
Keesokan harinya ....
Cit! Cit! Cit
Suara burung berkicau, semilir angin pagi menyapu kulit wajah mereka, Siena yang tidur bersandar di bahu Pangeran Xanras, perlahan membuka matanya.
"Apa aku mengganggumu?" ucap Pangeran Xanras.
"Pa-Pangeran Xanras ...." raut wajah Siena berubah menjadi merah, lantaran merasa malu bersandar di bahu Pangeran tersebut, ia pun segera menjauhkan dirinya dari Pangeran Xanras. "Ti-tidak menganggu sama sekali," jawab Siena.
Ini punya dia ..., batin Siena, sembari melihat mantel hangat milik Pangeran Xanras, yang memyelimuti tubuhnya.
Pangeran Xanras hanya tersenyum simpul, saat melihat tingkah laku Siena yang menurutnya lucu.
"Nona, anda sudah bangun," ucap Jia Li.
"Sudah, Jia Li ... tolong bangunkan Max," ucap Siena meminta Jia Li membangunkan adiknya, yang terlihat sangat nyenyak sekali tidurnya.
Jia Li yang membangunkan Max, tidak ada respon dari sang empunya, Siena sudah tidak heran dengan Max, adiknya itu ... sangat sulit dibangunkan, dari tidurnya. Terpaksa ia harus turun tangan, untuk membangunkan Max.
"Max! Bangun, aku akan meninggalkanmu, jika kamu masih tidur." tetap tidak ada respon sama sekali, baiklah ... kali ini pasti adiknya akan bangun. "Max, ada ulat berukuran besar di bawah kakimu," bisik Siena.
"Mana! Mana!"
Kali ini ia berhasil mebangunkan Max, adiknya itu justru langsung memeluk Jia Li, dan membuat Siena hanya memasang tatapan datarnya.
"Masih pagi Max," ucap Siena.
Tiba-tiba di sana, mereka dikejutkan dengan suara kuda, karna penasaran. Akhirnya mereka bertiga medekati sumber suara itu, dan benar saja, itu benar-benar suara kuda. Ada 2 kuda di sana, dan membuat mereka bingung, kuda siapa yang ditinggalkan di dekat gua seperti ini. Dan di sana, Siena mencurigai Pangeran Xanras.
"Pangeran Xanras, apa kamu yang membawa 2 kuda ini?" tanya Siena.
"Tidak," jawabnya.
"Heumm, berhubung ada 2 kuda di sini, dan tidak jelas siapa pemiliknya, kita pakai saja ke Kerajaan Harumsy," ajak Siena kepada mereka bertiga.
"Aku setuju, Kak." Max menyetujui ucapan Siena, begitu juga dengan yang lain.
"Aku dan Jia Li akan naik kuda ini, sementara kamu dengan Pangeran Xanras," ucap Siena.
"Tidak!" jawab mereka berdua dengan kompak.
Pangeran Xanras berjalan mendekati Siena, dan mengajak Siena untuk menunggangi kuda bersamanya. Begitu juga dengan Max, ia menunggang kuda bersama dengan Jia Li.
Di sana Siena menyuruh Pangeran Xanras, untuk lebih dulu menaiki kuda. Tapi, justru Siena mendapatkan sebuah tatapan dingin.
Apa ini? Seperti ada aura membunuh, batin Siena, sembari melirik Pangeran Xanras.
"Max, tolong bawakan biola milikku," pinta Siena, akhirnya Max mambawa biola Siena, di punggungnya.
Siena sendiri akhirnya duduk di depan Pangeran Xanras, rasa malu, dan rasa kesal menjadi satu di hatinya. Jantungnya berdetak lebih cepat, ia tidak bisa mengendalikan perasaanya sendiri. Siena hanya bisa diam, dan terus menatap ke depan, tubuhnya juga terasa sangat kaku untuk digerakkan.
Mereka berempat pun, berangkat ke Kerajaan Harumsy dengan menunggangi kuda.
Suasana di atas kuda, membuat Siena merasa sangat canggung, lantaran tidak ada yang membuka sebuah obrolan.
"Pangeran Xanras, apa hubunganmu ... dengan Pangeran pertama sangat dekat?" tanya Siena, ia berusaha untuk membuat suasana tidak canggung.
"Sangat dekat, Ibuku dan Ibunya juga sangat dekat, Ibunya selalu membantu Ibuku saat sedang dalam kesulitan ...," jelas Pangeran Xanras, dengan nada yang terdengar sedih, Siena tidak ingin membuat Pangeran tersebut sedih, akibat pertanyaanya itu. "Ibuku––"
"Cukup, Pangeran Xanras––" ucap Siena, sembari menoleh ke arah Pangeran tersebut, dan di sanalah pandangan mereka bertemu. "Aku tahu rasanya kehilangan seorang Ibu, dengar ... bukan kamu saja yang kehilangan seorang Ibu, akupun begitu. Kamu tidak sendirian, masih ada aku di sini, maksudnya ... aku, Jia Li, dan Max," lanjutnya.
Pangeran Xanras tersenyum mendengar ucapan Siena, bagi Pangeran Xanras ... sudah cukup mendapatkan perhatian dari Siena.
Perjalanan mereka masih sangat jauh, kemungkinan mereka sampai di Kerajaan Harumsy, saat malam hari.
...***...
Pangeran Jung menyelinap menemui ibunya di Istana dingin, ia ingin melihat keadaan ibunya untuk terakhir kalinya, sebelum dirinya turun ke medang perang.
"Ibu," ucap Pangeran Jung, matanya menggambarkan dendam yang begitu mendalam.
"Dingbang Gong, kenapa kau kemari ...," tanya selir Yuyan, tidak percaya apa yang dilakukan oleh anaknya itu.
"Aku akan membalaskan dendam, kepada wanita sialan itu Ibu, dia sudah menghancurkan semua rencana kita."
"Terimakasih anakku, balaslah dendam ibu dan dirimu, kepada wanita itu," sahut selir Yuyan.
"Iya Ibu, aku tidak akan melepaskannya, sebelum dendamku tercapai."
Mereka berdua terlihat sangat membenci wanita yang bernama Siena, hingga mereka tidak menyadari. Jika, nyawa mereka sedang berada diujung tanduk, dan mereka masih sempat-sempatnya membalaskan dendam kepada Siena. Padahal ... apa yang mereka lakukan kepada selir Qiufeng, dan Pangeran Xanras, sangat kejam. Dan mereka pantas, mendapatkan hukuman tersebut.
...***...
Sementara itu, di Kerajaan Harumsy sendiri ... Kaili dan Falresia, tampak sedang dilanda kebingunan, lantaran Ning'an, Junqing Luwon, dan Chio. Selalu menanyakan Siena, mereka bertiga sangat merindukan wanita yang selalu menghibur mereka, Falresia dan Kaili ... sampai bingung, harus bagaimana untuk menenangkan mereka.
"Kakak Falresia, apa kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Junqing Luwon.
Junqing Luwon merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka berdua, anak laki-laki yang berumur 15 tahun ini, terlihat berbeda dengan anak lainnya, Junqing Luwon bisa membaca ekspresi wajah seseorang. Jadi, seseorang tidak bisa membohonginya, walau terkadang ... ia hanya berpura-pura bodoh.
"Adik Junqing, kami berdua sama sekali tidak menyembunyikan apapun dari kalian, Kakak Siena pergi ke Kerajaan Zhufen untuk menemui teman, dan Adiknya di sana," jelas Falresia, ia berusaha untuk meyakinkan kepada mereka bertiga, agar tidak terus menanyakan keberadaan Siena.
Chio yang terlihat kesal itu, hanya bisa mengembungkan kedua pipinya, ia benar-benar sangat merindukan Siena, begitu juga dengan mereka berdua.
"Aku sangat merindukannya ...," lirih Ning'an.
Falresia berlutut di depan Ning'an, sembari mengusap pucuk kepalanya. "Pasti Kakak Siena akan kembali," ucap Falresia, menenangkan Ning'an.
"Ayo Kakak Junqing, dan Kakak Ning'an. Kita main, siapa tau Kakak Siena sebentar lagi kembali," ajak Chio, mereka berdua pun menggangguk dan ikut bermain bersamanya.
Junqing Luwon masih penasaran dengan raut wajah Falresia, yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu. Ia hanya bisa menghela nafasnya, berharap wanita yang sudah menolongnya itu, baik-baik saja.
Kepergian mereka bertiga membuat Falresia, dan Kaili, merasa lega. Belum selesai mereka berdua bernafas, tiba-tiba Ibu Rong Li datang menemui mereka berdua.
Semoga saja ... Ibu tidak menanyakan tentang Nona Siena, batin Kaili.
Semoga Ibu Rong tidak menanyakan Adik Siena, batin Falresia.
"Kaili bagaimana dengan Nona Siena," tanya Ibu Rong Li, membuat mereka saling menyenggolkan tangan.
"Habislah kita Kaili ...," bisik Falresia.
"Bagaimana ini Nona?" balas Kaili, dengan nada berbisik.
"Katakan apa saja, yang penting Ibumu senang." Kaili pun mengangguk.
Saat Kaili menjawab pertanyaan dari ibunya itu, membuat Falresia termenung, "Nona Siena akan pulang malam ini, Bu."
"Wah! Syukurlah, kalau begitu aku akan membeli sayuran, dan bahan makanan yang lain." Ibu Rong pun pergi, meninggalkan Kaili yang sedang menyesali ucapannya itu.
"Kenapa kamu mengatakan itu Kaili, aku takut Ibumu kecewa," protes Falresia.
Sementara Kaili hanya menepuk keningnya, ia merasa bodoh telah mengatakan hal itu, dan membuat ibunya semangat, saat mendengat kembalinya Siena.
"Kita hanya bisa berdoa, semoga saja Nona Siena segera kembali ke rumah."
Tbc