Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
25



Keesokan harinya ....


Siena sangat jenuh berada di dalam kereta kuda semalaman, tiga orang yang menjaganya tidak bisa diajak bercanda. Bahkan, saat dirinya hendak bergerak sedikit saja, sudah mendapatkan tatapan tajam dari ketiga orang aneh itu.


Sebenarnya ia juga membawa handphone. Tapi, Siena menghemat baterai handphone-Nya itu, walau dirinya membawa power bank di dalam kotak biolanya.


"Apakah masih jauh? Aku sudah sangat bosan, berada di sini," protes Siena.


"Sebentar lagi kita sampai," ucap pria yang berada di samping Siena.


"Bisa jelaskan, ke mana kita pergi?" tanya Siena, dirinya sudah berkali-kali bertanya seperti itu semalaman. Tapi, tetap saja tidak dijawab, ini pun begitu.


Sudahlah, biarkan saja apa, mau mereka, batin Siena.


Di sana, Siena hanya diam dan tenggelam dalam lamunannya, saat dirinya sedang menikmati lamunannya. Tiba-tiba kereta kuda yang Siena naiki berhenti, tiga orang asing itu, memintanya untuk turun. Dengan senang hati, Siena pun turun dari kereta kuda.


Istana lagi ... ada apa sih, hubunganku dengan Istana, humph! Pikir Siena kesal.


Siena hanya berdiam diri di sana, sembari mengamati sekelilingnya. Sungguh pemandangan yang membosankan baginya, di dalam Istana hanya orang-orang itu saja, tidak bisa keluar ke mana-mana, layaknya seekor burung yang di masukkan ke dalam sangkar.


"Mari ikuti saya Nona," ucap seorang pria yang berada di hadapan Siena.


"Aku tanya sekali lagi, aku saat ini berada di mana?" tegas Siena, sembari berjalan mengikuti pria yang ada di depannya.


"Anda berada di Kerajaan Huarong."


Aku harap, ada portal menuju taman hiburan, pikir Siena.


Selama dirinya mengikuti pria itu, Siena menjadi bahan pembicaraan di Istana. Tapi, untungnya Siena tidak memperdulikan mereka semua, justru dirinya masih memikirkan hal yang ada di dalam otaknya itu.


Tak lama ... akhirnya, ia behenti di sebuah tempat yang begitu luas dan indah, Siena rasa ... ini adalah tempat kediaman Kaisar atau bisa jadi, tempat kediaman Pangeran Makhota. Tidak berhenti di sana saja, pria itu justru mengajak Siena untuk masuk ke dalam sebuah ruangan–– tidak Siena ketahui, ruangan apa yang sedang ia masuki. Ternyata, sebuah kamar yang begitu luas.


Menjijikan, kamar macam apa ini? Pikir Siena.


Dirinya melihat seorang pria dengan seorang wanita, sedang melakukan hal yang diluar dugaan. "Sepertinya anda salah memasukan saya ke dalam ruangan," ucap Siena dengan nada tenang.


"Saya permisi Nona." pria itupun pergi meninggalkan Siena, sembari menutup dan mengunci ruangan tersebut.


"Sialan!" umpatnya.


Siena hanya berdiri dan memasang earphone TWS-nya, agar dirinya tidak mendengar, suara-suara yang menurutnya sangat menjijikan.


Tap! Tap!


Kaki kiri Siena mengetuk-ngetuk lantai, dan jari tangan sebelah kanan, dijentikkan hingga menimbulkan sebuah bunyi.


Klik! Klik! Klik!


Biola miliknya, ia letakkan di atas meja yang berada di sampingnya. Kemudian, Siena mulai menyanyikan musik milik Justin Timberlake–Can't Stop The Felling.


"I got this feelin' inside my bones


It goes electric, wavy when I turn it on


All through my city, all through my home


We're flyin' up, no ceilin', when we in our zone


I got that sunshine in my pocket


Got that good soul in my feet


I feel that hot blood in my body when it drops (ooh)


I can't take my eyes up off it, movin' so phenomenally


Room on lock, the way we rock it, so don't stop


And under the lights when everything goes


Nowhere to hide when I'm gettin' you close


When we move, well, you already know


So just imagine, just imagine, just imagine


Tanpa Siena sadari, dua insan yang berada di atas ranjang, sejak tadi memperhatikannya.


"Wanna see you move your body (I can't stop the feelin')


Got this feelin' in my body


Break it down


Got this feelin' in my body (ah)


Can't stop the feelin'


Got this feelin' in my body, come on (ooh)." Siena pun selesai menyanyikan musik tersebut.


Ia pun mematikan musiknya, dan menatap 2 makhluk yang saat ini tengah memperhatikan dirinya. Siena mengambil biola miliknya, sembari melangkah medekati kusri yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Sudah selesai?" tanya Siena, kepada mereka berdua.


"Yang Mulia siapa wanita itu, kenapa dia mengganggu kita," ucap wanita yang berada di samping pria tersebut.


"Bukan urusanmu," jawab pria itu, yang kini berjalan mendekati Siena. "Akhirnya kau sampai juga kemari," ucap pria tersebut, sembari menyetuh dagu Siena.


Siena menyingkirkan tangan tersebut dari dagunya. Baginya, tangan pria itu sangat kotor, untuk menyentuh dirinya yang bersih.


"Siapa kamu?" tanya Siena, dengan nadanya yang begitu tenang.


"Hahaha, aku adalah Pangeran Mahkota dari Kerajaan Huarong, dan kau adalah wanita yang sangat unik, dan menarik. Pantas saja, Adik ketiga sangat menyukaimu, walaupun kau berpakaian seperti pria. Tapi, prajuritku bisa menemukanmu."


Siena bingung dengan pria yang mengaku sebagai Pangeran Mahkota itu, ditambah lagi dengan nama adik ketiga, yang sama sekali tidak ia kenal.


"Siapa lagi, Adik ketiga itu."


"Dia adalah orang yang pernah kau selamatkan di hutan."


Siena terkejut mendengarnya, ternyata pria inilah yang telah mengambil semua kebahagiaan Pangeran Xanras, pria biadab yang pernah dirinya temui. Tapi, apa tujuan Pangeran itu membawanya kemari. Sementara itu, Siena hanya bisa menghela nafasnya.


"Aku dan dia, hanya sebatas teman. Jadi, untuk apa kamu membawaku kemari."


"Siena, itu 'kah namamu? Sangat indah, aku membawamu kemari, lantaran aku ingin ... mengambil apa yang, Adik ketiga miliki," ucap Pangeran Mahkota tersebut.


Ingin rasanya Siena memukul habis-habisan pria yang ada di hadapannya, bagi Siena. Pangeran Mahkota satu ini sangatlah kejam terhadap saudara sendiri, berbeda dengan Pangeran Fengying yang terlihat sangat akrab dengan saudaranya.


"Serakah, layaknya seekor kera yang sudah memiliki banyak makanan. Tapi, tetap mengambil milik kera lain, bagiku kamu lebih dari seekor kera. Mungkin manusia bedebah, atau manusia ular yang picik," jelas Siena dengan nada mengejek.


Pangeran  tersebut mengepal kedua tangannya, dirinya berusaha untuk tidak mengeluarkan emosinya.


"Seharusnya kau bersyukur, karna aku membawamu kemari. Banyak wanita di luar sana, yang ingin tinggal di Istana bersamaku."


Siena hanya diam, dan bangkit dari duduknya, dirinya melangkah menuju pintu yang terkunci. Sementara Pangeran itu, hanya diam dan melihat Siena yang ingin kabur dari hadapannya.


Aku hampir lupa, kalau aku memiliki telekinesis, pikir Siena dengan senyum miringnya.


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini." Siena menoleh ke arah Pangeran tersebut.


"Oh ya? Heumm ... sepertinya anda salah Yang Mulia Pangeran Mahkota." Siena mendorong pintu tersebut, dan berhasil membuat Pangeran Mahkota terkejut melihatnya.


Saat Siena hendak melangkah pergi, dirinya tiba-tiba berhenti, lantaran mendengar ucapan dari Pangeran tersebut.


"Jangan berusaha untuk kabur dari sini, atau ... adikmu dari Kerajaan Zhufen, akan tewas."


Max, ada di sini? Batin Siena.


Pangeran satu ini benar-benar bedebah, jika sampai Pangeran tersebut melukai adiknya. Ia tidak akan segan-segan membunuhnya, walau ... nyawanya menjadi taruhan. Siena berusaha untuk tidak tersulut emosi, dirinya harus mencari cara, agar terbebas dari cengkraman manusia yang ada di hadapannya itu.


"Aku tidak akan kabur, jika kamu melepaskan Adikku."


"Tidak akan, karna aku masih memiliki urusan dengan Kerajaan Zhufen, dan setelah itu. Aku akan segera menikahimu secara paksa, dan menjadikanmu sebagai selirku."


Siena tersenyum, sembari memberikan tatapan dingin kepada Pangeran tersebut. "Wah! Aku merasa terhormat, Yang Mulia. Tapi, sayangnya ... harga diriku terlalu tinggi untuk menjadi seorang selir."


Tbc