
Pesta yang semula banyak di minati kini berakhir dengan begitu buruk, mereka tidak ada yang menyangka bahwa Liam sangat bodoh karena sudah menyia-nyiakan sosok Jesslyn. Memang benar apa kata Jamie, dia berterima kasih karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Jesslyn.
"Apa kau masih memikirkan mantan suami mu itu?" Tanya Jamie dengan menghampiri Jesslyn yang sedang bercermin, mereka baru saja tiba di apartemen Jesslyn beberapa waktu yang lalu.
Jesslyn sudah mandi dan saat ini sedang memakai cream malamnya, dia pikir Jamie akan langsung pergi tapi ternyata tidak.
"Tidak, untuk apa aku memikirkannya?" Balik Jesslyn dengan santai, dia merasa puas karena akhirnya Liam bisa merasakan rasa sakit hatinya itu, meskipun dalam hati kecilnya Jesslyn sedikit tak tega karena sudah membuat nya terluka.
"Jangan berbohong padaku Jesy!" Kesal Jamie yang berdiri di belakang Jesslyn.
"Aku tidak berbohong Jamie! tapi.... Aku tidak tega melihatnya seperti ini, dia pasti sangat hancur sekarang. Apakah aku jahat?" Tanya Jesslyn dengan membalikkan kepalanya hingga bisa menatap Jamie yang ada di belakangnya.
"Tidak, kau tidak jahat. Kau hanya ingin laki-laki sialan itu merasakan seperti apa yang kau rasakan meskipun tidak separah dirimu.." Balas Jamie dengan tatapan yang dalam.
"Aku tahu, kau tidak mau mandi? biasanya kau akan mandi. Aku akan memasak, perutku lapar." Ucap Jesslyn dengan bangkit dari duduknya.
Jamie memperhatikan Jesslyn yang pergi dengan hanya memakai dress tidur yang tipis dan di balut dengan gardingan nya yang memiliki warna senada, di lihat dari manapun Jesslyn benar-benar sempurna.
"Bagaimana bisa ada laki-laki yang tidak tergoda olehnya!" Gumam Jamie dengan menggelengkan kepalanya, dia segera mengambil handuk dan mulai masuk kedalam kamar mandi.
Saat berada didalam kamar mandi Jamie di buat terkejut dengan keberadaan baju tidur yang ada di lemari tersebut, baju itu khusus untuk laki-laki. Apakah Jesslyn sengaja?
"Tenang Jamie, lakukanlah secara perlahan-lahan. Jangan terburu-buru oke...." Ucap Jamie dengan menenangkan pikirannya yang tidak tidak.
Jamie segera melakukan ritual mandinya dengan perasaan yang aneh, dia merasa bahwa saat ini dia dan Jesslyn seperti sepasang suami istri. Jamie memakai pakaian tidur itu dan segera keluar dari kamar Jesslyn, setelah itu Jamie mencari keberadaan Jesslyn yang sibuk memasak.
Rambut yang di ikat asal hingga membuat beberapa anak rambutnya berjatuhan, tak lupa ekspresi seriusnya saat sedang memasak membuat Jamie terus menatap sosoknya.
"Kau...." Kaget Jesslyn karena Jamie menggunakan pakaian tidur tersebut.
"Kenapa? aku tahu sengaja membelinya kan?" Ucap Jamie dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan mengada-ada! itu semua karena Loly! dia membelikan banyak sekali pakaian tidur!" Jujur Jesslyn yang kini membuat senyum di wajah Jamie langsung hilang.
"...."
"Itu... Apa kau marah?" Takut Jesslyn, apakah ucapannya ada yang salah?
"Tidak." Balasnya dengan acuh, jelas-jelas wajahnya menunjukkan ekspresi kesal. Ingin sekali rasanya Jesslyn memukulnya dengan sendok yang ia pegang sekarang.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Lupakan, ayo kita makan...." Ajak Jesslyn dengan membawa dua piring nasi goreng yang memiliki beberapa toping di atasnya.
"Hmm..."
"Aku tidak memasak lauk karena ini sudah malam dan aku sudah sangat lapar, jika kau tidak mau kau bisa memesannya di luar." Ucap Jesslyn dengan memakan makanannya tanpa menatap ke arah Jamie yang nampak diam.
"Kenapa kau tidak menyewa asisten rumah tangga?" Tanya Jamie dengan penasaran.
"Kau pikir aku kaya seperti mu?" Balik tanya Jesslyn.
"Kau bisa mengambilnya di kediaman ku."
"Tidak terimakasih."
"Kenapa?"
"Karena aku suka."
"Jess..."
"Jangan berisik! cepat habiskan makanan mu."
"..."
Mereka diam dengan fokus pada makanannya masing-masing, sesekali mereka saling pandang sebelum akhirnya kembali fokus.
"Kau bisa?"
"Tidak."
"Lupakan, kau akan membuat piringku pecah!"
Jesslyn mengambil alih piring yang sebelumnya di pegang oleh Jamie, setelah itu mulai mencucinya dengan santai. Jamie yang berada di samping Jesslyn hanya diam dengan memperhatikan sosoknya yang terlihat dewasa, apa yang kurang dari sosok wanita disampingnya ini?
"Malam ini kau tidur di sofa." Ucap Jesslyn.
"Ya." Angguk Jamie yang mengikuti Jesslyn pergi kedalam kamar.
Bukannya tidur, Jesslyn justru pergi ke balkon dan berdiri disana. Jamie yang melihat itu ikut menyusul Jesslyn dan berdiri di sampingnya, Jamie melihat ekspresi Jesslyn yang terlihat sedih namun masih di paksa untuk bahagia.
"Kau tahu? jika kau beranggapan bahwa kau itu bintang yang redup dan tidak bisa menyinari bulan yang kau inginkan itu, maka aku adalah orang yang menantikan cahaya redup mu itu..." Ucap Jamie dengan menatap Jesslyn.
Jesslyn yang mendengar itu tersentak, dia seperti Dejavu dengan ucapan tersebut. Hingga akhirnya dia ingat, dia pernah membahas hal tersebut dengan pelayan di kediaman Liam dulu.
"Terimakasih..., terimakasih untuk semuanya." Ucap Jesslyn, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak bertemu dengan Jamie. Mungkin, dia akan tetap terpuruk!
"Tidak masalah..." Balas Jamie dengan tersenyum kecil.
DUARRRRR!!!
"...." Jesslyn terlonjak dari tempatnya, dia benar-benar terkejut dengan suara petir yang baru saja menggelegar itu.
"Sepertinya akan memasuki musim hujan, ayo masuk." Ajak Jamie.
"Kau benar, ini sudah mulai turun hujannya." Balas Jesslyn dengan mengulurkan tangannya dan merasakan tetesan demi tetesan air hujan yang mulai berjatuhan.
Mereka masuk dan segera menutup pintu kaca besar tersebut dan menutup tirai besar itu, suasana menjadi canggung karena mereka berdua berada di dalam kamar yang sama.
"Itu..." Ucap Jesslyn.
"Tidurlah..." Ucap Jamie dengan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"....." Jesslyn segera naik ke ranjangnya, dia diam sesaat. Ada perasaan tak tega yang menyelimuti hatinya saat melihat Jamie yang sedang memejamkan matanya tanpa bantal dan selimut, dengan sedikit menghela nafas berat Jesslyn kembali bangun dan mengambil selimut beserta bantal juga.
"Pakailah, cuacanya sangat dingin. Aku akan mengecilkan AC juga...." Ucap Jesslyn dengan memberikan selimut dan bantal tersebut.
"Oh oke... Tapi aku tidak biasa tidur tanpa memakai baju, tidak apa-apa kan?" Tanya Jamie dengan menatap Jesslyn yang langsung terdiam.
"..... Terserah, senyaman nya dirimu saja." Ucap Jesslyn dan kembali lagi ke tempatnya.
Jesslyn merebahkan tubuhnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut, Jesslyn juga mulai memejamkan matanya namun lagi dan lagi suara petir kembali menggelegar hingga membuat Jesslyn membuka matanya.
Ruangan tersebut menjadi gelap dan hanya ad lampu emergency saja yang menyala, dengan cepat Jesslyn bangkit kembali dan menatap ke arah Jamie yang masih asik memejamkan matanya m
"Kau tidur?" Tanya Jesslyn pelan, dia benar-benar takut dan tidak nyaman sekarang. Biasanya, dia akan di temani oleh para pelayan jika sedang dalam kondisi seperti ini.
"Tidak, kau takut?" Balas Jamie dengan memiringkan kepalanya dan menatap Jesslyn yang terlihat duduk di atas ranjang dengan posisi yang meringkuk.
"Ya...." Jujur Jesslyn dengan memeluk kedua lututnya.
Terdengar helaan nafas Jamie, laki-laki tampan yang sedang bertelanjang dada itu mulai bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati Jesslyn. Jamie duduk di samping Jesslyn dan mengelus rambutnya pelan...
"Tidak ada apa-apa, tidurlah...." Lembut Jamie dengan membantu Jesslyn untuk kembali berbaring.
"Jangan kemana-mana..." Ucap Jesslyn dengan mendekatkan wajahnya di antara paha Jamie.
"Hmm..."
Jesslyn mulai memejamkan matanya kembali dan mulai tertidur, dia tidak sadar bahwa sikap Jamie saat ini sangat jauh berbeda. Jamie yang biasanya selalu bersikap sembrono kini terlihat dewasa dan menenangkan, hal tersebut membuat Jesslyn merasa aman berada di dekatnya.