Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Kapan menikah?



Sore hari, Jesslyn dan Loly pergi ke tempat mandi khusus wanita yang tersedia disana. Semakin bagus tempatnya maka semakin mahal pula biaya sewanya namun Jamie tidak memperdulikan hal tersebut, dia pasti akan memberikan kualitas yang terbaik untuk Jesslyn agar merasa nyaman. Untuk masalah biaya, dia tidak mempermasalahkannya seberapa mahal pun itu dia sanggup membayarnya.


"Jess, sepertinya Nicky tidak menyukai ku." Cemberut Loly dengan memakai body care nya.


"Aku tahu, tapi kau bisa mencobanya dengan perlahan. Jika perlu, kau jangan mengejar tapi buat dia yang penasaran dengan mu, kau mengerti bukan apa maksudku?" Tanya Jesslyn yang terlihat cantik dengan celana jeans panjang berwarna hitam dengan kaos ketat karet yang memiliki model terbuka di bagian pundak dan leher namun terdapat beberapa tali di sana, Jesslyn juga memakai jaket sport nya karena cuaca sangat dingin, rambut panjangnya sengaja ia ikat tinggi.


"Jadi, aku harus biasa saja?" Tanya Loly dengan serius.


"Ya, laki-laki jika semakin di kejar maka akan semakin menjauh. Kau lihat bukan? dulu aku juga seperti itu, tapi setelah aku melepaskannya... Dia justru mengharapkan kehadiran ku kembali." Senyum Jesslyn dengan memakai parfum nya.


"Aku paham, terimakasih Jess...." Senang Loly dengan memeluk Jesslyn senang.


"Tidak apa, ayo pergi..." Ajak Jesslyn dengan tersenyum dan menggandeng lengan Loly yang membawa tas besar nya, itu semua berisi pakaian kotor mereka dan juga peralatan mandi beserta make up mereka juga.


Di jalan, mereka berdua sibuk memperhatikan orang-orang yang sedang berpacaran bahkan ada yang bercumbu mesra juga tanpa mengenal situasi dan tempat yang mungkin saja banyak anak-anak disana.


"Jess, bukankah itu....." Tunjuk Loly pada sosok laki-laki yang tengah duduk termenung di depan tenda nya, Jesslyn yang melihat itu hanya diam hingga akhirnya kedua mata mereka tidak sengaja bertemu.


"Jesslyn?" Senyum sumringah dari sosok itu membuat Jesslyn terdiam dan hanya diam di tempat, sosok yang selalu menjadi luka untuknya kini terlihat seperti sebuah plester yang mencoba untuk menutupi dan menyembuhkan luka di hatinya yang kini mulai tersusun kembali oleh orang yang berbeda.


"Kau, kenapa kau ada disini?" Tanya Jesslyn dengan terheran-heran, apakah Liam menguntitnya?


"Aku, aku tidak sengaja mendengar bahwa kau akan berlibur. Karena itulah aku.... " Ucapnya yang tidak berani lagi melanjutkan perkataannya, lagi-lagi dia dibuat diam oleh sosok laki-laki yang tengah berjalan kearah mereka dan dengan santainya merangkul Jesslyn dan mengecup pipi nya singkat.


"Darling, aku menunggumu sejak tadi. Apa kau masih lama?" Tanya Jamie dengan mesra.


"Ahh ya, maafkan aku. Ayo pergi, kalau begitu... Aku pamit dulu, Liam." Ucap Jesslyn dengan tersenyum kecil dan segera pergi dari sana dengan membawa Jamie dan Loly yang hanya menjadi penonton setia saja.


"Jamie, aku..."


"Tidak apa-apa, aku percaya padamu." Senyum Jamie dengan menggenggam tangan Jesslyn dan meniupnya pelan, udara sangat dingin dan api unggun sudah menyala di sana.


"Aku mau membakar marshmellow, kau mau?" Tanya Loly pada Jesslyn yang langsung mengangguk antusias.


Mereka segera menusuk Marshmellow tersebut ke tusukan sate dan mulai membakarnya hingga terlihat meleleh, setelah itu barulah mereka memakannya. Jesslyn dan Loly tertawa renyah karena mereka sudah lama tidak melakukan hal tersebut, biasanya mereka akan berkemah di depan rumah Loly karena mereka tidak berani pergi keluar jika hanya berdua.


"Ini sangat enak... Mau coba?" Tanya Jesslyn pada Jamie yang langsung membuka mulutnya, Jesslyn yang paham akan hal itu langsung menyuapi Jamie menggunakan tangannya sendiri.


"Masih sama, rasa marshmellow." Polos Jamie.


"Menurutmu akan berbeda? jadi apa? rasa popcorn begitu?" Tanya Jesslyn dengan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku rasa sedikit berbeda seperti... Ini misalnya." Ucap Jamie dengan mengecup bibir Jesslyn di hadapan Loly dan Nicky yang pura-pura tidak melihatnya itu.


"Jamie...." Malu Jesslyn karena mereka berada di hadapan jomblo karat, bukankah itu penyiksaan batin untuk mereka yang melihatnya?


"Tuan, lusa anda di undang ke pesta pernikahan putrinya pak wali kota. Apakah anda akan datang?" Tanya Nicky dengan melihat-lihat ponselnya.


"Aku akan melihatnya nanti." Balas Jamie dengan santai.


"Pak wali kota? aku juga di undang....." Balas Jesslyn dengan ekspresi biasa.


"Kau di undang olehnya?" Heran Jamie.


"Hmm, yang menikah itu temannya Loly dan aku juga di undang karena mungkin Loly dekat denganku sehingga dia menganggap ku sebagai temannya juga." Balas Jesslyn.


"Itu benar, dia wanita yang baik dan saya berencana akan datang berdua dengan Jesslyn." Sambung Loly.


"Bolehkan?" Tanya Jesslyn dengan tersenyum selebar mungkin.


"Oke." Angguk Jamie.


"Kau tidak ikhlas melakukannya?!" Kesal Jesslyn karena Jamie hanya mengatakan oke saja.


"Bukan begitu Jessy, tapi..."


"Tapi apa hah? apakah kau sud..."


Ucapan Jesslyn langsung terhenti saat melihat Jamie yang mengeluarkan cincin dari balik sakunya, cincin tersebut terlihat bercahaya di gelapnya malam yang indah ini. Jesslyn diam karena tidak tahu apa yang akan dia katakan, dia menatap Jamie yang tengah tersenyum pada dirinya.


"Aku pernah bilang padamu bahwa aku tidak akan main-main dengan perasaan ini Jessy, aku benar-benar serius padamu. Tolong izinkan aku untuk mengabulkan semua keinginan mu yang sebelumnya tidak pernah kau dapatkan...." Ucap Jamie dengan ekspresi yang serius.


"I-ini...." Jesslyn melirik Loly yang hanya mengangguk senang, begitu pun dengan Nicky yang terus tersenyum dan mengacungkan jari jempolnya pada Jesslyn.


"Aku bukan tipikal laki-laki yang tidak pernah cukup dengan satu wanita, aku bahkan belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku benar-benar menginginkan mu untuk melengkapi segala kekurangan yang ada pada diriku, bisakah kau mengabulkan keinginan ku ini?" Tanya Jamie lagi.


"J-jamie, tanpa menjawab pun seharusnya kau sudah tahu apa jawabanku." Gugup Jesslyn dengan memalingkan wajahnya ke arah samping karena malu.


"Jessy, aku ingin mendengarnya secara langsung darimu...." Ucap Jamie dengan penuh harap, namun tak dapat di pungkiri bahwa didalam ekspresi nya itu terlihat bahagia sekali.


"Ya, aku mau. Aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengan mu Jamie, tolong bahagiakan aku...." Balas Jesslyn dengan tersenyum tulus.


"Tentu, tanpa kau mengatakannya pun aku pasti akan melakukannya..." Ucap Jamie dengan memakaikan cincin tersebut pada Jesslyn yang nampak tersenyum senang.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" Tanya Loly dengan ekspresi yang terlihat berbunga-bunga itu.


"Satu bulan lagi...." Ucap Jamie yang membuat Jesslyn terkejut, apakah tidak terlalu cepat?


"Aku tidak bisa menunda waktu lagi Jessy, kau tahu sendiri aku menginginkan mu dan..." Ucapan Jamie langsung di bungkam oleh Jesslyn yang memasukan marshmellow berukuran besar itu pada mulut Jamie yang memang tidak bisa di kontrol itu.