
Nicky terus tersenyum sejak tadi saat Jamie mengajaknya untuk berlibur selama 3 hari, ini pertama kalinya Jamie mengajaknya. Biasanya Jamie akan terus membuatnya sibuk, meskipun itu di hari libur sekalipun.
"Tuan, saya sudah menyiapkan semuanya. Lalu apa lagi yang ingin anda butuhkan? apakah kita akan membawa Jesslyn?" Tanya Nicky.
"Tidak perlu, karena kita yang akan ikut dengan mereka." Balas Jamie dengan tersenyum penuh arti.
•••••
Loly terlihat kelelahan karena terus berjalan-jalan dengan Jesslyn untuk mencari kebutuhan mereka besok, saat ini mereka berdua sudah berada di salon untuk melakukan perawatan seluruh badannya.
"Jes, kau tahu? orang-orang kantor terus membicarakan mu dan mengatakan bahwa kau sangat beruntung karena bisa di cintai oleh tuan Jamie yang begitu memperlakukan mu dengan baik." Ucap Loly dengan melirik Jesslyn yang sedang memejamkan matanya karena tubuhnya sedang di pijat.
"Kau lupa? dulu, aku di buang dan di sia-siakan oleh seseorang hingga akhirnya aku pasrah dan sadar bahwa sesuatu yang menyakitkan hati seharusnya di tinggalkan." Ucap Jesslyn dengan mata yang terbuka dan menatap Loly yang hanya diam.
"Aku juga merasa bahwa aku wanita yang sangat beruntung, kau tahu? Jamie benar-benar memperlakukan aku dengan begitu baik, bahkan dia sangat takut jika aku terluka." Jujur Jesslyn dengan memejamkan matanya kembali.
"Ahhh kau membuat ku iri Jess, semoga aku di pertemukan dengan laki-laki yang sama seperti tuan Jamie, laki-laki yang hanya cukup oleh satu wanita dan tidak pernah berdekatan dengan wanita sebelumnya sehingga hanya aku satu-satunya dan yang pertama untuk nya juga." Curhat Loly.
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mu, kau wanita yang baik pasti laki-laki yang mendapatkan mu akan sangat beruntung." Ucap Jesslyn dengan jujur.
"Kau memang sahabat terbaikku Jess."
"Nona, berbalik lah...." Ucap wanita yang sedang memijat Jesslyn itu, dengan perlahan Jesslyn mulai telentang dan kembali memejamkan matanya namun dia tersentak saat mendengar suara Loly.
"Ada apa?" Heran Jesslyn.
"Kau? tubuhmu? kau... Tuan Jamie? kalian?" Gugup Loly dengan menatap atas dada Jesslyn yang baru sadar saat itu juga.
Cream untuk menutupi bekas ciuman Jamie sudah hilang karena terkena minyak yang di olesi oleh petugas salon itu, Jesslyn tersenyum canggung pada para pelayan itu yang memaklumi hal tersebut, terlebih mereka tahu siapa Jesslyn itu.
••••
Malam ini, Jamie tidak menginap di apartemen Jesslyn karena ada Loly yang akan menginap agar besok bisa lebih cepat pergi ke puncak. Mereka ingin menghadiri taman hiburan yang sedang ramai di perbincangkan orang-orang, semua persiapan sudah mereka siapkan dengan baik dan sudah di masukan juga kedalam mobil yang akan mereka bawa secara gantian.
"Jess, aku lapar. Pergi keluar yu? aku ingin makan jajanan yang ada di pinggir jalan..." Ajak Loly.
"Oke..." Angguk Jesslyn.
Loly hanya memakai baju tidurnya yang tebal, dengan sendal boneka yang terlihat lucu. Sedangkan Jesslyn, dia memakai dress tidur selutut dengan sandal rumahnya, tak lupa Jesslyn juga memakai switer nya agar tidak terlalu dingin.
Kepalanya memakai bondu dengan motip kelinci, sehingga membuat Jesslyn terlihat cantik dan menggemaskan.
"Padahal kita membeli banyak sekali Snack, tapi kau ingin makan disini." Heran Jesslyn dengan menggelengkan kepalanya saja.
"Aku lebih suka makanan seperti ini Jes." Jujur Loly yang di akui oleh Jesslyn juga, dia juga suka dengan makanan yang ada di pinggir jalan seperti ini. Selain karena harganya yang murah, di sana juga makanan nya sangat enak.
Saat mereka sedang makan, mereka di buat merinding saat melihat rombongan laki-laki berpakaian hitam yang datang dan duduk di tempat yang tak jauh dari mereka, wajah mereka terlihat asing dan berbeda dari orang-orang di negara tersebut.
"Ya, mereka bukan asli negara ini." Angguk Jesslyn dengan tetap memakan sate nya.
orang-orang tersebut berjumlah tujuh orang, mereka makan dengan begitu lahap namun sesekali dari mereka juga sering melirik kearah Jesslyn saat Jesslyn lengah, mereka terus memantau pergerakan Jesslyn.
Itu memang benar, mereka adalah anak buah Jamie yang sengaja di tugaskan untuk melindungi Jesslyn dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Karena itulah mereka sengaja memenuhi tempat tersebut agar Jesslyn bisa makan dengan nyaman, padahal Jesslyn dan Loly merasa risih karena hanya mereka berdua yang wanita disana.
"Nona cantik, apakah kalian mau kami temani?"
3 orang laki-laki datang dan berdiri di samping Jesslyn dengan tangan yang merangkul pundak Jesslyn pelan, Jesslyn yang merasakan itu langsung bangkit dari duduknya dan menepis tangan laki-laki tersebut yang terlihat seperti laki-laki habis mabuk.
"Jangan kurang ajar!" Marah Jesslyn dengan melindungi Loly di belakang tubuhnya yang terlihat ketakutan itu.
"Oh ayolah, kami akan membayar mu. Berapa yang kau inginkan?" Tanya mereka dengan tersenyum mesum dan menatap Jesslyn dari atas hingga bawah.
"Tuan tuan, tolong jangan mengganggu pelanggan saya." Ucap tukang sate itu dengan penuh permintaan maaf pada Jesslyn karena sudah tidak nyaman dengan kehadiran mereka yang datang secara tiba-tiba itu.
BRUGHHH!
"Diam kau laki-laki tua!" Marah mereka dengan mendorong laki-laki tua itu hingga terjatuh ke jalanan.
Jesslyn yang melihat itu segera membantunya, dia paling lemah jika sudah di hadapkan dengan seorang ayah atau ibu yang sudah tua seperti ini, Jesslyn teringat akan ayahnya jika saja terjadi padanya.
DUGHHH!!!
Ketiga laki-laki itu jatuh tersungkur saat para laki-laki berpakaian hitam itu langsung menendangnya dan melumpuhkannya dengan mudah, bahkan mereka tidak segan-segan menginjak seluruh tangannya hingga terdengar bunyi tulang yang retak.
"Jangan bertindak bodoh sialan!" Gumam salah satu dari mereka dengan terus menginjak tangan laki-laki yang sudah memegang pundak Jesslyn sebelumnya.
Mereka segera melaporkan ketiga laki-laki itu pada polisi yang sedang berpatroli di sekitar apartemen tersebut, Jesslyn dan Loly seger menghampiri mereka yang kembali melanjutkan makannya.
"Anu itu... Terimakasih tuan, saya benar-benar berterimakasih pada kalian. Sebagai ucapan terimakasih saya, saya yang akan membayar semuanya. Tolong jangan menolaknya..." Ucap Jesslyn dengan membungkukkan tubuhnya, hal itu membuat mereka langsung kalang kabut, bagaimana pun juga Jesslyn akan menjadi nyonya mereka dimasa depan.
"Nona, tidak perlu seperti itu. Kami melakukannya karena kami tidak bisa melihat kejahatan disekitar kami...." Ucap mereka dengan sedikit berbohong.
"Tidak apa-apa,saya harap kalian tidak menolaknya." Ucap Jesslyn dengan tersenyum.
"Baiklah, terimakasih nona." Pasrah mereka.
"Saya yang harusnya berterima kasih, untuk bapak.... Sebaiknya bapak segera pergi ke klinik, saya takut luka bapak akan infeksi. Ini total bayaran nya, lebihnya untuk bapak pergi ke dokter" Ucap Jesslyn dengan memberikan uang dengan jumlah yang tidak sedikit.
"Terimakasih nona, terimakasih banyak..." Senang pedagang tersebut dengan terus menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu seperti ini pak, saya merasa tak enak karena bapak jauh lebih tua dari saya. Kalau begitu saya permisi, ini sudah larut..." Pamit Jesslyn dengan tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit pada kumpulan laki-laki itu yang ikut menundukkan kepalanya juga.
"Bos besar memang tidak salah pilih wanita, pantas saja bos begitu tergila-gila pada nona Jesslyn."