Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Mansion newah



Mama Lita bukan sengaja menanyakan hal tersebut, dia melihat sebuah cincin pernikahan yang ada di atas meja dan itu terlihat sebuah insial nama laki-laki.


"Dia...Dia sudah bahagia, kami baru bercerai pagi tadi." Balas Jesslyn dengan membalikkan tubuhnya untuk mencuci ikan tersebut, padahal dia sengaja melakukan nya agar tidak terlihat menyedihkan.


"Astaga, maafkan mama sayang. Apa kau baik-baik saja?" Tanya nya dengan menyentuh pundak Jesslyn yang langsung mengangguk.


"Aku baik-baik saja..."


Akhirnya mama Lita tidak menanyakan sesuatu lagi pada Jesslyn karena takut menyinggung nya, dia merasa tak enak hati karena sudah membuat Jesslyn bersedih seperti sekarang.


"Aku orang yang egois, aku juga sangat angkuh, bahkan begitu sombong. Semua sesuatu harus di penuhi, hingga membuat nya tidak menyukai ku. Aku rasa, tidak ada satu orang pun laki-laki yang mau mendapatkan wanita seperti ku ini, benar kan ma?" Tanya Jesslyn yang justru langsung mendapatkan pelukan dari nya.


"Jangan bicara sembarangan, masa lalu tetaplah masa lalu. Semua orang pasti bisa berubah, mama yakin kau tidak seperti itu. Kau hanya terbiasa hidup terpenuhi dan tercukupi sehingga membuat mu angkuh dan egois, jangan menyalahkan diri sendiri oke? kau baik, kau juga cantik." Ucap nya dengan lembut.


"Terimakasih ma, aku sudah tidak memikirkan apapun lagi selain melanjutkan hidup ku agar bisa kembali seperti dulu." Senyum Jesslyn dengan menatap wanita tersebut.


"Kau bekerja?" Tanya Mama Lita dengan kembali melanjutkan masak nya.


"Tidak ma, aku berniat untuk mencari mau besok. Meskipun teman ku ingin aku bekerja di perusahaan kakak nya namun aku tidak ingin lagi merepotkan mereka, sudah cukup selama ini mereka membantu ku."


"Kalau begitu, kau bekerja saja di perusahaan putra mama. Bagaimana? kau bisa bertemu sekarang...." Ucap nya dengan antusias.


"Ehh, apakah tidak apa-apa ma?" Ragu Jesslyn.


"Tidak, kau tenang saja..." Balas nya dengan tersenyum-senyum hingga membuat Jesslyn terdiam heran, apakah ada sesuatu yang menyenangkan?


Mereka masak dengan saling bercerita satu sama lain, bahkan saat makan pun mereka terus saja mengobrol dengan seru.


Malam hari, Jesslyn segera mandi dan bersiap untuk mengantarkan wanita setengah baya tersebut yang nampak menunggu nya di ruang tamu. Setelah itu barulah dia keluar dengan memakai dress selutut yang memiliki rok payung yang mengembang berwarna peach dengan atasan tangtop putih nya, tak lupa high'heels putih yang terlihat simpel namun berkesan sangat mewah.


"Cantik sekali, ayo..." Ajak nya dengan merangkul Jesslyn yang hanya mengangguk, ini kedua kalinya setelah pagi tadi Jesslyn berdandan setelah sekian lama nya, mungkin kedepannya dia akan tetap berdandan seperti ini.


Selama perjalanan, Jesslyn merasa gugup entah karena apa dia sendiri tidak tahu. Hingga mobil yang ia kendarai menuju ke sebuah mansion mewah yang begitu besar dan luas melebihi milik Liam sendiri, Mata Jesslyn melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"I-ini..." Gugup Jesslyn.


"Tidak apa-apa ayo masuk." Ajak nya yang kembali merangkul Jesslyn yang terlihat gugup itu, mereka segera masuk kedalam dan duduk di ruang tamu.


"Tunggu sebentar, mama akan ganti baju dulu.." Ucap nya dengan tersenyum sebelum akhirnya pergi dari sana dengan menaiki tangga tersebut.


"Nona, mau minum apa?" Tanya para pelayan yang datang dengan begitu ramai, mereka dengan kompak menunduk di hadapannya.


"Baik nona, mohon tunggu sebentar." Balas nya.


"Baik."


Jesslyn melihat sekeliling yang nampak luas dan ramai karena di sana banyak sekali pelayan yang berbaris rapi, mereka tiba-tiba saja menundukkan kepalanya dengan penuh hormat secara berjamaah.


"Siapa kau?!" Terdengar suara bariton seseorang yang berada di belakang Jesslyn yang saat itu juga langsung membalikkan badannya, Jesslyn bisa melihat sosok laki-laki berperawakan tinggi, sorot mata yang tegas, kulit yang coklat eksotis, hidung mancung, rahang tegas, bibir sensual, otot tangan dan jari nya yang nampak menonjol, sebuah tato di jari tangannya, ada juga tato di leher nya yang membuat nya terlihat begitu tampan dan sempurna.


"Apa kau wanita pilihan mama lagi?" Tanya nya lagi dengan menatap tajam Jesslyn.


"Iya... Ehh tidak." Gugup Jesslyn.


"Tidak?" Tanya nya dengan penuh selidik.


"Iya...." Angguk nya dengan mundur beberapa langkah, dia sedikit takut saat melihat tubuhnya yang terus mendekat ke arah nya.


Sosok laki-laki itu berdiri di depan Jesslyn yang sudah terpentok sofa, dia bisa melihat ekspresi ketakutan Jesslyn yang nampak berkeringat. Ada apa dengan nya? kenapa dia takut? apakah dia menyeramkan?


"T-tunggu sebentar......" Jesslyn segera mendorong dada nya lembut agar laki-laki itu mundur beberapa langkah, setelah itu dia bergegas pergi dengan lari terbirit-birit.


Tapi sebelum itu, dia kembali lagi untuk mengambil tas nya yang tertinggal dan mengatakan sesuatu yang membuat laki-laki itu berkedut lucu.


"Tolong katakan pada mama Lita bahwa aku pulang duluan, dan sampaikan juga untuk menyimpan bodyguard nya itu di luar. Dia terlihat mesum!" Jelas Jesslyn pada salah seorang pelayan di sana.


"Baik nona." Tunduk mereka dengan berusaha menahan tawa nya, mereka bisa melihat ekspresi tak percaya dari laki-laki tersebut yang hanya melotot dengan mulut yang terbuka lebar.


"Dia?" Gumam nya dengan menunjuk sosok Jesslyn yang sudah menghilang dari sana, baru kali ini ada wanita yang mengatakan nya mesum! Padahal,dia sendiri tidak tahu bagaimana cara nya merayu wanita.


"Jamie? kau sudah pulang nak?" Tanya Mama Lita yang terlihat anggun dan cantik, dia melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Jesslyn.


"Di mana Jessy?" Tanya mama Lita dengan terus celingak-celinguk sebelum akhirnya menatap Jamie yang hanya berdiri dengan kesal.


"Kau apakan Jessy, Jamie?!" Tanya mama Lita dengan mata yang melotot.


"Mama tanya saja pada para pelayan!" Ketus nya dan segera pergi dari sana menuju lantai atas.


"Jamie!!!" Panggil mama Lita namun Jamie nampaknya tidak peduli sama sekali.


"Nyonya...." Panggil para pelayan dengan menundukkan kepalanya, setelah itu dia menceritakan semua yang terjadi pada mereka berdua di mana Jesslyn terlihat takut pada Jamie dan menganggap Jamie seorang bodyguard yang mesum, mendengar itu dia langsung tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai duduk di kursi depan air mata yang keluar. Ini pertama kalinya dalam seumur hidupnya ada wanita yang berani mengatakan hal tersebut secara terang-terangan di sana, apakah tampang Jamie mirip seperti bodyguard? mungkin karena tato di tubuhnya yang terlihat seperti laki-laki nakal dan mesum. Padahal, putranya itu tidak pernah memiliki satu pun wanita di sisi nya. Bagaimana bisa dia di sebut mesum?