
"Pangeran Jianying, aku rasa kita harus kembali ke Kerajaan Harumsy, sudah 6 jam kita mencarinya. Tapi, tidak ada satupun jejak yang tertinggal, dan kita akan meminta kepada Kaisar untuk membantu mencari Siena," saran Pangeran Yu Ting kepada Pangeran Jianying (Max).
"Baiklah, kita harus segera kembali ke Istana, aku takut terjadi sesuatu pada Kak Siena," ucap Max yang diangguki Pangeran Jianying.
Mereka pun kembali ke Istana Guang, Pangeran Jianying (Max) akhirnya gagal untuk kembali ke Kerajaan Zhufen. Dirinya harus menemukan Kakaknya, sebelum kembali ke sana.
Sesampainya di Istana Guang ....
Mereka berdua segera menemui Kaisar, dan meminta Kaisaf untuk membantu mereka mencari Siena. Sementara itu, Pangeran Fengying yang mendengar kabar hilangnya Siena, langsung khawatir. Dan ikut serta dalam pencarian Siena, dirinya tidak akan segan-segan membunuh penculik yang sudah mengambil wanitanya itu.
Bagaimana, hal seperti ini bisa terjadi padanya, pikir Pangeran Fengying.
"Baiklah, aku akan menurunkan beberapa prajurit untuk membantu kalian mencari Nona Siena," ucap Kaisar tersebut.
Setelah mendengar keputusan dari Kaisar, mereka berdua langsung pergi, untuk mengatur pencarian Siena. Sementara itu, Pangeran Fengying, menemui Pangeran Yu Ting, dan ingin meminta penjelasan kepadanya.
"Aku butuh penjelasanmu," tegas Pangeran Fengying.
"Ini bukan saatnya untuk menjelaskan," ucap Pangeran Yu Ting, dan berlalu meninggalkan Pangeran Fengying, yang geram akan Pangeran Yu Ting.
Para prajurit, dan ketiga Pangeran, sudah siap melakukan pencarian Siena di hutan Yinli. Terlihat jelas, raut wajah ketiga Pangeran tersebut, yang khawatir akan keselamatan Siena. Hingga kuda yang mereka naiki melaju dengan sangat cepat, dan membuat masyarakat di sana bertanya-tanya masalah apa yang sedang terjadi.
"Nona Falresia, aku tadi melihat Tuan Max, Pangeran Fengying, dan Pangeran Yu Ting, mereka pergi menunggangi kuda dengan sangat cepat, bukankah ... Nona Siena tadi pergi bersama mereka?" tanya Kaili dengan raut wajah yang bingung.
"Aku harap Adik Siena baik-baik saja," lirih Falresia, yang khawatir kepada Siena.
"Apa aku ikut mereka saja, mencari tau apa yang sedang terjadi," ucap Kaili.
"Tidak, kamu mendapat tanggung jawab dari Adik Siena, untuk mengurus toko," larang Falresia, dan membuat Kaili mengangguk paham.
Sesampainya di hutan Yinli ....
Mereka membangun tenda untuk dijadikan tempat peristirahatan, setelah membangun tenda, mereka pun melakukan pencarian. Hutan Yinli adalah hutan yang sangat luas, dam sangat indah. Namun, dibalik keindahannya itu, memiliki banyak rahasia di dalamnya, yang tidak diketahui oleh siapapun.
Tidak ada jejak sama sekali, di mana kamu Siena ..., batin Pangeran Fengying.
Pencarian terus berlanjut, hingga petang tiba. Tapi, belum juga menemukan Siena, mereka pun kembali untuk beristirahat, dan melanjutkan pencarian besok pagi.
"Kenapa kamu membawanya ke sini, tanpa persetujuan, dariku," geram Pangeran Fengying, yang duduk di hadapan Pangeran Yu Ting.
"Kenapa harus izin kepadamu, aku hanya ingin dia melihat keindahan hutan ini," jawab Pangeran Yu Ting.
"...."
Apa yang Pangeran Yu Ting ucapkan ada benarnya, dirinya bukan siapa-siapa Siena, dan ia tidak punya hak untuk melarang seseorang dekat dengan Siena. Tapi, bagaimana pun juga, ia tidak akan pernah melepaskan Siena kepada orang lain.
"Maafkan aku yang sudah merepotkan kalian, untuk mencari Kak Siena," ucap Pangeran Jianying (Max) yang datang menemui mereka berdua.
"Seharusnya aku tidak membawanya kemari, dan ini adalah salahku," lirih Pangeran Yu Ting.
"Tidak apa, justru anda sudah membuat Kakak saya senang," jawabnya, sembari menuangkan minuman kepada mereka berdua.
...***...
Di kediaman Pangeran Xanras ....
Perlahan mata Siena terbuka, dan menyadari dirinya berada di kamar yang sama, saat dirinya menoleh ke samping. Dirinya menemukan biola miliknya, Siena sangat senang, akhirnya ia bertemu kembali dengan biola miliknya.
Untuk kedua kalinya aku pingsan, pikir Siena.
"Pangeranmu itu sangat aneh," celetuk Siena, dan membuat Jia Li tersenyum.
"Nona, anda salah, Pangeran Xanras adalah pria yang sangat baik. Hanya saja ... semenjak kepergian Ibunya, Pangeran Xanras banyak menghabiskan waktu sendiri. Terkadang saya kasihan melihatnya, lantaran dirinya tidak disukai oleh Kaisar, dan dibenci oleh saudara-saudaranya," jelas Jia Li, Siena yang mendengar itu hanya diam dan merasa kasihan kepada Pangeran Xanras.
"Memang dirinya tidak memiliki, selir?" tanya Siena, yang mendapat gelengan dari Jia Li.
"Pangeran Xanras tidak memiliki selir, bahkan saat dirinya hendak dinikahkan oleh Yang Mulia Kaisar ... Pangeran Xanras, dengan tegas menolak pernikahan itu." Siena mengangguk paham. "Tapi, anda beruntung menjadi wanita pertama yang dibawa oleh Pangeran Xanras kemari," lanjut Jia Li dengan antusias.
"...."
Siena hanya diam mendengar ucapan terakhir Jia Li, bagi Siena ... tidak ada bagian yang beruntung, yang ada dirinya malah tertimpa musibah akibat Pangeran Xanras. Tapi, di sisi lain, dirinya harus berterimakasih kepada Pangeran Xanras, lantaran sudah menyelamatkan nyawanya, dan sudah mengabil kembali biola miliknya itu. Bahkan, Siena tidak menyangka. Jika kehidupan Pangeran Xanras lebih menyedihkan timbang dirinya, setidaknya ia masih memiliki seorang adik, paman, bibi, dan nenek, yang sangat sayang kepadanya.
"Terimakasih Jia Li, aku akan pergi menemuinya," ucap Siena, sembari melangkah pergi menemui Pangeran Xanras.
Setelah keliling mencari keberadaan Pangeran tersebut, akhirnya ia melihat seseorang yang ia cari sedang berdiri di sebuah taman, sembari memetik bunga.
Huft! Benar apa yang diucapkan oleh Jia Li, pria ini benar-benar kesepian, batin Siena, dirinya melangkah mendekati Pangeran Xanras.
"Kamu sudah sadar, ada apa kemari?" tanyanya.
"Aku ingin bicara denganmu," ucap Siena.
"Baiklah, mari kita bicara di Paviliun," akhirnya mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Ada apa?" ucap Pangeran Xanras membuka obrolan lebih dulu.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku, dan sudah mengambil biola milikku. Maafkan aku yang sudah memarahimu, dan membentakmu." Pangeran Xanras hanya tersenyum, mendengar ucapan Siena.
Kenapa dia diam saja? Apa dia marah padaku, batin Siena sembari menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba, sebuah tangan menarik dagunya, mata Siena bertemu dengan mata hitam legam milik Pangeran yang ada di hadapannya itu. Dirinya seakan terhipnotis saat melihat mata pria tersebug, bahkan ... mata pria yang ada di hadapannya, menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam. Tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tiba-tiba Siena meneteskan air mata, seakan dirinya tahu apa yang sedang dirasakan Pangeran tersebut.
"Kenapa kamu menangis? Apa aku menyakitimu?" tanya Pangeran Xanras, sembari mengusap air mata Siena.
"Tidak, aku hanya merindukan Adikku," bohongnya.
"Aku mengerti," ucap Pangeran Xanras, kemudian melepaskan tangannya dari dagu Siena.
Sebenarnya ... Siena ingin menjadi teman Pangeran Xanras, dirinya merasa kasihan kepada Pangeran tersebut. Pasti sangat sulit menghadapi kehidupannya, selama di dalam Istana.
"Apa kamu sudah membalaskan dendam?" tanya Siena, berusaha menghilangkan kesedihannya itu.
"Aku tidak melakukannya," jawabnya dengan nada dingin.
Siena tersenyum mendengarnya. "Kamu harus ingat, setiap perbuatan pasti ada balasannya," ucap Siena diikuti senyumannya yang tulus.
Setiap ucapannya, membuatku merasa tenang, batin Pangeran Xanras, yang ikut tersenyum.
"Besok aku akan mengantarkanmu keluar dari sini," ucap Pangeran Xanras tiba-tiba.
Tbc