Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Kepergok



Jamie melirik Jesslyn yang sudah terbangun dan sekarang sedang berada di dalam mobilnya, sepertinya Jesslyn melupakan kejadian tadi. Jika Jesslyn ingat, mungkin Jamie akan mati saat itu juga.


"Jamie, besok aku akan langsung pergi ke hotel untuk memeriksa semua persiapannya. Setelah siang aku akan pergi ke kantor, semua pekerjaan sudah aku selesaikan dan aku kirimkan pada Nicky." Jelas Jesslyn.


"Apa kau sungguh-sungguh ingin mempersiapkan semuanya?" Tanya Jamie dengan eskpresi tak yakinnya.


"Memangnya kenapa? apa kau pikir aku akan mengacaukan pestanya?" Kesal Jesslyn.


"Tidak, bukan begitu maksudku Jes. Aku hanya tidak ingin kau lelah, sebaiknya kau pergi denganku ke kantor, di sana aku bisa memantau mu." Jelasnya yang justru membuat Jesslyn terdiam.


"Mama tidak ingin kau terluka dan menyuruhku untuk terus menjaga dan memperhatikan mu, bahkan aku sendiri yang merupakan anak kandungnya tidak pernah ia perlakukan seperti ini." Gerutunya.


"Itu karena kau anak yang nakal!" Celetuk Jesslyn.


"Nakal? nakal bagaimana maksudmu hah?" Tanya Jamie dengan menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan memotong jalur.


"Apa yang kau lakukan? cepat jalan!! jika tidak, kita akan di tilang!" Marah Jesslyn.


"Tidak mau sebelum kau mengatakan, nakal apa maksudmu?" Tanya Jamie dengan memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Jesslyn.


"Jamie, sudahlah. Kau seperti anak kecil, cepat jalan!" Kesal Jesslyn.


"Tidak ma.."


Tok tok tok tok tok


Jesslyn dan Jamie melihat ke luar kaca, di sana ada beberapa polisi yang terlihat menyeramkan tengah mengetok kaca mobil Jamie menggunakan tongkatnya.


"Ada apa?" Tanya Jamie tanpa dosa.


"Maaf tuan, kalian berdua telah melanggar peraturan lalu lintas. Kalian akan terlibat pasal hukum juga karena melakukan hal yang tidak senonoh di tempat umum!" Jelasnya.


"Tidak, kami tidak melakukan apapun pak. Dia, dia yang gila!!" Jelas Jesslyn dengan sangat malu, bagaimana mungkin mereka mengatakan hal tersebut dengan mudah.


"Nona, jika kalian tidak melakukannya mana mungkin kalian melanggar peraturan? pasti kalian berdua sudah tidak tahan bukan? hotel murah ada di depan, silahkan bayar denda sebelum pergi ke hotel itu." Ucapnya lagi.


"....." Jesslyn tidak tahu lagi harus mengatakan apa, dia melirik Jamie yang terus terkekeh dan tanpa rasa berdosa laki-laki itu justru memberikan uang lebih pada para polisi itu dengan ekspresi yang gembira.


"Sepertinya kalian sangat mengerti aku, kami memang pengantin baru. Bukankah sudah biasa untuk kami?" Ucap Jamie dengan melirik Jesslyn yang sudah tidak tahan ingin menggeplak mulut Jamie yang menurutnya sangat blak-blakan.


"Kami mengerti tuan, silahkan lanjutkan perjalanan kalian." Ucap para polisi itu dengan senang dan juga malu-malu karena tidak menyangka jika mereka menilang pasangan yang baru saja menikah.


"Jamie! apa kau gila?" Tanya Jesslyn dengan kesal.


"Ya, aku gila karena mu Jes." Balasnya tanpa dosa.


"Sialan kau!!"


Jamie hanya terkekeh, dia begitu menyukai ekspresi Jesslyn yang menurutnya sangat jauh berbeda dengan apa yang ia amati selama Jesslyn bersama Liam. Jesslyn yang dulu terlihat tertutup dan juga selalu diam, tapi sekarang? Jesslyn sudah terlihat aktif dan mudah sekali marah.


•••••


Pagi ini Jesslyn bersiap untuk kembali ke hotel, namun dia ingin bertemu lebih dulu dengan Loly yang terus merengek ingin bertemu padahal keduanya sudah tahu bahwa sama-sama sibuk karena pekerjaannya masing-masing.


"Jes, kau tidak apa-apa?" Tanya Loly dengan memakan dessert nya.


"Tidak." Santai Jesslyn.


"Apa rasa cinta mu untuk Liam sudah hilang?" Loly ingin memastikannya.


"Aku tahu, itu memang tidak mudah. Kau menyukainya sudah begitu lama, wajar saja jika kau membutuhkan waktu yang lama untuk melupakannya. Bagaimana pun, status mu bukan sebagai mantan kekasih tapi mantan istri."


"Lebih tepatnya istri yang tidak di anggap hahaha..." Sambung Jesslyn membuka Loly menggelengkan kepalanya saja.


"Haishh kau ini, oh iyaa.... Perusahaannya akan mengadakan liburan bersama ke pulau pribadi miliknya, ada beberapa bagian yang ikut termasuk aku juga. Namun, aku tidak tahu apakah akan ikut atau tidak.... Aku, aku tidak memiliki teman di sana." Jujurnya dengan menatap Jesslyn.


"Liburan? hahah.... Sepertinya itu tidak mungkin." Santai Jesslyn.


"Apa maksudmu?" Heran Loly.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, kau akan tahu nanti. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar kak Marsen?" Tanya Jesslyn yang langsung mengalihkan pembicaraannya.


"Kakakku baik-baik saja, dia hanya sibuk dengan urusan kantor. Tahu sendiri bagaimana keadaan kantor saat ini...." Lirihnya.


Jesslyn terdiam beberapa saat, dia melihat berita yang mengatakan bahwa perusahaan milik Marsen mengalami penurunan drastis karena seseorang, apakah karena Liam?


"Aku, aku akan meminta bantuan pada Jamie untuk menstabilkan kembali perusahaan kak Marsen, kau tenang saja." Lembut Jesslyn dengan menepuk pundak Loly yang langsung mengangguk.


"Terimakasih Jes." Senyumnya.


"Bukankah di antara kita tidak ada kata terimakasih?" Balas Jesslyn dengan tersenyum.


"Tapi aku tetap ingin mengucapkan nya..." Cemberut Loly.


"Hahaha baiklah, ayo pulang. Kau harus kembali ke kantor dan aku juga harus bekerja, jika aku tidak bekerja aku tidak akan punya uang."


"Aku tahu."


Mereka segera berpisah di luar restoran itu, Jesslyn yang membawa mobilnya begitu pun dengan Loly. Arah jalan pulang mereka saling berjauhan sehingga keduanya benar-benar berpisah di sana, sebenarnya Jesslyn ingin lebih bersama Loly karena ia tahu bahwa saat ini Loly benar-benar membutuhkan sosoknya, namun Jesslyn harus pergi menemui Jamie.


Bukannya pergi ke hotel, Jesslyn justru kembali ke kantor.


"Selamat pagi nona Jesslyn..." Sapa mereka dengan tersenyum ramah.


"Iya.." Balas Jesslyn dengan tersenyum kecil.


Jesslyn berjalan sedikit cepat, dia ingin segera menyelesaikan semuanya satu-persatu.


"Kau datang lebih awal." Tanya Nicky yang melihat Jesslyn muncul di sana, namun Jesslyn tidak menghiraukannya sama sekali karena dia lebih memilih untuk segera masuk kedalam ruangan Jamie. Di sana dia melihat sosoknya yang tengah berkutat dengan komputer, jas yang di simpan di balik kursi, kemeja yang di gulung hingga siku, bagian ada dadanya terlihat karena dua kancingnya sengaja ia lepas, sorot matanya yang tajam membuat Jamie terlihat begitu tampan dan sempurna.


"Jamie..." Jesslyn duduk di kursi yang ada di hadapan mejanya.


"Hm..."


"Jamie, lihat aku sebentar!!"


"Ada apa Jessy?" Tanya Jamie dengan menatap Jesslyn.


"Apa kau bisa membantuku?" Tanya Jesslyn dengan ekspresi penuh harap.


Jamie menghela nafas panjang, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah dokumen yang ada di atas mejanya, setelah itu dia memberikannya pada Jesslyn yang nampak mengeryit.


"Aku in..."


"Ini adalah investasi yang aku berikan padanya, mulai sekarang kau yang mengurus proyek tersebut. Aku hanya menanamkan saham saja di sana, selebihnya kau yang urus."