
Amber memekik kaget saat tiba-tiba saja rasa dingin yang mengguyur tubuhnya, di lihatnya saat ini dia berada di tempat yang sangat asing. Di sekelilingnya banyak orang asing yang tengah menatapnya datar, jantung Amber bergetar ketakutan.
"S-siapa kalian? apa yang kalian lakukan padaku? aku tidak kenal kalian!! cepat lepaskan aku....!!" Marahnya dengan tubuh yang kedinginan, cuaca di luar sedang hujan dan mereka dengan teganya mengguyur nya menggunakan air es.
"Stupid!" Ucap salah satu dari mereka dengan membuang puntung rokoknya dan mulai berjalan ke arah Amber yang langsung mundur, namun dia tidak bisa bergerak bebas karena kedua kakinya di rantai.
"J-jangan, jangan mendekat! aku akan memberikan kalian banyak uang. Tolong lepaskan aku...." Takutnya yang justru malah membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"Kami hanya ingin melihat mu mati, nona!" Ucap mereka dengan sangar, salah seorang datang membawa balok kayu yang terlihat keras dan kuat ini.
"H-hentikan, tolong hentikan...." Tangis Amber, dia benar-benar sangat ketakutan sekarang.
"Hentikan? apakah kau pernah memikirkan bagaimana posisi mu saat menjadi nona Jesslyn kemarin?" Tanya laki-laki yang membawa balok itu dengan duduk di hadapan Amber yang langsung pucat pasi.
"S-siapa kalian sebenarnya? apa hubungan kalian dengan wanita sialan it....Ughhhhhh!" Amber memekik kesakitan saat kayu balok itu menghantam punggungnya, darah segar mengalir dari kedua bibirnya. Dadanya terasa sakit dan sesak, dia kesulitan untuk bernafas sekarang.
"Jangan berani-beraninya mengatakan hal menjijikkan itu pada nona Jesslyn!! dasar ******!" Sinis mereka.
Belum sempat Jesslyn mencerna apa yang mereka katakan, empat laki-laki datang dan menarik kedua tangan dan kakinya itu. Mereka langsung memaku setiap jarinya hingga membuat Amber berteriak penuh kesakitan, air mata sudah mengalir deras di pipinya. Tangisan tanpa suara membuat keadaan semakin mengerikan....
Tidak hanya sampai disitu, seseorang datang dan menyuntikan sesuatu pada leher Amber agar tetap sadar dan bisa merasakan semua penyiksaan itu.
Tangisan dan jeritan Amber tidak di hiraukan oleh mereka, justru mereka terlihat puas dan senang. Bahkan, saat semua kuku Amber di cabut pun mereka malah tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau tahu apa ini?" Tanya laki-laki yang menjadi pemimpin mereka itu dengan membawa besi panjang dengan ujung yang tajam.
"Tuan bilang, nona Jesslyn mendapatkan luka di pundaknya akibat tertusuk besi jalan. Bagaimana jika kau merasakannya?" Tanya laki-laki itu yang membuat Amber pucat, tuan siapa yang mereka maksud? apakah Jamie??
"Kau sangat penasaran sepertinya dengan apa yang aku katakan tadi, karena sebentar lagi kau akan mati maka aku akan mengatakannya. Dia adalah tuan besar, Jamie! kau sudah membuatnya marah karena sudah melakukan kesalahan besar pada wanitanya!" Jelasnya yang membuat Amber sangat menyesali perbuatannya itu.
"Bagaimana?" Tanya salah satu dari mereka dengan tersenyum miring.
Amber hendak mengatakan sesuatu namun sesuatu yang mengoyak pundaknya membuat Amber berteriak dengan suara yang sudah habis, darah segar mengalir di tubuhnya saat besi itu terus menembus pundaknya hingga muncul di belakang tubuhnya.
"Seret wanita ini dan lakukan tugas terakhir..."
"Baik tuan."
Mereka menyeret tubuh Amber seperti membawa sampah, mereka meletakkannya di atas tanah dengan keadaan yang mengenaskan. Amber melirik mereka dan penasaran apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, melihat mobil Jeff dengan begitu kuatnya itu membuat Amber tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya, Amber memejamkan matanya dan bersiap menerima serangan akhir dalam hidupnya.
•••••
Jesslyn dan Jamie berjalan dengan memasuki kantor milik Jamie, para karyawan yang melihat Jesslyn langsung menatapnya khawatir. Semua orang kantor tahu bahwa Jesslyn sudah mengalami kecelakaan, karena itulah Jamie tidak masuk kantor kemarin.
"Jamie...." Panggil Jesslyn dengan pelan, Jamie hanya sedang mengetik di komputer nya pun langsung menatap wanita yang tengah duduk di hadapannya ini dengan ekspresi yang setenang mungkin.
"Ada apa darling?" Balas Jamie dengan tersenyum.
"Saat aku sembuh nanti, apakah aku boleh meminta cuti untuk pergi ke taman hiburan dan menginap di Villa bersama Loly? aku ingin merayakan hari ulangtahunnya..." Ucap Jesslyn dengan cemberut.
"Ehh apa? tidak boleh! kau sibuk dan banyak pekerjaan juga, sebaiknya kau tetap di kantor! aku hanya menginap dua hari saja." Ucap Jesslyn dengan menolak keras sosok Jamie yang langsung mengeryit kan dahinya.
"Kau tidak senang jika aku ikut? jadi kau lebih senang jika ada sosok laki-laki yang sudah menjadi mantan suami mu itu untuk ikut? apa..."
"Hentikan! apa yang kau katakan? siapa yang mengatakan jika dia akan ikut? jangan gila Jamie! aku hanya tidak ingin membuat mu lalai dalam pekerjaan, kau tidak kasihan dengan Nicky?" Tanya Jesslyn dengan sorot mata yang kesal.
"..... Baiklah, lakukan apapun yang membuat mu suka." Angguk Jamie.
"Oke, terimakasih sayang..." Senang Jesslyn dan segera pergi dari ruangan Jamie yang tersenyum aneh secara tiba-tiba.
Ting
Jamie melihat ponselnya yang memperlihatkan sebuah pesan masuk, dengan cepat Jamie membukanya dan tersenyum menyeringai. Di sana terlihat foto Amber yang hancur mengenaskan bahkan sudah tidak terbentuk, sangat puas rasanya!
"Kita tunggu beritanya siang ini..." Gumam Jamie dengan tertawa pelan.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Jamie pergi keluar untuk melihat keadaan Jesslyn. Namun, Jamie menatap kesal pada Nicky yang sedang menyentuh Jesslyn.
"Apa yang kau lakukan? Nicky!" Tanya Jamie dengan suara yang kencang dan penuh tekanan
"Ehh anu..." Gugup Nicky dengan wajah pucat nya, dia sudah menduga akan seperti ini.
"Ada apa Jamie? Nicky hanya membantuku untuk menggaruk punggung ku yang sangat gatal, jangan berfikiran yang aneh-aneh Jamie."Ucap Jesslyn dengan menatap Jamie.
"Kau bisa mengatakannya padaku Jessy! biar aku yang membantu mu..." Ucap Jamie dengan mendorong tubuh Nicky hingga terjatuh dari kursinya yang segera di duduki oleh Jamie.
"Kau... Hhh... Terserah." Lelah Jesslyn yang sudah tidak bisa lagi berdebat dengan Jamie yang memang sangat kekanak-kanakan itu. Tapi bagaimana nasib Nicky? laki-laki itu memilih untuk pergi dari sana dari pada menjadi patung yang akan di salahkan lagi nantinya, lebih baik pergi bukan?
"Disini?" Tanya Jamie dengan menggaruk lembut punggung Jesslyn yang memang susah di jangkau oleh tangan kirinya.
"Agak kebawah sedikit, ya disana...." Jesslyn menerima garukan lembut dari Jamie yang menurutnya sangat aneh rasanya, kenapa saat di garuk oleh Jamie tubuhnya justru bereaksi lain?
"Jamie, garuklah dengan benar!" Ucap Jesslyn dengan menatap Jamie yang hanya tersenyum.
"Aku sudah menggaruk nya dengan benar darling, kau saja yang sangat sensitif." Balas Jamie dengan santai.
"Kau...." Geram Jesslyn dan hendak bangkit dari tempatnya, namun segera di tarik oleh Jamie hingga Jesslyn duduk di atas pangkuan Jamie yang langsung memeluk pinggangnya erat.
"Aku kedinginan Jessy, bisakah kau harus memelukku dengan hangat?" Tanya Jamie dengan menelungkup kan wajahnya di antara punggung Jesslyn yang terbuka lebar.
"Jika kau kedinginan pakai lah mantel! cepat lepaskan aku..." Jesslyn terus berontak dalam dekapan Jamie, hingga mau tidak mau Jamie melepaskannya. Tapi bukan untuk membiarkan Jesslyn pergi, melainkan untuk bersilaturahmi dengan bibirnya.
Posisi Jesslyn yang menunduk karena tengkuknya di tahan oleh Jamie membuat bagian dadanya sedikit terlihat, hal itu membuat Jamie menggeram penuh gairah. Dia ingin sekali menyentuhnya namun Jamie takut membuat Jesslyn marah, hingga akhirnya Jamie hanya pasrah dengan keadaannya saat ini.
"Tuan, mereka sudah menunggu anda di ruangan ra...... pat. A-aku aku akan menunda jadwalnya untuk dua jam kedepan....." Panik Nicky yang langsung pergi begitu saja, dia tidak mau jika gajinya benar-benar dipotong habis oleh Jamie karena sudah dua kali mengganggu mereka.