Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Hancur



Jesslyn yang melihat semuanya nampak ketakutan langsung memegang lengan Jamie dan sedikit mencubitnya pelan, hal itu membuat Jamie sontak menatapnya dengan sedikit bertanya-tanya.


"Maaf sebelumnya, nona mengatakan jika saya murahan? murahan yang seperti apa maksud anda? apakah berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri itu merupakan hal yang suci?" Tanya Jesslyn pada Amber yang langsung menatapnya dengan sedikit tak berani, bagaimana pun dia masih takut dengan sosok Jamie.


"Itu.... Liam tidak menyukai mu! kenapa kau terus-menerus berada disisinya, apa kau tidak punya malu?" Tanya Amber dengan sedikit berani, bukankah sudah terlanjur jika dia di blacklist dari semua perusahaan Domenic? untuk apa lagi takut pada Jesslyn.


"Hahaha.... Itu memang benar, saya tidak punya urat malu. Namun, seseorang sudah menyadarkan saya bahwa sesuatu yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih baik. Bukankah begitu sayang?" Tanya Jesslyn pada Jamie yang langsung tersenyum kecil.


"Tentu saja, pilihanmu tidak pernah salah...." Balas Jamie dengan mengelus puncak kepala Jesslyn m


"So, terimakasih karena sudah menyia-nyiakan aku. Mulai sekarang, akan aku pastikan kau tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita sebaik diriku." Ucap Jesslyn pada Liam yang hanya diam sejak tadi, dia masih tidak menyangka bahwa Jesslyn memiliki hubungan dengan Jamie.


"And.... Selamat atas pernikahannya." Sambung Jesslyn dengan tersenyum selebar mungkin, hatinya merasa lega. Lega karena akhirnya dia bisa melepaskan Liam, lega karena akhirnya dia tidak merasakan sakit lagi.


Jesslyn menggandeng lengan Jamie dan membawanya untuk duduk di kursi yang sudah tersedia di sana, Jesslyn menatap seseorang yang sejak tadi terus memperhatikannya. Melihat itu Jesslyn hanya mengangguk dan mulai duduk dengan santai....


"Kau sudah melakukannya dengan baik..." Bisik Jamie dengan jarak yang sangat dekat, bahkan jika orang-orang melihat itu merasa akan beranggapan bahwa Jamie tengah mencium pipi Jesslyn.


"Aku tahu, masih ada satu kejutan lagi yang belum kita keluarkan. Bagaimana menurutmu?" Tanya Jesslyn dengan menatap Jamie balik hingga keduanya saling tatap dalam jarak yang sangat dekat.


"Aku tidak peduli, yang aku pedulikan saat ini hanyalah...... Mendapatkan hadiah darimu." Balas Jamie dengan menatap bibir Jesslyn yang terlihat seksi dan menggoda.


Jesslyn yang sadar arah pembicaraan Jamie langsung berdecak kesal, dia pikir malam ini Jamie tidak mesum seperti sebelumnya. Namun dugaannya salah, Jamie tetaplah Jamie yang memiliki sikap mesum setiap saat.


"Lupakan!" Jesslyn memalingkan wajahnya ke arah samping, hal itu membuat Jamie terkekeh dan meraih tangan Jesslyn sebelum akhirnya mengecupnya pelan.


"Pergilah, temanmu sepertinya ingin berbincang." Ucap Jamie dengan melirik Loly dan Marsen yang terus menatap mereka berdua.


"Astaga, aku lupa...." Ucap Jesslyn dengan menutup mulutnya, kenapa dia bisa melupakan orang penting dalam hidupnya ini? apakah karena Jamie?


"Aku sudah menduganya, kalau begitu aku juga akan menemui rekan kerjaku. Jika kau memerlukan sesuatu, panggil saja aku...." Senyum Jamie.


"Oke."


Jesslyn melangkahkan kakinya untuk mendekati Loly dan Marsen yang nampak menatapnya dalam, Jesslyn tahu apa yang akan mereka katakan.


"Aku akan menceritakannya nanti..." Ucap Jesslyn dengan duduk di hadapan Loly dan mengambil beberapa potong dessert untuk ia makan.


"Jesslyn, bagaimana dengan persiapannya? kapan kau akan menunjukkannya?" Tanya Marsen dengan memberikan sepotong buah pada Jesslyn.


"Tunggu sebentar lagi.." Balas Jesslyn dengan tersenyum kecil.


"Lalu, kapan kau akan menikah?" Tanya Loly yang terlihat sudah tidak sabar.


"Ukhukk Ukhukk Ukhukk...." Jesslyn terbatuk-batuk, hal itu membuat Marsen langsung memberikannya minum.


"Bisakah kau diam dan jangan membahas hal itu?!" Kesal Jesslyn yang hanya di balas cengiran oleh Loly.


"Aku hanya terlalu senang, karena akhirnya kau bisa sebebas ini. Dan lagi, sejak tadi calon suamimu terus saja menatap mu..." Bisik Loly.


Jesslyn segera mencari sosok Jamie, yang memang benar dia tengah memperhatikannya dengan posisi duduk yang sangat luar biasa. Dua kancing kemejanya ia lepas hingga memperlihatkan dada bidangnya yang terdapat tato di sana, Jamie terlihat hot!


"Ngomong-ngomong, aku akui tubuh tuan Jamie sangat luar biasa. Apa kau sudah melakukannya?" Bisik Marsen penasaran.


"Benar, tolong ingatkan aku selalu bahwa dia itu milikmu Jes. Aku takut khilaf..." Tambah Loly.


Jesslyn diam beberapa saat, dia melirik ke arah sekeliling dan sedikit tak senang karena hampir semua wanita menatap sosok Jamie dengan tatapan yang nakal. Entah kenapa, Jesslyn tak rela jika Jamie menjadi bahan tontonan seperti ini.


Tanpa basa-basi, Jesslyn langsung melangkahkan kakinya untuk mendekati Jamie yang sedang berbincang dengan beberapa rekannya. Jesslyn berdiri di hadapan Jamie yang langsung mendongakkan kepalanya, Jamie tersenyum kecil pada Jesslyn yang terlihat kesal, ada apa? apakah dia membuat kesalahan? pikir Jamie.


Tanpa rasa bersalah, Jesslyn langsung menutup dua kancing kemeja Jamie dan bahkan sampai kebagian atasnya. Hingga membuat semua orang terkejut bukan main dengan keberanian Jesslyn itu, namun tidak dengan Jamie yang justru terkekeh.


Dengan perlahan, Jamie merengkuh pinggang Jesslyn hingga membuat Jesslyn jatuh terduduk di atas paha Jamie yang langsung melingkarkan kedua tangannya di perut Jesslyn.


"Jamie?!" Jesslyn terus berusaha untuk melepaskan pelukan Jamie yang terasa semakin kencang.


"Kenapa? apa kau tidak rela melihat tubuh ku menjadi tontonan mereka? bagaimana menurutmu dengan ku? apa aku rela melihat mu di tatap lapar oleh para laki-laki juga?" Ucap Jamie dengan memakaikan jasnya pada Jesslyn.


"Aku.... Aku tidak tergoda pada mereka." Jujur Jesslyn.


"Lalu, menurut mu aku tergoda?" Balik tanya Jamie yang membuat Jesslyn terdiam dengan menatap wajah Jamie, kenapa ada laki-laki yang luar biasa tampan sepertinya?


"Baiklah, acara demi acara sudah kita lewati bersama. Bagaimana jika kita melihat perjalanan cinta mereka dari awal hingga akhir? mari kita lihat tayangannya...." Ucap sang MC dengan begitu semangat.


Suasana di sana menjadi gelap seketika dan hanya fokus pada layar monitor yang begitu besar, Jesslyn yang semula fokus kini menjadi tak nyaman. Tangan besar dan berotot milik Jamie terus menerus mengelus pahanya yang tidak terhalang apapun.


Bahkan, Jesslyn bisa merasakan bibir lembut Jamie yang terus mengecupi belakang pundaknya, bahkan tengkuknya pun tak lepas dari ciuman Jamie.


Berbeda dengan yang lain, semuanya mendadak heboh saat melihat cuplikan video dewasa yang memperlihatkan sosok Amber yang tengah berhubungan badan dengan macam-macam laki-laki, dan itu tidak hanya satu.


Mereka sontak menatap Amber yang langsung pucat pasi, bagaimana bisa ada wanita yang mengatakan orang dengan murahan padahal dirinya sendiri seperti ini?


"HENTIKAN!! Liam, ini... Ini semua bohong, mereka sengaja ingin memisahkan kita..... Jangan percaya, HENTIKAN CEPAT SIALAN!!" Panik dan marahnya.


Liam mengepalkan tangannya, bagaimana bisa dia di permalukan seperti ini? tanpa rasa ampun, Liam menampar pipi Amber hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur dengan bibir yang mengeluarkan darah segar.


Jesslyn yang melihat itu langsung tersenyum kecil, dia ingat bagaimana sakitnya tamparan itu.


"Mulai sekarang, kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi!!" Dingin Liam dengan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu menyeramkan.