
Jesslyn memegang dokumen di tangannya, dia tidak percaya jika Jamie mengetahui semuanya tanpa harus dia ceritakan. Apakah Jamie benar-benar mengawasinya?
Cup
"Terimakasih..." Jesslyn mengecup pipi Jamie yang nampak terkejut itu, dia menatap Jesslyn yang sudah menghilang dari ruangannya.
"Apakah aku harus selalu memberikan mu hadiah agar kau bisa mencium ku Jes?" Gumamnya dengan tersenyum kecil.
Jesslyn terlihat senang dengan membawa dokumen itu di tangannya, para karyawan yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan menatap Jesslyn penuh kekaguman.
"Nona Jesslyn sangat cocok dengan Presdir."
"Benar, sikap keduanya sangat bertolak belakang namun hal itulah yang membuat mereka terlihat serasi."
"Akhirnya ada wanita yang berhasil menaklukkan Presdir..."
•••••
Jesslyn memasuki kantor Marsen dengan sedikit gugup, bagaimana pun dia belum pernah ke perusahaannya.
"Permisi, apakah tuan Marsen ada di dalam?" Tanya Jesslyn dengan menatap sang resepsionis yang langsung menatap Jesslyn dari atas hingga bawah.
"Maaf, dengan siapa?"
"Saya Jesslyn, sekertaris tuan Jamie dari perusahaan Domenic." Jelas Jesslyn dengan mengeluarkan kartu identitasnya.
"A-apa? mari nona, saya akan mengantarkan anda......" Ucapnya dengan gugup sekaligus ketakutan, siapa yang tidak tahu perusahaan tersebut?
Perusahaan besar yang ada di negara tersebut, semua perusahaan berada di bawah kendalinya dan bisa dengan mudah di kendalikan oleh perusahaan Domenic.
"Baik, terimakasih." Senyum Jesslyn yang ikut berjalan dengan resepsionis tersebut, mereka memasuki lift menuju ruangan Marsen. Namun, setelah sampai di lantai atas langkah kaki Jesslyn langsung terhenti saat dia bertatapan dengan sosok laki-laki yang tengah menatapnya juga.
"Tuan..." Sapa resepsionis itu dengan menundukkan kepalanya pada Liam.
"Jesslyn?" Panggil Marsen dengan tersenyum kecil.
"Ahh..." Jesslyn ikut tersenyum dan pergi melewati Liam dengan sedikit menundukkan kepalanya, bagaimana pun juga ada sang resepsionis disana.
Marsen membawa Jesslyn keruangannya dan sedikit heran saat Jesslyn memberikan sebuah dokumen untuknya, dengan penuh keheranan dia segera membuka dan membacanya.
"Jes, ini...." Kagetnya.
"Tidak apa-apa kak, setujui saja. Dia bilang, aku yang akan mengurus proyek ini." Senyum Jesslyn.
"Aku mengerti.... Tolong sampaikan rasa terimakasih ku padanya." Senang Marsen dengan segera menandatangani kontrak tersebut.
"Baik, aku tidak bisa berlama-lama kak. Masih banyak yang harus aku kerjakan..." Jujur Jesslyn dengan melihat jam tangannya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke bawah..." Ucap Marsen yang di balas anggukan oleh Jesslyn.
"Ngomong-ngomong, aku dengar dari Loly kau yang mengurus pesta pernikahannya Liam?" Tanya Marsen saat mereka berada di jalan.
"Ya..." Angguk Jesslyn.
"Kau yakin?" Tanya Marsen dengan penuh selidik.
"Sangat! aku juga sudah menyiapkan hadiah untuknya kak, kau akan tahu nanti...." Senyum Jesslyn.
"Aku menantikan hal itu..." Balas Marsen dengan mengelus rambut Jesslyn.
Mereka berjalan beriringan menuju lobi, setelah itu mereka berpisah setelah melakukan beberapa obrolan lagi.
"Ingat, dia adikku setelah Loly. Jika dia datang, tak perlu kalian tanyai apa alasan.." Ucap Marsen pada resepsionis itu.
"Baik sir." Angguk mereka, pantas saja keduanya terlihat dekat. Mereka pikir, Jesslyn kekasihnya...
Untuk Jesslyn sendiri, dia berjalan menuju parkiran dengan sedikit memainkan ponselnya tanpa tahu bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari jauh. Saat tersadar, Jesslyn langsung mematikan ponselnya dan hendak masuk kedalam mobilnya namun langsung di cegah oleh Liam.
"Apa kau akan datang nanti?" Tanya Liam yang terlihat mengeryit.
"Tentu saja, bukankah dengan begitu aku bisa melihat bahwa kau benar-benar tidak membutuhkan aku?" Balas Jesslyn dengan ekspresi yang sedikit kesal.
"Jesslyn!" Tegas Liam, entah kenapa dia tidak suka melihat Jesslyn yang seperti ini.
"Hhh.... Apa kau tidak melihat bahwa aku bukan Jesslyn yang dulu? Jesslyn yang kau anggap lemah itu sudah hilang! jadi, rendahkan suara mu saat berbicara dengan ku." Ucap Jesslyn dengan sedikit tekanan, setelah itu Jesslyn segera masuk kedalam mobilnya dan pergi dari sana dengan kecepatan sedang.
"Sial!" Geram Liam, dia menginginkan Jesslyn yang dulu! di mana, selalu ada tatapan cinta dalam matanya. Tapi sekarang?
Sedangkan, di dalam mobil Jesslyn sibuk menggerutu. Kenapa Liam menjadi aneh? bukankah dulu laki-laki itu tidak pernah menemuinya? jangankan menemui, membalas sapaannya saja tidak pernah. Apakah karena merasa bersalah?
Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt
"Halo.."
"Kau di mana? mau langsung ke hotel apa kembali ke kantor?" Tanya seseorang di sambungan teleponnya.
"Aku di jalan, mungkin aku akan kembali ke kantor dulu untuk menyerahkan surat kontrak ini." Balas Jesslyn.
"Oh oke.."
Jesslyn mematikan sambungan teleponnya dan kembali fokus pada jalanan, dia melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 9 pagi. Untuk apa Liam ada di kantor Marsen pagi-pagi begini? dia lupa menanyakannya tadi.
Mobil yang ia bawa mulai memasuki area parkir di kantor, Jesslyn keluar dengan langkah yang pasti. Dia tersenyum kecil pada beberapa karyawan yang menyapanya dengan sopan, itulah Jesslyn.. Jika seseorang memperlakukannya dengan baik maka Jesslyn juga akan membalasnya dengan lebih baik.
"Nicky, apa Jamie ada di dalam?" Tanya Jesslyn dengan duduk di kursinya, kakinya terasa pegal karena terus berjalan.
"Ada, masuk saja." Balasnya tanpa melihat ke arah Jesslyn karena sibuk dengan layar komputernya.
"Oke..."
Jesslyn kembali bangkit dan mengetuk pintu tersebut, hingga terdengar balasan dari dalam barulah Jesslyn masuk.
Jesslyn melihat sosok Jamie yang sedang memijat pelipisnya, sepertinya laki-laki itu sangat kelelahan.
"Kau sakit?" Tanya Jesslyn dengan menghampirinya dan meletakkan surat kontrak itu di atas meja Jamie.
Mendengar suara Jesslyn, Jamie langsung mendongakkan kepalanya dan mengangguk sedikit.
"Kepalaku sedikit sakit, mungkin karena menghirup aroma menyengat tadi pagi." Balasnya dengan tetap memijat pelipisnya dengan mata yang terpejam.
"Aroma menyengat? apa itu?" Heran Jesslyn.
"Tadi ada tamu yang berasal dari luar negeri, wanita itu memakai parfum begitu banyak sehingga membuat kepala ku pusing seperti ini." Jujurnya yang membuat ujung bibir Jesslyn berkedut lucu.
"Sepertinya dia sengaja melakukannya agar bisa menarik perhatian mu..." Ucap Jesslyn dengan berjalan kebelakang Jamie.
"Yang benar saja!! dia terlihat seperti wanita yang sering aku lihat di bar!" Kesalnya yang justru membuat Jesslyn tertawa kecil.
"Baiklah baiklah, karena kau sudah membantu ku tadi pagi sekarang aku akan memijat mu." Ucap Jesslyn dengan memegang kepala Jamie dan mulai melakukan pijatan lembut di kepalanya, Jamie yang merasakan sentuhan lembut dari tangan Jesslyn merasa nyaman dan ingin sekali tidur.
"Jangan tidur disini." Ucap Jesslyn dengan menahan kepala Jamie dan melepaskan pijatannya.
"Eh..." Kagetnya karena Jesslyn pergi begitu saja.
"Kemarilah, aku tahu kau kurang tidur." Ucap Jesslyn dengan menepuk bantal sofa yang ada di sampingnya, dengan cepat Jamie bangkit dari tempatnya dan segera menghampiri Jesslyn. Tapi sebelum itu, Jamie mengambil banyak tersebut dan memeluknya pelan.
Untuk kepalanya, ia sengaja letakkan di atas paha Jesslyn yang hendak menolak itu namun segera di tahan oleh Jamie.
"Hanya sebentar, aku sangat lelah sekarang....." Ucap Jamie dengan memegang tangan Jesslyn yang hendak memindahkan kepalanya itu.
"Hhh... Baiklah." Pasrah Jesslyn yang kembali memulai untuk memijat kepala Jamie.