Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Bingung



Karena banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor, Jamie akhirnya pergi meskipun dengan enggan dan malas. Cuaca yang mendung dan gerimis membuat keduanya benar-benar malas untuk pergi kemanapun, namun keduanya harus tetap profesional.


Seperti sekarang ini, Jamie dan Jesslyn pergi ke kantor setelah makan siang di apartemen Jesslyn. Jamie yang membawa payung segera berlari kecil ke arah samping mobilnya untuk membukakan pintu mobil untuk Jesslyn.


"Terimakasih." Ucap Jesslyn dengan tersenyum dan berjalan di samping Jamie yang sedang memegang payung berwarna hitam.


"Sama-sama, jangan sampai kehujanan. Itu akan membuat mu sakit kepala..." Ucap Jamie dengan memberikan payung itu lebih banyak pada Jesslyn.


"Kau pun sama, jangan sampai kau kehujanan Jamie. Pekerjaan mu sangat banyak, aku tidak mau lembur hanya karena kau sakit!" Balas Jesslyn dengan mendorong payung itu hingga kembali dalam keadaan semula.


"Baiklah." Pasrah Jamie dan merangkul pinggang Jesslyn secara terang-terangan di sana.


"Jamie!" Kesal Jesslyn, dia baru saja memuji sikap lembut Jamie namun sekarang? dia lupa bahwa Jamie memang aneh!


"Aku kedinginan Jessy..." Balas Jamie dengan sedikit berbisik.


"...." Jesslyn memaklumi hal tersebut, ternyata Jamie sangat lemah terhadap cuaca dingin. Lalu bagaimana dengan dirinya yang tinggal di Italia? itu bahkan jauh lebih dingin.


"Selamat siang tuan dan nona." Sapa mereka dengan menundukkan kepalanya.


"Selamat siang juga, bisa bawakan sup jahe ke atas?" Balas Jesslyn pada salah satu office boy yang tengah membersihkan lantai.


"Baik nona, apakah ada yang lain?" Tanyanya dengan sedikit takut, pasalnya Jamie terus memeluk pinggang Jesslyn dengan menatap datar office boy tersebut.


"Hmm, kue kering dan beberapa cemilan lainnya. Kau mau?" Tanya Jesslyn pada Jamie.


"Aku lebih suka memakanmu." Balas Jamie dengan santai.


"Ukhukk! Diam bodoh!" Kesal Jesslyn dengan sedikit malu, orang-orang yang mendengar itu hanya bisa menundukkan kepalanya malu. Pantas saja Jamie dan Jesslyn terlambat, mereka berfikiran yang aneh-aneh mengenai keterlambatan mereka datang.


"Itu memang benar." Balas Jamie dengan santai.


"Jangan dengarkan dia, otaknya memang sedikit bergeser. Itu saja sudah cukup, segera bawa kelantai atas ya." Ucap Jesslyn dengan tersenyum kecil.


"Baik nona."


Jesslyn kembali melanjutkan perjalanannya namun seseorang justru malah memanggilnya, hal itu membuat Jesslyn segera membalikkan tubuhnya. Jesslyn diam beberapa saat saat melihat sosok wanita paruh baya yang datang dengan terburu-buru itu.


"Jesslyn, bisakah mama bicara sebentar?" Tanya wanita itu dengan ekspresi penuh permohonan.


"Itu...." Jesslyn melirik Jamie yang mengeryit heran, sebelum akhirnya dia mengangguk paham.


"Pergilah, jangan terlalu lama." Ucap Jamie dengan melepaskan rangkulannya dari Jesslyn.


"Baik." Angguk Jesslyn dengan tersenyum dan segera menghampiri wanita paruh baya itu.


Jesslyn membawanya ke kantin kantor yang berada tak jauh dari sana, Jesslyn memberikan teh hangat pada wanita tersebut yang terus menundukkan kepalanya.


"Jesslyn, mama minta maaf. Mama benar-benar tidak tahu perlakuan Liam selama ini, mama pikir kalian hidup dengan bahagia disini tapi ternyata..... Mama salah, seharusnya mama sering menemui kalian." Ucapnya dengan terus terisak-isak.


"Ma, aku tidak apa-apa. Semua ini karena ulahku, aku yang salah...." Ucap Jesslyn dengan lembut dan memegang pundak wanita paruh baya itu, dia adalah ibu dari Liam.


"Ma, dengarkan aku. Aku baik-baik saja sekarang, mungkin sejak dulu aku dan Liam memang tidak berjodoh. Aku terlalu memaksakan kehendak Tuhan hingga akhirnya seperti ini..."


"Tapi, mama ingin meminta bantuan mu Jesslyn. Bisakah kau membantu mama? saat ini Liam terus saja minum alkohol dan tidak berhenti hingga akhirnya dia di bawa ke rumah sakit, dia selalu memanggil namamu." Jelasnya.


"...." Jesslyn terdiam dan tidak tahu harus mengatakan apa.


"Mama benar-benar mohon padamu Jesslyn, Liam terus menolak minum obat dan ingin kau sendiri yang merawatnya." Ucapnya dengan duduk di lantai dan terus memohon pada Jesslyn.


"Ma..." Kaget Jesslyn.


"Mama tidak tahu harus melakukan apa, suami mama sudah bertahun-tahun sakit dan sekarang.... Mama takut Jesslyn...." Tangisnya.


"Aku akan memikirkannya...." Angguk Jesslyn dengan pelan.


"Terimakasih Jesslyn, terimakasih banyak nak..." Senyumnya dengan menghapus air matanya.


Setelah itu, wanita paruh baya itu pergi dengan langkah yang gontai. Jesslyn diam di tempatnya, apa yang harus ia lakukan sekarang? disaat dirinya sudah ikhlas untuk melepaskannya, kenapa dia datang lagi?


Jesslyn merapihkan pakaiannya dan berjalan dengan pelan, dia bingung sekarang. Di satu sisi, dia masih memiliki rasa terhadap Liam tapi di satu sisi, dia tidak mau menyakiti hati Jamie yang mungkin sudah menempati separuh hatinya yang kosong.


Apakah dia terlalu egois? tidak, Jesslyn tahu apa yang ia harus lakukan sekarang.


Ting


"Akhirnya kau datang, segera periksa beberapa dokumen yang ada di atas mejamu Jes setelah itu kita runding kan bersama." Ucap Nicky.


"Tunggu sebentar, ada hal penting yang ingin aku katakan pada Jamie." Ucap Jesslyn.


"Oh baiklah." Angguk Nicky dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Jesslyn membuka pintu ruangan Jamie yang langsung memperlihatkan sosok Jamie yang tengah terduduk di sofa dengan memakan sup jahenya, bukankah laki-laki itu bilang tidak mau? aneh memang.


"Apa yang dia katakan...?" Jamie terdiam saat tiba-tiba saja Jesslyn duduk di sampingnya dan segera menyandarkan kepalanya di pundak Jamie.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Jesslyn dengan pelan.


"Ada apa? katakan saja padaku..." Ucap Jamie dengan mengelus rambut Jesslyn pelan.


"Jamie, wanita tadi... Dia ibu Liam, dia bilang Liam berada di rumah sakit karena overdosis alkohol. Dia meminta ku untuk merawat Liam karena jika bukan aku, Liam tidak ingin minum obat ataupun makan. Aku bingung, aku.... Aku tidak mau melakukannya tapi, ibu Liam terus memohon padaku dan dia tidak ingin terjadi sesuatu pada putra semata wayangnya seperti halnya sang suami yang sudah bertahun-tahun terbaring sakit." Jelas Jesslyn yang terus di dengar oleh Jamie.


"Untuk hal ini, aku tidak akan ikut campur Jes. Aku tidak tahu bagaimana perasaan mu terhadap mantan suami mu itu, aku juga tidak mau melarang mu untuk menemuinya. Itu semua hak mu, aku hanya mendukung mu. Jika kau merasa itu baik, maka lakukanlah... Lakukan yang membuat mu senang." Ucap Jamie yang justru membuat Jesslyn semakin bingung, kenapa Jamie sangat baik seperti ini?


"Aku.... Baiklah, aku akan menemuinya." Senyum Jesslyn yang membuat Jamie terdiam.


"Baiklah, lakukan apapun yang kau su..."


"Tapi denganmu juga, aku tidak mau kau salah paham." Ucap Jesslyn dengan tersenyum kecil dan kembali menyandarkan kepalanya di pundak Jamie yang tersenyum lebar.


"Aku mengerti." Senyum Jamie dengan senang.