeran tersebut merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu.
"Nona Siena, saya belum puas dengan apa yang anda tampilkan," ucap Pangeran Mahkota, dan itu membuat Siena berusaha menahan amarahnya.
"Apa yang membuat anda tidak puas Yang Mulia?" tanya Siena.
"Saya dengar, anda adalah seorang wanita yang memiliki bakat dalam bermain alat musik––yang selalu anda bawa."
Damn, mati saja kamu Pangeran Mahkota, batin Siena geram.
"Kak, mainkanlah ... biar urusanmu cepat selesai," saran Max, Siena pun mengangguk dan meminta Jia Li membawakannya biola.
Tak lama, Jia Li pun kembali dengan membawa biola milik Siena.
Kita lihat, sepuas apakah dirimu, saat aku memainkan biolaku, batin Siena, sembari tersenyum smirk.
Siena mengambil biolanya, dan kemudian dirinya memejamkan kedua matanya, dirinya berharap telekinesis yang ia miliki bisa dikendalikan olehnya. Siena pun mulai menggesekkan senarnya, ia memainkan musik Beethoven Violin Sonata No. 9.
Semuanya tampak terlihat takjub, dan terhipnotis akan permainan yang ditampilkan oleh Siena.
Semilir angin mengelilingi Siena, angin tersebut mengikuti setiap alunan melodi yang dimainkan olehnya.
"Aku juga."
"Wanita yang menarik."
"Kau benar, pasti dia yang akan dipilih menjadi selir resmi."
Banyak dari mereka yang memuji Siena. Tapi, banyak juga yang membencinya, lantaran merasa tersaingi dengan bakat yang dimiliki Siena.
Siena pun mengakhiri permainanya, ia pun kembali duduk dan menunggu apa yang akan terjadi, ya ... bisa dilihat, mereka semua merasa sangat suka dengan penampilan Siena.
"Baiklah, Pangeran Mahkota akan segera mengumumkan, siapa yang akan menjadi selir resminya," ucap kasim tersebut.
Ini saatnya, batin Pangeran Mahkota.
"Saya memilih Nona Siena." Siena sudah menduga, hal ini akan terjadi.
"Pangeran Jung telah memutuskan. Jika Nona Siena akan menjadi selir resminya––"
Dasar ****** tidak tahu diri, batin putri dari perdana menteri Zhu.
"Maaf Yang Mulia Kaisar, seharusnya Pangeran Mahkota menikah dengan putri perdana menteri Zhu," potong perdana menteri tersebut.
Syukurlah, batin Siena, dirinya merasa lega.
"Perdana menteri Wei, Pangeran Jung akan tetap menikahi putri perdana menteri Zhu, dan pernikahan akan berlangsung, setelah Kerajaan Huarong, merebut Kerajaan Harumsy."
Siena dan Max, terkejut mendengar ucapan Kaisar tersebut. Bagaimana tidak, Kerajaan Huarong akan mengadakan perang dengan Kerajaan Harumsy.
...***...
Acara perjamuan telah selesai, Siena pun segera kembali ke kediamannya, dirinya ingin memata-matai apa yang sedang direncakan oleh Pangeran Jung itu.
"Jia Li, di mana pakaian yang biasa aku pakai," tanya Siena kepada Jia Li.
"Sebentar Nona, akan saya ambilkan." Jia Li mengambil pakaian yang biasa Siena pakai. "Ini Nona," ucapnya, sembari memberikan pakaian tersebut kepada Siena.
Siena pun segera mengganti pakaiannya, sementara Jia Li sendiri, tampak terlihat bingung, dengan apa yang dilakukan nonanya itu.
"Jia Li, aku akan pergi sebentar."
"Apa Nona ... akan kabur dari Istana?"
"Tidak, aku pergi masih berada di dalam Istana."
"Baiklah Nona."
Siena pun pergi, dengan mengendap-endap. Untungnya ia tahu di mana letak kediaman Pangeran Mahkota, dan juga Kaisar, dengan begitu ... ia dengan mudah akan mendapatkan informasi mengenai perebutan Kerajaan Harumsy.
Merasa sudah cukup aman, Siena pun naik di atas atap kediaman Pangeran Mahkota. Tapi, di sana dirinya tidak menemui Pangeran tersebut, ia pun lanjut pergi menuju kediaman Kaisar, di sana juga tidak siapapun.
Setelah dipikir-pikir, sewaktu acara itu selesai, semua orang kembali ke kediaman mereka masing-masing, kecuali Kaisar, Pangeran Jung, dan para perdana menteri lainnya.
"Seharusnya aku menjadi agen CIA," gumam Siena, sembari naik ke atas atap aula tersebut.
Ia akhirnya berhasil naik ke atas atap tersebut, Siena pun perlahan membuka sedikit genting, untuk melihat sekaligus mendengar pembicaraan mereka.
"Yang Mulia Kaisar, bagaimana jika kita membangun tenda militer di sekitar perbatasan."
"Iya, dan penyerangan akan dilakukan saat malam hari, dengan begitu kita akan lebih mudah menyerang."
Serakah, sudah memiliki wilayah yang luas. Tapi, masih saja ingin mengambil milik orang lain, pikir Siena.
"Kapan kita akan membangun tenda militer Yang Mulia Kaisar?"
"Hari ketujuh setelah diadakannya berburu."
"Yang Mulia Kaisar, hal ini sudah diketahui oleh Pangeran dari Kerajaan Zhufen, apa itu tidak masalah?"
"Pangeran Jianying hanya anak angkat, dia tidak memiliki hak apapun, jadi jangan pikirkan hal itu."
"Baik Yang Mulia."
Setelah mendengar pembicaraan mereka, Siena bisa menyimpulkan dari informasi yang ia dapat, bukan hanya itu saja. Rencana yang ada di dalam otaknya mulai tersusun, Siena yakin, pasti ada jalan untuk mengalahkan mereka.
Saat Siena hendak berdiri dan berbalik, dirinya dikejutkan oleh seseorang yang tidak asing baginya.
"Tabib Liu? Kenapa anda bisa ada di sini?" tanya Siena penasaran, ia takut jika tabib tersebut memata-matainya.
"...."
Tabib tersebut hanya diam. "Maaf, saya terburu-buru." Siena yang hendak pergi, tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal oleh tabib tersebut.
"Jangan melakukan hal bodoh ini lagi," ucapnya dingin, membuat Siena langsung mengangguk cepat.
Kenapa suasananya menjadi dingin seperti ini, batin Siena.
Tbc