Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Pemikiran kolot



Mama Lita datang kekantor milik Jamie dengan membawa beberapa makanan, dia terlihat begitu senang dan berbunga-bunga. Pasalnya, semalam Jamie tidak pulang dan menginap di apartemen Jesslyn, di tahu bahwa keduanya sudah mulai timbul rasa suka. Sudah lama sekali dia ingin segera menggendong cucu, berharap cuaca kali ini membuat keduanya semakin lengket dan terus berusaha agar membuahkan hasil yang bagus.


"Selamat sore nyonya..." Sapa mereka dengan tersenyum lebar dan menundukkan kepalanya dengan kompak.


"Ah ya, apakah Jamie dan Jessy ada di atas?" Tanya nya dengan sangat antusias.


"Untuk tuan, dia ada di atas tapi nona Jesslyn baru saja keluar untuk membeli sesuatu. Mungkin sebentar lagi datang..." Jelas resepsionis itu dengan tersenyum.


"Ahh begitu, baiklah..."


Mama Lita melihat-lihat sekelilingnya, akhirnya tatapan matanya tertuju pada sosok wanita yang datang dengan membawa payung hitam dengan tangan yang memegang sesuatu. Terlihat asap mengepul di sana, sepertinya itu makanan pedas yang sering ia lihat di pinggir jalan.


"Jessy?" Panggil mama Lita dengan tersenyum lebar.


"Mama?" Kaget Jesslyn dengan segera menghampirinya.


"Bagaimana kabarmu sayang? kau terlihat sedikit berisi ya?" Ucapnya dengan membalikkan tubuh Jesslyn untuk memastikan, apakah Jesslyn sudah isi? konyol memang.


"Aku baik-baik saja ma, ayo masuk.." Ajak Jesslyn dengan menggandeng lengannya.


Mereka terlihat anak dan ibu yang harmonis, bahkan keduanya terlihat bahagia. Sudah bisa di pastikan bukan seberapa tinggi posisi Jesslyn saat ini?


"Nyonya..." Sapa Nicky dengan bangkit dari duduknya dan segera menundukkan tubuhnya.


"Nicky, apa kau sudah makan?" Tanya mama Lita.


"Belum nyonya." Jujurnya.


"Kau ini, ayo masuk. Kita makan sama-sama..." Ajak mama Lita dengan menarik tangan Nicky yang sudah terbiasa dengan hal itu.


Jesslyn hanya tersenyum dan ikut masuk dengan membawa makanannya, itu adalah Tteokbokki kesukaannya. Bukankah sangat enak memakan makanan berkuah yang pedas seperti itu?


"Mama?" Kaget Jamie yang langsung menghampirinya, Jesslyn duduk di sofa dan segera meletakkan makanannya.


"Ayo makan.." Ajak mama Lita dan duduk di samping Jesslyn, di samping Jesslyn ada Jamie yang hanya diam.


"Ini sup sangat cocok untuk mu, ini membuat stamina mu kuat, jangan sampai Jesslyn tidak puas dengan mu." Ucap mama Lita dengan memberikan mangkuk sup itu pada Jamie.


"Apa maksud mama?" Heran Jamie dengan sedikit aneh, di dalam ucapan mama nya terdapat sebuah makna yang aneh.


"Itu, nyonya pikir tuan tidak bisa memuaskan Jesslyn di ranjang. Benarkan nyonya?" Polos Nicky dengan lahap memakan makanan tersebut.


"Ukhukk Ukhukk Ukhukk..." Jesslyn terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah karena pedas, itu benar-benar menyiksanya.


"Hati-hati...." Ucap Jamie dengan menepuk-nepuk pundak Jamie dan mama Lita segera memberikan minum pada Jesslyn yang masih terlihat kepedesan bahkan sampai meneteskan air matanya saking perihnya di tenggorokan.


"Kita pergi ke dokter yaa..." Ajak mama Lita dengan cemas.


"Tidak usah...Ini akan segera membaik." Tolak Jesslyn dengan terus minum.


"Kau yakin?" Tanya Jamie dengan cemas.


"Hmm..." Angguk Jesslyn dengan menghela nafas lega, dia hampir mati karena tersedak.


"Malam ini, kau akan tidur dengan Jesslyn lagi?" Tanya mama Lita dengan penasaran, dia harap Jamie tidur di apartemen nya lagi.


"Ya, selama musim hujan ini mungkin aku akan menemani nya." Jujur Jamie dan Jesslyn hanya diam, itu karena Jesslyn tahu bahwa Jamie tidak ingin meninggalkannya karena takut seperti semalam lagi.


"....."


"Kalau begitu mama pulang dulu, mama akan mengabari hal ini pada saudara mu bahwa sebentar lagi mama akan memiliki cucu hahahaa.... Jangan terlalu lelah ya sayang." Ucapnya dengan begitu gembira.


"...."


"...."


Jesslyn dan Jamie hanya diam dengan saling pandang, mereka tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang tua sekarang. Apakah di setiap menginap itu selalu melakukan hubungan badan? padahal, ciuman saja mereka belum pernah.


"Tuan, saya makan di luar saja." Pamit Nicky juga dengan membawa makanannya dan segera pergi dari sana.


Kini yang ada didalam ruangan hanya Jesslyn dan Jamie saja yang nampak bingung dengan mereka berdua, Jamie sangat tahu apa yang di harapkan oleh mama nya itu, begitu pun dengan Jesslyn.


"Itu...." Gugup keduanya.


"Hmm lupakan, jangan dengarkan apa kata mama. Apa yang kau makan itu?" Heran Jamie, itu terlihat sangat enak.


"Mau?" Tawar Jesslyn dengan mengangkat sumpit nya.


"...." Jamie tidak mengatakan apapun, tapi mulutnya terbuka lebar.


Dengan pelan, Jesslyn menyuapinya. Awalnya Jamie merasa asing dengan rasa tersebut, namun setelah beberapa saat akhirnya dia mengangguk paham. Itu terasa sangat enak, dan membuat kepalanya yang semula pusing kini sudah sedikit membaik karena rasa pedas itu.


"Enak." Angguk Jamie dengan menerima suapan lagi dari Jesslyn yang hanya menggelengkan kepalanya saja, dia pikir Jamie tidak menyukainya.


Hingga akhirnya tersisa satu potong lagi, Jamie melirik Jesslyn begitu pun Jesslyn yang melirik Jamie. Dengan cepat Jesslyn memakannya dan tersenyum puas pada Jamie karena dia yang lebih cepat memakannya, namun Jamie justru tersenyum miring yang membuat Jesslyn merasa aneh.


Tanpa di duga, Jamie merebut Tteobokki itu dengan mulutnya hingga membuat Jesslyn melotot tak percaya. Dia bisa merasakan bibir Jamie yang menyentuh bibirnya, setelah melihat ekspresi bodoh Jesslyn, Jamie segera mengambil nya dan memakannya dengan puas.


"Ini jauh lebih enak." Jujur Jamie dengan menjilat bibirnya sendiri.


"Kau.... Kau mengambil ciuman pertamaku... Kau!!! JAMIEEEEEEE!!!" Marah Jesslyn dengan memukuli tubuh Jamie yang hanya tertawa puas, dia sangat senang melihat Jesslyn yang marah seperti ini.


"Kenapa kau melakukannya dalam situasi seperti ini? sangat tidak romantis!!" Kesal Jesslyn yang membuat Jamie mengeryit heran.


"I-itu.... Lupakan!" Malu Jesslyn yang segera pergi dari sana.


Jamie diam beberapa saat untuk mencerna apa yang Jesslyn katakan barusan, hingga akhirnya Jamie terkekeh. Ternyata Jesslyn memang menginginkan ciuman tersebut, pantas saja.....


"Sepertinya aku memang sudah berada didalam hatimu Jes...." Senang Jamie dengan tersenyum puas.


••••


Jesslyn merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia mengatakan hal tersebut secara gamblang? apa yang akan Jamie pikirkan nanti? dia benar-benar malu saat ini!!


"Jes, apa kau sudah membuat rincian tentang perusahaan tuan Marsen? kau tidak lupa kan bahwa besok kau ada rapat dengannya?" Tanya Nicky.


"Aku lupa! aku akan menyelesaikannya malam ini, terimakasih karena sudah mengingatkan aku." Senang Jesslyn, kenapa dia bisa lupa tentang proyek itu?


"Tidak apa, katakan saja jika kau membutuhkan bantuan ku." Senyum Nicky.


"Maaf merepotkan mu Nic, kalau begitu tolong selesaikan pekerjaan ku ini. Aku akan segera kembali, ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu." Senyum Jesslyn dengan berlari kecil dari sana.


"Jesslyn!! astaga.... Dia benar-benar tidak punya urat malu!" Ucap Nicky dengan menggelengkan kepalanya saja, dia pikir Jesslyn akan sungkan padanya. Tapi ternyata?