Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Terpenting



PLAAKKKKKKKK!!!!!


"******!!! jadi selama ini kau sudah membohongiku hah!" Marah seorang laki-laki yang terlihat murka itu.


Para pelayan yang ada di sana tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya, mereka terus menunduk ketakutan dan berharap pertengkaran tersebut segera selesai dengan cepat.


"Liam, aku... Aku.... Maafkan aku... Aku benar-benar mencintai mu Liam, tolong maafkan aku...." Tangisnya dengan begitu memilukan, dia memeluk kaki Liam yang terlihat benar-benar sangat marah.


"Cih!! kau sudah menjebak ku dan mengatakan bahwa aku sudah merebut kesucian mu itu? hahaha benar-benar konyol!" Tawa Liam dengan ekspresi yang penuh kebencian itu.


"Liam, aku benar-benar tidak bisa melepaskan mu. Aku jatuh cinta padamu, aku takut kau tidak menerima ku karena aku bukan wanita baik-baik..." Tangis Amber di bawah kaki Liam.


"Terserah! mulai sekarang aku akan menceraikan mu! ambil semua barang-barang mu yang ada di kediaman ku dan pergi sekarang juga!" Dingin Liam yang pergi begitu saja.


"Liam!! tidak! aku tidak mau berpisah dengan mu...." Tangis Amber dengan begitu memilukan.


Namun Liam terlihat tidak peduli dan semakin menjauh dari sana, Amber mengepalkan kedua tangannya.


"Ini semua gara-gara wanita sialan itu!!!" Marahnya dengan mengacak-ngacak rambutnya sendiri hingga berantakan.


Para pelayan hanya bisa diam dengan saling pandang satu sama lain, mereka tersenyum diam-diam karena mereka tahu bahwa ini adalah karma dari Tuhan untuk Liam yang sudah menyia-nyiakan Jesslyn.


"Aku melihat nona Jesslyn sudah menemukan pengganti dari tuan, dia terlihat begitu menyayangi nya."


"Aku turut senang mendengarnya, nona Jesslyn memang pantas mendapatkan itu semua."


"Kau benar...."


•••••


Jesslyn membuka matanya perlahan-lahan, hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah Jamie yang berada dekat dengannya. Mata Jesslyn membulat dan segera memeriksa kondisi tubuhnya yang masih memakai pakaian yang lengkap, Jesslyn menghela nafas lega dan kembali memperhatikan wajah Jamie


Tanpa sadar, jari-jari lentiknya mulai menyusuri lengan Jamie dan memencet sedikit otot lengannya yang terasa keras. Bahkan, Jesslyn juga mulai memegang otot dada Jamie yang terlihat begitu menggoda, tanpa sadar Jesslyn menelan ludahnya bulat-bulat.


Dia tidak sadar bahwa Jamie sedang memperhatikannya dengan ekspresi yang, entahlah. Jamie sengaja membiarkan Jesslyn meraba-raba tubuhnya itu, dia ingin lihat seberapa jauh Jesslyn berani melakukannya.


"Benar-benar sempurna." Gumam Jesslyn dengan memegang dagu Jamie dan saat Jesslyn menatap mata Jamie, tubuh Jesslyn berhenti seketika.


"Kenapa? lanjutkan saja..." Balas Jamie dengan santai.


"S-sejak kapan kau bangun?" Tanya Jesslyn dengan menarik tangannya, dia sedikit gelagapan karena gugup, bahkan pipinya sudah memerah karena malu.


"Sejak pertama kali kau membuka mata." Balas Jamie dengan santai.


"K-kau....!!" Malu Jesslyn, Jesslyn hendak bangun dari tempatnya namun pinggangnya langsung di tahan oleh Jamie yang memeluknya erat.


Jamie merebahkan kepalanya di atas perut Jesslyn yang setengah bangun itu, mata Jamie kembali terpejam.


"Aku belum tidur pulas malam ini, karena aku menjagamu yang terus-menerus bergumam. Sekarang gantian, giliran kau yang menjagaku tidur." Ucap Jamie dengan tersenyum tapi matanya tetap terpejam.


"Tapi kita harus tetap kekantor." Ucap Jesslyn dengan sedikit gugup, keintiman ini membuat tubuh Jesslyn sedikit panas.


"Hubungi saja Nicky, bilang padanya bahwa kau cuti." Ucap Jamie dengan menarik kepalanya dan berganti memeluk perut Jesslyn yang sedang memiringkan tubuhnya itu.


"....O-oke.." Gugupnya.


Jesslyn sedikit kesusahan untuk mengambil ponselnya yang ada di belakang tubuh Jamie yang ada di atas meja, hal itu membuat Jamie bisa merasakan benda kenyal yang mengenai kepalanya. Jamie diam sejenak dalam dekapan Jesslyn, tubuhnya bereaksi lain.


"Halo..." Sapa Jesslyn saat sambungan telepon tersebut sudah tersambung.


"Ya Jesslyn, ada apa? kenapa kau belum sampai? apa kau bersama tuan?"


"Jamie!!!kau bilang mau tidur, kenapa kau jadi mesum hah?!" Kesal Jesslyn yang langsung duduk seketika.


"Lanjutkan saja ngobrol mu dengan Nicky, jangan hiraukan aku." Santai Jamie yang kembali memeluk pinggang Jesslyn yang mendadak diam seketika, Jesslyn melihat ponselnya yang masih tersambung itu.


"H-halo... Nicky, apa kau masih di sana?" Tanya Jesslyn dengan pelan.


"Lanjutkan saja, aku mengerti...." Ucapnya dengan cepat dan segera mematikan sambungan teleponnya.


"Jamie!! sialan!" Kesal Jesslyn dengan mendorong kening Jamie yang terus menempel di tubuhnya, ada apa dengan laki-laki ini sebenarnya?


Suasana yang dingin karena langit terlihat mendung membuat Jamie sangat nyaman berada dalam dekapan Jesslyn, entah kenapa cuaca kali ini sangat mendukung kedekatan mereka berdua.


"Jamie, aku lapar..." Jujur Jesslyn.


".... Ayo bersiap, setelah ini kita pergi ke restoran yang menyediakan soto." Ucap Jamie yang langsung bangun dari tempatnya.


"Hmm.." Angguk Jesslyn yang ikut turun dari atas ranjangnya, mereka berdua pergi ke kamar mandi berdua karena keduanya tidak mau mandi dan hanya cuci muka beserta sikat gigi saja.


Setelah itu, keduanya kembali dan Jamie bingung karena dia tidak membawa baju lagi. Jesslyn yang melihat itu hanya cemberut dan merebut tidak jadi keluar, mereka hanya memesan makanan saja dari tempat tersebut.


"Ini semua gara-gara kau!" Kesal Jesslyn.


"Tidak apa-apa, lagian di luar juga masih gerimis." Balas Jamie dengan memakan soto nya.


"Cih..."


Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt


"Siapa?" Tanya Jamie penasaran, ekspresi wajah Jesslyn benar-benar aneh sekarang.


"Itu... Dia..." Jesslyn menunjukan layar ponselnya, hal itu membuat Jamie menghentikan makanannya dan meletakkan sumpit tersebut dengan sedikit tak senang.


"Angkat saja..." Balas Jamie dengan datar.


"Tidak perlu." Balas Jesslyn dengan mematikan sambungan teleponnya.


"Why? bukankah kau sangat senang karena akhirnya dia bisa menghubungi mu?"


"Laki-laki yang sudah membuang ku apa perlu aku harapkan kembali kehadirannya?" Tanya Jesslyn dengan menatap Jamie yang tersenyum miring.


"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Jamie dengan memangku wajahnya.


"Memangnya ada apa denganmu?" Heran Jesslyn yang lagi-lagi membuat mood Jamie berubah.


"Lupakan." Kesalnya.


"Benarkah?" Goda Jesslyn dengan mendekati Jamie yang langsung memalingkan wajahnya.


"Hahah... Tenang saja, untuk saat ini kau orang terpenting bagiku." Senyum Jesslyn.


"Benarkah? kau serius?" Senang Jamie yang mendekati Jesslyn hingga keduanya duduk bersebelahan.


"Hmmm tentu saja, kau pikir kau bisa tidur di kamarku dengan mudah? tidak!"


"Hahah baguslah..." Senangnya.


Jesslyn diam dengan tersenyum, meskipun sikap Jamie sangat mesum dan aneh namun laki-laki di sampingnya ini tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatnya terluka ataupun bersedih, bahkan Jesslyn sendiri bingung. Apa yang membuat laki-laki sempurna itu menyukainya? Jesslyn rasa, dia sedikit tidak pantas dekat dengan sosoknya.