
Jesslyn terus memikirkan perkataan Jamie tadi sore, dia sampai lupa untuk menanyakan hadiah apa yang akan di bahas oleh nya tadi. Dengan cepat, dia segera bergegas untuk pergi ke kediaman Jamie, dia sudah berjanji untuk bertemu dengan mama Lita karena akan membuat kue bersama sekalian dia juga ingin mengantarkan mobil Jamie yang ia bawa tadi sore.
Sebelum pergi ke sana, Jesslyn membawa beberapa buah tangan yang ia beli dari supermarket terdekat.
Saat dirinya sampai di kediaman Domenic, dia di sambut dengan hangat oleh para pengawal dan pelayan di sana, mereka terlihat antusias dan senang saat melihat Jesslyn yang datang dengan memakai rok panjang di bawah lutut dengan mirip jaring transparan, serta ada rok pendek nya juga yang hanya sepaha. Tak lupa baju rajut panjang nya yang memperlihatkan leher dan pundaknya sebelah.
"Halo, apakah mama Lita ada di dalam?" Sapa Jesslyn.
"Nyonya sudah ada nona, namun tuan masih belum datang..."
"Aku tidak peduli, yang aku cari mama Lita bukan dia..." Balas Jesslyn dengan santai.
"Benarkah? aku pikir kau merindukanku..." Tanya Jamie yang datang dengan melingkarkan tangannya di pundak Jesslyn yang langsung menghempaskan nya.
"Diam, mulut mu bau." Kesal Jesslyn yang langsung masuk tanpa menghiraukan panggilan Jamie.
"Apa lihat-lihat?!" Tanya Jamie dengan kesal pada mereka yang terlihat menahan tawanya.
Jamie segera mengejar Jesslyn yang sudah masuk lebih dulu, dia memperhatikan tubuh Jesslyn dari belakang yang terlihat seksi saat berjalan. Merasa pikirannya mulai aneh, dia segera menggeplak kepalanya agar pikiran aneh itu menghilang dari otak nya.
"Jessy? kau sudah datang nak, mama pikir kau tidak jadi kemari." Ucap mama Lita dengan memeluk Jesslyn.
"Awalnya aku memang tidak akan datang tapi aku lupa untuk mengantarkan mobil nya.." Balas Jesslyn dengan melepaskan pelukannya.
"Mobil? kau meminjam mobil Jamie?" Tanya mama Lita.
"Siang tadi aku harus mengantarkan sahabat ku yang datang ke kantor, aku tidak membawa mobil karena pagi tadi berangkat dengannya ma." Ucap Jesslyn.
"Ah mama pikir kenapa, kalau begitu ayo ke dapur." Ajak nya yang di balas anggukan oleh Jesslyn.
Jesslyn tidak melihat sosok Jamie lagi di sana, mungkin sudah pergi ke kamar nya.
Semua pelayan yang ada di dapur langsung menyingkir saat melihat mereka berdua yang terlihat seperti ibu dan anak, keduanya terlihat cocok dan serasi. Mereka sibuk membicarakan menu kue yang akan mereka buat, menu utama yang akan mereka buat adalah Chapssal-tteok atau yang di sebut sebagai mochi ala korea, begitu lembut dan lumer saat di makan.
"Ini adalah kue kesukaan Jamie, dia suka Mochi dengan isian kacang merah yang di campur dengan coklat." Ucap mama Lita yang menjelaskan nya pada Jesslyn, dia memperhatikan menu makanan yang sudah tertulis di buku. Sepertinya itu akan di masak oleh koki di sana sebagai menu makanan untuk di sajikan pada Jamie.
"Aku akan membuat pie buah dan juga chococips, menurut mama apa lagi?" Tanya Jesslyn.
"Black forest." Ucap Jamie yang datang secara tiba-tiba, dia datang dengan menggunakan kaos pendek berwarna hitam dengan celana pendeknya juga yang sama warna nya.
Jamie berdiri di samping Jesslyn dengan tersenyum lebar, hal itu membuat Jesslyn langsung merinding dan segera berpindah tempat ke samping mama Lita.
"Gila...!" Gumam Jesslyn yang membuat mama Lita tersenyum.
"Jamie, pergilah! kau mengganggu Jesslyn." Ucap mama Lita.
"Aku tidak menggangu ma, aku hanya mengusulkan saja." Balas Jamie.
"Jamie!!"
"Kau tidak apa-apa nak?" Tanya mama Lita.
"Tidak ma, kalau begitu kita buat adonan pie terlebih dahulu..." Balas Jesslyn.
"Baik."
Mereka sibuk berkutat dengan bahan-bahan di dapur, bahkan keduanya tidak sadar bahwa sejak tadi Jamie terus memperhatikannya. Dia melihat Jesslyn yang memiliki sisi berbeda, Jesslyn terlihat mandiri dan dewasa tapi terkadang juga bersikap seperti anak kecil yang manis dan kekanak-kanakan.
"Nona Jesslyn sangat cantik, dia juga baik dan ramah. Bahkan, dia sangat pintar memasak... Pantas saja nyonya menyukai nya." Bisik bisik pelayan yang berdiri di tempat yang sedikit jauh dari dapur.
"Benar, jika aku kaya mungkin aku akan menikahkan nona Jesslyn dengan putraku. Senang rasanya memiliki menantu sepertinya..."
Jamie yang tak sengaja mendengar itu langsung berdehem hingga membuat mereka diam mematung dengan wajah yang pucat namun Jamie tak lagi bertingkah, dia segera pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Sedangkan untuk Jesslyn dan mama Lita, mereka baru selesai membuat semuanya setelah pukul 10 malam. Mereka terlihat kelelahan dan terduduk di kursi dapur, semua jenis kue sudah berjejer di atas meja dan semuanya terlihat begitu enak dan lezat.
"Jessy, kau bawa beberapa kue ini ke kamar Jamie. Setelah itu kau istirahat lah, ini sudah larut jika kau pulang..." Ucap mama Lita.
"Tidak apa-apa, aku akan pulang saja..." Tolak Jesslyn, dia merasa tak enak karena takut merepotkan.
"Tidak apa-apa, justru jika kau pulang mama merasa tak enak. Istirahat lah, bukankah besok kau harus bekerja?"
"Ehhh... Tapi... Baiklah." Pasrah nya, dia juga sudah lelah sebenarnya. Tubuhnya terasa lengket dan ingin segera mandi, akhirnya Jesslyn membawa beberapa kue tersebut ke lantai atas.
Setelah menemukan pintu kamar yang di jelaskan oleh mama Lita tadi, Jesslyn segera mengetuk nya hingga muncullah sosok laki-laki tampan dengan rambut yang berantakan.
"Ini." Ucap Jesslyn dengan menyodorkan piring tersebut.
"Masuklah." Balas Jamie dengan membuka pintu nya, di dalam kamarnya yang dominan berwarna hitam dan silver membuat Jesslyn merasa nyaman. Dia memang menyukai warna netral seperti ini, terlebih kamar Jamie sangat luas.
"Menginap apa pulang?" Tanya Jamie dengan memakan kue tersebut.
"Menginap, mama Lita bilang kamar ku ada di samping kamar mu." Balas Jesslyn dengan duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
"Oh oke, tidurlah. Kau pasti lelah..."
"Hmm..." Jesslyn bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Jamie, dia segera berjalan ke kamar sebelah yang di tunjukkan mama Lita untuk dirinya tempati.
Kamar tersebut berwarna pastel dan gold, terlihat nyaman dengan ranjang berwarna putih. Jesslyn segera mengambil handuk di lemari dan langsung pergi ke kamar mandi, dia melihat semua keperluannya sudah tersedia di sana.
"Sepertinya aku memerlukan shampoo." Gumam Jesslyn dengan melihat-lihat ke tempat perlengkapan mandi, dia melihat semua merek ternama di sana.
"Kenapa semuanya sangat mirip dengan punyaku? ahh tidak, mungkin hanya perasaan ku saja." Gumam Jesslyn dengan menggelengkan kepalanya saja.
Tapi, semua interior dan barang-barang yang ada di sana sangat mirip dengan miliknya. Bahkan, ada lilin aromaterapi dengan wangi coklat, padahal jarang sekali ada yang menyukai aroma tersebut.