Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
7



Saat Kaili dan Siena hendak pergi meninggalkan rumah tersebut, tiba-tiba ada suara yang membuat mereka berhenti melangkah.


"Aku tidak menyuruhmu, untuk pergi meninggalkanku uhuk!" ucap pria yang sakit tersebut dengan nada dingin. Namun, menakutkan.


Siena berbalik dan menatap santai pria aneh yang sedang duduk di atas ranjang. "Kenapa aku harus mendengarkanmu? Aku harus pulang, dan segera menemui saudaraku," bohong Siena kepada pria tersebut, sementara Kaili—ia tahu jika Siena sedang berbohong.


"AKH!" suara kesakitan itu tiba-tiba terdengar di telinga Siena, Siena pun langsung mendekati pria tersebut—yang kini tak sadarkan diri.


"Kaili! Panggilkan tabib, cepat!" suruhnya kepada Kaili.


Kaili pun mengangguk, dan segera mencari tabib tersebut yang sedang mencari obat. Sementara, di sana Siena panik sekaligus takut terjadi apa-apa pada pria tersebut. Di lain sisi, dirinya tidak bisa terus-terusan di tempat itu, ia harus memenuhi janjinya itu untuk menolong orang yang sedang dalam kesusahan.


Tak lama, akhirnya tabib tersebut segera memeriksa keadaan pria—yang kini tidak sadarkan diri. Siena berharap pria tersebut tidak apa-apa, dirinya tidak tega melihat pria yang sedang terbaring lemah itu.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Siena kepada tabib itu.


"Obatnya sedang berkerja, dan saat ini kondisinya sangat lemah," jelas tabib tersebut, sementara Siena menatap pria itu dengan tatapam sendunya.


"Aku titip dirinya padamu, aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku masih ada urusan. Ini 20 keping emas, untuk pengobatannya," ucap Siena, sembari memberikan kantung kecil yang berisi 20 keping emas tersebut.


"Tidak perlu, aku akan merawatnya hingga dia pulih, ambilah kembali. Aku rasa ... kau yang lebih membutuhkannya," tolak tabib tersebut, secara halus.


"Tidak, terimalah ... ini sebagai ucapan terimakasihku padamu, aku pamit undur diri," ucap Siena, sembari melangkahkan kakinya meninggalkan rumah tabib tersebut.


...***...


Selama di perjalanan, Siena memberi beras, 3 keping emas,  dan gandum kepada orang-orang yang membutuhkan. Namun, saat ia hendak pulang ke rumah dirinya melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian kumuh tengah meminta-minta kepada warga yang melewatinya. Siena tidak tinggal diam, ia pun turun dari kereta, dan mendekati wanita tersebut.


"Bolehkah? Aku membantumu?" tanya Siena kepada wanita tersebut, sembari menatap Siena dengan tatapan penuh keheranan.


Ini kesempatanku, batin wanita itu.


"Siapa namamu? Namaku Siena, umurku 18 tahun," ucap Siena memperkenalkan diri, sembari menyodorkan tangannya.


"Nama saya Wenling. Umur saya, sama seperti anda Nona," ucap wanita tersebut, sembari menyambut tangan Siena.


"Mau 'kah? Kamu ikut bersamaku?" ajak Siena kepada Wenling.


"Tapi ... Nona ... apa aku tidak merepotkanmu?" Siena hanya menggeleng, diikutin dengan senyuman tulusnya itu.


Akhirnya, mereka bertiga kembali ke rumah. Selama di perjalanan, Siena masih memikirkan pria yang sempat ia tolong. Dirinya melihat mata pria tersebut, terlihat memiliki dendam yang amat mendalam.


Apa yang akan dilakukan oleh Pangeran itu, ya? Batin Siena.


Belum juga sampai di rumah, kereta kuda milik Siena berhenti. Siena melihat keretanya dihalang oleh prajurit Kerajaan, ia bingung—apa dirinya melakukan kesalahan, hingga akhirnya dihalang oleh para prajurit Kerajaan.


"Bawa mereka ke Istana!" perintah seorang panglima Kerajaan.


Kaili yang bingung itupun menoleh ke arah Siena, sementara Siena hanya menganggk—memberi syarat jika mereka harus mengikuti perintah Kerajaan.


Apa lagi? Ini? Huft! Batin Siena, sembari menghela nafas.


"Ada apa ini Nona? Kenapa kita dibawa ke Istana?" tanya Wenling yang sedang dilanda kebingungan.


"Aku tidak tahu, kita ikuti saja mereka," ucap Siena yang diangguki Wenling.


Siena heran, padahal dirinya sudah mengenakan pakaian pria. Tapi, kenapa dirinya bisa ketahuan? Di sana, Siena menyadari. Jika rambutnya tidak diikat—digerai, Siena hanya bisa pasrah, dan mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sesampainya di Istana, Siena melihat orang yang tidak disukainya tengah menunggu kedatangannya. Siena tidak tahu, apa mau Pangeran aneh itu. Jika Pangeran tersebut meminta dirinya menjadi selirnya, jelas dirinya akan menolak. Tidak sia-sia, Siena membaca komik tentang kerajaan, dan membaca semua buku sejarah tentang kerajaan.


"Apa kamu menyukai Pangeran itu?" bisik Siena kepada Wenying, Wenying yang mendengar itu seketika terkejut.


"Apa maksudmu, Nona? Tentu saja aku menyukainya, wanita mana yang tidak menyukai Pangeran tampan ini." Siena tersenyum mendengar ucapan dari Wenying.


Pangeran itu milikku, aku harus mendapatkan hatinya, batin Wenling, ia begitu menyukai ketampanan Pangeran Fengying.


Siena mendekati Pangeran tersebut, masih dalam tatapan ketenangannya itu. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Siena kepada Pangeran Fengying.


"Aku ingin kamu tinggal di Istanaku," ucap Pangeran Fengying dengan mudahnya.


"Aku pikir ada masalah penting, lebih baik aku pergi." Siena yang hendak kembali ke kereta kuda, tangannya dengan sigap dicekal oleh Pangeran Fengying.


"Ini adalah perintah! Jika kamu tidak mengikuti perintahku, maka aku akan membunuh pelayanmu itu." Pangeran tersebut menunjuk ke arah Kaili.


Huft! Menyusahkan saja, batin Siena.


"Baiklah, tapi ada satu syarat. Dan berjanjilah untuk menepatinya." Pangeran Fengying tersebut mengangguk mantap.


"Menikahlah dengan Wenying," ucap Siena, sembari menunjuk ke arah Wenying yang sedang menatap Siena tidak percaya.


"Baik, aku akan segera menikahinya."


...***...


2 hari setelah pernikahan Wenying ....


Siena tengah menikmati pemandangan yang ada di dalam Istana ini, setelah puas. Ia pun memutuskan untuk berkeliling di dalam Istana, perasaan yang Siena rasakan selama tinggal di istana adalah ... banyak sekali pelayan yang ingin melayaninya, selain itu ia disuruh mengenakan pakaian wanita. Tapi, ia menolak untuk mengenakan pakaian tersebut, lantaran amat sangat ribet dan tidak bebas. Jadi dirinya memilih untuk mengenakan pakaian yang bercelana panjang.


TAK! TAK!


Di sana Siena melihat seorang wanita cantik tengah melawan seorang pria, dengan menggunakan sebuah tongkat.


Sudah lama aku tidak berolahraga, pikir Siena.


Siena pun berjalan menghampiri keduanya. "Sedang latihan apa? Kalian berdua?" tanya Siena kepada keduanya, mereka yang melihat Siena tampak kebingungan.


"Namaku Siena, aku dipaksa Pangeran untuk tinggal di dalam Istana ini," ucap Siena memperkenalkan dirinya.


"Ternyata kamu yang menikah dengan Pangeran Fengying," ucap wanita yang memiliki paras cantik itu.


Sementara Siena hanya tersenyum dan menggeleng. "Bukan aku yang menikah dengannya, justru saudara angkatku yang menikah dengannya—" jawab Siena sembari menjelaskan kepada wanita tersebut. "Apa kamu juga istrinya?" tanya Siena.


Wanita ini memiliki sopan santun, yang cukup baik, batin wanita yang ditanyai Siena.


"Iya, aku Selir resmi Pangeran Fengying—" ucapnya. "Namaku Luili, apa kamu tertarik dengan hal yang aku lakukan ini?" tanyanya kepada Siena.


"Tentu saja aku tertarik, sudah lama aku tidak berolahraga."


Akhirnya mereka berdua berlatih bersama, keduanya tampak terlihat begitu akrab.


Sementara di sisi lain, seseorang tengah memperhatikan keduanya.


"Aku harus merencanakan sesuatu."


Tbc