
Loly menatap langit-langit tenda dengan pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya, Jesslyn sudah menemukan laki-laki yang tepat dan akan segera menikah. Tapi bagaimana dengan dirinya? kenapa dia belum juga di pertemukan dengan sosok laki-laki yang mencintainya dengan tulus, apakah dia benar-benar tidak sebaik itu untuk bisa mendapatkan laki-laki yang baik juga?
"Ada apa?" Tanya Nicky yang masuk kedalam tenda dan mengambil bantal juga selimut.
"Tidak ada, kau akan tidur di luar?" Tanya Loly yang langsung duduk tegak.
"Ya, aku..."
"Tidak apa-apa, tidur saja. Lagian disini terlalu besar untuk aku tempati sendiri, kau tenang saja aku tidak akan melakukan sesuatu padamu. Di luar sangat dingin, kau bisa flu dan demam." Ucap Loly dengan terus bergeser hingga mepet ke ujung tenda yang memiliki ukuran besar itu.
"Ah baiklah." Angguk Nicky yang mulai berbaring dan mulai memakai selimutnya itu, mereka saling diam hingga dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Nicky sadar bahwa Loly sudah tertidur pulas.
••••
Untuk Jesslyn dan Jamie, keduanya sudah tertidur pulas dengan saling berpelukan satu sama lain dan berada dalam selimut yang sama. Tangan Jamie sudah masuk ke punggung Jesslyn untuk merasakan kehangatan tubuh Jesslyn yang menjadi candu untuknya, sedangkan Jesslyn? dia mencari kehangatan di dalam pelukan Jamie yang membuatnya merasa nyaman.
Di tengah malam memasuki dini hari, Jamie merasa cuaca semakin dingin dan dia semakin menempelkan tubuhnya pada Jesslyn yang terlihat kedinginan juga. Jamie terbangun dari tidurnya dan menatap Jesslyn yang terlihat tidur dengan tubuh yang bergetar, cuaca dingin yang alami seperti ini memang sangat cocok untuk mereka yang seharusnya sedang memadu kasih.
Dengan perlahan Jamie, menurunkan kepalanya hingga berada di dalam selimut dan juga ada di hadapan dada Jesslyn. Sebelum akhirnya Jamie menaikan baju yang di pakai Jesslyn itu hingga sebatas leher, setelah itu Jamie mulai memasukkan benda favoritnya kedalam mulutnya sehingga dia bisa merasakan kehangatan dari kulit Jesslyn secara langsung.
Jamie kembali tertidur dengan posisi seperti itu tanpa membangunkan sosok Jesslyn yang masih tertidur pulas.
Hingga pagi hari, Jesslyn mulai membuka matanya dan mengedarkan pandangannya pada sekeliling tenda yang tidak menemukan keberadaan Jamie, sebelum akhirnya Jesslyn merasa dingin di bagian tubuhnya yang masih terhalang selimut.
Jesslyn membuka selimut tersebut dan terkejut dengan sosok Jamie yang masih tertidur pulas dengan mulut yang terbuka dan itu berada tepat di hadapan dadanya yang masih terekspos dengan jelas, apa yang dilakukan Jamie padanya semalam? kenapa dia tidak sadar?
Dengan perlahan-lahan, Jesslyn kembali menurunkan bajunya namun Jamie justru seperti bayi yang kehausan dengan mencari letak milik Jesslyn sebelum akhirnya kembali melakukan isapan kecil yang membuat Jesslyn menggigit bibir bawahnya untuk meredam suara anehnya yang mungkin akan keluar jika hal tersebut semakin menjadi-jadi.
Dengan gerakan perlahan, Jesslyn mengambil ponselnya yang ada di samping tubuhnya dan melihat jam yang menunjukan pukul 5 pagi namun keadaan di luar sudah sangat ramai, mungkin mereka ingin melihat sunrise.
Entah kenapa tangan Jesslyn mengarah pada layar kamera dan ingin sekali memotret sosok Jamie yang terlihat seperti bayi menggemaskan ini, Jesslyn mengambil beberapa gambar Jamie yang masih asik tertidur pulas.
"Jamie, bangun... Aku ingin melihat sunrise...." Ucap Jesslyn dengan mengelus rambut Jamie lembut.
"....."
"Jamie...." Panggil Jesslyn lagi dengan memencet hidung Jamie hingga membuat laki-laki itu segera membuka matanya dan menatap Jesslyn dengan mata yang mengantuk.
"Ini masih terlalu pagi Jessy...." Balas Jamie dengan suara seraknya.
"Aku.... Shh... pelan sedikit." Bisik Jesslyn dengan begitu pelan, dia tidak ingin jika Loly dan Nicky mendengar suaranya itu.
"Suara mu sangat seksi darling...." Bisik Jamie dengan menggigit lembut telinga Jesslyn...
"S-sudah hentikan, ayo keluar...."Ajak Jesslyn dengan merapihkan penampilannya, sebelum itu Jesslyn sudah berkaca agar tidak melakukan kesalahan lagi.
"Morning kiss..." Ucap Jamie dengan memonyongkan bibirnya.
"No! kau belum sikat gigi." Tolak Jesslyn dengan keluar dari tenda dan menatap sekeliling yang terlihat indah karena di penuhi oleh kabut yang indah, Jesslyn mengeryit heran karena belum menemukan Loly di sana dan tenda mereka pun masih tertutup rapat.
"Jamie, ayo..." Ajak Jesslyn dengan menarik tangan Jamie yang terlihat malas itu, Jamie lebih suka tidur dengan Jesslyn seperti tadi dari pada keluar di saat udara dingin seperti ini.
"Tunggu Jessy.." Panggil Jamie yang ikut menghampiri Jesslyn yang berdiri di sana, Jesslyn memejamkan matanya untuk menikmati udara pagi yang begitu sejuk, tiba-tiba saja Jesslyn merasakan sesuatu yang melingkar di perutnya lalu kemudian mengecup pipinya lembut.
"Jangan tersenyum, banyak pasang mata yang menatap mu penuh kekaguman termasuk mantan suami mu itu." Bisik Jamie dengan menenggelamkan wajahnya di pundak Jesslyn yang tertutup oleh mantel tebal.
"Meskipun begitu, kau yang paling tampan di antara mereka semua." Balas Jesslyn dengan mengelus puncak kepala Jamie menggunakan sebelah tangannya.
Kegiatan mereka berdua memang di lihat oleh banyak orang, selain karena romantis keduanya juga terlihat seperti orang asing. Terlebih untuk Jamie, banyak pasang mata yang mengagumi nya.
Bahkan, Liam sendiri pun terus memperhatikan mereka berdua yang terlihat bahagia memang. Namun, Liam tidak bisa melepaskan Jesslyn begitu saja karena dia pikir, masih ada dirinya di hati Jesslyn. Tidak mungkin kan Jesslyn melupakan nya dengan begitu cepat? sedangkan Jesslyn mencintai nya sudah bertahun-tahun lamanya, karena itu lah Liam merasa masih ada kesempatan untuk mendapatkan Jesslyn kembali.
•••••
Loly membuka matanya dengan sedikit mengantuk, dia mengerjapkan matanya berkali-kali hingga akhirnya dia tersadar dengan sosok laki-laki yang tengah memeluknya sekarang ini.
Mata Loly membulat sempurna dengan mulut yang tertutup oleh tangannya sendiri,apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dia bisa seperti ini dengan Nicky?
Loly mengingat kembali kejadian semalam namun tidak ada yang ia ingat, Loly hanya ingat bahwa dia sudah terlelap lebih awal dan untuk selanjutnya dia benar-benar tidak tahu.
"Emghhh..." Nicky menggeliat dalam tidurnya, hal itu membuat Loly kembali memejamkan matanya dan ingin melihat reaksi Nicky sekarang.
Mungkin sama sepertinya, Nicky terlihat terkejut dan melihat ke sekeliling. Nicky juga ingin bahwa dirinya tidur di pojok tenda, begitu pun dengan Loly tapi kenapa mereka bisa ada di tengah-tengah dengan posisi dirinya yang memeluk Loly?
"...." Nicky dengan perlahan-lahan mulai melepaskan tangan Loly yang melingkar di pinggangnya, setelah itu Nicky pergi keluar setelah memakaikan selimut untuk Loly agar tidak kedinginan.
Loly yang merasakan itu hanya tersenyum dalam diam, merasa diperlakukan seperti itu saja Loly sudah sangat senang melebihi apapun.