Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Berita kematian Amber



Malu, itulah yang Jesslyn rasakan sekarang. Semua orang yang ada di rapat tak ada yang berani menatap mereka berdua, semuanya terus menunduk dan selalu mengalihkan pandangannya dari Jamie dan Jesslyn.


Saat Nicky datang tadi, dia membawa beberapa rekan Jamie yang ikut melihat keromantisan Jamie yang sebelumnya tidak mereka percayai jika Jamie sudah memiliki wanita.


"T-tuan, untuk proyek di puncak nanti nona Jesslyn harus ikut mengontrolnya. Tuan sudah menyerahkan proyek tersebut pada nona Jesslyn, untuk tidak menimbulkan salah paham saya harap nona Jesslyn mau ikut bergabung bersama kami." Ucap salah satu dari mereka dengan gugup.


"Benar tuan, Jesslyn.. Maksud saya nona Jesslyn harus ikut juga mengontrol proyek tersebut..." Setuju Marsen dengan menatap Jesslyn yang terlihat diam saja.


"Bagaimana?" Tanya Jamie pada Jesslyn yang hanya mengangguk.


"Aku tidak masalah, kapan waktu kunjungannya?" Tanya Jesslyn pada Marsen.


"Itu masih dua minggu kedepan, proyek ini baru saja di kerjakan." Balas Marsen.


"Oke, aku akan pergi untuk mengontrol nya juga." Setuju Jesslyn.


"Baik."


"Apakah ada yang ingin dibahas lagi?" Tanya Jamie dengan tangan yang memegang paha Jesslyn dari bawah, Jesslyn diam dengan menatap Jamie penuh kekesalan.


Namun sepertinya laki-laki itu tidak terlalu menghiraukannya, namun dapat Jesslyn rasakan bahwa tangan Jamie terasa dingin. Apakah karena kedinginan?


"Ehh tidak ada tuan, kami berencana untuk mengajak tuan dan nona makan siang bersama untuk merayakan acara ini." Ucap Marsen.


"Tidak! saya akan makan siang bersama dengan Jessy, jika kalian ingin maka lakukan saja." Tolak Jamie.


"Maaf sir, saya ingin ikut makan siang bersama mereka yang akan menjadi rekan saya kedepannya. Tolong jangan seperti ini...." Ucap Jesslyn dengan penuh penekanan.


"Kau lebih suka makan siang bersama mereka dari pada denganku?!!" Kesal Jamie yang membuat mereka terkejut dan terlonjak kaget dari tempatnya.


"Jangan aneh-aneh! saya hanya ingin berbincang santai dengan mereka, apa anda tidak mengerti bahasa manusia?!" Balik kesal Jesslyn.


"Santai? kau bisa berbicara sekarang dengan mereka jika ada sesuatu yang ingin kau bicarakan. Cuaca di luar sedang hujan dan kau mau meninggalkan aku yang sedang kedinginan ini? harusnya kau memeluk dan mencium ku di ran..... Hmmfffttt!!"


Bibir Jamie langsung di bungkam oleh Jesslyn, bagaimana bisa Jamie berbicara santai mengenai hal itu di hadapan mereka semua? apa Jamie sudah gila!


"Diam bodoh!! jika kau mau mempermalukan diri sendiri lakukan lah, tapi jangan membawaku juga!" Kesal Jesslyn dengan berbisik di telinga Jamie yang hanya diam dengan santai.


"I-itu... Sebaiknya kami pergi, cuaca memang sedang hujan dan.... Dan itu... " Gugup mereka yang langsung bersiap-siap untuk pergi, bahkan ada juga yang menjatuhkan beberapa dokumennya karena gugup mendengar ucapan Jamie yang sembrono itu.


"Ehhh... Aku..." Jesslyn hendak pergi dan menyusul mereka yang sudah pergi dari sana namun lagi dan lagi Jamie langsung menahannya.


"Jessy!" Ucap Jamie dengan serius.


"Kau!! ck!" Jesslyn pergi begitu saja dan meninggalkan Jamie yang hanya diam di tempat, Jesslyn pergi ke dapur kantor untuk membuat kopi hangat.


"Jesslyn, apa yang tuan Jamie katakan itu memang benar. Dia, dia tidak bisa terkena air hujan, rasa dingin air hujan dengan salju sangat berbeda dampaknya bagi tuan. Tuan sangat rentan terhadap air hujan tapi tidak dengan cuaca bersalju...." Ucap Nicky yang membuat pergerakan Jesslyn diam seketika.


"Kau yakin?" Tanya Jesslyn serius.


"Benar nona, karena itulah tuan sangat malas keluar disaat cuaca seperti ini. Tubuhnya akan merasa lemah dan selalu kedinginan, ini sudah terjadi sejak dia kecil." Tambah Nicky.


"Astaga, kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" Tanya Jesslyn dengan lari terburu-buru dan mencari keberadaan Jamie yang tidak ada di ruangan rapat, dengan cepat Jesslyn masuk kedalam ruangan Jamie namun tidak juga menemukannya.


"Nona Jesslyn? ada apa?" Heran mereka yang melihat Jesslyn lari terbirit-birit itu.


"Itu, apa kalian melihat Jamie? ah maksud saya tuan Jamie?" Tanya Jesslyn dengan ngos-ngosan.


"Tuan Jamie? bukankah itu dia..." Tunjuk salah satu dari mereka dengan menunjuk ke sosok laki-laki jangkung yang sedang berjalan di bawah guyuran gerimis hujan dengan membawa payung hitamnya.


Di tangannya ada sesuatu yang sangat Jesslyn hapal, Jamie membeli Tteopokki?


"Jessy? aku membelikan mu ini, kau sangat menyukainya bukan? ayo makan..." Ajak Jamie dengan tersenyum lebar namun bisa Jesslyn lihat dari mulutnya keluar asap, bahkan bibirnya terlihat sedikit ungu dan bergemelutuk.


"Bodoh! kenapa kau tidak mengatakannya padaku jika kau tidak tahan air hujan?" Kesal Jesslyn dengan mengelap wajah Jamie yang terkena cipratan air hujan.


"Aku bukannya tidak tahan namun... Tidak suka." Bohongnya.


"Apa kau tidak bisa berkata jujur padaku? kau benar-benar tidak menganggap ku rupanya...." Ucap Jesslyn dengan pelan, tangannya terus saja mengelap wajah Jamie.


"Jessy..."


"Tidak apa-apa, aku paham."


"Aku, maksudku bukan begitu..."


"Ya, aku tahu."


"Jessy dengarkan aku..."


"Ayo pulang." Ajak Jesslyn, dia tidak bisa membiarkan Jamie terus seperti ini.


"Setelah makan kita baru pulang." Ucap Jamie dengan merangkul pinggang Jesslyn dan membawanya pergi untuk kembali ke dalam ruangannya, semua orang yang melihat itu hanya bisa menggigit ujung jarinya karena gemas dengan tingkah keduanya yang sangat manis.


Di dalam ruangan, Jamie menyuapi Jesslyn dengan begitu telaten. Mereka makan dalam satu sumpit yang sama, mulai sekarang Jamie akan menyukai semua yang Jesslyn sukai.


"Dari mana kau tahu bahwa aku tidak bisa terkena hujan?" Tanya Jamie dengan membersihkan bibir Jesslyn menggunakan jari jempolnya lalu memasukkan nya kedalam mulut untuk membersihkan jarinya itu.


"Nicky." Balas Jesslyn dengan santai.


".... Sebenarnya, aku memang sangat lemah terhadap air hujan. Bahkan, sejak kecil aku tidak pernah keluar rumah jika sedang musim hujan. Anehnya, saat musim salju aku justru tidak merasa dingin sedikit pun." Jujur Jamie.


"Itu memang aneh, katakan semua tentang mu yang aku tidak ketahui. Agar aku bisa tahu apa yang sedang kau alami saat itu..." Ucap Jesslyn dengan menatap Jamie.


"Tidak ada lagi, namun ada satu hal besar yang tidak kau ketahui Jessy. Untuk sekarang, aku belum bisa memberitahukan nya padamu...." Jujur Jamie.


"Oh oke, tidak masalah..."


Saat mereka sedang asik makan, Jesslyn menyalakan televisi dan langsung di kejutkan dengan berita yang di siarkan di televisi.


"Itu, Amber kan?" Kaget Jesslyn yang melihat berita kematian Amber yang prustasi karena di ceraiman di saat hari pernikahannya, Amber mati dalam kecelakaan yang mengakibatkan mobil itu hancur dan meledak di tempat sehingga membuat tubuhnya hangus terbakar.


"Iya, itu memang wanita yang sudah mengatakan hal buruk tentang mu dan..... Dia pantas mendapatkannya." Balas Jamie dengan santai, Jesslyn tidak melihat senyum miring dalam bibir Jamie saat mengatakan hal tersebut.