
Saat Loly berada di parkiran rumah sakit, dia sedikit menggerutu kesal karena Marsen belum juga tiba, padahal dirinya sudah lelah dan ingin segera mandi. Namun, seseorang justru memanggilnya dan menghampirinya, dia adalah Nicky yang datang dengan berlari kecil.
"Nona Loly?" Tanya Nicky dengan menanyakan namanya.
"Iya, siapa ya?" Heran Loly.
"Saya sekertaris tuan Jamie, Nicky. Kakak anda tidak bisa menjemput anda karena sedang rapat di kantor tuan Jamie, saya baru saja mengantarkan pakaian untuk tuan dan Jesslyn sehingga nona Jesslyn menyuruh saya untuk mengantarkan anda pulang. Jika anda tidak mau nona Jesslyn akan marah pada anda..." Jelas Nicky dengan serius.
"Ahh baiklah." Angguk Loly, dia ingin segera pulang! padahal Nicky sengaja mengatakan bahwa itu di suruh Jesslyn, jika tidak seperti itu dia bingung harus mengatakan apa lagi.
•••••
Jesslyn bangun dari tidurnya dan melihat Jamie yang sudah tampan dengan pakaian santainya, ehh tunggu sebentar.... Apakah Jamie tidak bekerja lagi?
"Kau tidak kekantor?" Tanya Jesslyn dengan bangkit dari duduknya, tangannya sudah tidak terpasang jarum lagi sekarang sehingga bisa membuatnya bergerak dengan bebas.
"Tidak." Balas Jamie dengan singkat.
"Mama di mana?Loly juga?" Tanya Jesslyn dengan celingak-celinguk.
"Temanmu pulang karena harus pergi ke kantor, kalo mama dia baru saja pulang karena ada acara di rumah temannya. Kau tahu sendiri bagaimana ibu-ibu sekarang...." Balas Jamie dengan tersenyum dan segera menghampiri Jesslyn.
"Mau mandi?" Tawar Jamie.
"Tidak, aku mau cuci muka saja." Balas Jesslyn yang di balas anggukan oleh Jamie.
Jamie mengikuti Jesslyn kedalam kamar mandi dan membantunya untuk mencuci muka, Jesslyn sedikit kesulitan jika harus menggunakan sebelah tangan kirinya karena itulah dia tidak menolak saat Jamie berinsiatif untuk membantunya.
Bahkan, Jamie juga membantu Jesslyn sikat gigi dan berkumur kumur. Jika di lihat, bukankah itu terlalu berlebihan?
"Apa kau bisa berganti baju?" Tanya Jamie yang memperlihatkan baju Jesslyn, celana pendek dengan tangtop tanpa tali yang di balut blazer. Itu sengaja Jamie pilih karena luka Jesslyn tidak boleh tersentuh keras.
"Bisa." Angguk Jesslyn.
"Baiklah, panggil aku jika kau memerlukan bantuan."
"Hm.."
Jesslyn segera membuka baju rumah sakitnya dengan sedikit kesulitan, tapi dia tidak bisa meminta bantuan Jamie karena itu sangat memalukan. Tapi sekali lagi dia katakan, baju rumah sakit itu memiliki banyak sekali kancing.
"Jamie... Itu.... Bisakah kau membukakan kancing bajuku? tapi kau harus memejamkan mata!" Pinta Jesslyn.
"......Oke." Angguk Jamie yang kembali masuk kedalam kamar mandi, dengan mata yang terpejam Jamie mulai meraba baju Jesslyn dengan sedikit hati-hati.
Jika salah menyentuh Jamie akan kena pukul oleh Jesslyn, hingga pas bagian atas kancingnya Jamie berhasil membuka pakaian Jesslyn.
"Jangan coba-coba membuka matamu!" Peringat Jesslyn yang membuat Jamie berdehem, saat ini Jesslyn hanya memakai dalaman saja. dan segera memakai tangtop nya dengan di bantu oleh Jamie.
"Apa sudah pas?" Tanya Jamie dengan memegang punggung Jesslyn, tangtop itu tidak memiliki tali apapun.
"Sedikit naik lagi." Balas Jesslyn.
"Sudah?"
Jamie menarik bagian belakang, Jesslyn bagian depan. Karena itulah Jamie terus bertanya karena dia tidak tahu apakah sudah pas atau tidak, jika tidak pas Jamie takut akan melorot.
"Sudah..."
Jamie membuka matanya dan tersenyum menatap Jesslyn yang mulai memakai gardingan nya sebelah, sebelahnya lagi ia biarkan terbuka.
Cup
"Sebenarnya aku tidak rela melihat pundak mu terbuka seperti ini, tapi karena kau sedang terluka maka aku akan memaafkannya kali ini." Ucap Jamie dengan mengecup pundak Jesslyn dekat dengan leher hingga membuat Jesslyn tersentak kaget, ada perasaan hangat dalam hatinya dan itu membuat Jesslyn suka dengan sentuhan Jamie.
"Bisakah kau tidak sembarangan mencium?" Tanya Jesslyn yang berusaha untuk tidak salting.
"Kenapa? aku hanya mencium orang yang aku suka." Balasnya acuh.
"Terserah..." Malas Jesslyn yang keluar dari kamar mandi itu.
"Ayo pulang." Ajak Jamie dengan menggandeng tangan Jesslyn yang hanya menurut.
"Jamie, apakah aku selalu merepotkan mu?" Tanya Jesslyn di sela-sela langkah mereka.
"Benarkah?"
"Tentu saja...."
"Kenapa kau sangat baik padaku?"
"Karena kau pantas mendapatkannya."
"Jamie....."
"Ya?"
"Terimakasih."
"Apapun untuk mu darling...."
Jesslyn sedikit tersipu mendengar panggilan tersebut, Jamie sadar akan hal itu dan hanya tersenyum dengan mengecup tangan Jesslyn yang sedang ia genggam.
"Apa kau lapar darling?" Tanya Jamie yang terlihat sengaja.
"Ya, tapi bisakah jangan memanggilku seperti itu? itu terdengar sangat menggelikan." Ucap Jesslyn dengan memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap kearah Jamie yang terlihat semakin menjadi-jadi.
"Kenapa? aku rasa panggilan tersebut sangat cocok untuk mu..." Goda Jamie.
"Jamie!" Jesslyn cemberut, hal itu membuat Jamie terkekeh lucu.
"Maafkan aku, ayo kita pergi makan sebelum kembali ke apartemen." Ajaknya dengan membukakan pintu mobil untuk Jesslyn yang langsung masuk kedalam mobil.
"Tapi aku ingin makan masakan mu..." Jujur Jesslyn yang membuat senyum di wajah Jamie langsung pudar.
"Tidak darling, jika kau memakan masakan ku kau pasti akan kembali lagi kesini." Jujur Jamie yang justru malah membuat Jesslyn tertawa pelan.
"Tidak masalah..." Balas Jesslyn dengan tersenyum.
"...... Baiklah, aku akan mencobanya demi dirimu." Angguk Jamie yang membuat Jesslyn tersenyum lebar.
"Jika enak, aku akan memberikan mu hadiah." Ucap Jesslyn dengan menatap lurus ke depan.
"Hadiah?" Tanya Jamie namun Jesslyn hanya diam dengan ekspresi yang malu, melihat itu Jamie langsung paham dan tersenyum lebar.
"Aku sangat menantikan hadiah itu...." Senangnya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
•••••
Amber terkejut saat segerombolan laki-laki berpakaian hitam dengan wajah asing itu masuk kedalam rumahnya, mereka terlihat menyeramkan dan juga mengerikan!
"A-apa yang kalian lakukan? siapa kalian hah?!!!" Marah Amber dengan mundur beberapa langkah.
"Seret dia!" Ucap seorang laki-laki dengan menggunakan bahasa asing.
"Apa... Hmmfffttt!!"
Amber di bekap oleh seseorang dan di masukkan kepalanya kedalam karung sebelum akhirnya di bawa dengan paksa, tidak peduli jika terluka karena mereka hanya menuruti perintah atasan mereka saja.
"Apakah karena wanita ini yang sudah membuat tuan marah pada kita?" Tanya seorang laki-laki yang ada di dalam mobil.
"Ya, dia sudah mencelakai wanita tuan." Balas seseorang yang ada di samping Amber yang kini sudah tak sadarkan diri.
"Cih, berani mengusik harimau yang sedang tidur." Ejek mereka.
"Mereka hanya belum tahu seberapa kejamnya tuan."
"Jika mereka tahu, mungkin mereka lebih memilih mati bunuh diri dari pada harus berhadapan dengannya."
"Tuan terlalu menyeramkan jika sudah menyangkut hal ini, kedepannya kita harus berhati-hati pada nona."
"Itu benar...."
Orang-orang tersebut datang dari jauh hanya untuk menangkap satu orang wanita yang sudah mencelakai Jesslyn saja, bukankah itu berarti keberadaan Jesslyn memang benar-benar tinggi di hati Jamie? lantas, apa yang bisa mereka lakukan?