
Di salah satu toko kue, Amber melihat sosok Jesslyn yang sedang membeli kue tersebut. Dia menatap Jesslyn dengan tatapan yang sangat tajam, saat ini Amber berada di dalam mobilnya yang berada di pinggir jalan.
Melihat Jesslyn mulai pergi, Amber segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga saat Jesslyn hendak menyebrang, Amber dengan kecepatan penuh langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ekspresinya benar-benar mengerikan sekarang, dia benar-benar membenci sosok Jesslyn yang terlihat beruntung itu. Bagaimana bisa Jesslyn mendapatkan sosok Jamie setelah di campakkan oleh Liam?
Untuk Jesslyn sendiri, dia sadar ada sebuah mobil yang melaju ke arahnya. Dengan cepat Jesslyn segera menghindar hingga membuatnya jatuh di trotoar dengan tangan yang terluka, bahkan pundaknya terasa sakit karena tertusuk besi jalanan.
"Akhhh....." Ringis Jesslyn dengan menarik tubuhnya dari tusukan besi itu, darah merembes dari pakaiannya. Semua orang yang berada di sana langsung menghampirinya dan menolongnya juga, tak banyak orang yang ada di sana karena cuacanya juga yang tidak mendukung.
Seluruh pakaian Jesslyn basah, darah tersebut bercampur di jalanan hingga terlihat menggenang.
"Nona, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang..." Cemas mereka.
"Tidak apa-apa, aku akan menghubungi temanku dulu." Ucap Jesslyn dengan berusaha menghubungi Jamie.
Untuk Jamie sendiri, saat ini dia sedang ada rapat dengan beberapa pimpinan perusahaan lainnya. Melihat ponselnya berbunyi, Jamie langsung mengangkatnya tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
"Halo Jes, ada apa?"
"Bisakah kau datang ke depan lampu merah yang ada di sebrang perusahaan mu? aku.... Aku kecelakaan." Ucap Jesslyn dengan meringis kesakitan, bahkan Jamie juga mendengar suara keributan di sana.
"Apa?! tunggu aku.....!!" Balas Jamie yang langsung bergegas pergi, dia tidak mengatakan apapun lagi pada mereka yang nampak heran, Nicky juga heran namun mendengar kata Jesslyn akhirnya dia paham, sepertinya telah terjadi sesuatu pada Jesslyn saat ini yang membuat Jamie pergi secara terburu-buru.
Jamie mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tidak membutuhkan waktu lama dia sudah sampai di tempat yang Jesslyn katakan tadi, dia melihat sosok Jesslyn yang terduduk dengan wajah pucat dan pakaian yang di penuhi dengan darah.
"Jesslyn? apa yang terjadi?!" Kaget Jamie yang langsung menggendong tubuh Jesslyn dan membawanya ke dalam mobil.
"Tuan, nona ini sepertinya sengaja di tabrak oleh seseorang." Ucap salah seorang yang menjadi saksi di sana.
"Apa? sial!!!" Geram Jamie yang segera pergi dari sana, dia melirik Jesslyn yang nampak sudah lemas. Mungkin karena luka tersebut yang terlihat terus menerus mengeluarkan darah segar.
"Bertahanlah..." Ucap Jamie dengan sangat cemas dan khawatir.
"Sepertinya aku akan mati..." Ucap Jesslyn pelan.
"Apa yang kau katakan bodoh?! kau bahkan belum memberikan aku kepuasan, aku ingin dua anak dari mu! mereka harus tampan dan cantik seperti ku, kau dengar bukan?!" Jamie terus berbicara tiada henti, hal itu membuat Jesslyn tersenyum kecil. Kenapa di saat sekarang Jamie terlihat lucu dan menggemaskan.
"Aku hanya bercanda, pundak ku terasa sangat sakit Jamie....Bisakah kau sedikit cepat?" Keluh Jesslyn dengan memejamkan matanya.
"Apanya yang perlu di percepat? kita sudah sampai, ayo..."
Jamie kembali menggendong Jesslyn dan membawanya masuk kedalam rumah sakit, melihat sosok Jamie membawa para dokter itu kalang kabut. Hampir seluruh saham di rumah sakit itu atas namanya juga, sudah tidak heran jika Jamie memiliki banyak saham di mana-mana.
"Tuan, biarkan saya memeriksa luka nona terlebih dahulu." Ucap sang dokter dengan menatap Jamie.
"Ganti! aku ingin dokter yang menanganinya itu seorang wanita! kau pikir aku tidak tahu apa pikiran mu? kau ingin melihat pundak wanitaku kan? jangan harap!!" Marah Jamie yang justru malah mendapatkan pukulan pelan dari Jesslyn.
"Bisakah kau berpikir waras Jamie?! kau membuatku malu saja!" Kesal Jesslyn.
"Terserah...!"
Para dokter yang ada disana segera mundur dan di gantikan oleh dokter wanita, mereka segera memeriksa Jesslyn dengan membuka pakaiannya. Terlihat luka yang lumayan parah di sana.
"Kenapa ada luka separah ini?" Kaget Jamie.
"Hanya tertusuk besi jalanan saja, apakah tembus kebelakang?" Tanya Jesslyn dengan meringis pelan.
"Hanya? kau bilang hanya?!!!" Marah Jamie.
"Bisakah kau diam? Kenapa kau terus mengoceh sejak tadi? jangan membuat kepalaku semakin pusing Jamie!" Kesal Jesslyn.
Para dokter yang ada disana hanya diam dan tidak berani mengatakan apapun lagi, mereka nampak menahan tawa karena obrolan keduanya yang terlihat lucu.
"Jesslyn!" Kesal Jamie dengan ekspresi yang membuat Jesslyn geli sendiri melihatnya.
"Berwibawa lah sedikit Jamie, kau membuat ku malu." Ucap Jesslyn yang membuat Jamie terdiam,dia melihat ke sekeliling yang membuat para dokter dan suster itu menunduk.
"Tidak apa-apa, aku hanya seperti ini padamu." Manja Jamie.
"Cih..." Jesslyn memalingkan wajahnya ke arah samping, bagaimana bisa Jamie bertingkah seperti ini? di saat orang-orang mengatakan bagaimana kejamnya dia, namun bagi Jesslyn, Jamie merupakan sosok yang terlihat konyol dan blak-blakan.
"Akhhhhhhhhhh...." Jesslyn mengaduh kesakitan saat merasakan perih dan sakit di pundaknya.
"Apa kalian tidak bisa bekerja dengan benar?! kalian membuatnya kesakitan!" Marah Jamie dengan membentak para dokter itu yang terlonjak kaget.
"DIAM BODOH! KELUAR KAU!! " Marah Jesslyn, dia sudah merasa sakit sekarang dan di tambah dengan Jamie yang terus mengoceh.
"Tidak mau, aku akan menjagamu." Tunduk nya.
"Kalau begitu duduk dan patuh lah!"
Dengan patuh Jamie duduk di kursi dan tersenyum manis, lagi-lagi hal itu membuat para dokter tak kuasa untuk tidak tertawa. Mereka berusaha menahan tawanya agar tidak keluar, sosok Jamie sangat jauh berbeda dengan apa yang sering mereka lihat. Mereka sudah yakin, bahwa Jesslyn merupakan wanita yang sangat di cintai oleh Jamie sekarang.
"Luka nona Jesslyn akan sembuh dalam waktu yang lumayan lama, hal tersebut membuatnya kesulitan untuk menggerakkan lengan kanannya. Urat di bagian itu membuat tangan kanannya sedikit lumpuh, tapi jangan khawatir itu hanya beberapa hari saja." Jelas dokter itu dengan tersenyum lebar.
"Apa-apaan kau ini! kenapa kau tersenyum disaat mengatakan hal buruk itu!!" Marah Jamie yang membuat dokter itu ketakutan.
"Jamie! terimakasih dokter dan jangan hiraukan perkataannya... Kalian boleh keluar." Ucap Jesslyn dengan tersenyum kecil.
"Baik nona..." Pamit mereka dengan sedikit takut.
Setelah kepergian para dokter itu, Jesslyn menghela nafas berat. Di liriknya Jamie yang diam di tempat dengan menatapnya juga, Jesslyn tahu bahwa Jamie sangat khawatir padanya.
"Aku baik-baik saja, jangan memarahi orang seperti itu. Aku hanya kurang berhati-hati, terimakasih karena sudah mengkhawatirkan aku..." Senyum Jesslyn dengan memegang tangan Jamie menggunakan tangan kirinya, tangan kanannya memang tidak bisa bergerak dengan bebas.
"Aku akan menemukan orang itu dan tidak akan pernah mengampuninya..." Ucap Jamie dengan mengecup tangan Jesslyn dengan lembut, Jesslyn hanya tersenyum dan merasa beruntung karena ada laki-laki yang begitu mengkhawatirkan seperti sekarang ini.