Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Membaik



Mendengar kabar bahwa Jesslyn kecelakaan, mama Lita beserta Marsen dan Loly segera menghampiri Jesslyn yang masih berada di rumah sakit. Jesslyn belum boleh di pulangkan sebelum menghabiskan dua kantong darah yang masih menempel di tubuhnya.


"Jessy sayang, apa yang terjadi nak? bagaimana bisa kau seperti ini? apa Jamie tidak menjaga mu dengan baik hah?" Tanya nya dengan sedikit memarahi Jamie.


"Tidak apa-apa ma, ini salah aku sendiri karena kurang berhati-hati." Ucap Jesslyn dengan tersenyum.


"Tapi...."


"Aku baik-baik saja ma.." Potong Jesslyn, dia tidak mau jika mama Lita terus menyalahkan Jamie.


"Baiklah..." Pasrah nya dengan mengelus puncak kepala Jesslyn.


"Jesslyn!!!!" Teriak seseorang dari balik pintu dan segar masuk, terlihat sosok Loly dan Marsen yang datang dengan terburu-buru, Loly yang melihat Jesslyn terluka hanya bisa menangis dan segera memeluk Jesslyn.


"Aku baik-baik saja Loly..." Ucap Jesslyn dengan pelan.


"Kenapa kau bisa seperti ini hah?" Tanya Loly dengan terisak-isak.


"Aku hanya lengah tadi, tapi maaf..... Aku mengacaukan hari ulang tahun mu, selamat ulang tahun Loly. Terimakasih karena sudah menemani ku selama ini..." Senyum Jesslyn yang justru malah semakin membuat tangis Loly semakin kencang.


"Kau terluka karena membeli kue untuk ku hah? maafkan aku..."


"Kalau begitu kalian berbincang lah, mama akan pergi menemui dokter." Ucap mama Lita yang di balas anggukan oleh Jesslyn.


"Aku ada sedikit urusan, tolong jaga Jessy sebentar." Ucap Jamie pada Loly dan Marsen yang langsung mengangguk cepat.


"Kau tahu siapa orang yang sudah membuat mu seperti ini?" Tanya Marsen pada Jesslyn yang hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Aku tidak tahu, mobil tersebut sangat asing." Jujur Jesslyn.


•••••


Jamie berjalan ke lorong rumah sakit yang terlihat sepi, setelah itu Jamie mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang dari balik ponsel itu.


"Cari tahu semua rekaman cctv yang ada di pertigaan jalan lampu merah! bawa dia ke markas dan tunggu perintah dariku untuk memusnahkan nya...!" Datar Jamie, sorot matanya sangat tajam dan dingin. Dia berbicara menggunakan bahasa Italia sehingga tidak ada yang mengerti di sana.


Jamie mematikan sambungan telepon tersebut dan sorot matanya tetap saja lain dari biasanya, dia terlihat begitu mengerikan sekarang. Sepertinya ada seseorang yang berani memprovokasi dirinya, Jamie tidak takut jika orang tersebut menyerang dirinya. Tapi apa yang terjadi? orang itu justru malah menyerang wanita yang ia lindungi ini.


Bukankah itu sama saja dengan mencari mati?


Jamie melangkahkan kakinya menuju salah satu ruangan, itu bukan ruangan tempat Jesslyn saat ini. Dengan sedikit enggan dia membuka pintu ruangan tersebut hingga memperlihatkan sosok laki-laki yang sedang terbaring dengan seorang wanita paruh baya di sana.


"Kau...." Ucap sosok tersebut dengan menatap Jamie.


"Jika sakit maka sakit saja, jangan merepotkan orang lain. Apa anda tidak bisa jika tidak menambah beban Jessy? saat ini Jessy sedang terluka karena kecelakaan! saya harap anda sadar diri, dan saya rasa anda juga masih memiliki urat malu untuk menginginkannya kembali." Datar Jamie sebelum akhirnya pergi dari sana.


Itu adalah ruangan Liam, Jamie mendapatkan info kamarnya dari seorang suster. Jamie tidak ingin Jesslyn terlalu lelah karena harus mengurus seseorang yang jelas-jelas sudah memperlakukan nya dengan buruk di masa lalu, Jesslyn terlalu baik dan Jamie tidak menyukai hal itu. Jamie ingin Jesslyn sekali-kali menjadi orang jahat!


••••


Malam ini, Jesslyn di temani oleh Loly, Mama Lita dan Jamie. Awalnya Jesslyn menyuruh Loly dan mama Lita untuk pulang saja namun mereka berdua terus menolaknya hingga membuat Jesslyn pasrah, Jesslyn hanya tidak ingin merepotkan mereka lagi. Sudah banyak sekali dia merepotkan Loly, tapi Jesslyn tidak tahu bagaimana cara membalasnya.


"Aku haus." Ucap Jesslyn pada Jamie yang masih melek sedangkan yang lainnya sudah tertidur di sofa.


"Aku bantu." Ucap Jamie dengan membantu Jesslyn bersandar dan segera membantu nya minum.


"Aku akan menjagamu."


"Tidurlah, aku sudah jauh lebih baik. Aku sudah cukup tidur tadi sore..." Ucap Jesslyn, dia tahu bahwa Jamie jarang sekali tidur sekarang dan itu karena dirinya.


"Tidak apa, aku akan menjaga mu.."


"Kau yakin?" Tanya Jesslyn dengan sedikit bergeser kesamping, Jamie yang melihat tempat longgar di samping Jesslyn pun hanya diam dengan sedikit bimbang sebelum akhirnya senyum lebar muncul di sudut bibirnya.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan hal ini." Senangnya yang langsung naik ke atas ranjang dan segera berbaring di samping Jesslyn.


"Aku tahu.." Balas Jesslyn dengan memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap Jamie tanpa melukai tangannya sendiri.


Jamie langsung memeluk pinggang Jesslyn agar tubuhnya semakin menempel pada Jesslyn, Jesslyn bisa merasakan dengkuran halus dari bibir Jamie yang langsung tertidur dengan pulas padahal baru beberapa detik yang lalu Jamie terlihat bersemangat.


"Inilah yang aku suka darimu, kau selalu mementingkan diriku sendiri tanpa melihat keadaan mu. Kau seperti diriku dulu, jadi itulah aku tidak akan menyia-nyiakan mu." Gumam Jesslyn dengan ikut memejamkan matanya.


Mereka tertidur pulas sampai matahari terbit pun keduanya masih asik tertidur dengan posisi saling berpelukan, ralat.. Hanya Jamie yang memeluk Jesslyn karena tangan kanan Jesslyn tidak bisa di gerakan demi bebas.


Tok tok tok tok tok


Dokter masuk dengan sedikit membuka pintu ruangan tersebut, dia sedikit tersentak saat melihat sosok Jamie yang ada di ranjang pasien. Untungnya ranjang itu lumayan besar sehingga muat untuk mereka berdua.


"Dokter?" Ucap Mama Lita yang terbangun dan segera menghampiri dokter tersebut tidak hanya tersenyum.


"Saya hanya ingin melihat kondisi nona Jesslyn, sepertinya beliau sudah baik-baik saja sekarang. Siang ini dia sudah boleh pulang tapi 5 hari kedepan dia harus kembali lagi kemari untuk mengecek kondisinya." Jelas sang dokter dengan melepas jarum darah yang sudah habis itu.


"Baik dokter." Angguk Mama Lita.


"Kalau begitu saya permisi nyonya, dan tolong sampaikan pada tuan untuk tidak terlalu memaksakan kehendak. Nona Jesslyn harus istirahat dengan total...." Ucapnya dengan sedikit malu-malu.


"Ahh dokter, seperti tidak pernah muda saja hahaha..." Tawa mama Lita dengan sedikit pelan, namun hal itu justru membuat Loly terbangun.


"Saya tahu, tapi kondisi nona Jesslyn harus benar-benar full untuk istirahat. Jika bisa, tangan sebelah kanannya jangan terlalu banyak gerak karena itu akan memperlambat waktu sembuhnya." Jelas dokter dengan serius.


"Saya mengerti dok." Angguk mama Lita dengan tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Jika ada sesuatu, panggil saja tombol darurat." Ucap dokter tersebut dengan pergi dari sana setelah menundukkan kepalanya pada mama Lita.


"Tante, apakah Jesslyn akan baik-baik saja?" Tanya Loly dengan cemas.


"Kau tenang saja, Jessy akan baik-baik saja selagi ada Jamie di sampingnya. Kau tahu bukan apa maksud tante?" Tanya mama Lita dengan tersenyum penuh arti.


"Saya mengerti tante, kalau begitu saya izin pamit pulang karena harus pergi ke kantor. Tolong sampaikan maaf ku pada Jesslyn karena tidak bisa menemaninya...." Ucap Loly dengan mengambil tas dan juga jaketnya.


"Baiklah, kau akan pulang naik apa? biar supir tante yang mengantarkan mu pulang."


"Tidak usah tante, kakak ku akan tiba sebentar lagi." Senyum Loly dengan begitu manis.


"Baiklah, hati-hati di jalan."


"Iya Tante..."


Loly menatap Jesslyn yang sedang tertidur pulas di atas ranjang dengan Jamie, melihat itu Loly tersenyum senang karena akhirnya dia bisa melihat Jesslyn berada di tangan orang yang tepat.