
Tubuh Jesslyn terdiam kaku di tempat, dia menatap Liam yang terlihat serius. Wajah tampan dan tegas miliknya membuat Jesslyn teringat akan bagaimana rasanya mengejar laki-laki itu meskipun dia sendiri harus menyakiti dirinya sendiri, tatapan yang dulu penuh dengan kebencian kini terlihat banyak sekali penyesalan di dalamnya.
"Aku...." Jesslyn menundukkan kepalanya, dia hampir saja terpesona oleh tatapan Liam yang membuat hatinya kembali goyah.
"Aku akan menunggumu Jesslyn, sampai kapanpun aku akan menunggumu....." Ucap Liam dengan serius.
"....."
Melihat Jesslyn yang nampak bingung membuat Liam tersenyum kecil dengan kepala yang menunduk, bukankah itu berarti masih ada dirinya di hati Jesslyn? jika sudah tidak ada mungkin Jesslyn sudah menolaknya sejak tadi.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi.... Hubungi aku kapan pun kau mau." Ucap Liam dengan menghampiri Jesslyn dan mengelus kepalanya, tubuh Jesslyn menjadi semakin kaku dan tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Liam pergi begitu saja dari sana dan meninggalkan Jesslyn yang langsung bergegas kedalam kamar, Jesslyn di kejutkan dengan sosok Jamie yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan ekspresi yang.... Entahlah.
"Tunggu sebentar....."
Jesslyn memeluk Jamie dan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Jamie yang terlihat terkejut itu, namun Jamie ikut memeluk tubuh Jesslyn menggunakan kedua tangannya dan mengecup berkali-kali keningnya. Jamie tahu dan mendengar semua pembicaraan Liam pada Jesslyn, Jamie akui bahwa Jesslyn masih menyukai Liam. Namun Jamie tidak menghiraukan itu, bagaimana pun mencintai seseorang dalam jangka waktu yang lama bukanlah perkara yang mudah untuk langsung melupakan. Semuanya butuh proses dan Jamie ingin di setiap proses itu terdapat campur tangannya juga, hingga Jamie bisa memastikan bahwa nama Liam sudah benar-benar hilang di hati Jesslyn.
"Aku...."
"Tidak apa-apa.."
"Jamie, aku.... Aku bingung, aku..."
"Kau masih menyukai nya?" Tanya Jamie yang sedang balas diam oleh Jesslyn.
"Kalau begitu pergilah..."
"Jamie..."
"Aku tidak akan bisa memaksakan kehendak mu Jessy!" Tegas Jamie yang membuat Jesslyn menelusup kan wajahnya di dada bidang Jamie yang tidak memakai pakaian itu.
"Maaf... Aku tidak bisa meninggalkan mu." Balas Jesslyn dengan terus mencari kenyamanan di dalam pelukan Jamie yang terasa semakin kencang.
"Kalau begitu, hilangkan semua rasa cinta mu padanya dan..... Mulailah mencintai ku juga." Balas Jamie dengan serius.
"Meskipun tidak sepenuhnya, namun percayalah.... Kau memang sudah ada didalam hatiku Jamie." Serius Jesslyn.
"Maka, buatlah rasa itu menjadi aku sepenuhnya...." Ucap Jamie dengan memagut bibir Jesslyn dengan sedikit kasar, bahkan Jesslyn di buat kesusahan saat salah satu tangan Jamie merangkul pinggangnya erat agar semakin mendekat dan tangan lainnya memegang tengkuknya agar semakin dalam ciuman tersebut.
Ciuman Jamie kali ini seperti ada sesuatu yang ia lampiaskan, apakah karena cemburu? jika iya, Jesslyn sangat senang karena hal itu.
"J-jamiehhh...." Jesslyn terlihat gugup dan merinding saat ciuman bibir Jamie merambat ke telinganya dan turun ke lehernya, Jesslyn bisa merasakan isapan lembut di leher dan di balik telinganya.
Kepala Jesslyn mendongak saat bibir hangat Jamie merambat di bawah tenggorokannya, tangan kiri Jesslyn memegang pundak Jamie yang terasa keras dan berotot itu.
"Shhh...." Jesslyn merasa aneh pada tubuhnya, kenapa dia menjadi bergairah?
"Ughhh...." Jesslyn melenguh saat merasakan ciuman Jamie di atas dadanya, Jamie menelan ludahnya bulat-bulat dan menatap Jesslyn yang terlihat seksi dan menggoda itu. Wajah Jesslyn terlihat memerah dan bahkan, semakin cantik dengan ekspresi yang membuat Jamie tidak bisa lagi menahannya.
".....Aku menginginkan mu, tapi kau sedang terluka." Jujur Jamie dengan berbisik di telinga Jesslyn yang langsung memerah kembali, bahkan lebih merah dari sebelumnya.
"A-aku..." Gugup Jesslyn.
"Tidak apa-apa aku paham..." Senyum Jamie dengan mengecup hidung Jesslyn yang kembali diam.
Jamie melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, Jesslyn tahu apa yang akan di lakukan Jamie selanjutnya karena melihat langkah kakinya yang aneh membuat Jesslyn sedikit menatapnya geli.
"Jamie, aku.... Aku bisa membantu mu." Ucap Jesslyn dengan suara yang pelan namun masih dapat di dengar jelas oleh Jamie yang langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Jesslyn penuh arti.
"Kau yakin?" Tanya Jamie dengan serius.
"Hm... Ya." Angguk Jesslyn dengan menelan ludahnya bulat-bulat, tatapan Jamie benar-benar aneh!
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi." Ucap Jamie dengan menyeringai seram, hal itu membuat Jesslyn terkejut dan menyesali tindakan nya itu.
"Kemarilah...." Ucap Jamie dengan duduk di sofa, postur tubuhnya benar-benar membuat Jesslyn merasa tertekan. Dia seperti gadis kecil yang di paksa oleh laki-laki tua, sangat menakutkan.
Dengan perlahan-lahan Jesslyn mendekati Jamie dan duduk si sebelahnya, Jamie hanya diam dengan tersenyum miring. Jesslyn memejamkan matanya sebelum akhirnya mencium bibir Jamie dengan paksa, hal itu justru malah membuat Jamie terkejut dengan tindakan Jesslyn yang menurutnya itu hanya bercanda.
Namun Jamie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia ikut membalas ciuman Jesslyn hingga keduanya berciuman dengan penuh nafsu. Jamie merasakan ciuman Jesslyn mulai turun kearah dagunya, bahkan Jamie juga merasakan gigitan kecil di sana.
Jamie menggeram kecil saat jari-jari lentik Jesslyn mulai memegang otot perutnya, bahkan Jamie juga merasakan tangan Jesslyn yang mulai merambat kebawah meskipun tangan tersebut terasa dingin dan sedikit bergetar.
"Shhhh..." Jamie memejamkan matanya dengan kedua tangan yang mengepal kuat, dia merasa tangan Jesslyn sudah menyentuh miliknya meskipun terhalang oleh celananya namun hal itu saja sudah membuat nya pusing seperti ini.
Jesslyn terdiam dengan menelan ludahnya, dia benar-benar merinding saat merasakan sesuatu yang menonjol di balik celana tersebut. Jesslyn turun ke bawah dan duduk di hadapan Jamie yang sedang berekspresi aneh itu.
Dengan tangan yang gugup, Jesslyn mulai membuka celana Jamie meskipun dengan mata yang terpejam. Jesslyn terus berdoa dalam hatinya agar tidak pingsan saat ini, bukankah itu akan sangat memalukan jika sampai terjadi?
"Jesyhhhhh..." Jamie membuka matanya dengan wajah yang menggelap, sorot matanya di penuhi dengan gairah.
Mereka saling tatap, sebelum akhirnya Jamie tersenyum penuh arti. Jesslyn menatap milik Jamie yang terlihat tegak dan keras, entah berapa kali Jesslyn menelan ludahnya yang jelas dia begitu berkeringat sekarang.
Tangan Jesslyn mulai menyentuh benda tersebut dan merasakan betapa keras dan hangatnya benda itu, Jamie yang sudah merasakan sentuhan tangan Jesslyn hanya bisa mengerang dengan nikmat. Bahkan Jamie sampai menutup matanya dengan tangannya saking menikmatinya sentuhan Jesslyn...
Tok tok tok tok tok tok
"Tuan, nona....."
Jesslyn terlonjak dari tempatnya dan langsung berdiri tegap, Jamie yang mendengar itu hanya menggeram kesal dan melemparkan bantal sofa itu dengan penuh kekecewaan.
Jesslyn berlari kecil untuk membuka pintu apartemennya, dengan sedikit canggung Jesslyn menyapa Nicky yang datang dengan membawa beberapa paper bag berisi pakaian Jamie.
"Ehh ada apa?" Heran Nicky dengan melihat Jesslyn yang terlihat berkeringat dan wajah yang pucat nya, apakah Jesslyn semakin sakit?