Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
43



Keesokan harinya ....


Siena terbangun dari tidurnya, dan mendapati dirinya tertidur di atas kasur––di mana tempat Pangeran Xanras tidur. Namun, di sana ia tidak melihat sosok pria yang dirinya cari, kemudian Siena beranjak dari kasur untuk mencari keberadaan Pangeran Xanras, dan saat Siena berjalan menuju taman belakang rumah, dirinya melihat Pangeran tersebut, dan Jia Li sedang memandangi kolam yang ada di hadapannya itu.


"Siena ... kamu sudah bangun," ucap Pangeran Xanras tanpa menoleh ke belakang.


"Hmm."


"Jia Li, tolong ambilkan pakaian untuk Siena," perintah Pangeran tersebut, Jia Li pun pergi mengikuti perintah dari Pangeran Xanras.


"Pakaian untuk apa?" tanya Siena bingung, sementara Pangeran Xanras membalikkan badannya di hadapan Siena.


"Siena ... bolehkah aku menghabiskan waktu bersamamu? Hanya untuk hari ini saja," pinta Pangeran tersebut, membuat Siena menatapnya bingung.


"Tapi ... tubuhmu masih lemah, dan lukamu belum pulih," ucap Siena.


Kedua telapak tangan Pangeran Xanras, memegang kedua sisi pipi Siena, dan menyatukan keningnya dengan kening Siena. Sementara Siena sendiri tidak bisa berkutik, tubuhnya terasa kaku, dan kedua matanya terus menatap Pangeran Xanras.


"Aku mohon ... Siena ...." mendengar permohonan dari Pangeran Xanras, Siena langsung mengangguk dengan tatapannya yang masih kosong itu.


Mendapatkan persetujuan dari Siena, pria itu pun menjauhkan dirinya dari Siena.


"Yang Mulia, ini pakaian Nona Siena," ucap Jia Li sudah berada di belakang Siena.


"Siena, aku ingin melihatmu memakai pakaian wanita, aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak mau memakainya," ucap Pangeran Xanras, membuat Siena tidak enak hati jika menolak permintaan pria tersebut.


"Baiklah, aku akan memakainya," ucap Siena, diikuti dengan senyuman yang diberikan oleh Pangera  Xanras kepadanya.


Tidak lama Siena mengganti pakaian, ia pun kembali menemui Pangeran Xanras, yang tampaknya sedang menunggu dirinya itu. Di sana rambut Siena panjang terurai, dirinya sengaja tidak memakai aksesoris apapun di rambutnya, dan hanfu berwarna putih membuatnya terlihat begitu sangat cantik.


"Pangeran Xanras," panggilnya, sang empu pun membalikkan badanya, dan menatap Siena dengan raut wajah terkejut, dengan kedua pipinya yang merona merah. "Apa aku terlihat aneh ...?" tanya Siena.


Pangeran Xanras hanya tersenyum, dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu terlihat berbeda dari yang biasanya, kemarilah Siena," suruhnya.


Siena pun berjalan mendekati Pangeran Xanras, saat dirinya berhadapan dengan pria tersebut. Pangeran Xanras mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang, berukuran sedang dari balik bajunya.


"Bukalah kotak ini," perintahnya, sembari memberikan kotak tersebut kepada Siena.


Saat dibuka, ternyata di dalam kotak tersebut terdapat 1 tusuk rambut, dengan hiasan bunga sakura di ujungnya, dan 3 butir mutiara yang bergelantungan di bawah hiasan bunga sakura itu.


"Wah ini cantik sekali, tapi sayangnya ... aku tidak bisa memakainya hehe," ucap Siena terkekeh geli.


"Siapa yang menyuruhmu untuk memakai sendiri, aku yang akan memakaikannnya untukmu."


Pangeran Xanras pun mengambil tusuk rambut itu dari tangan Siena, lalu tusuk rambut tersebut di selipkan di antara rambut Siena. Tidak membutuhkan waktu lama, kini hiasan yang ada di rambut Siena tampak terlihat sangat elegan, tangan Siena yang penasaran itu pun memegang tusuk rambut, yang sudah tertancap rapi di rambutnya.


"Wah ... aku tidak menyangka, pria sepertimu bisa memakaikan tusuk rambut, kamu bisa buka salon di Istana, lumayan 'kan? Untuk bisnis hahaha," canda Siena, membuat Pangeran Xanras tersenyum saat melihat Siena tertawa.


Maaf, otakku isinya bisnis hihi, batin Siena.


"Simpanlah tusuk rambut ini sebagai kenang-kenangan dariku." Siena mengangguk.


"Terimakasih. Nah, Pangeran Xanras kita mau ke mana?" tanyanya.


"Aku ingin berkeliling di kota Shang."


"Eumm ... oke, ayo kita jalan-jalan. Tapi, kamu yakin? Kamu sudah merasa sedikit baikan?" tanya Siena memastikan, takutnya jika sewaktu-waktu luka Pangeran Xanras terbuka, dirinya tidak ingin hal itu terjadi.


Tidak ada jawaban dari pria yang ada di hadapannya itu, membuat Siena memandangnya bingung, dan penasaran. Namun, Pangeran Xanras justru tiba-tiba menggenggam erat tangan Siena, dengan menautkan jari-jari mereka, dan mengajaknya untuk segera berkeliling di kota Shing. Sementara Siena hanya bisa terdiam gugup, lantaran apa yang dilakukan oleh Pangeran Xanras dengan menautkan jari-jari, bagi Siena itu hal yang intim. Tapi, dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


Mereka berdua pun akhirnya berjalan-jalan mengelilingi kota Shing, di sana banyak sekali orang yang berjualan, dan orang yang membuka sebuah toko. Saat Siena dan Pangeran Xanras sedang menikmati perjalan mereka, tiba-tiba ada kereta kuda yang berhenti tepat di hadapan mereka.


"Siapa ya?" tanya Siena kepada Pangeran Xanras.


"Aku tidak tahu," jawabnya, sembari menggenggam erat-erat telapak tangan Siena, dirinya juga berwaspada dengan kereta kuda yang berhenti di depan mereka.


Seseorang yang berada di dalam kereta tersebut mulai menurunkan sebelah kakinya, Siena yang melihat hal itu terus saja memperhatikan, semakin lama ... orang tersebut mulai menampakkan dirinya. Dan di saat itulah, Siena tertawa sekaligus senang.


"Nona Siena, bisakah anda berhenti tertawa?" ucap Kaili dengan nada kesalnya.


"Baiklah-baiklah, kamu terlihat cantik dengan pakaian wanita hahaha," celetuk Siena, membuat Kaili tambah kesal. "Ah iya, di mana Fengfeng? Bukankah, kalian pergi bersama ya?" tanya Siena.


"Dia sudah kembali ke Istana, untungnya Kaisar dari Kerajaan Huarong memberhentikan pertempuran yang sangat menyeramkan itu."


Melihat Siena dan Kaili saling berbincang, membuat Pangeran Xanras merasa kesal, lantaran dirinya seperti dianggap tidak ada di sana.


"Ehem!" mendengar suara dari seorang pria yang ada di sampingnya, membuat Siena dan Kaili memandangnya secara bersamaan.


"Ada apa Pangeran Xanras?" tanya mereka berdua secara bersamaan.


"Kaili, pulang dan istirahatlah di rumah, jangan sampai kau jatuh sakit," suruh Pangeran Xanras, sebenarnya Pangeran Xanras mengusir Kaili secara halus, lantaran dirinya ingin menghabiskan waktu bersama Siena, tanpa ada yang mengganggu mereka berdua.


"Iya ya? Pulang dan istirahatlah, kamu pasti sangat lelah," timpal Siena.


Pandangan Kaili tertuju pada genggaman tangan mereka, sehingga membuatnya mengerti apa maksud dari ucapan Pangeran Xanras.


Sepertinya ... aku mengganggu mereka hihi, batin Kaili.


"Terimakasih Nona, Yang Mulia. Saya akan segera pulang, dan beristirahat." Kaili pun kembali ke rumah, sementara Pangeran Xanras tampak terlihat sangat senang, akhirnya ia bisa menghabiskan waktu bersama Siena.


"Anu ... eumm ... Pangeran Xanras, boleh aku tahu? Siapa nama aslimu?" tanya Siena, membuat langkah kaki Pangeran tersebut terhenti.


Sudah lama tidak ada yang pernah memanggilku dengan nama pemberian Ibuku, bahkan Ayahku sendiri tidak pernah memanggil nama asliku, batin Pangeran Xanras.


Di sana Siena terlihat takut, jika dirinya membuat Pangeran Xanras marah, dan membuat suasana hati pria di sampingnya itu hancur.


Kenapa dia diam saja ..., batin Siena.


"Ka-kalau tidak ingin memberitahuku, tidak apa-apa Pangeran Xanras," ucap Siena, dirinya lebih memilih untuk diam, sembari memperhatikan sekitarnya.


"Siena ... terimakasih." mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria di sampingnya, membuay Siena menoleh dan memandanginya lekat-lekat.


"Terimakasih? Untuk apa?" tanya Siena, sembari mengerutkan keningnya.


"Terimakasih telah bertanya mengenai nama asliku, namaku Zhao Li Shang," jawabnya, membuat Siena tersenyum lebar.


"Namamu bagus juga, aku akan mengingat namamu, dan biar kutebak! Pasti Ibumu yang memberikan nama itu."


"Iya, kamu benar."


"AWAS!" pekik seseorang dari atas rumah, membuat Siena dan Pangeran Xanras mendongak ke atas.


Sebuah kendi berukuran besar nyaris saja terjatuh mengenai kepala anak kecil, yang ada di hadapan mereka berdua, untungnya Siena dengan cepat menggunakan telekinesisnya untuk menahan kendi tersebut, hanya dengan satu tangannya. Di sana, Siena menurunkan kendi itu secara perlahan, sementara Pangeran Xanras sendiri tidak percaya apa yang baru saja ia lihat. Dan untung saja di sana sepi, tidak ada orang––hanya anak kecil yang baru saja lewat tadi, dan ibu-ibu yang berteriak tadi sudah kembali masuk ke dalam––tidak melihat apa yang Siena lakukan.


"Aku baru ingat, jika aku ingin bertanya mengenai kemampuanmu itu," ucap Pangeran Xanras, sembadi menetralkan ekspresinya.


Kini Siena beralih memandang Pangeran Xanras, dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


"Kemampuan yang aku miliki ini adalah telekinesis, aku bisa menggerakkan sesuatu hanya dengan melalui pikiranku saja," mendengar penjelasan Siena, Pangeran tersebut mengangguk paham––maksud dari ucapan Siena.


"Sejak kapan kamu mendapatkan kemampuan itu?" tanyanya.


"Eumm ... sejak aku tercebur ke dalam kolam di Istana," jawab Siena.


Raut wajah Pangeran Xanras berubah menjadi dingin, dan terus memandangi Siena. Yang dipandangi hanya bisa mengerutkan keningnya, sembari mengalihkan pandangannya dari Pangeran Xanras, dirinya tidak tahu apa maksud dari pandangan itu.


"Siena ... apa kamu mencintaiku?" gumam Pangeran tersebut, namun masih terdengar di telinga Siena, walau samar-samar.


Genggaman Pangeran Xanras semakin erat, membuat Siena hanya terdiam, dan termenung, dirinya pasti tidak salah dengar apa yang baru saja Pangeran Xanras katakan.


"Apa?" tanyanya.


"Tidak, aku hanya berkata itu luar biasa," elaknya.


Ternyata aku salah ..., batin Siena.


"Hahaha, itu bukan hal yang luar biasa, tapi justru aneh bagiku," canda Siena, berusaha untuk mencairkan suasana.


"Tidak, itu tidak aneh bagiku, baiklah ... sekarang kita akan pergi ke mana ...?" tanya Pangeran Xanras.


"Eumm ... aku rasa ... kita pergi ke sana saja," ucapnya sembari menunjuk ke arah sungai yang tak jauh dari mereka berdiri.


"Baiklah."


"Ayo tunggu apa lagi, tapi ... Pangeran ... bisakah kamu melepaskan tanganku? tanganku berkeringat," pinta Siena.


Pangeran Xanras pun mengangguk, dan melepaskan genggamannya itu, namun dirinya justru berpindah posisi, sehingga tangan sebelahnya yang kini digenggam oleh Pangeran tersebut, mereka pun melanjutkan perjalanan.


Aku kira dia mau ke mana, ternyata pindah posisi, batin Siena, dengan wajah datarnya.


Mereka berdua kini berada di tepi sungai, yang di kelilingi oleh bunga-bunga cantik di sekitarnya. Di sana mereka berdua duduk di atas batu berukuran besar, sembari mencelupkan kaki mereka ke dalam air sungai.


Tangan Siena merogoh kantung bajunya, dan mengeluarkan handphone miliknya, Pangeran Xanras yang melihat benda aneh itu, hanya bisa memperhatikan ibu jari Siena yang terus bergerak itu.


"Pangeran Xanras, ayo kita foto bersama," ajak Siena.


"Foto? Apa itu?" tanyanya bingung.


"Kemari, dekatkan dirimu denganku," perintahnya, pria itu pun menuruti ucapan Siena.


Di sana Pangeran Xanras melihat dirinya, dan Siena ada di dalam benda aneh itu, baginya itu seperti sebuah cermin.


"SENYUM ..!"


CEKREK!


"Lihat Pangeran, bagaimana menurutmu ... bagus tidak," tanya Siena, sembari menunjukan hasil foto mereka.


"Bagus, aku tidak menyangka, di masa depan memiliki benda ajaib seperti ini."


"Hahaha, masih banyak benda canggih lainnya di masa depan." Tatapan Siena berubah menjadi sendu, saat dirinya terus memperhatikan foto tersebut.


Ini akan menjadi kenang-kenangan, batin Siena.


Dan di sanalah mereka berdua menghabiskan waktu bersama, walau ada rasa sakit di dalam diri mereka masing-masing.


Tbc