Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Undangan



Semua orang menatap Jesslyn yang berjalan di samping Jamie, terlebih penampilannya yang begitu cantik. Jesslyn memakai rok span pendek berwarna putih dengan tangtop putih yang dipadukan dengan blazer dengan warna senada, rambut perak nya ia ikat tinggi sehingga memberikan kesan anggun dan tegas.


Terlebih, Jesslyn selalu tersenyum ramah semenjak datang ke kantor tersebut. Mereka sangat penasaran dengan sosok nya, apakah itu wanita yang di bawa Jamie dari luar negeri? pikir mereka dengan penasaran.


Di dalam ruangan Jamie, Jesslyn langsung mendudukkan dirinya di sofa. Dia benar-benar lelah karena terus berjalan, ruangan Jamie sangat jauh!!


"Mulai sekarang kau bekerja sebagai sekertaris ku." Ucap Jamie.


"Sekertaris? kau yakin?" Tanya Jesslyn dengan menatap Jamie tak yakin, bukankah Jamie sudah memiliki sekertaris?


"Ya, sekertaris pribadi." Balas nya dengan tersenyum kecil, Jesslyn yang melihat itu hanya mengangguk tak mengerti, bagi nya sama saja dengan sekertaris kedua.


"Lalu, di mana kursi dan meja kerjaku?" Tanya Jesslyn dengan bangkit dari duduknya.


"Terserah pada mu, kau mau nya di mana?" Tanya Jamie dengan memangku wajahnya.


"Bagaimana jika di tempat mu?" Tanya Jesslyn dengan tersenyum kecil.


"Kau mau duduk di pangkuan aku lagi? kemarilah..." Jamie merentangkan kedua tangannya.


"Lupakan...." Kesal Jesslyn yang membuat Jamie terkekeh.


"Meja mu ada di samping meja Nicky, kau bisa bertanya pada nya jika ada sesuatu yang masih belum bisa kau pahami." Jelas Jamie dengan bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Jesslyn.


"Aku mengerti." Angguk Jesslyn.


"Berapa bahasa yang kau kuasai?" Tanya Jamie dengan merapihkan helaian rambut Jesslyn yang nampak di biarakn terurai sedikit di depan.


"5, kenapa? apa semua berkas nya menggunakan bahasa asing?" Tanya Jesslyn.


"Ya."


"Oke aku paham, aku pergi dulu... Jangan panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu, panggil Nicky saja.. ." Pamit Jesslyn yang lagi-lagi membuat Jamie menggelengkan kepalanya saja.


Jesslyn celingak-celinguk saat keluar dari ruangan Jamie, merasa aman barulah dia keluar dan berlari kecil ke arah meja nya.


"Nona Jesslyn?" Sapa seseorang yang membuat Jesslyn terlonjak kaget, dia pikir di sana tidak ada siapa-siapa ternyata ada Nicky di bawah meja nya.


"Sedang apa?" Tanya Jesslyn dengan penasaran.


"Pena ku jatuh, apakah urusan mu dengan tuan sudah selesai?" Tanya nya yang kembali duduk di kursinya.


"Ahh sudah..." Angguk nya dengan melihat-lihat isi meja nya yang sudah lengkap di sana, namun saat Jesslyn menyalakan komputer nya dia lagi-lagi di kejutkan dengan isi wallpaper nya.


"Gila!!" Kesal Jesslyn dengan segera mengganti wallpaper komputer nya yang bergambar wajah Jamie yang sedang bertelanjang dada, Nicky yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja karena dia merasa lucu dengan tingkat Jamie yang baru kali ini mengisengi wanita.


•••••


Jesslyn terdiam dengan ekspresi bodohnya, saat ini sudah memasuki jam makan siang. Nicky yang melihat itu langsung terkekeh, mungkin karena pekerjaannya yang berbeda dari yang lain.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Nicky dengan memberikan kopi pada Jesslyn.


"Ya, masih sedikit waras, belum gila!" Balas nya dengan meneguk kopi tersebut tanpa basa-basi.


"Ukhukk... Panas!!! Ukhukk Ukhukk... Lidahku!!!" Jesslyn terbatuk-batuk dengan lidah yang menjulur keluar, Nicky langsung meringis dan menggaruk tengkuknya.


"Ada apa ini?" Tanya Jamie yang datang dan terheran-heran saat melihat Jesslyn yang terlihat kesal pada Nicky dengan lidah yang menjulur berwarna merah.


"Tuan? nona Jesslyn tidak sengaja meminum kopi yang masih panas hingga membuat lidah nya melepuh." Jelas Nicky dengan tersenyum bodoh.


"Apa? bagaimana kau bisa melakukannya? apa kau bodoh?" Tanya Jamie yang langsung memeriksa mulut Jesslyn tanpa rasa sungkan sedikit pun, Jesslyn dalam posisi sedikit mendongak itu hanya diam dengan mata yang berkedip-kedip lucu saat Jamie meniup mulutnya.


Bahkan, kedua tangannya memegang bibir Jesslyn. Merasa aneh dengan situasi seperti itu akhirnya Jesslyn mundur beberapa langkah...


"Sudah, sudah membaik." Ucap Jesslyn dengan tampang bodohnya.


"Kau yakin? aku akan memanggilkan dokter sekarang, jangan sampai kau terluka!" Ucap nya dengan terburu-buru, melihat ekspresi panik dari Jamie membuat Jesslyn terdiam. Apakah begini rasanya di perhatikan dan di khawatirkan oleh seseorang?


"Aku baik-baik saja Jamie, aku sudah terbiasa mendapatkan luka. Jadi, jangan khawatir oke?" Cegah Jesslyn.


"..... Mulai sekarang kau tidak akan lagi terluka, jika terluka pun aku akan langsung mengobati nya." Ucap Jamie setelah diam beberapa saat sebelum akhirnya menghubungi dokter pribadinya untuk datang ke kantor.


"....."


"Masuklah." Ajak Jamie pada Jesslyn yang hanya mengangguk dengan patuh, ternyata menyenangkan juga rasanya saat ada yang memperhatikan nya seperti ini. Jesslyn merasa di jaga dan di lindungi, tanpa sadar Jesslyn tersenyum di setiap langkahnya dengan menatap belakang tubuh Jamie.


"Tuan, ada undangan dari perusahaan Tire." Ucap Nicky dengan membawa surat undangan yang terlihat mewah dan mahal, Jesslyn yang mendengar itu tersentak kaget dan segera mengambil alih dari tangan Nicky.


"Ternyata dugaan ku benar..." Jesslyn tersenyum kecut saat melihat nama William dan Amber di surat undangan tersebut, tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Meskipun dia sudah ikhlas, tetap saja melihat surat undangan atas nama laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu sangat lah menyesakkan dada.


"Aku akan datang dengan Jessy, siapkan gaun terbaru untuk kami berdua." Balas Jamie pada Nicky.


"Lalu bagaimana dengan saya tuan?" Tanya nya dengan eskpresi sedih nya.


"Terserah, aku tidak peduli." Balas Jamie yang membuat Nicky cemberut sebelum akhirnya pergi dari sana.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jamie dengan menyentuh pundak Jesslyn.


"Sesak, dadaku begitu sesak." Jujur Jesslyn dengan suara yang lirih.


"Tenanglah..."


"Bahkan, baru kemarin kita bercerai secara resmi. Apakah dia tidak memikirkan perasaanku? hahaha aku lupa, Bukankah selama ini juga dia tidak memikirkan nya?" Jesslyn tersenyum kecut, tidak ada lagi air mata yang keluar.


"Jika kau seperti ini terus laki-laki itu akan semakin senang melihatnya, kau harus bangkit dan membuktikan pada dirinya bahwa kau juga bisa bahagia bahkan lebih bahagia saat terlepas dari nya." Jelas Jamie dengan duduk di samping Jesslyn.


"Apa maksudmu? kau tahu sendiri aku tidak pernah memiliki laki-laki lain selama ini!!" Kesal Jesslyn.


"Kau bisa memanfaatkan aku, aku rasa aku lebih segalanya dari dia. Aku tampan, aku juga sangat kaya. Benar bukan?" Tanya Jamie yang membuat Jesslyn terdiam.


"...."


"Kenapa? apa kau ragu? apa kau tidak percaya pada ku?" Tanya Jamie.


"Bukankah laki-laki seperti mu memiliki banyak wanita? apakah aku harus mempercayai laki-laki seperti itu?" Tanya Jesslyn yang justru malah membuat Jamie tertawa terbahak-bahak.


"Kau orang pertama yang berbincang santai dengan ku, kau juga orang pertama yang aku perlakukan seperti ini. Apa kau masih ragu padaku?"