Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Merepotkan



Jamie berkali-kali menghela nafas berat, sudah hampir sepuluh butir telur yang ia buang sia-sia karena tidak bisa memecahkannya dengan benar, Jesslyn sendiri hanya diam dengan terus menatap Jamie yang terlihat lucu dan menggemaskan itu.


"Aku akan memanggang sosis saja..." Ucap Jamie yang mengambil sosis dari kulkas dan mulai memanggang nya setelah memberikan butter di sosis tersebut, setelah itu Jamie menggoreng kentang yang sudah ada bersama nugget juga. Sekali lagi, Jamie menggoreng telur dan itu ternyata berhasil.


"Aku berhasil hahaha..." Senangnya.


"Selamat untuk mu karena sudah berhasil membuat satu telur setelah menghancurkan hampir satu pak telur!" Balas Jesslyn dengan sedikit tekanan.


"Maafkan aku, aku akan sering berlatih memasak mulai sekarang." Ucap Jamie dengan bersungguh-sungguh.


Jesslyn tidak menjawab, dia terus memperhatikan Jamie yang terlihat luar biasa saat sedang fokus seperti ini. Hingga akhirnya, setelah beberapa saat menunggu akhirnya selesai juga masakan Jamie, sosis bakar, kentang goreng, telur ceplok dan nugget nya juga. Jamie tersenyum lebar dan menyuruh Jesslyn untuk menghampirinya.


"Pegang ini dengan tangan kiri mu, jangan menjatuhkan nya karena aku sudah susah payah membuatnya." Ucap Jamie dengan memberikan piring tersebut pada Jesslyn yang langsung menerimanya.


"Tentu saja, tanganku masih berfungsi dengan ba...."


Ucapan Jesslyn langsung terhenti saat tiba-tiba saja Jamie mencium bibirnya dan mendorong sedikit tubuhnya hingga menabrak meja dapur, Jesslyn tidak bisa melakukan apapun selain diam dengan memejamkan matanya dan mulai menikmati ciuman yang di berikan oleh Jamie.


Ciuman Jamie terasa lebih intens dan lembut, isapan kecil dan sentuhan lidah Jamie di mulutnya membuat Jesslyn terhanyut dalam gerakan di setiap bibirnya.


"Hhh... Aku sudah mengambil hadiahnya, terimakasih." Ucap Jamie dengan mengelap bibir Jesslyn menggunakan jari jempolnya.


"...." Jesslyn hanya diam dengan wajah yang memerah, melihat itu Jamie hanya tersenyum dan mengecup kedua pipi Jesslyn.


"Kau terlihat semakin cantik jika sedang malu seperti ini. Ayo makan..." Ajak Jamie dan mengambil alih piring tersebut.


Jamie mulai menyuapi Jesslyn yang terlihat menikmati makanan hasil Jamie, telur yang di masak Jamie terasa asin hingga membuat Jesslyn terbatuk-batuk.


"Kau menambahkan berapa garam kedalam telur ini?" Tanya Jesslyn yang langsung minum itu.


"Tidak banyak, hanya dua sendok teh saja." Balas Jamie dengan tampang polosnya.


"Coba kau cicip." Ucap Jesslyn.


Jamie hanya menurut dan segera memakannya, terasa asin di lidahnya dan itu membuatnya segera mencari minum.


"Maaf, aku akan berusaha untuk bisa masak mulai sekarang..." Ucap Jamie dengan sedikit tak enak.


"Hhhh... Tidak apa-apa, aku tidak memaksa mu untuk bisa masak. Suapi aku lagi, aku ingin mencoba yang lainnya." Ucap Jesslyn yang membuat Jamie ragu, namun akhirnya Jamie tetap menyuapi Jesslyn.


Entah karena lapar atau karena menghargai Jamie, Jesslyn menghabiskan semuanya kecuali telur itu yang memang tidak bisa di makan lagi.


"Terimakasih, makanannya sangat enak." Ucap Jesslyn dengan tersenyum, setidaknya ada usaha di setiap tindakan Jamie.


"Jangan membuat ku semakin merasa bersalah Jessy!" Cemberut Jamie.


"Benarkah? kalau begitu beri aku hadiah lagi...." Ucap Jamie dengan memejamkan matanya dan posisi wajahnya yang maju ke arah Jesslyn.


Jesslyn yang melihat itu hanya tersenyum dan segera mencium kening Jamie dengan lembut, hal itu membuat Jamie terdiam saat merasakan elusan lembut di puncak kepalanya.


"Terimakasih anak baik.." Ucap Jesslyn dengan tersenyum tulus.


"..... Aku... Aku mau pingsan Jessy, tolong aku..... Tubuhku terasa melayang...." Ucap Jamie dengan terjatuh dari tempat duduknya.


Jesslyn yang melihat itu hanya berdecak kesal dan segera pergi dari sana, bagaimana bisa Jamie bertingkah seperti anak remaja? benar-benar menggelikan, tapi dalam hati yang terdalam sebenarnya Jesslyn sangat senang melebihi apapun dan berharap waktu bisa berhenti saat ini juga.


Sedangkan untuk Jamie, dia terkekeh kecil saat melihat tingkah Jesslyn yang pergi begitu saja. Tapi itu memang benar jika Jamie sangat senang dengan hadiah yang di berikan oleh Jesslyn tadi.


Setelah di rasa cukup, Jamie segera membersihkan meja dapur bekasnya yang terlihat kotor dan berantakan. Karena Jesslyn sudah terbiasa membereskannya sendiri akhirnya Jamie pun melakukan hal yang sama meskipun harus sedikit kerepotan, piring bekasnya tadi malah pecah saat dia mencucinya.


"Ini sangat merepotkan! bagaimana bisa Jesslyn melakukannya seorang diri?" Gumam Jamie dengan bertolak pinggang, dia kembali membersihkan dapur Jesslyn agar tidak membuat Jesslyn marah karena kotor.


Setelah di rasa selesai, Jamie segera pergi dari sana dan memilih untuk beristirahat di ruang tamu. Entah karena lelah atau karena mengantuk, Jamie tertidur begitu saja di sofa dengan wajah lelahnya.


Untuk Jesslyn sendiri, dia baru selesai mandi dan hanya menggunakan dress selutut tanpa lengan, rambutnya yang masih terlihat berantakan tak ia hiraukan karena dia tidak bis mengikatnya dengan benar.


Melihat sosok Jamie yang tertidur pulas membuat Jesslyn merasa sangat bersalah, Jesslyn segera beralih ke dapur dan melihat keadaan dapur yang sudah kembali seperti semula, di tong sampah Jesslyn melihat pecahan piring dan beberapa bahan makanan yang mungkin saja terjatuh.


Setelah di rasa semuanya beres, Jesslyn segera menghampiri Jamie kembali dan duduk di sampingnya. Di tepuk nya pipi Jamie secara perlahan-lahan hingga membuat laki-laki itu langsung terbangun dengan cepat, gerakannya sangat refleks hingga membuat Jesslyn terkejut.


"Hmm... Ada apa?" Tanya Jamie dengan suara seraknya.


"Pindah ke kamar, jika kau tidur disini tubuh mu akan sakit." Ucap Jesslyn dengan lembut.


"..... Oke." Angguk nya yang langsung bangkit dari sofa, Jesslyn tersenyum saat melihat langkah gontai Jamie yang sedang berjalan menuju kamarnya. Setelah sampai di sana, Jamie merebahkan tubuhnya begitu saja.


Untuk Jesslyn sendiri, dia memilih untuk memeriksa pekerjaan di laptop sambil menunggu Jamie bangun. Jesslyn juga melakukan beberapa pekerjaannya menggunakan tangan kirinya, meskipun sedikit kesulitan namun Jesslyn tidak mempermasalahkannya karena dia tidak ingin semakin merepotkan Jamie.


Tok tok tok tok tok


Jesslyn terdiam beberapa saat, siapa yang datang? dengan perlahan Jesslyn segera pergi untuk melihat siapa yang datang, namun Jesslyn di buat terkejut dengan sosok laki-laki yang sedang berdiri tegak di depan pintu dengan membawa buket bunga tulip, kesukaannya.


"Liam?" Gumam Jesslyn dengan membuka pintunya.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucapnya dengan serius.


Jesslyn terdiam sebelum akhirnya mengangguk dan membukakan pintu apartemennya untuk Liam yang terlihat tersenyum kecil itu, Liam melihat-lihat isi ruangan Jesslyn yang terlihat mewah dan minimalis. Liam duduk di sofa dan meletakkan bunga itu di sana, Liam menatap Jesslyn yang terlihat cantik dan seksi dengan perban di pundak kanannya.


"Jesslyn, aku ingin kita.... Rujuk."