
5 hari kemudian ...
Semuanya berjalan dengan lancar, tidak ada masalah apapun yang terjadi di Istana. Dirinya selalu mendapatkan kabar dari Pangeran Yu Ting, untuk melihat keadaan dalam Istana. Temannya itu, benar-benar bisa diandalkan, tidak sia-sia Siena, menjadikannya sebagai anak buahnya, walau ... yang menjadi anak buahnya itu adalah seorang Pangeran.
"Kak Falresia, bagaimana jika di letakkan sebelah sana, sepertinya cukup bagus," ucap Siena, sedang menata pot bunga yang berada di dalam ruangan itu.
"Baiklah, akan kuletakkan di sana." Falresia pun menggesernya sesuai dengan perintah Siena. "Bagaimana?" tanyanya.
Siena tampak sedang berpikir, sembari mengusap dagunya. "Sip! Itu sudah cukup," ucap Siena.
Saat Siena hendak melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar, tiba-tiba Kaili datang dengan nafas yang tidak beraturan. Dan itu membuat Siena heran dengan Kaili, apa yang membuatnya sampai terengah-engah seperti itu.
"Ada apa, Kaili? Kenapa kamu terengah-engah seperti itu?" tanya Siena heran.
"It–itu se–se–selir."
"Tariklah nafas dulu sebentar, bicaralah pelan-pelan." Kaili pun menarik nafasnya, dan mulai mengatur nafasnya.
"Selir Chunhua dan selir Juan, tewas secara bersamaan." Siena terkejut mendengar kabar dari Kaili, ternyata sudah dimulai permainannya.
Malam ini juga ia akan melaksanakan rencana–Nya itu, di sana Siena meminta kepada Kaili untuk membawa Pangeran Yu Ting ke rumah, Siena akan membagi tugas kepada Kaili, Max, dan Pangeran Jianying.
Kaili pun pergi menemui Pangeran Yu Ting, sementara Siena sendiri, ia meminta Falresia untuk ikut bersamanya. Siena mengajak Falresia ke kamarnya, dan ia membuka tas miliknya yang berisi laptop tersebut.
"Kak, aku akan menjelaskan permasalahanku kepadamu." di sana Siena mulai menjelaskannya kepada Falresia.
"Baiklah, aku mengerti, lantas apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Falresia kepada Siena.
"Saat Pangeran Fengying datang kemari, tunjukan layar benda ini kepadanya. Aku hanya ingin Kakak, memantau Pangeran Fengying saja, jangan sampai dia keluar dari rumah. Walau saat aku terluka, jangan pernah izinkan dia keluar," jelas Siena kepadanya, Falresia mengangguk paham.
"Kamu harus berhati-hati, Adik Siena ... jangan sampai dirimu terluka sedikit pun," peringatnya.
"Hem! Aku akan berusaha."
Tak lama, Kaili pun datang, dirinya sudah membawa Pangeran Yu Ting kemari. Siena memanggil Max untuk berkumpul di ruang keluarga, di sana lah, dirinya memberitahukan rencana–Nya kepada mereka bertiga.
"Pangeran Yu Ting, bisakah kamu menggambarkan kediaman selir Pangeran Fengying," ucap Siena.
Pangeran Yu Ting mengangguk, dan di sana dirinya mulai menggambar kediaman selir Pangeran Mahkota. Setelah itu, Siena mulai memberi tugas kepada mereka berdua. Tapi, di sana Max dan Pangeran Yu Ting tidak setuju dengan Siena, mereka berdua takut terjadi sesuatu pada diri Siena. Namun, Siena berusaha untuk meyakinkan mereka berdua, jika ia akan baik-baik saja.
"Kenapa kita tidak melakukannya besok saja," usul Max.
"Tidak Max, jika kita besok melakukannya, pasti akan ada korban selanjutnya," tegas Siena.
"Pangeran Yu Ting, aku meminta kepadamu untuk membawa Pangeran Fengying kemari, saat petang nanti, secara sembunyi-sembunyi, jangan sampai seseorang mengetahui kalian."
"Baiklah, akan aku usahakan. Pasti akan sedikit sulit untuk membawanya kemari, lantaran permasalahan di Istana kali ini cukup besar," jelas Pangeran Yu Ting.
Setelah berdiskusi, akhirnya Pangeran Yu Ting kembali ke Istana, dan dirinya akan membawa Pangeran Fengying ke rumah Siena. Sementara Siena, mengajak Max dan Kaili ke belakang rumah. Ia memberikan beberapa senjata kepada mereka berdua, sontak! Membuat Max, terkejut melihatnya. Baru kali ini ia melihat kakaknya bermain dengan pedang, dan menghadapi masalah yang begitu besar.
"Aku juga sudah membuatkan kalian pakaian, tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya."
Mereka berdua pun menunggu Siena, pakaian seperti apa yang akan dikenakan oleh mereka berdua.
"Cobalah, aku harap pakaian ini pas, di tubuh kalian berdua." Siena memberikan pakaian tersebut kepada keduannya.
Pakaian ini sangat bagus sekali, Nonaku sungguh sangat pintar memilihnya, pikir Max.
"Pakaian ini, seperti pakaian yang suka dikenakan oleh Agen Rahasia, aku senang memiliki Kakak sepertimu."
...***...
Pangeran Yu Ting berhasil membawa Pangeran Fengying, dan pengawalnya ke rumah Siena, dirinya dan Pangeran Fengying sempat kesulitan, saat akan keluar dari Istana, lantaran suasana di dalam Istana sangat tidak kondusif.
"Ada apa Siena, kenapa kamu membawaku kemari?" tanya Pangeran Fengying yang dilanda kebingungan.
"Kak Falresia, tolong bawa kemari laptopku," perintah Siena kepada Falresia. "Oh iya, Pangeran Yu Ting, kenakanlah pakaian ini, aku harap kau menyukainya."
"Wah, pakaian ini sungguh luar biasa, baiklah aku suka dengan pakaian ini." Pangeran Yu Ting, pergi untuk menggantikan pakaiannya itu.
Di sana, Siena menunjukkan layar laptopnya di hadapan Pangeran Fengying. Sementara itu, Pangeran Fengying heran melihat benda aneh yang ada di hadapannya. Baru pertama kali dirinya melihat benda aneh itu, dan bisa menyala begitu terang.
"Pangeran Fengying, aku ingin kamu memperhatikan layar laptop ini. Kamu bisa melihatku di sana, ingat! Jangan pernah beranjak dari sini, sebelum aku kembali," tegas Siena, yang semakin membuat dirinya bingung, dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah, tapi izinkan pengawalku ikut denganmu." Siena melirik ke arah pengawal Pangeran Fengying.
"Oke! Aku perbolehkan."
Mereka berlima pun pergi ke Istana, di sana Kaili membawa kamera yang diberikan oleh Siena, untuk merekam dirinya. Untung saja, Kaili dengan cepat––mudah mengingat apa yang Siena ajarkan kepadanya, dalam menggunakan kamera tersebut.
Sesampainya di Istana, mereka berlima mengendap-endap di semak yang lumayan lebat.
"Kaili, dan Pengawal Pangeran Fengying ikut denganku. Sementara, Pangeran Yu Ting, dan Max ... pergi ke kediaman selir Luili," ucap Siena membagi tugas kepada mereka.
"Tapi, Kak ...," protes Max.
"Sudah, kita tidak punya waktu banyak."
Siena beserta anak buahnya, pergi ke kediaman Wenying. Di sana dirinya meminta kepada Kaili, pengawal, untuk naik ke atas atap kediaman Wenying, dan merekamnya di sana, dan jika sudah mendapatkan bukti, Siena meminta kepada Kaili dan Pengawal tersebut, untuk kembali pulang ke rumah. Dan meminta kepada mereka berdua untuk tidak mengkhawatirkannya, lantaran Siena ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Wenying kepadanya.
"Hati-hati Nona," ucap keduanya secara bersamaan.
Siena mengangguk dan pergi menuju halaman belakang, walau dirinya harus mengendap-endap.
Aku merasa, sudah menjadi Intelijen pemerintah, pikir Siena.
Kini dirinya bersembunyi di balik dinding kamar Wenying, di sana ia mendengarkan sebuah percakapan.
"Anda berhasil Nyonya, 2 selir resmi berhasil anda bunuh secara bersamaan, rencana anda sungguh luar biasa."
"Ini juga berkat para pelayan, yang sungguh pintar dalam menjalankan perintahku."
Manusia ini, dikasih hati malah meminta jantung, batin Siena geram di sana.
"Selir Chunhua, dan selir Juan sudah tewas, kini giliran selir Luili, dan Siena. Mereka berdua akan segera menyusul kedua selir itu, dengan begitu perhatian Pangeran Mahkota hanya kepadaku, dan aku akan menjadi Permaisuri, tidak akan ada orang yang berani merendahkanku lagi hahaha."
Dasar iblis rendahan, jangan salahkan aku. Jika aku, menjadi jahat kepadamu, batin Siena.
"Selir Wenying, jangan lupa ... kau juga harus membantuku untuk naik tingkat menjadi selir resmi Pangeran kedua." tiba-tiba suara wanita lain ikut menimpali pembicaraan mereka berdua.
Di sana Siena penasaran dengan sosok orang yang mengajak kerjasama itu, karna sudah geram, Siena akhirnya keluar dari persembunyiannya.
Prok! Prok! Prok!
"Wow, amazing ... pertunjukkan yang menakjubkan, selamat! Kalian berdua mendapatkan piala oscar." mereka bertiga terkejut, melihat seorang wanita berpakaian aneh itu, yang telah mendengar pembicaraan mereka.
Tbc