
Pagi hari sekali, Loly di buat kesal oleh Jesslyn karena membawa nya pergi di saat dia masih berkutat dengan mimpi nya. Mau tidak mau dia pun menurut dan pasrah saat Jesslyn membawanya entah kemana, dia tidak sadar bahwa Jesslyn membawanya ke salon yang buka 24 jam itu, padahal sekarang masih pukul setengah 4 pagi.
Namun Jesslyn tahu bahwa Loly masih mengantuk, hingga kembali menidurkan nya di sofa panjang yang sangat nyaman dan Jesslyn sendiri sibuk dengan pelayan salon itu.
"Nona, model rambut apa yang ingin anda gunakan?" Tanya nya dengan tersenyum sopan.
"Layer panjang dan warna putih perak." Balas Jesslyn yang ingin mewarnai rambutnya dengan warna tersebut yang menurutnya sangat cantik, sudah lama dia ingin warna rambut seperti itu namun teringat Liam yang menyukai rambut hitam membuat Jesslyn mengurung kan niat nya.
"Model dan warna yang cocok.." Ucap nya dengan tersenyum lebar.
Mereka segera melakukan tugas nya, untuk Loly dia masih tertidur pulas dengan suara dengkuran yang lumayan keras sehingga membuat beberapa pelayan salon berusaha untuk tidak tertawa.
•••••
Pagi ini, Liam berangkat ke kantor dengan Amber. Mereka berdua terlihat romantis sekali, mereka juga tak henti-hentinya mengumbar kemesraan mereka di hadapan semua orang. Namun, saat mereka sampai di aula. Mereka sangat terkejut dengan pesta yang mendadak itu...
"Ada apa ini?" Tanya Liam dengan penasaran.
"Tuan, bukankah nona Amber sudah memberikan kejutan untuk anda? benarkah nona..." Tanya mereka dengan tersenyum lebar.
"K-kejutan?" Gumam Amber.
"Benar, nona sendiri yang membuat pesta ini dan menyuruh kami untuk merahasiakan nya dari tuan." Jujur mereka membuat Amber terdiam.
"Apa kau yang menyiapkan semuanya?" Tanya Liam pada Amber.
"Ahh itu..."
"Terimakasih..." Senang Liam dengan mengecup pipi Amber hingga membuat semua karyawan kantor bersorak gembira.
Mereka segera berjalan ke aula, sudah tersedia banyak sekali minuman dan makanan di sana yang membuat para karyawan sangat senang dan puas dengan pesta tersebut.
"Apakah semuanya menikmati pesta ini?" Tanya seseorang yang datang dengan langkah anggun nya, terlihat sosok wanita berkulit putih yang memakai Dress pendek sepaha yang memiliki belahan di paha nya, bagian pundak dan leher nya terdapat beberapa tali kecil yang melingkar hingga memperlihatkan punggungnya yang mulus dan bersih namun terhalang oleh rambut panjang pirang nya yang sangat cocok dengan wajah nya yang cantik namun terlihat tegas dan angkuh.
"Kau!!" Geram Amber dengan menatap Jesslyn kesal, biasanya Jesslyn tidak pernah berdandan bahkan memakai lipstik saja tidak tidak pernah namun sekarang? Jesslyn benar-benar terlihat seperti wanita yang memiliki peran antagonis.
"Selamat ulang tahun tuan William, semoga anda menyukai pesta ini." Senyum Jesslyn dengan memberikan sebuah paper bag yang berisi kado.
BRUGHHH!!
"Jangan macam-macam kau! siapa kau sebenarnya hah! kenapa kau selalu mengganggu kekasih ku?" Marah nya dengan menghempaskan kado yang sebelumnya di pegang oleh Jesslyn itu hingga jatuh di bawah kaki Liam.
"Bukankah kau sangat penasaran dengan ku? kau bisa membuka kado nya..." Senyum Jesslyn dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
Amber terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengambil paper bag tersebut, dia mulai membuka nya dan terheran-heran saat melihat amplop di dalam nya. Dengan perasaan heran, dia langsung membuka amplop tersebut mulai membacanya.
Mata nya melotot dengan mulut yang terbuka lebar, dia menatap Jesslyn dan Liam secara bersamaan. Liam yang melihat keanehan itu segera merebut nya dan mulai melihatnya, sebelum membacanya Liam sudah tahu apa itu maksud dari isi surat tersebut.
"Apa maksudmu?" Tanya Liam pada Jesslyn yang justru terkekeh.
"Bukankah itu maksud mu ya?" Balik tanya Jesslyn dengan tersenyum kecil.
"JANGAN MAIN-MAIN JESSLYN!" Marah Liam dengan memegang tangan Jesslyn dengan keras.
PLAKKKKK!!!!!!
Jesslyn menampar wajah Liam, tangan nya bergetar karena ini pertama kalinya dia melakukannya. Di tatap nya wajah Liam yang terlihat terkejut itu, di angkat nya jari telunjuk Jesslyn di wajah Liam.
"Bukankah kau sendiri yang menginginkan surat cerai ini? aku sudah mengabulkan nya sekarang, bahkan hampir satu ruangan kamar ku penuh dengan surat yang terus kau berikan di setiap hari nya ini!!" Datar Jesslyn dengan menunjuk wajah Liam.
"Aku memang bodoh! aku memang gila! aku juga memang egois!! tapi... Aku sudah lelah Liam, aku akan melepaskan mu sekarang. Berbahagialah dengan kekasih mu dan maaf karena aku sudah mengganggu mu selama ini dan juga terimakasih untuk waktu 2 tahun yang tidak mudah ini untuk aku lewati, semoga kau bahagia..." Ucap Jesslyn dengan tegas.
"Jesslyn...!!" Geram Liam yang langsung menarik tangan Jesslyn, ini pertama kalinya untuk Liam memegang tangan Jesslyn bahkan memanggil nama nya juga.
"Kau memegang ku? kau juga menyebut nama ku? aku sangat senang sekali, ada apa?" Tanya Jesslyn dengan tersenyum kecil namun tak dapat mereka pungkiri bahwa tatapan mata nya terlihat penuh kesedihan dan juga, terlihat berkaca-kaca.
"Aku... Maaf." Ucap Liam, dia tidak tahu kenapa dia mengucapkan kata keramat itu? apakah karena melihat ekspresi kesedihan Jesslyn yang di sembunyikan nya ini?
"Aku tidak apa-apa, aku juga tidak akan marah karena aku sendiri yang sudah memulai nya. Aku, aku sudah ikhlas untuk melepaskan mu." Ucap Jesslyn dengan tersenyum.
"Aku mengerti...Kau sudah tumbuh dewasa ternyata." Ucap Liam dengan tersenyum kecil, senyum yang ingin sekali di lihat oleh Jesslyn dan hanya di tunjukkan untuk nya.
"Hm......" Jesslyn tersenyum dengan kepala yang menunduk, dia mendongakkan kepalanya ke atas agar air mata nya tidak turun.
"Bolehkah aku memeluk mu?" Tanya Jesslyn penuh harap, suara nya sedikit parau.
"Kemarilah...." Ucap Liam dengan merentangkan kedua tangannya, Jesslyn yang melihat itu segera berhambur kedalam pelukan Liam. Terdengar isakan tangis yang tidak bisa lagi ia tahan, tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak peduli jika mereka menganggap nya lemah atau pun yang lainnya, yang jelas Jesslyn merasa lega karena akhirnya dia bisa merasakan pelukan yang tulus dari Liam meskipun itu hanyalah pelukan terakhir nya.
Tidak ada yang tidak menangis saat mendengar tangisan Jesslyn yang begitu memilukan hati, mereka juga tahu bahwa itu adalah wanita yang selama ini mereka hina dan mereka caci, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya, karena mereka sering melihatnya yang selalu di abaikan oleh Liam meskipun sedang terluka sekalipun.
"Aku akan pergi jauh dan tidak akan mengganggumu lagi, terimakasih karena sudah menampung ku disini..." Ucap Jesslyn dengan melepaskan pelukannya.
"Kau mau pergi ke mana?" Tanya Liam, terselip rasa tak rela dalam hati nya saya mendengar bahwa Jesslyn akan pergi jauh dari nya.
"Kemana pun yang tidak akan mengganggumu..." Senyum Jesslyn dengan begitu tulus.
...Aku tidak melihat perceraian sebagai suatu kegagalan. Aku melihatnya sebagai akhir dari sebuah cerita. Dalam sebuah cerita, semuanya memiliki akhir dan permulaan.-Jesslyn...
Loly langsung memeluk Jesslyn yang terlihat berjalan ke arah nya dengan tersenyum lebar, seakan-akan semuanya akan baik-baik saja.
...Perceraian bukan hal buruk, justru itu adalah keputusan terbaik ketika pernikahan tidak lagi memberi kedamaian apalagi kebahagiaan. -Loly...