Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Menghabiskan waktu



Saat ini, Jamie tengah diam dengan terus menghela nafas berat. Di luar kembali hujan namun tidak di sertai dengan petir sehingga keadaan terasa nyaman, sudah hampir 3 jam Jamie di diamkan oleh Jesslyn karena sibuk menonton film kesukaannya.


"Darling...." Panggil Jamie dengan memegang kaki Jesslyn yang memang duduk berselonjor di atas sofa.


"...." Jesslyn masih tetap fokus dengan terus mengunyah makanannya.


"Aku...."


Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt


Jamie melirik ponselnya, dia melirik ke arah Jesslyn yang tengah menatapnya. Jamie tersenyum kecil sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.


"Aku angkat telepon dulu.." Ucap Jamie dan segera pergi kedalam kamar, Jamie melihat Jesslyn yang masih asik menonton filmnya hingga membuat Jamie menghela nafas lega.


"Tuan, kami sudah membawa wanita ini ke bandara. Apakah dia harus di bawa ke markas?" Tanya seseorang di sambungan telepon tersebut.


"Tidak perlu, buat dia merasakan seperti apa yang di rasakan oleh Jessy! Tusuk tubuhnya menggunakan besi! paku jari-jari tangannya, cabut semua kukunya! pukul kepalanya dengan balok! dan..... Geleng tubuhnya menggunakan mobil!" Ucap Jamie dengan suara yang pelan, takutnya Jesslyn mendengar percakapannya.


"Baik tuan, untuk mayatnya?"


"Lakukan seperti biasa."


"Baik, kami akan membakarnya dan memalsukan kematiannya."


Jamie mematikan sambungan teleponnya dan kembali lagi ke tempat semula, di sana sudah ada Jesslyn yang terlihat masih fokus pada layar televisi.


"Siapa?" Tanya Jesslyn yang membuat langkah Jamie langsung terhenti, sebelumnya Jamie ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk Jesslyn.


"Rekan bisnis dari Italia." Balas Jamie dengan mengambil beberapa botol minum dan meletakkannya di hadapan Jesslyn yang langsung duduk seketika.


"Ada apa? apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Jesslyn penasaran.


"Tidak ada, dia hanya mengatakan sesuatu mengenai perusahaan." Senyum Jamie.


"Oh baiklah." Angguk Jesslyn dengan kembali berbaring, Jesslyn kembali fokus pada televisi hingga membuat Jamie mengeryit tak senang.


"Jessy, jangan mengacuhkan aku lagi..." Ucap Jamie dengan memegang kaki Jesslyn.


"Kalau begitu ikutlah nonton bersama ku." Ucap Jesslyn yang membuat Jamie terdiam.


Akhirnya Jamie menurut dan duduk di lantai yang terdapat karpet berbulu, Jamie duduk tepat di hadapan Jesslyn yang hanya diam itu. Melihat Jamie yang menonton film, Jesslyn melingkarkan tangannya di pundak Jamie hingga membuat laki-laki itu tersenyum dan mengecup tangan Jesslyn lembut.


"Apa kau lapar?" Tanya Jamie.


"Tidak, kau?"


"Ya...Aku akan memesan makanan dulu." Ucap Jamie dengan mengambil ponselnya dan mulai memesan makanannya.


"Aku mau, aku mau!! seafood ya...." Ucap Jesslyn dengan antusias.


"Oke." Angguk Jamie.


Jesslyn tersenyum lebar dan mengecup pipi Jamie cepat, hal itu semakin membuat Jamie yakin bahwa dia benar-benar ada didalam hati Jesslyn.


"Kenapa kau tidak mencium bibirku?" Tanya Jamie dengan menatap Jesslyn hingga wajah mereka terlihat menempel, Jesslyn terdiam dan menatap bibir sensual Jamie yang terlihat menggoda. Dengan sedikit memiringkan kepalanya, Jesslyn menempelkan bibirnya pada Jamie yang langsung menerimanya dengan senang.


Mereka berciuman dalam waktu yang lumayan lama dan tentunya sangat menyenangkan, Jamie ingin sekali masuk kedalam tubuh Jesslyn namun dia sadar bahwa sebelum Jesslyn memintanya dia tidak akan melakukannya.


"Sudah....hhh....Hhh..." Jesslyn mendorong pundak Jamie untuk menjauh, wajahnya benar-benar merah karena eungap tapi tidak dengan Jamie yang justru tersenyum lebar.


"Tergantung..." Balas Jesslyn dengan santai.


"Oke..." Angguk Jamie yang mengerti arah pembicaraan Jesslyn.


•••••


Jesslyn terbangun dari tidurnya dan segera pergi kedalam kamar mandi, Jamie masih tertidur pulas di atas ranjangnya tanpa menggunakan atasan. Alasannya karena sudah terbiasa seperti itu jadinya tidak betah jika tidur menggunakan baju, aneh bukan?


Setelah selesai mandi, Jesslyn mengambil dress pendek selutut yang memiliki rok pendek lainnya yang di atas lutut. Dress tersebut hanya memiliki tali di bagian kiri sehingga Jesslyn bisa memakainya, setelah memoles wajahnya dengan sedikit riasan Jesslyn segera pergi ke dapur.


Dengan sedikit kesusahan Jesslyn mulai membuat nasi goreng, dia tidak ingin makan di luar secara terus-menerus. Dan lagi, dia sedikit lihai menggunakan tangan kirinya.


Setelah makanannya selesai, Jesslyn kembali ke kamar dan menggelengkan kepalanya saja saat melihat Jamie yang masih terlelap dengan posisi yang begitu menggoda.


"Jamie.... Bangun! kita harus ke kantor sekarang." Ucap Jesslyn dengan menepuk-nepuk pipi Jamie.


"Five minute baby...." Balas Jamie dengan suara yang serak dan bahkan sudah menarik pinggang Jesslyn hingga terjatuh di atas tubuhnya dan Jamie dengan sengaja menelusup kan wajahnya di antara dada Jesslyn yang terasa kenyal.


"Jamie! lepaskan! tanganku sakit ..." Ringis Jesslyn yang membuat Jamie segera tersadar dan langsung bangun seketika.


"Maafkan aku Jessy, apa masih sakit? sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang." Paniknya.


"Tidak usah, aku baik-baik saja. Cepatlah mandi dan bersiap....." Ucap Jesslyn dengan membereskan tempat tidurnya yang terlihat berantakan.


"Baik." Patuh Jamie yang bergegas pergi ke kamar mandi, namun beberapa detik kemudian Jamie datang dan berdiri didepan Jesslyn yang nampak keheranan itu.


"Ada apa?" Tanya Jesslyn.


"Untuk apa kau menyuruhku bersiap? aku tidak akan ke kantor hari ini, dan apa-apaan ini? kenapa kau berdandan hah?" Ucapnya dengan menatap Jesslyn yang terlihat kesal dan ingin sekali memukulnya.


"Bodoh! cepatlah mandi, jika kau tidak mau pergi ke kantor maka diamlah disini! aku yang akan pergi sendiri!" Kesal Jesslyn yang langsung membuat Jamie kikuk.


"B-baik lah, tunggu aku.... Kau jangan dulu pergi." Ucap Jamie yang kembali masuk kedalam kamar mandi dengan sedikit terburu-buru.


Jesslyn mengelus dadanya yang terasa berdetak kencang, emosinya benar-benar selalu di uji jika berada di samping Jamie.


Setelah beres dengan urusan ranjang, Jesslyn segera mengambil baju Jamie dan meletakkannya di atas ranjang. Jesslyn juga memilihkan jam tangan yang akan Jamie kenakan hari ini, tidak hanya itu, Jesslyn juga mengambil parfum yang sering di pakai oleh Jamie dan sedikit memakainya. Aroma Jamie benar-benar menggiurkan, namun dia tidak ingin memiliki aroma seperti itu sehingga hanya memakainya sedikit.


Setelah di rasa selesai, Jesslyn pergi keluar dan mulai membersihkan ruang tamu yang terdapat banyak sekali sampah makanan bekas mereka semalam. Meskipun sedikit kesulitan namun hal itu tidak membuat Jesslyn bermalas-malasan, dia tidak ingin terlalu di manjakan oleh Jamie.


"Jessy..." Panggil Jamie yang datang dengan pakaian yang sudah rapih dan tampan, Jamie tersenyum pada Jesslyn yang nampak menuangkan susu di gelas.


"Makanlah dulu.." Ucap Jesslyn dengan duduk di kursi.


"Kau masak?"


"Tidak, aku jualan." Balas Jesslyn dengan malas.


"..... Jangan dulu melakukan pekerjaan berat Jessy, tanganmu akan sakit lagi nantinya." Ucap Jamie dengan serius.


"Aku tahu, karena itulah aku tidak menggerakkan tangan kananku. Cepat makan jangan banyak bicara!"


"...." Jamie langsung diam dan segera melahap nasi goreng tersebut yang terasa sangat enak dan lezat, sesekali Jamie melirik Jesslyn yang nampak cantik dan dewasa.


"Kau menutupi bekas ciuman ku dengan apa?" Tanya Jamie yang tidak melihat bekas ciuman nya di pundak dan leher Jesslyn yang terlihat sangat indah itu.