Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Potong gaji



Nicky duduk si sofa dengan ekspresi herannya, kenapa Jesslyn terlihat gugup dan malu? terlebih dia melihat Jamie yang baru saja keluar setelah sekian lama berada di dalam kamar.


"Tuan, rapat dengan perusahaan as..."


"Gaji mu selama 1 tahun kedepan akan di potong 50%!!" Ucap Jamie dengan duduk di sofa dan memijat pelipisnya yang terasa pusing akibat gairahnya yang tidak terpuaskan.


"Ehh tuan?!!" Kaget Nicky dan menatap Jesslyn untuk meminta bantuan, tapi Jesslyn hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


"T-tuan, bagaimana jika 5% saja... Saya masih memiliki banyak tunggakan yang belum saya lunasi." Melasnya dengan memohon pada Jamie yang nampak tidak peduli itu.


Jesslyn duduk di samping Nicky dengan jarak yang sedikit jauh, Nicky mengedipkan mata nya lucu saat melihat tanda merah di leher Jesslyn yang terlihat banyak, setelah itu dia juga memastikan pada Jamie yang memang ada bekas kemerahan di sana.


Hingga akhirnya Nicky tahu di mana salahnya sekarang, pantas saja Jamie terlihat prustasi.


"Tuan, maafkan saya... Saya benar-benar tidak tahu jika anda dan Jesslyn sedang, sedang melakukan itu. Tapi, tapi dokter bilang anda jangan terlalu membuatnya lelah karena itu akan membuat kesehatan Jesslyn semakin menurun." Ucap Nicky.


"Kau? apa maksudmu? siapa yang melakukan itu hah?!" Malu Jesslyn.


"Jesslyn, tolong katakan pada tuan untuk tidak memotong gajiku. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya, kalian bisa melanjutkannya lagi sekarang. Sampai jumpa....." Pamit Nicky dengan berlari sekencang mungkin.


"...."


"....."


Keduanya nampak canggung, Jesslyn tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Begitu pun dengan Jamie, hingga akhirnya mereka tetap diam dalam waktu yang lumayan lama.


"Itu..." Ucap Jamie.


"A-aku ngantuk..." Balas Jesslyn dengan segera pergi dari sana.


Jamie yang melihat itu hanya tersenyum dan ikut menyusul Jesslyn yang sudah terbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya, Jamie ikut berbaring di samping Jesslyn dan memeluk pinggangnya mesra.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Jesslyn pelan.


"Tidak."


"Pergilah, aku tahu pekerjaan mu sangat banyak."


"Tidak mau."


Terdengar suara manja Jamie yang membenamkan wajahnya di belakang leher Jesslyn dan menciumi nya lembut.


"Kau membuat pekerjaan mu semakin banyak Jamie...." Cegah Jesslyn pada tangan Jamie yang terus mengelus perutnya.


"Tidak apa, aku akan mengerjakannya setelah kau sembuh nanti." Balas Jamie dengan mengecup pipi Jesslyn.


"Kau yakin?" Tanya Jesslyn dengan menatap Jesslyn, posisi Jamie yang miring ke arah Jesslyn dan Jesslyn yang telentang membuat keduanya terlihat begitu intim.


"Tentu saja, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini...." Balas Jamie dengan mengelus pipi Jesslyn yang terdapat anak rambutnya yang berantakan.


"Aku merasa bersalah karena sudah merepotkan mu."


"Tidak, tidak sama sekali. Repot kan aku setiap hari, dengan begitu aku akan merasa senang."


Jesslyn tidak tahu lagi harus mengatakan apa, dia hanya diam dengan menatap ke atas langit-langit kamarnya. Kebaikan apa yang sudah ia lakukan dulu sehingga bisa mendapatkan laki-laki seperti Jamie ini? dia benar-benar sosok laki-laki yang sempurna.


"Bangunlah, kau harus ganti perban." Ucap Jamie dengan mengambil P3K di bawah lemari Jesslyn yang ada di sampingnya.


Dengan perlahan Jesslyn bangun dari tidurnya dan bersandar pada dasbor ranjang tersebut, Jesslyn melihat Jamie yang terlihat serius mengambil perlengkapan obatnya.


"Ya..." Angguk Jesslyn dengan memejamkan matanya saat tangan Jamie mulai membuka perban tersebut, terasa sakit dan ngilu yang membuatnya langsung meringis kesakitan.


"Tahan sebentar.." Lembut Jamie dengan memberikan obat merah di luka Jesslyn yang tetap memejamkan matanya itu.


Jamie meniup luka Jesslyn dengan pelan dan segera memasangkan perban nya lagi, setelah di rasa selesai Jamie menatap wajah Jesslyn yang ada di hadapannya dengan begitu teliti dan intens


Wajah cantik, dengan bulu mata yang lentik, hidung mancung kecil, bibir sensual yang berwarna peach, alis yang rapi dan tajam, rahang yang sempurna dan..... Bola mata yang indah.


Mereka saling bertatapan satu sama lain, Jamie tersenyum kecil dan menempelkan bibirnya lagi pada Jesslyn yang mulai membiasakan diri untuk tidak terkejut lagi dengan gerakan Jamie yang persis seperti soang ini.


"Manis." Ucap Jamie dengan menjilat bibirnya sendiri.


"Hmm..." Dehem Jesslyn dan kembali terbaring, namun perutnya terasa sakit. Jamie yang melihat Jesslyn kesakitan di bagian perut pun segera menyingkap kan dress Jesslyn hingga memperlihatkan celana pendek berwarna hitamnya.


Jesslyn hendak marah namun segera ia hentikan saat melihat memar besar di perutnya, kenapa dia baru sadar?


"Kenapa kau tidak bilang jika kau memiliki memar lain?" Tanya Jamie dengan tajam, hal itu membuat Jesslyn terkejut.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku, aku hanya khawatir padamu..." Ucap Jamie dengan merasa bersalah, dia melihat ekspresi kaget dan takut dari mata Jesslyn saat dirinya kelepasan seperti tadi.


"Aku juga tidak tahu." Balas Jesslyn dengan meraba perutnya yang tidak sakit di luar namun terasa di dalam.


"Ayo kita ke dokter." Ajak Jamie dengan bangkit dari ranjang dan hendak bersiap.


"Tidak Jamie, aku baik-baik saja. Aku ingin tidur..." Tolak Jesslyn.


"Tidur di mobil saja, ayo.."


"Jamie..."


"Jessy!"


Jesslyn terdiam dan segera memalingkan wajahnya ke arah samping dan segera berbaring dengan posisi membelakangi tubuh Jamie dengan sedikit ringisan karena lengan kanannya tertimpa tubuhnya sendiri.


"Hhh..." Jamie ikut berbaring di samping Jesslyn dan segera mengambil ponselnya.


"Datang ke apartemen yang aku kirimkan alamatnya, sekarang juga!" Ucap Jamie dengan mematikan sambungan teleponnya.


Jamie menyentuh kepala Jesslyn yang terlihat marah padanya, Jamie sebenarnya tidak ingin marah pada Jesslyn namun dia benar-benar khawatir pada kesehatan Jesslyn sekarang.


"Maafkan aku..." Jamie beralih ke sebelah kanan Jesslyn dan duduk di lantai dengan menghadap ke arah wajah Jesslyn yang sedang memejamkan matanya.


"Aku benar-benar minta maaf, kau bisa marah padaku atau pukul saja aku.... Tapi aku mohon,jangan mendiami ku seperti ini." Ucap Jamie dengan menyentuh tangan Jesslyn dan menggenggamnya.


Jesslyn membuka matanya dan mengangguk, setelah itu Jesslyn memilih untuk telentang dan kembali memejamkan matanya. Jamie menunduk dengan pelan, dia melihat lagi ke arah Jesslyn dan pergi dari kamar itu dengan perasaan yang prustasi.


Jesslyn yang melihat Jamie pergi hanya diam, kenapa Jamie tidak membujuknya lagi? membuatnya kesal saja, Jesslyn bukan marah karena sikap Jamie tadi tapi Jesslyn hanya tidak ingin membuat Jamie cemas terus menerus.


Saat Jesslyn melamun, dia terheran-heran dengan sosok Jamie yang datang dengan membawa bunga?


"Maafkan aku, aku tidak tahu bagaimana caranya membujuk wanita yang sedang marah. Tapi aku tahu, jika wanita menyukai bunga." Ucapnya dengan tersenyum lebar.


Bukannya senyum atau senang karena di beri bunga, Jesslyn justru semakin kesal di buatnya!


"Kau memberikan aku bunga yang baru saja di bawa oleh Liam?!!" Kesal Jesslyn, apakah laki-laki di hadapannya tidak bermodal?