Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
44



Siena dan Pangeran Xanras yang masih duduk di atas batu tersebut, sesekali menatap ke arah air yang berada di bawah mereka.


"Siena ... aku menemukan portal yang membawamu kemari," ucap Pangeran Xanras, membuat Siena terkejut dan hanya bisa tersenyum getir.


Ternyata sudah waktunya ya ..., batin Siena.


"Di mana portalnya?"


"Di dalam gua saat kita bermalaman di sana, aku akan membawamu dan Max ke sana, setelah kita pulang dari sini."


Mendengar hal tersebut, Siena hanya bisa menundukan kepalanya, dan berharap dirinya bisa menerima kenyataan. Jika ia harus segera kembali ke dunianya, meninggalkan banyak kenangan di masa ini. Namun, tanpa mereka sadari ... seseorang tengah memperhatikan perbincangan mereka berdua, seseorang itu ikut menangis saat mengetahui jika Siena akan pergi meninggalkannya.


"Kamu tidak perlu mengantarku ke sana, aku dan Max bisa pergi sendiri, lagipula kamu belum sepenuhnya pulih," ucap Siena, dengan nada yang lemah.


"Siena ... aku akan mengantarmu, sekaligus kembali ke kediamanku."


"Pangeran Xanras ... apa kamu ... benar-benar menginginkan aku pergi?" pertanyaan Siena berhasil membuat Pangeran Xanras terkejut, dan dirinya berusaha untuk bersikap tenang.


Kini pandangan Pangeran tersebut tertuju pada Siena, ia menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan teduh, dan diikuti ukiran senyumannya yang tipis itu.


"Siena ... lihat aku," perintahnya, Siena pun mengikuti ucapan pria itu. "Dengar, aku sebenarnya tidak ingin kamu pergi, aku ... aku ... justru sangat berharap bisa bersamamu untuk selamanya. Tapi, kebahagiaanmu lebih utama Siena ... aku ingin melihatmu bahagia di sana, tempat ini tidak cocok untukmu," jelas Pangeran Xanras, membuat Siena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Dia hanya ingin melihatku bahagia ... apa aku terlalu egois, karna terlalu mementingkan diriku sendiri, batin Siena, sembari menundukkan kepalanya.


"Terimakasih ... kamu sangat perhatian sekali padaku Pangeran Xanras, aku jadi tidak enak padamu," ucap Siena dengan mendongakkan wajahnya menatap Pangeran tersebut, dengan senyuman terukir di bibirnya.


Di sana, Siena meminta Pangeran Xanras untuk menunggunya, lantaran ia ingin membeli sesuatu untuk dimakan, sementara itu ... seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon, keluar dari persembunyiannya dan mendekati Pangeran Xanras. Pangeran tersebut yang melihat seseorang yang mendekatinya hanya bisa tersenyum, sembari menepuk tempat duduk yang kosong di sampingnya.


"Kenapa ... kenapa anda tidak bilang saja padanya, kalau anda menyukainya," ucap seseorang itu, berhasil membuat Pangeran Xanras terdiam, kemudian pria itu hanya bisa menatap sendu ke arah seseorang yang sedang berbincang dengannya.


"Aku hanya tidak ingin dirinya menjauhiku, Junqing."


"Tapi kenapa anda memberitahukan portal itu padanya!"


Pangeran Xanras tersenyum, sembari berjalan mendekati Junqing Luwon dan menepuk pundak anak laki-laki itu, "Apa kamu tidak suka melihat Kakak Siena bahagia, di sana dia sangat merindukan keluarganya."


"Keluarganya di sini, Yang Mulia ternyata tidak tahu banyak hal tentangnya ...." Pangeran tersebut hanya diam, dirinya memang tidak banyak tahu tentang Siena.


"Apa yang tidak kuketahui tentangnya, katakan padaku Junqing," pintanya.


Junqing Luwon pun menjelaskan kepada Pangeran Xanras, tentang masalah yang dimiliki oleh kakak angkatnya itu


Ternyata selama ini dia tidak pernah menceritakan masalah kedua orangtuanya kepadaku, batin Pangeran Xanras.


"Seperti itu, Yang Mulia."


"Terimakasih Junqing, sudah menjelaskan semuanya kepadaku, tapi tetap saja kita tidak boleh menahannya di sini, banyak orang di masa depan yang menyayanginya sedang menunggu dirinya."


Raut wajah Junqing muram, dirinya tidak tahu harus bagaimana ... supaya kakak angkatnya itu tetap bersama mereka. Tapi, di sisi lain ... ia juga tidak ingin menahan Siena di Negeri ini, apa yang diucapkan oleh Pangeran Xanras membuatnya tersadar, pasti orang yang menyayangi kakak angkatnya itu, sedang menunggu wanita yang selama ini ia sayang.


"Kak ...," panggil Max, sembari menyentuh pundak Siena. "Pangeran Xanras menyukaimu ... dia hanya takut dirimu menjauh darinya, apa Kakak yakin? Tetap ingin kembali ke masa depan. Tapi jika itu kemauanmu, aku akan ikut denganmu," jelas Max.


Siena menundukkan kepalanya, dengan kedua tangan terkepal kuat--menahan semua rasa yang berkecamum di dalam hatinya itu.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, aku sangat merindukan Paman dan Bibi, tapi di sisi lain aku tidak ingin meninggalkan mereka ... terutama Pangeran Xanras," lirihnya.


"Ikuti kata hatimu Kak ... jangan ikuti egomu, jangan sampai dirimu menyesal, kini semua keputusan ada di tangamu, Kak!"


"Max, tunggu aku di rumah."


"Hmm."


Max pun pergi meninggalkan Siena yang masih mematung di sana, dengan atapannya kosong ... dan pikirannya kacau.


Pangeran Xanras ... menyukaiku ..., batin Siena tidak percaya.


Setelah cukup lama bersembunyi di sana, Siena akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya, dan berjalan mendekati Pangeran Xanras, dengan membawa sebuah makanan yang ada di genggamannya.


"Ada Junqing ...," sapanya, pura-pura tidak tahu.


Yang disapa justru tidak menjawab sapaan Siena, malah Junqing langsung pergi meninggalkannya dan Pangeran Xanras di sana. Tapi, Siena memakluminya ... ia tahu jika Junqing masih belum menerima kenyataan.


"Siena ... ayo kita kembali, aku tidak ingin melihatmu kelelahan," ajak Pangeran Xanras, membuat Siena mengangguk.


Selama di perjalanan, mereka berdua tidak membuka sebuah obrolan, hingga keduanya pun sampai di rumah. Tapi, Siena sama sekali tidak melihat Junqing di rumah, mungkin anak itu masih ingin menyendiri, dan berusaha untuk menerima kenyataan.


Sudah cukup lama aku tinggal di masa ini, begitu banyak kenangan yang aku buat di sini, batin Siena, dengan kepala mendongak ke atas--mengingat masa-masa yang selama ini ia jalani di masa lampau ini.


"Apa Jia Li akan ikut bersamamu?" tanya Siena, yang kini tatapannya tertuju pada Pangeran Xanras.


"Hmm, aku akan membawanya bersamaku."


Siena mengangguk dan masuk ke dalam rumah untuk menemui Max, sembari memastikan tidak ada siapapun yang ada di rumah, agar dirinya bisa langsung meninggalkan tempat tersebut, tanpa harus diketahui oleh Falresia, dan lainnya.


"Max, kita harus pergi sekarang ... aku tidak ingin mereka melihat kita pergi, terutama Kak Falresia," ucap Siena yang dalam keadaan kepala menunduk.


"Kak ... apa Kakak yakin? Ingin pergi sekarang?" Siena memandang Max, kemudian mengangguk.


Terlihat ada keraguan di kedua mata kakaknya itu, bahkan dirinya sampai tidak bisa membaca pikiran Siena, lantaran di dalam pikiran kakaknya itu teracak, seperti benang yang sudah sangat kusut.


"Bagaimana dengan Kaisar, dan Permaisuri ... apa mereka tidak mencarimu?" tanya Siena.


"Aku sudah mengirim pesan kepada mereka, jika aku tidak akan kembali ke Istana."


Tbc