
Lelah, Jesslyn tertidur lelap dalam pelukan Jamie. Setelah dari taman hiburan mereka pergi ke pantai karena Loly ingin pergi kesana, Jesslyn langsung mengikutinya dan Jamie hanya bisa menuruti kemauan Jesslyn yang tidak bisa ia tolak.
"Antarkan Loly dengan selamat." Ucap Jamie pada Nicky.
"Baik tuan."
Jamie menggendong tubuh Jesslyn dan masuk kedalam apartemen Jesslyn, mereka menjadi pusat perhatian padahal sekarang sudah pukul dini hari namun Jamie tidak peduli, dan lagi tidak ada yang berani mengusiknya.
Dengan sedikit kesulitan, Jamie membuka pintu apartemen Jesslyn sebelum akhirnya masuk dan menguncinya kembali. Jamie membawa tubuh Jesslyn kedalam kamar dan meletakkannya di atas ranjang, sebelum akhirnya menutupi tubuhnya dengan selimut.
Jamie kembali pergi setelah meletakkan Jesslyn, Jamie ingin mandi dan berganti pakaian. Karena itulah Jamie segera bersiap, Jamie tidur ingin dalam keadaan yang bersih agar Jesslyn menyukainya.
Setelah di rasa selesai, Jamie kembali ke samping Jesslyn dan mulai tidur dengan memeluknya. Jamie merasa puas karena sudah menghabiskan waktunya dengan Jesslyn, Jamie harap hubungan mereka akan tetap seperti itu.
••••
Seorang wanita cantik yang tengah duduk di atas kursi roda dengan selang infus yang menancap di tangannya membuat penampilannya terlihat menyedihkan, wajah yang pucat dan sedikit kurus itu membuat sosoknya begitu di kasihani oleh orang-orang rumah.
"Sabrina, apa ada sesuatu yang kau butuhkan sayang?" Tanya seorang wanita setengah baya yang wajahnya begitu cantik meskipun sudah tidak muda lagi.
"Dimana Jamie? aku ingin bertemu dengannya..." Ucapnya dengan pelan.
Wanita paruh baya itu menatap laki-laki yang menjadi suaminya itu, laki-laki itu terlihat mirip dengan mama Lita.
"Rina, saat ini Jamie sedang berlibur bersama Jesslyn." Ucap mama Lita dengan tersenyum kecil.
"Apakah wanita itu kekasihnya?" Tanya Sabrina dengan menatap Lita yang hanya tersenyum.
"Dia calon istriku!"
Semua orang langsung menatap kearah sumber suara, di sana terlihat sosok Jamie yang sedang menggandeng tangan Jesslyn yang terlihat begitu cantik dengan dress putih di atas lutut yang memperlihatkan sebelah pundaknya, rambut panjangnya disusun sedemikian rupa hingga membuat Jesslyn terlihat cantik dan anggun.
"Jamie?" Ucap mereka.
"Ma, apa kabar?" Sapa Jesslyn dengan memeluk mama Lita yang langsung memeluknya gemas itu, dia sudah melihat hubungan mereka yang berkembang pesat itu.
"Kabar baik sayang, ayo duduk.." Ajak Lita dengan membiarkan Jamie begitu saja.
"Sayang, kenalkan... Dia om Henry kakak dari mama dan tante Marlin istrinya, untuk gadis cantik itu dia Sabrina, anaknya." Jelas mama Lita.
"Ahh, saya Jesslyn." Ucap Jesslyn dengan menundukkan kepalanya dan tersenyum kecil.
"Kau sangat cantik, pantas saja Jamie begitu tergila-gila padamu." Ucap om Henry dengan tersenyum pada Jesslyn yang hanya mengangguk pelan.
Sedangkan untuk tante Marlin, dia hanya diam dengan menatap Jesslyn penuh kekesalan. Jesslyn melirik ke arah Sabrina yang tengah menatapnya penuh kebencian namun harus terlihat baik, Jesslyn yang sudah hafal dengan eskpresi wajah seseorang hanya bisa tersenyum diam-diam.
Jesslyn juga melirik Jamie yang hanya diam dengan ekspresi datarnya, sepertinya Jamie sudah tahu mengenai hal ini. Lalu kenapa?
"Jamie, kau sudah melamar Jessy?" Tanya mama Lita dengan memegang tangan Jesslyn yang terdapat sebuah cincin disana.
"Apa?!! kau, kau serius Jamie? apa kau tidak malu menikahi wanita yang pernah menikah sebelumnya?!" Tanya tante Marlin tanpa sadar.
"LANCANG!" Marah Jamie dengan bangkit dari duduknya.
Semua yang ada disana langsung diam kecuali Jesslyn yang langsung menyentuh pundak Jamie, Jamie terlihat sangat marah. Pantas saja Jamie sangat malas untuk bertemu dengan saudaranya ini, ternyata ini alasannya... Pantas saja.
"Jamie, maafkan Marlin. Tolong jangan emosi ya?" Ucap om Henry dengan tersenyum hangat, dia terlihat sangat baik.
"Cih!" Jamie mendengus kesal, wajahnya masih sama terlihat dingin dan datar.
"Jamie..." Panggil Sabrina dengan pelan, dia terlihat mimisan dan wajahnya semakin pucat.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? sebaiknya kita kembali ke rumah sakit....Jamie, bisakah kau membantu tante untuk membawa Sabrina?" Cemas tante Marlina dengan menatap Jamie penuh permohonan.
"Jamie..." Ucap mama Lita.
"Aku lelah! Jessy, ayo...." Ajak Jamie dengan menggandeng tangan Jesslyn yang hanya diam dengan menurut dan membawanya pergi ke dalam kamar tanpa menghiraukan panggilan mereka.
"Jamie, ada apa ini sebenarnya?" Tanya Jesslyn dengan duduk di samping Jamie.
"Seperti yang mama katakan, mereka adalah saudara mamaku. Mama ku terlalu baik, kau tahu? wanita gila itu pernah membuat mama keguguran dan.... Dan juga pernah tidur dengan papa ku dulu, itu bukan semata-mata karena papa ku tergoda melainkan karena dia beri obat. Tapi, mama dan om Henry begitu baik hati dan selalu memaafkan kesalahannya." Jelas Jamie yang membuat Jesslyn terkejut bukan main, Kenapa orang sepertinya masih di terima baik? pantas saja mama Lita begitu di kagumi oleh semua orang, ternyata sikapnya sangat baik.
"Lalu, gadis itu?" Tanya Jesslyn dengan berdiri di belakang Jamie dan memijat kepalanya dengan lembut.
"Hhhh... Dia Sabrina, dia begitu menyukai ku sejak dulu. Bahkan, dia juga mirip seperti ibunya yang selalu memberikan aku obat tidur, untung nya aku tidak sebodoh mereka sehingga aku bisa menghindar darinya. Kau tahu? dia bukan anak resmi dari om Henry, dia anak selingkuhannya tapi om begitu bodoh dan mudah di hasut oleh nya." Jelas Jamie dengan mata yang terpejam.
"Astaga, aku tidak tahu ternyata mereka seperti itu. Aku merasa kasihan pada mama Lita dan om Henry, apakah mereka tidak bisa meninggalkan nya?" Tanya Jesslyn dengan duduk di samping Jamie hingga membuat Jamie merebahkan kepalanya di paha Jesslyn yang kembali memijat pelipisnya.
"Entahlah, mama selalu mengatakan bahwa wanita gila itu tidak memiliki sanak saudara sehingga mereka terus menerimanya dan berharap wanita itu akan tobat."
"..... Lalu, sakit apa wanita itu? maksud ku, Sabrina."
"Dia menderita leukimia, hal itu berlangsung sudah sangat lama tapi anehnya dia masih hidup sampai sekarang." Kesalnya yang justru malah membuat Jesslyn tersenyum menahan tawa, apakah Jamie mengharapkan nya mati?
"Aku lihat dia juga sangat licik, saat aku menatapnya tadi dia seperti sedang memperingati ku untuk hati-hati. Bagaimana ini? aku merasa takut?" Cibir Jesslyn yang kini malah membuat Jamie terkekeh pelan.
"Seekor ayam ingin mematuk elang? sepertinya dia harus berlatih kembali..."Ucap Jamie dengan tersenyum pada Jesslyn yang tertawa pelan.
"Apakah kau mau mengajari ku caranya menggunakan pistol sayang?" Tanya Jesslyn yang membuat Jamie terkejut, dari mana Jesslyn tahu bahwa dia bisa menggunakan pistol?
Melihat ekspresi Jamie yang kaget, Jesslyn hanya tersenyum kecil dan meraba dada Jamie laku turun kebawah dan berhenti di saku yang ada di pinggang Jamie, Jesslyn mengambilnya dengan lembut dan melihat pistol tersebut dengan ekspresi yang.... Menilai.
"...." Jamie hanya diam dan tidak tahu harus mengatakan apa, Jesslyn terlihat aneh dan berbeda. Jesslyn terlihat seperti bunga mawar yang sangat indah namun di balik keindahan itu terdapat duri yang tajam!
"Kau pikir kau bisa mengelabui ku? tuan mafia!"