
Di kediaman Pangeran Xanras ....
"Maaf Yang Mulia, kapan anda membawa lagi Nona Siena, kemari?" tanya Jia Li, pelayan setia Pangeran Xanras.
Sementara Pangeran Xanras tersenyum, dan berdiri membelakangi Jia Li. "Setelah semuanya aman," jawab Pangeran Xanras.
Permasalahannya dengan Pangeran Mahkota belum selesai, semua yang ia miliki direbut oleh Pangeran Mahkota, dirinya tidak ingin. Jika, Siena terlibat dalam masalah ini, ia juga tidak ingin Siena bernasib sama seperti ibunya dulu, di mana saat itu Pangeran Xanras hendak terpanah oleh seseorang, justru ibunya lah yang terkena panah itu. Hingga, akhirnya ibunya tewas ditempat, tidak ada yang ingin membantunya untuk menyelamatkan ibunya. Sampai ... dirinya lah yang harus menguburkan ibunya sendiri, tanpa bantuan orang Istana.
Kaisar sendiri ... bahkan, tidak menoleh sedikit pun saat istrinya sedang sekarat di depannya, ia hanya diam dan memasang raut wajah biasa. Sementara, ibu Suri sendiri ... justru pergi meninggalkan tempat tersebut.
Bahkan dengan teganya, para selir Kaisar dan para selir Pangeran lainnya ... menghina ibu Pangeran Xanras di depannya. Semua yang ia miliki diambil oleh Pangeran Mahkota, ibunya dan dirinya telah dituduh membunuh anak dari selir resmi Kaisar.
Saat ia terluka di dalam hutan, dan diselamatkan oleh Siena. Saat itu, dirinya tengah melawan Putra Mahkota secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kaisar. Tapi, dirinya lengah saat melawan Pangeran Mahkota, hingga ia pun terluka.
Ingin rasanya ia membalaskan dendamnya kepada Pangeran Mahkota. Tapi, kata-kata yang diucapkan oleh Siena seketika membuatnya sadar. Percuma saja, jika ia dan ibunya tidak bersalah, dirinya tidak memiliki bukti jika Pangeran Mahkota lah yang melakukan kesalahan itu.
Kita lihat, apa yang ingin kamu lakukan Pangeran Mahkota, batin Pangeran Xanras yang diikuti senyum miringnya.
"Saya mengerti Yang Mulia," ucap Jia Li. "Saya undur diri Yang Mulia." saat Jia Li ingin pergi dari tempat itu, tiba-tiba Pangeran Xanras menghentikannya.
"Tunggu! Apa Siena pernah bercerita sesuatu kepadamu?" tanya Pangeran Xanras.
"Iya Yang Mulia, Nona Siena pernah bercerita kepada Saya. 'Hal tersulit untuk didapat di dunia ini adalah ketenangan dan kedamaian. Tapi, jika tidak ada permasalahan justru bukanlah sebuah kehidupan, melainkan sebuah surga dunia.' Yang Mulia hanya ini yang Nona Siena bicarakan kepada saya," jawab Jia Li, ia pun berusaha mengingat kembali apa yang pernah Siena bicarakan kepadanya. Tapi, hanya itu yang dirinya ingat.
"Baiklah, kamu boleh pergi." Jia Li pun pergi meninggalkan Pangeran Xanras sendiri di sana.
"Jadi itu maksudnya," gumam Pangeran Xanras, sembari tersenyum mengingat Siena.
"Yang Mulia," panggil seseorang di hadapan Pangeran Xanras. Seseorang itu, adalah pengawal Pangeran Xanras yang bernama Yuwen.
"Ada apa Yuwen," tanya Pangeran Xanras kepadanya.
"Pangeran Mahkota mengetahui hubungan anda dengan Nona Siena, ia mengetahuinya saat anda terluka di dalam hutan, dan dia berniat ingin mengambil Nona Siena, dari anda Yang Mulia," jelasnya membuat Pangeran Xanras harus segera mengambil tindakan.
"Apa dia mengetahui keberadaan Siena."
"Tidak Yang Mulia, justru Pangeran Mahkota tengah mencari keberadaan Nona Siena." mendengar kabar itu, Pangeran Xanras merasa sedikit lega.
"Pantau dia terus, jangan sampai dia mengetahui keberadaan Siena," ucapnya dengan dingin.
"Baik Yang Mulia." Yuwen pun pergi menjalankan tugasnya itu.
Pangeran Xanras tidak tahu apa yang diinginkan Pangeran Mahkota darinya, semua kebahagiaannya sudah diambil olehnya. Tapi, ia tidak akan membiarkan Pangeran Mahkota menyentuh Siena walau hanya sedikit.
"Kau ingin bermain denganku ternyata," gumamnya.
...***...
Sesampainya di rumah Siena ....
Pangeran Fengying memerintahkan semua prajuritnya untuk kembali ke Istana, termasuk Pangeran Yu Ting. Namun, Pangeran tersebut menolak untuk kembali ke Istana.
Selalu saja ... menakutiku dengan Ibu Suri, batin Pangeran Yu Ting kesal.
"Baiklah, aku akan segera kembali ke Istana." Pangeran Yu Ting pun pergi menyusul prajurit yang lain menuju Istana.
Siena kini menatap heran ke arah Pangeran Fengying yang tidak ikut kembali ke Istana, padahal ... dirinya sudah kembali dengan selamat.
"Kenapa kamu tidak ikut kembali bersama dengan yang lain, aku sudah kembali dengan selamat, sekarang pulanglah, aku mengusirmu," ucap Siena dengan nada malasnya.
"Kam—" ucapan Pangeran terpotong oleh panggilan seseorang.
"Kak! Temenin Chio main yuk," panggil Chio kepada Siena, ini kesempatannya untuk pergi dari hadapan Pangeran Fengying.
"Baiklah, ayo kita pergi bermain." Chio dan Siena akhirnya pergi bersama, dan meninggalkan Pangera Fengying yang tengah memperhatikan keduanya.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Pangeran tersebut, dan membuatnya menoleh kepada seseorang yang telah menepuk pundaknya itu. Seseorang itu adalah Max, Max tahu jika ... Pangeran Fengying dan Pangera Yu Ting, tertarik kepada kakaknya itu. Tapi, dirinya ingin melihat reaksi kakaknya itu terhadap kedua Pangeran tersebut, nyatanya ... kakaknya sama sekali tidak meresepon apapun dari kedua Pangeran itu.
"Mari ikut saya, Yang Mulia," ajak Max kepada Pangeran Fengying.
Max mengajak Pangeran Fengying di taman belakang rumah, ia ingin bertanya sesuatu kepada Pangeran Fengying mengenai kakaknya. Dirinya harus memastikan lebih dulu. Jika, Pangeran Fengying benar-benar tertarik kepada kakaknya itu. Max dan Pangeran tersebut duduk berhadapan, keduanya tampak terlihat canggung. Max juga bingung harus memulainya dari mana, ia pun mulai berpikir. Sementara, Pangeran Fengying tampak terlihat bingung dengan Pangeran yang ada di hadapannya itu.
"Ada apa Pangeran Jianying, kau terlihat sedang memikirkan sesuatu," tanya Pangeran Fengying, membuat Pangeran Jianying (Max) menemukan hal yang tepat untuk dibicarakan.
"Maaf Yang Mulia, apakah saya boleh bertanya kepada anda?"
"Tanyakanlah," jawab Pangeran Fengying.
"Apakah anda menyukai Kakak saya?"
Pangeran Fengying tersenyum mendengar pertanyaan dari Pangeran Jianying (Max), Pangeran Fengying diam sejenak, dan itu membuat Pangeran Jianying (Max), menatap Pangeran Fengying dengan tatapan menunggu jawaban.
"Iya, aku menyukai Siena, semenjak aku bertemu dengannya, aku rasa dia adalah wanita yang sangat menarik dan berbeda." Pangeran jianying (Max) hanya mengangkat sebelah alisnya, dirinya bingung mendengar penuturan dari Pangeran Fengying.
Bukannya dari orangtua, dan cara pembuatannya juga sudah berbeda, ya? Pikir Pangeran Jianying (Max).
"Excuse me, maaf Yang Mulia, bukannya dari orangtua saja sudah berbeda, ya?" tanya Pangeran Jianying (Max), membuat Pangeran Fengying tersenyum.
"Kau benar. Tapi, maksudku adalah ... dia sama sekali tidak tertarik dengan jabatanku, dan juga kekuasaanku, bahkan ... dirinya selalu menghidariku," jelas Pangeran Fengying, yang berhasil membuat Pangeran Jianying (Max) tertawa lepas.
"Maaf Yang Mulia, saya tertawa berlebihan, begini Yang Mulia ... Kak Siena tidak memandang kedudukan seseorang, apalagi kekayaan, yang Kak Siena cari adalah kesederhanaan, tanggung jawab dan kebahagiaan."
Pangeran Jianying (Max) menceritakan sesikit tentang dirinya dan Siena, di sana ia menceritakan jika mereka berdua, dulunya memiliki semua kekayaan. Tapi, tidak dengan kebahagiaan, karna kekayaan itu membuat semuanya hancur dan berubah. Bagi mereka berdua kekayaan dan jabatan, bukanlah apa-apa, yang terpenting adalah ... mereka bisa hidup sederhana. Namun, bahagia ... itulah yang mereka berdua harapkan.
Tapi, sulit bagi Pangeran Jianying (Max) meninggalkan Kerajaan Zhufen, lantaran dirinya berhutang kepada Yang Mulia Kaisar dan juga Permaisuri. Dirinya juga sudah bersumpah untuk melindungi Kerajaan Zhufen, ia tidak bisa janji kepada kakaknya untuk berada di sampingnya setiap saat. Bahkan, sampai sekarang dirinya tidak tahu harus berbuat apa.
"Benar, kekayaan bisa membutakan siapa saja, bahkan ... kekayaan bisa merenggut kebahagiaan," ucap Pangeran Fengying, sembari berdiri dan mendongakkan kepalanya menatap daun yang hendak terjatuh itu.
"Jadi, apa anda benar-benar mencintai Kak Siena, atau hanya sekedar tertarik saja," tanya Pangeran Jianying (Max), menunggu jawaban yang pasti.
Tbc