Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Memalukan



Tok tok tok tok tok


"Jessy, apa kau sudah bangun?" Panggil seseorang di luar pintu kamar Jesslyn.


"Hmm ya..." Jesslyn menggeliatkan tubuhnya dengan malas, dia menyibakkan selimut dan berjalan ke dekat pintu dan di buka nya pintu tersebut hingga memperlihatkan sosok laki-laki tampan yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"Kau baru bangun? mama sudah menunggu mu untuk sarapan." Ucap Jamie dengan melihat Jesslyn dari atas hingga bawah, saat itu Jesslyn masih belum sadar dengan tempat dan kondisinya sekarang. Jesslyn tidur hanya menggunakan hotpants pendek dan tangtop hitam nya saja tanpa tali dan itu pun tidak menutupi perutnya.


"Ehh mama Lita? apa maksudmu? tunggu sebentar...." Jesslyn celingak-celinguk melihat ke sekitar, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan... itu bukan di apartemennya.


"AKHHHHHHHHHH KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKAN KU DARI AWAL!!! HAISHHH...." Jesslyn segera berlari kalang kabut, dia mencari letak handuk bahkan sampai terjatuh karena tersandung selimut yang ia acak-acak itu.


Jamie yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja dan kembali pergi dari sana setelah menutup pintu, dia merasa senang karena ternyata Jesslyn merasa nyaman berada di kediamannya.


Untuk Jesslyn sendiri, tidak sampai 30 menit dia sudah cantik dengan dress maroon dan high'heels nya yang berwarna hitam. Dia menghela nafas berat sebelum akhirnya keluar dari kamar tersebut setelah merapihkan nya kembali, dia tersenyum canggung pada para pelayan yang terlihat menatapnya dengan tatapan yang penuh kekaguman.


"S-selamat pagi ma, maaf aku terlambat." Malu Jesslyn dengan duduk di kursi tersebut.


"Tidak apa-apa, mama tahu kau kelelahan karena kemarin kau sudah bekerja dan semalam mama malah meminta mu untuk membuat kue. Bagaimana, apa tidur mu nyenyak?" Tanya mama Lita dengan tersenyum lebar.


"Jika tidak nyenyak aku tidak mungkin kesiangan seperti ini...." Cengir nya.


"Hahahaha syukurlah, ayo makan." Senyum nya.


Jesslyn hanya mengangguk, dia sesekali melirik Jamie yang hanya diam dengan terus melihat ke arahnya. Apakah ada sesuatu yang aneh di wajah nya? Jesslyn rasa tidak ada apa-apa, tapi kenapa?


"Aku tahu aku cantik, jadi berhentilah untuk menatap ku." Ucap Jesslyn dengan memakan makanan nya.


"Aku tidak menatap mu..." Balas Jamie dengan memangku wajahnya menggunakan sebelah tangannya.


"Lalu?" Tanya Jesslyn dengan enggan, sudah jelas-jelas Jamie menatapnya terus.


"Aku hanya sedang menatap masa depanku..." Balas nya dengan santai.


"Ukhukk Ukhukk Ukhukk..." Mama Lita yang mendengar itu langsung terbatuk-batuk, dia menatap Jamie dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Oh benarkah, lalu bagaimana?" Tanya Jesslyn dengan ikut memangku wajahnya hingga mereka saling berhadapan dengan jarak yang dekat.


Jamie yang melihat wajah Jesslyn dari dekat langsung memalingkan wajahnya ke arah samping, dia tidak bisa terus seperti ini. Jika tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti nya.


"Lupakan, cepatlah makan. Kita sudah terlambat pergi ke kantor...." Ucap Jamie dengan telinga yang memerah.


"Telinga mu merah, apa kau sedang malu?" Tanya Jesslyn dengan semakin menggoda Jamie.


"Hentikan Jessy!" Tegas Jamie yang justru membuat Jesslyn terkekeh.


"Kau sendiri yang menggoda ku lebih dulu, tapi giliran aku membalasnya kau malah seperti ini." Jesslyn menatap Jamie dengan menggelengkan kepalanya.


"...."


Tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya di sana, bahkan mama Lita pun memilih untuk diam karena takut mengganggu percakapan mereka berdua yang terlihat sudah semakin dekat. Terlebih dia merasa aneh dengan anak nya, biasanya tidak pernah bersikap seperti itu terhadap wanita. Apakah Jamie sudah menyukai Jesslyn lebih dulu? jika iya, dia akan sangat senang.


•••••


Mereka berdua keluar dari dalam mobil milik Jamie, Jesslyn terus sibuk dengan memakan mochi nya sejak tadi. Hingga saat masuk ke perusahaan Jamie memberhentikan langkahnya hingga membuat Jesslyn terheran-heran.


"Ada apa?" Tanya Jesslyn dan hendak memakan mochi nya lagi, namun melihat tatapan Jamie pada nya membuat Jesslyn terheran-heran.


"A-aku belum memakannya tadi malam.." Jujur Jesslyn dan memakan kembali mochi tersebut dengan santai.


Jamie yang melihat tangan Jesslyn ada lelehan kacang merah dengan coklat pun segera menariknya pelan sebelum akhirnya memasukkan nya ke dalam mulutnya, Jamie menyesap nya pelan untuk membersihkan sisa lelehan tersebut di jari Jesslyn.


"Shhh...." Jesslyn merinding seketika, tubuhnya merasa aneh saat merasakan isapan lembut di jari nya yang di lakukan oleh Jamie.


"Manis..." Ucap Jamie dengan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


"T-tuan, kalian..... Bisakah kalian melakukannya di dalam ruangan?" Celetuk seseorang yang terlihat gugup di tempat, Jesslyn melihat ke sekeliling yang ternyata memang ada pegawai yang hendak masuk ke ruangannya, mereka terlihat cengo dengan berkas-berkas yang berjatuhan.


Di dalam lift, Jesslyn terus menenangkan degup jantungnya yang terus berdetak kencang. Di tatapnya jari-jari tangannya yang sebelumnya di isap oleh Jamie, terasa lembut dan hangat, mengingat itu Jesslyn merasa aneh pada tubuhnya. Dia, dia menginginkan sesuatu...


Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt


Nomor tidak di kenal?


"Halo?"


"Halo Jesslyn, ini aku...."


Deg!!


Jesslyn terdiam di tempatnya, baru saja dia hendak duduk di kursinya namun seakan-akan raga nya sudah terpisah dalam jiwanya.


"Y-ya, ada apa?" Balas Jesslyn dengan pelan.


"Aku, aku mau mengundang mu ke acara pernikahanku dengan Amber. Jika kau tidak sibuk, kau boleh datang.."


"...... Baik, aku akan datang."


"Terimakasih Jes, dan maaf..."


"Tidak apa-apa, selamat juga untuk kalian berdua." Balas Jesslyn dengan menundukkan kepalanya sedikit.


"Terimakasih, aku harap semoga kau juga bisa menemukan laki-laki yang baik. Aku akan sangat senang jika kau..."


"Aku sudah menemukan nya, aku sibuk. Sampai jumpa..." Jesslyn segera mematikan sambungan teleponnya saat melihat kedatangan Jamie dan Nicky.


"Siapa?" Tanya Jamie.


"Liam." Balas Jesslyn dengan duduk di kursinya.


"Mengundang mu?"


"Ya."


"Lalu?"


"Apa?"


"Kau akan datang?"


"Tentu saja."


"Dengan ku?"


"Menurut mu?" Jesslyn menatap Jamie yang langsung tersenyum itu.


"Oke."


Jamie segera pergi setelah mendengar balasan Jesslyn yang ia tunggu sejak kemarin, akhirnya dia bisa tidur nyenyak sekarang.


"Jes, mereka juga akan menginap di hotel tuan. Apa kau mau melihat persiapan nya?" Tanya Nicky.


"Bukankah masih 3 hari lagi acaranya?"


"Itu memang benar, namun tuan Tire ingin semuanya di persiapkan dengan begitu matang dan sempurna agar tidak ada cacat sedikitpun." Jelasnya.


"Aku mengerti, aku akan ikut mempersiapkannya juga." Angguk Jesslyn dengan tersenyum kecil.


"Bagus, dengan begitu kau akan terlihat keren!" Senang Nicky.


Jesslyn hanya tersenyum, dia tidak ingin lagi menghindari Liam. Bukankah yang seharusnya seperti itu adalah Liam? kenapa dia harus takut? harusnya dia membuktikan pada Liam bahwa dia telah membuang berlian seindah dirinya ini.