
Jesslyn berjalan dengan begitu anggun dan tegas, dia pergi seorang diri tanpa Jamie maupun Nicky ke tempat hotel milik Jamie. Dia ingin melihat perkembangan untuk pesta pernikahan Liam, apakah semuanya berjalan lancar atau tidak.
"Nona Jesslyn, anda mau pergi ke mana?" Tanya sang resepsionis pada Jesslyn.
"Saya akan melihat perkembangan hotel Jamie, maksud saya tuan Jamie. Jika ada yang bertanya, katakan saja sejujurnya." Balas Jesslyn.
"Baik nona."
"Ah ya, satu lagi.... Katakan juga jika aku baik-baik saja." Sambung Jesslyn.
"Baik nona."
Jesslyn mencari letak mobilnya, dengan cepat dia segera masuk dan membawanya ke tempat tujuan. Di jalan, Jesslyn terlihat tenang dan damai. Sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan seperti ini, biasanya dia selalu merasa was-was dan takut.
"Selamat datang nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Jesslyn, sekertaris pribadi tuan Jamie." Balas Jesslyn dengan memperlihatkan kartu namanya pada mereka yang langsung melotot.
"M-maafkan kami nona, kami tidak tahu. Mari nona..." Ajak nya yang nampak takut-takut itu, bahkan beberapa dari mereka sudah menundukkan kepalanya dan tidak berani menatapnya. Ada apa ini?
"Nona, ini adalah aula yang akan di gunakan untuk pesta pernikahan tuan Tire. Akan ada dua ruangan khusus untuk mereka berganti pakaian, taman belakang hotel juga di gunakan beserta kolam renang utamanya juga." Jelas nya dengan memperlihatkan sebuah tablet yang berisi letak letak nya.
"Sudah berjalan berapa persen sekarang?" Tanya Jesslyn dengan tetap melihat-lihat rancangan nya yang terlihat mewah dan elegan.
"Sekitar 65% nona, tuan Tire ingin saat H-1 semuanya sudah selesai di kerjakan." Balasnya dengan sesekali melirik Jesslyn yang menggunakan kacamata hitamnya.
"Apakah ada monitor di aula utama?" Tanya Jesslyn dengan menatap laki-laki tersebut yang langsung kalang kabut karena Jesslyn membuka kacamatanya.
"Ahh itu, ada nona. Kami akan menayangkan kisah cinta mereka dari awal bertemu hingga sekarang...." Gugupnya.
"Oke, antar aku untuk melihatnya." Ucap Jesslyn dengan memakai kembali kacamatanya.
"Baik nona."
Mereka berjalan beriringan menuju aula utama yang Jesslyn maksud itu, di sana terlihat luas dan ramai sekali para petugas yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Banyak bunga-bunga plastik bertebaran di lantai, mereka yang melihat kedatangan Jesslyn menatapnya heran dan penasaran.
"Dia nona Jesslyn, sekertaris pribadi tuan Jamie." Jelas sosok laki-laki itu dengan memperkenalkan Jesslyn yang hanya mengangguk kecil.
"Apakah ada kendala lain yang kalian alami?" Tanya Jesslyn dengan melihat ke sekeliling.
"Nona, kami hanya merasa tak nyaman saat nona Amber terus datang dan mengomentari semua rancangan disini yang menurutnya kurang memuaskan, padahal kami belum menyelesaikan hingga selesai." Jelas salah satu dari mereka.
"Ada lagi?" Tanya Jesslyn.
"Nona, nona Amber juga tidak ingin ada pelayan yang berwajah jelek di saat acaranya nanti karena takut membuat nafsu makan para tamu hilang." Ucap salah seorang yang berkulit hitam dan memang terlihat biasa.
"Untuk masalah itu tidak masalah karena semua pelayan akan memakai masker dan juga kacamata hitam, pastikan penampilan kalian yang utama. Untuk wajah, itu sudah menjadi takdir kita... Jangan pernah merasa terkucilkan, setiap kekurangan pasti ada kelebihannya." Jelas Jesslyn.
"Baik nona."
"Sedangkan untuk nona Amber yang sering datang kemari, tolak dia jika ingin datang lagi! Jika dia marah, katakan saja hotel ini bukan hotel miliknya! kami sudah pasti akan menyiapkan semuanya dengan semaksimal mungkin, dia baru bisa melihat setelah H-1 pernikahannya." Jelas Jesslyn lagi.
"Baik nona..." Senang mereka.
"Mulai sekarang fokus saja pada pekerjaan kalian semua, jangan menghiraukan yang lainnya."
"Terimakasih nona."
"Oke..." Jesslyn berjalan ke arah monitor yang tergulung di atas, terlihat besar dan juga sangat pas dengan aula yang besar itu.
"Panggilkan semua orang yang bertugas di bagian soundsystem." Ucap Jesslyn.
"Baik nona."
Jesslyn melihat ke sekeliling, dia melihat kursi kosong yang dia tahu itu bekas mereka Injak saat memasangkan aksesoris nya.
"Tidak apa-apa." Balas Jesslyn dengan santai.
Semuanya hanya diam dan saling pandang, Jesslyn sendiri sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang ia lakukan, yang jelas dia terlihat fokus dengan ponselnya.
"Nona, mereka sud..."
Jesslyn mengangkat tangannya menyuruh mereka untuk diam, dia segera mengangkat sambungan ponselnya yang berbunyi.
"Ada apa?"
"Kau di mana?"
"Di hotel mu."
"Kau, kembalilah....!"
"Tidak mau Jamie, aku akan mengurus semua permasalahan yang ada disini." Tolak Jesslyn.
"Tapi..."
"Bukankah kau punya hadiah yang ingin di berikan kepadaku? kirimkan sekarang, aku tahu apa maksud dari hadiah itu." Senyum Jesslyn.
".....Oke."
Jesslyn mematikan sambungan teleponnya dan menunggu sebentar, detik berikutnya dia menerima sebuah pesan dari Jamie yang memperlihatkan sebuah video. Itu terlihat sangat menjijikkan oleh nya!
"Di mana orang yang bertugas?" Tanya Jesslyn dengan menutup ponselnya.
"Saya nona, saya ketuanya." Balasnya dengan sedikit takut, mereka mendengar dengan jelas jika Jesslyn memanggil Jamie tanpa embel-embel tuan, bukankah itu berarti hubungan mereka dekat?
"Ikut denganku." Ucap Jesslyn dengan berjalan pergi dari sana menuju sebuah ruangan yang sepi.
"Nona.."
"Lihat video ini." Jesslyn memberikan ponselnya yang memperlihatkan sebuah video pada laki-laki tersebut yang nampak melotot tak percaya.
"Ini..." Takutnya.
"Tunggu aba-aba dariku, jika kau menolak!! kau tahu sendiri akibatnya...!!" Datar Jesslyn.
"Saya mengerti nona..." Patuhnya.
"Bagus." Senyum Jesslyn yang kembali pergi untuk melihat-lihat perlengkapan di sana.
"Aku mempunyai hadiah yang luar biasa untuk mu Liam....." Gumam Jesslyn dengan tersenyum miring, dia ingin melihat awal kehancuran Liam.
"Apa yang kalian lakukan? cepat minggir!!! aku ingin melihat persiapan pestanya!!!"
Jesslyn melipat kedua tangannya di dada, dia bersandar pada dinding dan tertawa kecil. Dia melihat Amber yang begitu emosi dan terus marah-marah dan mengancam akan membatalkan tempat tersebut, namun jika di batalkan maka semua tempat yang ada di negara tersebut akan ikut menolaknya karena menghargai Jamie. Bukankah itu mempermalukan diri sendiri?
"Nona..." Sapa seseorang dengan menundukkan kepalanya.
"Ya?"
"Saya sekertaris Jery, saya asisten dari rekan tuan Jamie. Saat ini beliau sedang sibuk dan menyuruh anda untuk menggantikan nya, mari...." Jelasnya.
"Ehh apa? tunggu, tunggu sebentar... Maksudmu meeting?" Kaget Jesslyn.
"Benar nona, meeting dengan beberapa pimpinan besar yang bekerja sama dalam bidang perhotelan ini. Tuan Jamie bilang, anda memiliki ide yang luar biasa untuk di sampaikan." Jelas nya dengan tersenyum lebar.
".... Tunggu sebentar." Jesslyn segera membuka ponselnya dan menghubungi nomor Jamie, apa maksud Jamie sebenarnya?
"Akhhh Jamie sialan!!! kenapa dia tidak bisa di hubungi?!!" Marah Jesslyn dengan bertolak pinggang, apakah ini karma nya karena sudah tertawa di atas penderitaan Amber tadi?