
Jamie diam membisu saat melihat Jesslyn yang sedang menembakkan pistolnya dengan begitu lihai, Jamie tidak tahu kenapa dia bisa lalai dalam kehidupan Jesslyn? dari mana Jesslyn belajar?
"Aku pernah ikut kelas menembak saat bersama ayahku dulu, jangan lupakan bahwa ayahku mantan seorang panglima di Inggris. Tapi, sudah dua tahun ini aku tidak menyentuh benda seperti ini lagi, karena itulah aku ingin kau mengajari ku....Sayang!" Ucap Jesslyn dengan menghampiri Jamie yang terlihat seperti orang bodoh.
"Darling, kau membuat ku tidak bisa berkata-kata. Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? dan lagi, dari mana kau tahu bahwa aku seorang mafia?" Tanya Jamie dengan memeluk pinggang Jesslyn, saat ini Jesslyn hanya menggunakan bra sport dan celana pendek hitamnya yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat seksi.
"Terkadang, menjadi orang bodoh dan pura-pura bodoh itu sangatlah tipis." Ucap Jesslyn dengan mendorong tubuh Jamie hingga mundur beberapa langkah.
"Lalu kenapa kau mau di perbudak olehnya?" Tanya Jamie dengan heran.
"Kau tahu? cinta bisa membuat seseorang itu menjadi bodoh, seperti kau contoh nya!" Senyum Jesslyn.
"Itu memang benar, aku tidak peduli bagaimana pun akhirnya kau itu hanya milikku." Ucap Jamie dengan memeluk Jesslyn dan memegang kedua dada Jesslyn dengan gemas, hal itu membuat Jesslyn melotot dan menggeplak tangan Jamie yang bertindak sembarangan itu.
"Hentikan! kau pikir dadaku ini squisy?" Kesal Jesslyn yang justru malah membuat Jamie tertawa terbahak-bahak, ucapan Jesslyn benar-benar lucu.
"Milikmu jauh lebih lembut darling..." Ucap Jamie dengan mencium leher Jesslyn yang berkeringat itu.
"Jangan mencium ku Jamie, aku sedang berkeringat." Ucap Jesslyn dengan mendorong kepala Jamie.
"Kau sangat harum." Jujur Jamie dengan terus mengecupi leher dan pundak Jesslyn yang terlihat begitu menggoda itu.
"Ukhukk... Tuan." Ucap Nicky dengan tubuh yang terbalik, dia tidak berani melihat Jesslyn yang sedang berpakaian terbuka itu, meskipun sudah terbiasa namun tetap saja dia menghormati Jamie sebagai laki-lakinya.
"Ada apa?" Tanya Jamie dengan melepaskan ciumannya dari tubuh Jesslyn dan segera menghampiri Nicky.
"Tempat untuk Jesslyn latihan sudah siap, apakah tuan mau pindah?" Tanya Nicky.
Saat ini, Jesslyn memang sedang berada di markas cabang milik Jamie yang ada di tempat tersembunyi, Jesslyn yang mendengar itu langsung sumringah.
"Ayok..." Ajak Jesslyn dengan memakai jas milik Jamie dan segera pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua yang hanya saling pandang sebelum akhirnya ikut menyusul Jesslyn.
Semua bawahan Jamie langsung menundukkan kepalanya saat melihat sosok Jesslyn yang terlihat antusias itu, ini pertama kalinya ada seorang wanita di antara mereka. Terlebih, wanita itu milik bos mereka yang sangat di cintai oleh Jamie.
"Darling, sebelum memulai kau harus menguatkan fisikmu terlebih dahulu. Angkat semua karung-karung itu dan pindahkan ketempat yang sudah di tentukan, setelah itu bawa lari semua tumpukan ban yang terikat dengan tambang, lalu latih otot perutmu dengan melakukan gerakan kecil." Ucap Jamie dengan begitu tegas, Jesslyn yang mendengar itu hanya cemberut.
Mereka pikir Jamie akan meringankan sedikit latihan Jesslyn karena Jesslyn kekasihnya, tapi ternyata dugaan mereka salah.
"Sayang, ringankan sedikit ya..." Pinta Jesslyn dengan merangkul lengan Jamie.
"Tentu, kecuali kau...." Jamie memajukan wajahnya kedepan wajah Jamie, melihat itu Jesslyn langsung mengecup bibir Jamie singkat dan tersenyum manis.
"Oke, lakukan semampu mu. Jangan terlalu lelah darling...." Ucap Jamie dengan tersenyum kecil.
Para bawahan yang semula memuji Jamie karena sikap profesional nya itu langsung mereka telan kembali, mereka tahu bahwa Jamie hanya luluh pada Jesslyn.
"Tentu..."
Jesslyn langsung melakukan gerakan yang di perintahkan oleh Jamie, semua bawahan Jamie ikut menontonnya dengan tatapan yang membuat Jamie ingin sekali mencopot semua mata mereka.
"Apa yang kalian lihat!" Tanya Jamie dengan datar.
Saat ini, Jesslyn terlihat cantik dan seksi dengan melakukan gerakan-gerakan yang sulit itu, terkadang bagian dada Jesslyn terlihat berguncang dengan begitu menggoda.
Mereka yang mendengar kemarahan Jamie langsung pergi dari sana, mereka lupa bahwa Jamie benar-benar mengerikan jika sudah menyangkut tentang Jesslyn.
"Tuan." Ucap Nicky dengan mata yang terpejam.
"Pergi." Ucap Jamie pada Nicky yang langsung mengangguk.
Jamie duduk di salah satu kursi dan terus menatap sosok Jesslyn yang terlihat berbeda dari biasanya, wajah yang semula lemah lembut kini terlihat tegas dan datar. Senyum Jamie terus mengembang karena dia tidak menyangka akan menemukan berlian seperti Jesslyn yang memiliki banyak kemampuan tersembunyi dalam dirinya.
"Tante, aku mohon..." Tangis Sabrina.
"Maafkan tante sayang, tante tidak bisa melakukannya karena Jamie sudah memiliki pemikirannya sendiri dan sekarang sudah ada Jessy di sampingnya, itu akan semakin sulit." Jujur mama Lita dengan sedikit tak enak.
"Ma..." Rengek Sabrina pada Marlina yang langsung menatap mama Lita.
"Lita, paksa Jamie untuk datang kemari. Apakah kau tega melihat putri ku seperti ini?" Tanya tante Marlina dengan menatap mama Lita dengan tatapan penuh menuntut.
"Kak Marlina, aku tidak bisa menentang keputusan Jamie. Bukankah sudah aku katakan berkali-kali bahwa Jamie tidak ingin berurusan dengan hal ini?" Tanya mama Lita yang mulai emosi ini.
"Kau! kau mulai perhitungan lagi dengan keluarga ku hah?!" Marah tante Marlina yang justru malah membuat mama Lita tersenyum kecil.
"Aku bukan perhitungan, aku hanya mengatakan bahwa kebahagiaan anakku jauh lebih penting dari pada menuruti permintaan mu yang menjengkelkan itu." Ucap mama Lita dengan tersenyum kecil sebelum akhirnya pergi dari rumah sakit itu.
Mama Lita tidak ingin kejadian yang menimpa dirinya kembali terulang pada Jamie dan Jesslyn, mama Lita paham betul bagaimana rasanya saat melihat suaminya yang menuruti perintahnya untuk berbuat baik pada Marlina hingga akhirnya terjadi sesuatu yang membuatnya sakit hati.
"Tante?" Kaget Loly yang datang dengan sedikit terburu-buru, dia melihat mama Lita yang menangis di depan rumah sakit.
"Ahh kau temannya Jessy bukan? sedang apa disini?" Tanya mama Lita dengan berusaha tersenyum.
"Aku sedang mengambil vitamin dari dokter pribadi ku, tante sendiri? kenapa tante menangis? apa tante sakit?" Tanya Loly dengan cemas.
"Tidak Loly, tante baik-baik saja. Kalau begitu tante pulang ya..." Pamitnya.
"Baik tante...." Angguk Loly dengan menatap kepergian mama Lita yang masuk kedalam mobil jemputan nya.
•••••
Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt
"Hmm?"
"......."
"Kau yakin?"
"......"
"Jam berapa?"
"......"
"Apa ada hal yang aneh lainnya?"
"....."
"Oh oke, terimakasih Loly."
"...."
Jesslyn mematikan sambungan teleponnya dan menatap Jamie yang sedang memijat kakinya, Jamie terlihat seperti seorang pelayan di mata Loly.
"Ada apa?" Tanya Jamie penasaran.
"Tadi siang, Loly bertemu dengan mama Lita di rumah sakit dalam keadaan menangis." Jujur Jesslyn yang membuat pergerakan tangan Jamie langsung terhenti.
"...."
"Sepertinya saudara mu itu sudah membuat ulah lagi, hingga menyakiti hati mama Lita..." Ucap Jesslyn dengan serius.