Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Hal yang menjijikkan



Nicky menggelengkan kepalanya saja karena melihat Jamie yang terus tertawa sejak tadi, dia tahu kenapa Jamie tertawa.


"Tuan, apakah tuan tidak keterlaluan? bagaimana jika nona Jessy tidak bisa mengatasinya? bukankah itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri?" Tanya Nicky.


"Kau tidak percaya pada insting ku?" Tanya Jamie.


"Tidak tuan." Polosnya.


"Nicky sialan!!" Marah Jamie namun Nicky hanya tersenyum pongah.


••••


"Terimakasih nona Jesslyn atas kerjasamanya, tuan Jamie memang tidak salah memilih asisten." Ucap mereka dengan menjabat tangan Jesslyn.


"Hanya penjelasan ringan, apa yang perlu di banggakan pada kalian yang sudah memiliki ilmu tinggi ini? saya masih membutuhkan bimbingan para senior semuanya..." Senyum Jesslyn dengan penuh kesopanan.


"Hahaha, nona bagaimana jika kita makan siang bersama? saya akan mentraktir semuanya di restoran Jepang milik putra saya." Ajak salah seorang laki-laki paruh baya yang terlihat bersemangat itu.


"Aku sendiri memang ingin pergi ke sana, bagaimana menurut anda nona?"


"Benar nona, kita baru pertama kali bertemu. Kami masih ingin berbincang banyak dengan anda..."


"Saya akan kembali ke Singapura besok, jadi apakah nona bersedia?"


Jesslyn tidak tahu harus melakukan apa, dia ingin segera kembali ke kantor untuk menghajar Jamie namun melihat wajah dan raut mereka yang terlihat antusias membuat Jesslyn tidak tega untuk menolaknya, sehingga Jesslyn hanya tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, ayo...." Ajaknya dengan semangat.


Mereka berjumlah 6 orang, 3 laki-laki paruh baya, 2 laki-laki yang sudah menikah dan 1 wanita yang menjadi istri dari 3 laki-laki sebelumnya.


Para sekertaris mereka juga ikut sehingga terasa sangat ramai, namun Jesslyn berusaha untuk tidak menghancurkan suasana karena merasa sedikit tak nyaman. Mereka semua sibuk membicarakan masalah rumah tangga dan terus bertanya padanya mengenai pernikahan, apakah Jesslyn akan menikah baru-baru ini atau ingin menjadi wanita karir dan menikah di usia matang.


Semua pertanyaannya membuat Jesslyn hanya bisa tersenyum dan mengangguk saja.


"Saya izin ke toilet..." Izin Jesslyn yang langsung beranjak dari tempat duduknya, dia mencari toliet dan segera masuk ke sana.


DUGHHH


"..." Jesslyn terlonjak kaget, dia melihat ke sekeliling ruangan tersebut yang nampak sepi namun dia melihat satu pintu kamar mandi tertutup.


"Ughhh.. pelan sayang....."


"Kau membuatku tidak bisa menahannya, aku akan menusuk mu dengan cepat."


"Shhhh.... Ahhhhh...."


Jesslyn menelan ludahnya bulat-bulat, dia berkeringat dingin. Meskipun dia sudah sering mendengar suara tersebut saat berada di mansion Liam, namun kali ini terasa menjijikkan sekali. Bagaimana bisa mereka melakukannya di tempat umum seperti ini? apakah mereka tidak punya uang untuk menyewa kamar hotel?


"Ukhukk...." Jesslyn berlari kecil ke luar restoran tersebut, dia mencari tempat sepi sebelum akhirnya memuntahkan semua isi perutnya yang baru diisi. Dia benar-benar jijik!!


Setelah di rasa pusingnya mulai mereda, Jesslyn kembali ke tempat duduknya. Di sana dia melihat mereka khawatir, bahkan ada satu laki-laki yang nampak cukup tampan dan tegas.


"Apa anda baik-baik saja nona? maafkan saya, saya sudah menyuruh bawahan saya untuk membawa mereka agar di adili." Jelas laki-laki itu dengan terus membungkukkan tubuhnya di hadapan Jesslyn.


"Nona, istri saya menjelaskannya tadi. Dia tidak sengaja melihat nona yang berlari dengan membekap mulut, akhirnya dia masuk untuk memastikan." Jelas laki-laki paruh baya itu yang membuat Jesslyn terdiam.


"Ini pertama kalinya ada yang melakukan hal seperti itu di ruangan toilet kami, jika nona ingin saya akan mengganti rugi semuanya agar citra restoran ini tet...."


"Tidak usah, hanya kecelakaan biasa. Kalau begitu saya pamit pergi, ada beberapa hal yang belum saya selesaikan di kantor." Jelas Jesslyn dengan tersenyum.


"Baik nona, hati-hati di jalan."


"Ya, terimakasih."


Jesslyn menghela nafas lega, sebenarnya dia masih mual. Namun apa mau di kata, sepertinya hari ini dia kurang beruntung.


••••


Bukannya pergi ke kantor, Jesslyn justru malah pergi ke salon. Dia ingin memijat seluruh tubuhnya dan juga memenangkan pikirannya juga, Jesslyn ingin mewarnai kuku nya dan melakukan beberapa perawatan.


Dia tidak peduli jika Jamie mencarinya ataupun marah karena dia tidak kembali, Jesslyn juga sudah mematikan sambungan teleponnya dan bersiap untuk tidur karena di pijat seperti itu membuatnya mengantuk.


Entah berapa lama Jesslyn tertidur, yang jelas saat bangun Jesslyn merasakan rileks dan nyaman. Tangan Jesslyn terulur untuk mengambil ponselnya, ternyata sudah sore. Jadi, sudah hampir 4 jam Jesslyn di sana.


Dengan perlahan, Jesslyn bangun dari tengkurap nya dengan sedikit menggeliatkan tubuhnya yang terasa enakan. Handuk pendek yang menutupi tubuhnya terlihat kontrak dengan warna kulitnya yang putih bersih, saat Jesslyn melihat ke sekeliling dia di kejutkan dengan sosok seseorang yang tengah mempersiapkannya.


"Yakk!! kau!!" Kaget Jesslyn dengan menutupi tubuhnya.


"Pose mu saat menggeliat tadi lumayan juga.." Ucap Jamie dengan bangkit dari duduknya.


"Jangan macam-macam kau Jamie, aku belum memberikan pelajaran untuk mu!" Kesal Jesslyn dengan mengambil pakaian nya,dia segera pergi ke toilet dan menutup pintunya.


Jamie yang mendengar itu hanya tersenyum kecil, dia melihat ke tempat pakaian Jesslyn yang terlihat satu benda. Itu adalah benda yang menutupi dada nya, berwarna hitam polos dengan sedikit renda di bagian pinggir nya.


"Cup B?" Jamie mengangkat ujung bra Jesslyn tinggi tinggi, di sana terdapat ukuran nya.


"JAMIEEEEEE!!!" Marah Jesslyn yang terdengar begitu menggelegar di sana, dengan cepat Jesslyn berlari ke arah Jamie yang tengah menenteng bra nya tanpa ekspresi tak berdosa nya.


"Hati-hati...." Jamie mengucapkan hal tersebut karena di hadapannya ada sebuah tangga kecil yang mungkin tidak di lihat oleh Jesslyn, benar saja dugaannya.


Jesslyn terhuyung ke depan, dengan cepat Jamie menahan tubuhnya hingga mereka jatuh ke sofa dengan Jamie yang ada di bawahnya. Jamie sedikit meringis karena kepalanya terbentur mangkuk yang ada di sofa, namun rasa sakit itu seakan-akan hilang saat tangannya memegang sesuatu yang menonjol, kenyal dan.....


Jamie menatap ke tangannya yang ternyata berada di dada Jesslyn, matanya melotot karena handuk yang di pakai Jesslyn melorot hingga pinggang. Bagian atasnya terlihat dengan begitu jelas, bahkan tanpa sadar Jamie memainkannya pelan.


"Nona, ada ap.... Astaga!" Pekik mereka yang datang dan langsung membalikkan tubuhnya, mungkin mereka terkejut dengan teriakan Jesslyn tadi.


Jamie yang melihat itu segera menutupi tubuh Jesslyn dengan selimut bekas Jesslyn sebelumnya, dia menatap mereka yang berjumlah 6 orang.


"Pergi!" Datar Jamie.


"Maafkan kami tuan, kami...." Mereka segera berlari kencang dan tidak berani datang lagi, mereka sangat tahu siapa itu Jamie.


"Jess?" Panggil Jamie pada Jesslyn yang hanya diam dengan....


"JESSLYN!!" Ternyata Jesslyn pingsan, pantas saja dia terus diam saat dirinya menyentuh dadanya tadi, jika tahu pingsan mungkin Jamie akan memainkannya dengan sedikit keras. Ehh?