Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Gara-gara eskrim



Kediaman Liam kini sudah di penuhi oleh banyaknya wartawan yang datang dan beberapa polisi juga untuk menyelidiki tentang kasus Amber yang terasa janggal, dengan amat terpaksa Liam akhirnya di bawa pergi ke kantor polisi untuk di mintai keterangannya.


"Pak, semua yang dikatakan tuan Liam memang benar adanya. Setelah insiden itu dia tidak bertemu lagi dengan nona Amber, tuan Liam baru pulang dari rumah sakit setelah itu pergi ke salah satu apartemen yang merupakan kediaman mantan istrinya dulu. Tidak ada hubungannya kasus ini dengannya...." Jelas seorang polisi pada atasannya yang sedang duduk bersama Liam.


"Kau yakin sudah memeriksanya? lalu bagaimana dengan nona Jesslyn? mereka sebelumnya pernah terlibat perkelahian kecil di acara pernikahannya kemarin..."


"Itu juga tidak ada sangkut pautnya dengan nona Jesslyn, dan lagi.... T-tuan Domenic tidak akan membiarkan nona Jesslyn di selidiki, anda tahu sendiri bagaimana sosoknya itu." Ucapnya dengan sedikit takut.


Mendengar nama Domenic, Liam mengeryit heran. Jesslyn memang sangat dekat dengan Jamie sekarang, entah kenapa Liam tidak menyukai hal tersebut.


"Aku tahu, kita akan selidiki kasus ini lagi. Tuan Liam, anda sudah boleh pulang dan terimakasih karena sudah meluangkan waktunya..." Ucap Inspektur polisi itu dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak masalah." Balas Liam dengan tegas sorot matanya sangat tidak bersahabat, dia masih ingat dengan jelas saat Jamie merangkul mesra pinggang Jesslyn di hari pernikahannya dulu.


••••••


3 hari berlalu, insiden kecelakaan Amber langsung di tutup kasusnya karena tidak menemukan bukti yang kuat. Hari ini, Jesslyn pergi ke rumah sakit dengan di temani oleh Liam. Luka di pundak Jesslyn sudah semakin membaik, namun masih terlihat bekas jahitannya yang masih terlihat.


"Jamie, besok aku akan pergi dengan Loly ke taman hiburan lalu setelah itu aku akan langsung pergi ke villa yang ada di puncak. Aku akan menginap selama dua hari disana...." Ucap Jesslyn dengan tersenyum lebar.


"Baiklah, lakukan apapun yang kau sukai." Senyum Jamie dengan mengelus rambut Jesslyn yang terlihat begitu senang.


"Tentu." Angguk Jesslyn.


Mereka berjalan beriringan menuju arah parkiran, tiba-tiba saja ponsel milik Jamie berbunyi dan memperlihatkan nama sang mama di sana.


"Halo ma?"


"Apa kau sudah mengantar Jessy ke rumah sakit?"


"Sudah ma, ini kami baru saja keluar dari rumah sakit." Balas Jamie dengan merangkul pinggang Jesslyn.


"Syukurlah, mama akan pergi ke Singapura karena ada acara arisan di sana. Jaga Jesslyn jangan sampai dia terluka lagi seperti sebelumnya, apa kau paham?"


"Aku paham."


"Bagus!"


Jamie memasukkan kembali ponselnya dan mulai membuka pintu mobilnya untuk Jesslyn yang terlihat diam di tempat, Jamie menatap Jesslyn heran namun Jesslyn hanya menunjukkan cengiran nya saja dengan tangan yang menunjuk ke salah satu pedagang eskrim yang ada di sana.


"Tunggu sebentar..." Ucap Jamie dengan berlari kecil untuk menghampiri pedagang tersebut.


Melihat itu, Jesslyn tersenyum senang. Dia merasa sangat bersyukur karena memiliki Jamie di sisinya, apakah Jesslyn boleh beranggapan bahwa dia adalah wanita yang sangat beruntung?


"Aku tidak tahu mana yang kau suka, coklat, strawberry atau vanilla. Jadi, aku membeli ketiganya...." Ucap Jamie dengan mengangkat tiga cup eskrim itu.


"Aku suka semuanya, ayo masuk. Kita makan di dalam saja..." Ucap Jesslyn dengan masuk kedalam mobilnya tanpa membukakan pintu untuk Jamie yang hanya menggelengkan kepalanya saja dan masuk dengan sedikit kesusahan.


"Ambillah..." Ucap Jamie sekarang memberikan eskrim nya pada Jesslyn yang justru malah menjilat tangan Jamie yang terkena lelehan eskrim itu hingga membuat Jamie mengerang pelan, sentuhan lidah hangat Jesslyn yang mengenai kulitnya membuat Jamie bergairah seketika.


"Aku ambil coklat saja, kau strawberry dan vanilla untuk kita berdua." Ucap Jesslyn dengan tersenyum.


"Hm.." Angguk Jamie dengan membenarkan posisi duduknya yang terasa tidak nyaman karena ada sesuatu yang bangun tanpa di minta.


"Kau tak suka eskrim?" Tanya Jesslyn dengan menatap Jamie yang tengah menatapnya.


"Suka, tapi aku lebih suka yang ini...." Ucap Jamie dengan menjilat lembut bibir Jesslyn yang terdapat lelehan es krim.


"...."


"Sangat manis." Senyum Jamie dengan begitu lebar.


"Kau... Ini di parkiran, bagaimana jika ada orang yang melihatnya?" Malu Jesslyn, padahal mereka sudah sering melakukan ciuman namun tetap saja Jesslyn merasa malu.


"Aku tidak peduli." Balas Jamie dengan santai.


"...."


Jesslyn tidak membalas ucapan Jamie dan segera memakan habis eskrim itu dan menghabiskannya, hingga beberapa saat akhirnya dia menghabiskan eskrim itu dan melihat eskrim vanilla yang masih utuh di tangan Jamie.


Jesslyn mengambil eskrim itu dan kembali memakannya, karena sudah meleleh akhirnya eskrim itu mulai berjatuhan di tangan Jesslyn dan bahkan menetes di atas dadanya yang terbuka.


"Ahhh sial!" Ucap Jesslyn dengan mengambil tisu yang ada di dasbor mobil dan hendak mengelap tangannya namun segera di hentikan oleh Jamie.


"Ada apa?" Tanya Jesslyn dengan heran.


"Biar aku yang membersihkan nya...." Balas Jamie dengan menjilat satu persatu jari Jesslyn dan bahkan mengulumnya lembut, hal itu membuat Jesslyn melotot dan hendak menarik tangannya namun tidak bisa karena Jamie sudah menahannya.


"Shhh...." Jesslyn meringis geli dan rasanya sangat aneh, lidah Jamie bermain-main di jari-jari tangannya hingga membuat Jesslyn terus bergerak tak nyaman.


Jamie tersenyum dengan melihat jari Jesslyn yang sudah bersih, setelah itu tatapan mata Jamie mengarah pada dada Jesslyn yang terdapat noda eskrim di kulit Jesslyn yang terlihat putih. Jesslyn yang sadar akan tatapan itu langsung melotot kan matanya dan hendak mengatakan sesuatu namun semuanya langsung terlambat karena Jamie sudah mendarat kan bibirnya disana.


"J-jamie...." Gugup Jesslyn karena Jamie terus menciumi atas dadanya bahkan sampai ke lehernya dan kedua pundaknya yang tidak lepas dari ciumannya itu.


Karena atasan yang di pakai Jesslyn merupakan tangtop tanpa tali dan hanya di balut oleh gardigan tipisnya membuat Jamie sangat mudah merasakan betapa harum nya kulit Jesslyn dan tonjolan itu terlihat sangat membusung dengan indah.


Tangan Jamie menyentuh perut Jesslyn dan memasukkan tangannya semakin dalam untuk meraba-raba perut Jesslyn yang terasa halus di tangannya, bahkan Jamie juga memberikan beberapa tanda kepemilikan nya di pundak Jesslyn dan beberapa di lehernya juga.


Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt


"J-jamie... Hentikanhhhh..." Jesslyn mendorong kepala Jamie dari lehernya namun Jamie terlihat tidak peduli, dengan sedikit kesusahan Jesslyn mengambil ponselnya yang ada di dekat dasbor. Tertulis nama Liam di sana, Jesslyn diam sesaat dan hendak mematikan sambungan teleponnya.


"Angkat..." Ucap Jamie dengan memencet tombol berwarna hijau itu.


"It..."


"Halo?" Terdengar suara Liam yang begitu berat, suara khas Liam memang sangat menggoda untuk wanita.


"Ada apa?" Tanya Jesslyn langsung.


"Jesslyn, bisakah kita bertemu sebentar? ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


"Aku tidak ta...Shhh...Akhhhh....Jamiehhh.. Hentikan...Shhh..." Jesslyn mengeluarkan suara anehnya dengan refleks saat merasakan tangan Jamie yang menyentuh dadanya dan meremasnya pelan.


"....."