Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Berubah



3 hari berlalu, kondisi Jesslyn pun sudah semakin membaik bahkan luka jahitan nya pun sudah kering. Dia sudah di perbolehkan untuk pulang, Loly selalu setia di samping nya, untuk Marsen... Dia jarang karena dia sendiri pun harus mengurus perusahaan dan Jesslyn pun selalu menyuruh nya untuk bekerja. Jika Marsen tidak bekerja,lalu siapa yang akan menghidupi mereka berdua?


Meskipun semua saham yang ada di perusahaan Liam sudah di serahkan pada Loly, namun sebelum usia Loly 25 tahun saham tersebut akan menjadi milik keluarga. Sekarang usia Loly sudah 23 tahun sama seperti Jesslyn, tapi mereka terlihat lebih terlihat seperti adik kakak karena Loly yang terlihat kekanak-kanakan.


"Jes.." Loly memegang tangan Jesslyn, saat ini dia berada di depan gerbang mansion besar milik Liam. Hari ini, Jesslyn akan kembali ke sana dan Loly merasa tidak rela karena takut jika Liam akan menyakiti Jesslyn lagi.


"Ayo ikut..." Ajak Jesslyn yang tahu bahwa Loly sangat mengkhawatirkannya, Loly yang mendengar itu terkejut namun detik berikutnya langsung sumringah.


"Ayo..." Ajak nya dengan antusias hingga membuat Jesslyn menggelengkan kepalanya saja.


Mereka segera masuk, para pelayan di sana langsung menyambut kedatangan Jesslyn bahkan ada yang membawa karangan bunga juga.


"Kalian pikir Jesslyn akan masuk ke surga?! dia ini akan kembali ke neraka! kenapa kalian begitu heboh?" Heran Loly dengan marah.


"Sudah tidak apa-apa, aku sangat senang karena kalian semua menyambut ku." Senyum Jesslyn.


"Nona, maafkan kami... Kami.." Tunduk mereka.


"Ada apa ini?" Tanya seseorang yang baru saja datang, dia adalah Amber. Wanita yang cantik dan berpenampilan seksi terlebih tubuhnya pun begitu indah, Jesslyn akui itu. Tapi, orang-orang sering mengatakan bahwa dirinya juga sangat cantik, bahkan aura nya lebih besar dari Amber namun Jesslyn tidak percaya karena Liam lebih memilih wanita itu dari pada dirinya.


"Ayo masuk..." Ajak Jesslyn tanpa menghiraukan Amber yang memang pertama kali melihatnya itu.


"Kau! siapa kau! kenapa masuk ke mansion kekasihku?" Teriak Amber yang ikut masuk ke dalam.


"Berhenti kau sialan!" Marah nya dengan menarik rambut Jesslyn namun segera di hentikan oleh Loly, dengan cepat Loly juga menarik rambut Amber dengan begitu kencang untuk melampiaskan amarahnya yang selama ini ia pendam.


"Akhhh!! wanita gila!! lepaskan aku.." Marah nya namun Loly tidak menghiraukan nya dan memilih untuk semakin kencang melakukan nya, dia merasa senang dan gembira melihat nya berteriak kesakitan.


"HENTIKAN!" Marah seseorang dengan suara yang lantang.


Loly tersentak kaget, dengan cepat Jesslyn merangkul nya karena Loly sangat lemah jika sudah mendengar bentakan.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Liam dengan menatap Jesslyn, dia sedikit terkejut karena Jesslyn menatap nya dengan malas.


"Maaf mengganggu, aku hanya ingin istirahat namun sepertinya kekasih mu begitu tidak sabaran." Ucap Jesslyn dengan tersenyum kecil.


"Kau!! sayang, siapa wanita gila ini? kenapa dia ada di mansion mu?" Tanya Amber dengan merangkul mesra Liam.


"Aku bukan siapa-siapa, kau tenang saja..." Ucap Jesslyn.


"Ayo pergi, aku mual melihat wajah mereka." Ucap Loly dengan menarik tangan Jesslyn yang hanya menurut.


Di sepanjang jalan, Loly terus menggerutu karena kesal terhadap Amber. Wanita itu memang gila, kenapa dia mengatakan itu? karena setiap pergi ke kantor Liam, dia akan terus mencari masalah dengan orang-orang kantor dan mengatakan bahwa dia ke-kasih nya Liam dengan ekspresi yang membuat Loly ingin sekali menendang nya.


"Bibi....." Panggil Jesslyn.


"Ya nona?" Tanya nya dengan sedikit terburu-buru.


"Bisakah bibi bawa foto ini ke belakang? setelah itu suruh mereka untuk membakar nya." Ucap Jesslyn.


"Baik nona." Ucap nya dengan tersenyum lebar, biasanya Jesslyn tidak pernah mau terjadi sesuatu pada foto pernikahannya itu. Namun sekarang? mereka merasa lega karena Jesslyn sudah mulai membuka mata dan hati nya.


"Kau serius?" Tanya Loly yang duduk di kursi.


"Apakah aku terlihat bercanda?" Tanya Jesslyn dengan meregang kan otot tubuhnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan ke depannya?"


"Besok adalah hari ulang tahun Liam yang ke 28, kemungkinan para petugas kantor sudah menyiapkan semua pesta nya. Apa orang-orang kantor sudah tahu mengenai hal ini?" Tanya Jesslyn pada pelayan yang datang dengan membawakan dua gelas air minum.


"Sudah nona, mereka sudah tahu dan sangat senang karena mereka mengira jika tuan... Jika tuan akan melamar dan menikahinya juga." Balas nya dengan takut-takut.


"Itu jauh lebih baik, berkat kakak mu aku bisa menyelesaikan nya dengan mudah." Ucap Jesslyn dengan memegang sebuah amplop putih yang membuat tangannya sedikit bergetar.


"Kau sudah melakukan nya dengan baik Jes..." Peluk Loly pada Jesslyn yang hanya tersenyum.


"Aku tahu." Angguk nya dengan memasukkan amplop tersebut pada sebuah kotak kado.


Mereka sibuk berbincang satu sama lain hingga malam tiba, mereka segera tidur namun hanya Loly saja yang tidur. Jesslyn memilih untuk pergi ke balkon kamarnya dan diam di sana dengan tatapan yang penuh kesedihan, dia tahu bahwa keputusan nya ini sudah benar namun tetap saja. Melepaskan orang yang dia cintai sungguh menyakitkan...


"Sayang, aku.... Akhhh.... Kau benar-benar nakal! karena beberapa menit lagi sudah memasuki tanggal lahir mu, aku akan memberikan kejutan yang spesial untuk mu..."


"Benarkah? apakah kau akan memberikan servis yang terbaik?"


"Melebihi itu hahah..."


Jesslyn memejamkan matanya dengan kepala yang menunduk, dia terkekeh. Kenapa dia baru sadar sekarang? padahal, padahal sudah sering dia mendengar perkataan seperti itu.


Jesslyn melihat ke arah balkon kamar lain yang jarak nya lumayan jauh karena kamar Liam dan dirinya sangat berjauhan, di sana Jesslyn bisa melihat keduanya yang tengah berpelukan dengan saling bercanda satu sama lain bahkan berciuman juga dengan sangat mesra.


Padahal, Amber adalah wanita yang baru beberapa bulan di temui oleh Liam namun Liam terlihat begitu menyukai nya.


Bahkan, Liam secara terang-terangan memperkenalkan nya sebagai kekasih di kantor. Hal itu berlangsung cukup lama dan Jesslyn hanya diam dan pasrah? dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri!! kenapa dia begitu lemah dan bodoh?!!


"Mulai sekarang, aku bukan lagi Jesslyn yang selalu menurut pada mu. Jangan terkejut jika aku menjadi sosok yang sangat berbeda jauh dari yang kau lihat sekarang, Liam." Gumam Jesslyn dengan sorot mata yang datar, sudah lama dia tidak merasakan perasaan itu lagi. Perasaan benci, perasaan amarah, perasaan putus asa, perasaan menyesal dan perasaan ingin membalasnya sangat kuat.